LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[72] Kehamilan Nina


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


"Aduh, bisa nggak diem saja mbak? Saya pusing lihatnya ini sih."


Nggak akan.


Itu yang barusan Nina teriakkan didalam hatinya sebagai pelampiasan karena kejahanaman Dirga yang enggan datang cepat sebelum waktu kelahiran benar-benar ditetapkan oleh dokter. Katanya hari ini Dirga akan pulang, bahkan laki-laki itu bilang dia akan pulang kurang lebih satu atau dua hari sebelum tanggal kelahiran yang sudah di perkirakan dokter. Bahkan Nina sudah berdiri berjam-jam dengan sesekali duduk di ruangan khusus yang sudah di persiapkan untuk observasi pembukaan sebelum benar-benar dekat dengan tahap kelahiran.


Nina dan Mama sudah datang kerumah sakit sekitar pukul delapan malam kemarin. Tapi karena di jam delapan pagi ini pembukaan Nina Cuma sampai tiga, jadinya Nina masih belum bisa bergegas keruang operasi. Tapi kalau mau tahu alasan lainnya, sebenarnya Nina lah yang bilang kepada anak daam kandungannya sendiri untuk menunda keluarnya dia karena Dirga masih belum disini sampai detik ini.


Laki-laki yang sejak kemarin duduk menemani Mama dan Nina diruangan, bahkan nggak pulang demi keselamatan istri temannya. "Gimana saya mau diem sih Mas? Ini perut sakit tahu nggak sih." Bukannya diam atau memilih mengabaikan, Nina justru kesulut emosi sama laki-laki di depan nya ini.


Karena Rehan- yah dia Rehan- nggak bisa marah sama sekali kalo sudah berhadapan dengan perempuan, dia memilih diam sedari tadi walaupun Nina terus-terusan mencecarnya dengan kemarahan akan Dirga yang nggak kunjung datang. Dan baru barusan saja Rehan komplain sebagai luapan kekesalannya sama Nina setelah sekian waktu.


"Untung gue cowok baik dan menghargai perempuan. Kalo nggak sudah gue jadiin simpenan nih cewek." Gumam Rehan yang tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya. Sungguh, dia bahkan bukan suami, kakaknya atau temennya. Dia Cuma temen Dirga.


Yaampun, gadirnya Nina.


"Kamu ngomong apa barusan? Mas Rehan, saya ini lagi nunggu proses kelahiran yah, wajar saja kalau kayak gini. Kalau nggak mau dimarahin, jangan bikin kesel deh." Ujar Nina dengan penekanan di beberapa katanya.


Rehan menghempas napasnya berat, "Yasudahlah, perempuan memang paling benar. Kalau begitu saya keluar dulu." Rehan memilih undur diri setelah hampir dua belas jam dia menemani Nina dan Mama. Tapi karena Mama belum sempat membawa pakaian Nina, beliau jadi pulang sama Saiful yang langsung datang setelah di telpon sama Dirga untuk mengantar Mama.


Dan setelah Mama pergi sekitar dua jam, hanya ada dirinya dan Nina didalam ruangan seperti perintah Dirga di sms saat itu.


'Tolong jagain bini gue dulu Han. Ntar lo gue cariin bini juga deh.' Dengan teganya Dirga meminta tolong dan seakan-akan menawarkan suatu hal yang mudah seperti berjualan kacang. Padahal urusan pasangan dan jodoh, itu sesuatu yang sangat rumit untuk Rehan walau dia sendiri sering kali berbual pada Dirga kalau dirinya adalah laki-laki yang paling dicintai banyak wanita.


Kenyataannya dulu, saat dia bayi.


Kalau sekarang, mungkin saja nenek-nenek males ngeliat muka dia yang gosong karena keseringan mantau kebun sawit bahkan sok-sok an berjemur dibawah pohon kelapa di pantai.


Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan impian untuk kabur sudah terkubur.


Sepeninggal Rehan yang entah kemana, seperti ada perasaan tidak enak di hati Nina. Padahal awal kedatangan Rehan kerumah untuk mengantarnya kerumah sakit karena kontraksi, benar-benar awkward. Memang, karena Dirga juga jarang dirumah dan teman Dirga yang paling sering untuk mampir juga Cuma Wahda yang notabennya cewek, jadinya yah begitu. Tapi entah apakah ini yang disebut sindrom ibu hamil sampai Nina kayaknya jadi harimau mendadak.


Nina merutuki sikapnya untuk beberapa saat. Kenapa ini kesannya kayak salah sasaran? Yang nggak dateng kan Dirga bukannya Rehan yang justru nungguin dia disini.


Sekali lagi, betapa gadirnya Nina.

__ADS_1


Kalau sudah begini juga mau bagaimana. Pokoknya sebelum masuk ruang operasi nanti, Nina mau minta maaf sama Rehan. Ajal siapa yang tahu. Lagipula kalau nanti Nina meninggal, setidaknya Rehan bisa nengokkin anaknya karena Dirga yang ayahnya sendiri mungkin akan sangat sibuk.


Hah, pikiran Nina terlalu panjang kayaknya.


-


"Assalamualaikum." Ujar Mama sambil memasuki ruangan. Bergegas Nina langsung menjawab salam sambil mengambil alih barang di tangan Mama.


Tapi ada satu objek yang menjadi perhatian Nina. Mama nggak datang sendiri.


Mama memasuki ruangan bersama Lila. Perempuan muda yang Nina harap selalu kebahagiaannya. Sejak Nina dinyatakan hamil, Lila memilih untuk pulang membantu ibunya di kampung dan menunda kuliahnya. Beruntung Lila masih ada di awal semester sehingga perempuan itu tidak perlu sulit soal waktu belajar yang sudah ditempuh.


Sungguh, Nina begitu merindukan Lila walau mereka terkadang suka telponan.


Lila dan Mama duduk bersamaan di sofa yang tersedia di ruangan, "Mama kok bisa sama Lila?" Tanya Nina setelah mereka duduk bersama.


Mama tertawa, "Mama tahu Nin, kamu teh kesepian sambil nunggu kelahiran kalau Cuma sama Mama saja. Apalagi yah kamu sama Rehan kan diem-dieman saja dari tadi. Jadi kebetulan Lila tadi datang Mama ajak saja sekalian."


Nina mengangguk, lalu beralih ke Lila, "Kamu mau datang nggak bilang-bilang, Lil." Ujar Nina dengan bahagia. Lila tersenyum, "Iya kak, emang kebetulan Lila lagi datang ke nikahan temen. Jadi sekalian. Ini juga ongkos dibayarin yang punya hajatan. Jadi sekalian saja lah mampir." Ujar Lila dengan senyum.


"Nggak Tan, selaw saja." Rehan tiba-tiba kembali keruangan setelah beberapa waktu keluar ruangan memilih menenangkan pikiran. Tapi setelah dia ingat lagi, dirinya baru sadar kalau emang nggak pernah suka sama yang namanya bau rumah sakit. Apalagi Rehan paling parno kalau semisal nggak sengaja ngelewatin korban luka-luka kecelakaan. Beuh, dia takut banget.


Dengan alasan selesai ngopi, Rehan pun bergegas kembali. "Ya Allah, kamu nih Han, datang kok nggak salam." Ujar Mama justru memarahi Rehan yang ngomongnya main sela pembicaraan orang tua.


"Eh iya Tan, maaf. Kalau begitu Rehan keluar dulu ya trus masuk lagi." Kelakar Rehan berlagak hendak keluar ruangan untuk mengulang proses memberi salam.


Saat semua orang tertawa dan Rehan yang berjalan mundur hendak keluar, mereka semua justru di kagetkan dengan salam menggelegar khas seseorang yang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya.


Dan hal itu justru bikin Mama syok,"Assalamualaikum! Nin, kamu nggak apa-apa kan? Mana yang sakit mana yang sakit?" Laki-laki itu- Dirga, tiba-tiba masuk keruangan dengan memburu sambil mengguncang-guncang tubuh Nina dengan kasar.


Semua orang yang berada disana menganga melihat kejadian mengagetkan yang Dirga lakukan.


Sungguh, mode alaynya benar-benar on sekarang. "Ya Allah, Ya Allah, Dirgantaraaa! Itu Nina orang, bukannya boneka!" Mama bergerak cepat hendak menghalau tangan besar Dirga yang masih bergerak menggeledah seluruh tubuh Nina untuk mempertanyakan rasa sakit dibagian mana yang Nina rasakan.


Mama belum sempat menghalau, Nina yang menjadi korban langsung spontan terdiam sambil meraih tangan Dirga yang kini bersarang di pinggangnya, "Stop! Aku nggak sakit fisik, tapi sakit hati tahu!" Ujar Nina dengan kemarahan kecil yang bagi Rehan dan Lila- yang secara tiba-tiba jadi penonton- justru hal ini benar-benar kocak. Siapa yang kira Dirga bisa segitu paniknya mirip orang panjat pinang tapi sendalnya di gondol maling.


"Hah, hah," Dirga berusaha mengatur nafasnya yang memburu, "Maaf Nin, komandan yang satu ini bener-bener nggak bisa pulang cepat karena tugas negara yang di emban begitu berat sehingga langkah ini terasa lam-"

__ADS_1


"Kamu mau minta maaf apa ber syair? Aku nggak butuh alasan kamu." Nina yang sedari tadi emang sebal sama tingkah Dirga, memilih bereskpresi buang muka sehingga Dirga yang berlutut di depan nya sudah mirip sama anak kecil yang dilarang jajan ciki.


"Tapi serius, aku belum bisa pulang buru-buru. Belum dapat izin Nin. Kalaupun izin sudah turun dari malam, pagi ini juga aku sudah sampe. Cuma izin baru turun tadi pagi, jadi aku baru bisa dateng agak iangan. Maaf yah, sayang." Ujar Dirga dengan senyuman yang diiringi peluh turun dari dahinya.


Iba, sedikit.


Melihat Dirga yang datang dengan kehebohan andalannya, membuat Nina cukup iba melihatnya. Pasalnya semenjak Nina dinyatakan hamil, Dirga bahkan jarang atau malah hampir nggak pernah absen untuk menghubunginya atau nanya-nanya kabar jabang bayinya, atau malah minta di rekam keadaan perut Nina. Video call sudah hampir tidak bisa dihitung berapa banyaknya. Saking lebaynya soal kehamilan Nina, Dirga bahkan mengantar langsung Nina ke kampus untuk mengajukan cuti. Nina tentu saja menolak. Karena dia sudah banyak dan bahkan sering kali ngambil cuti sebelum sampai sesudah menikah. Dirga juga selau minta Nina untuk nggak sering-sering keluar rumah, atau malah memohon sama Nina untuk nggak ngidam minta dirinya pergi dari kehidupan Nina. Nina kala itu hanya tertawa, tapi akhirnya malah pernah jadi kenyataan. Hingga dirinya dan Dirga nggak telponan hampir sebulan. Baru setelah itu berakhir ketika Dirga memilih sama sekali nggak nelpon Nina sampe Nina yang telpon sendiri karena kangen.


Yah begitulah mereka, kadang serius kadang absurd.


"Sudah-sudah, nggak usah disesalkan lagi. Yang penting teh kamu sudah pulang A'. Jangan suka kasih harapan mau pulang buru-buru kalau ternyata nggak bisa." Ujar Mama setelah mencoba mengerti situasi dengan nasihat yang beliau berikan.


"Iya Ma." Balas Nina setelah dirinya sendiri merasa aneh dengan apa yang barusan ia perbuat.


Hah, Nina sama Dirga lama-lama jadi sama saja.


-


"Jadi gimana nih Ma? Sudah mau jam delapan lagi. Dokter sudah kasih advice untuk operasi caesar saja kalau sudah lebih dari sehari masih belum nambah pembukaan."


Masih di ruangan.


Itulah yang kini menjadi pemandangan cukup rumit yang berkali-kali membuat semua orang menekan kekesalan. Nina masih nggak lanjut pembukaan. Padahal Nina sudah merasakan kontraksi sejak semalam dan pembukaan masih belum bertambah signifikan. Berkali-kali Dirga keluar masuk ruangan sejak kedatangannya tadi siang karena harus menjumpai dokter untuk tindakan selanjutnya. Nina yang tadinya masih bisa bolak balik, bahkan bisa memarahi Dirga, kini hanya tertidur dengan lemah sambil dibantu Mama merapalkan doa kepada Allah agar diberikan kelancaran untuk kelahiran cucu pertama Mama. Apalagi dokter sudah beberapa kali meng-advice Dirga untuk memilih operasi caesar karena di khawatirkan pembukaan akan tidak beranjut.


Dan masalah lain, Nina kekeuh untuk tidak melakukan proses kelahiran secara caesar.


"Nggak Kak Dirga, nggak! Aku nggak mau caesar!" Nina sedikit menjerit ditengah kesakitannya akan jabang bayi yang mungkin mulai gerah sehingga kontraksi terus terjadi walau pembukaan masih belum banyak. "Yah tapi Nin, kalau buat kebaikan, alasan apapun juga kita harus tetap memilih caesar sebagai jalan terakhir karena memang kamunya juga sudah sakit terus." Ujar Dirga dengan wajah khawatir ditemani Mama disampingnya.


Rehan dan Lila sudah puang dari beberapa jam yang lalu. Lila izin untuk langsung kembali ke kampung sedangkan Rehan, laki-laki itu pulang kerumah untuk bersih-bersih dan mungkin nanti agak sedikit malam dia balik lagi.


Mama menepuk bahu Dirga, memberi isyarat agar laki-laki itu tenang, "Iya sayang, Aa' bener. Tapi kalau kamu masih sanggup nahan sakitnya, kita tunggu saja yah sampai jam sepuluh. Kalau pembukaan langsung banyak, kamu bisa normal. Kalau ternyata nggak, kita ikuti saran dokter. Caesar atau normal pun itu sudah keputusan terbaik dari Allah, semuanya insya allah lancar."


"Iya Nin, bener apa kata Mama. Kamu mau yah?" Tanya Dirga lagi yang kini dengan nada bicara lebih lembut. Nina tampak berpikir dan seperti kebingungan juga, "Oke, kita tunggu sampai jam sepuluh yah. Kalau Nina bisa, proses normal. Kalau nggak..." Nina tampak tidak bisa meanjutkan katanya setelah opsi kedua yang mengatakan kalau dia memang terpaksa harus operasi caesar.


Mama dan Dirga mengangguk. Lalu Mama memilih bergeer ke arah ranjang kecil yang disiapkan untuk keluarga yang menunggu. Sejak kemarin Mama dan Nina sudah masuk kerumah sakit, Mama sama sekali nggak bisa tidur. Dan hari ini rasanya Mama lelah banget. Maka sambil menunggu keputusan selanjutnya, Mama memilih untuk merehatkan pikiran dan tenaganya sejenak.


Sedang Dirga kini masih setia duduk disamping Nina sambi tidak lupa merapalkan doa yang diikuti Nina. Mengusap kepala istrinya sehingga Nina bisa sedikit tenang walau kontraksi masih terus terjadi hingga rasa sakit itu sangat tidak bisa di jabarkan lagi bagaimananya.

__ADS_1


__ADS_2