![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Karena mimpi semalam, Dirga memutuskan untuk tidak jadi pergi dengan alasan yang lebih logis diberikan pada Firdaus dan Galih. Dua orang itu tak tahu jika Nina tengah sakit. Akhirnya ia menggunakan alasan itu agar tak jadi pergi. Walau sebenarnya Nina sudah sembuh, tapi Dirga tak ingin mengambil risiko jika hanya meninggalkan para perempuan dirumah dalam keadaan Nina belum pulih seratus persen. Karena selain itu, tanpa izin Mama dan istrinya, siapa yang tahu perginya kali ini bisa saja menimbulkan kejadian tak baik.
Satu hal paling sulit yang harus Dirga lewati adalah semalam, Dirga harus berkata bohong sebagai alat menutupi sikap anehnya dengan berteriak karena mimpi buruk atas pertanyaan Mama.
Bahkan pagi ini Dirga bangun sebelum Nina dan dia langsung keluar rumah pukul tiga pagi menuju masjid atas alasan takut karena bayang-bayang iblis berwujud Nina menjadi yang paling mengerikan dalam ingatannya.
Saat dirinya bangun, Nina memang terlihat tidur dengan tenang dan sangat baik-baik saja. Namun karena parno, Dirga susah mengatasinya dalam waktu cepat. Hal yang ada dalam bayangannya hanya Nina dengan rambut merah menyala dan gigi taring-ih! Mengerikan!
"Kamu ngapain begitu, A’?" Mama memergoki Dirga yang berjalan jinjit memasuki rumah. Seperti maling yang takut kepergok, ia melirik Mama dengan kekehan.
"Eh, Mama." Dirga tertawa kecil menarik tangan Mama untuk mencium punggung tangannya.
"Ngapain A’ diam-diam begitu? Takut berisik? Semua orang sudah bangun kali! Masuk, Mama mau tutup pintu belakang, dingin." Dirga dengan cepat memasuki rumah. Mama menutup pintu lalu mengajak laki-laki itu menuju dapur. Niatnya sengaja memasuki rumah lewat pintu belakang agar tidak ada yang menyadari keberadaannya. Namun Mama memergokinya.
"Eh iya A’ ... Mama masih aneh loh, nggak biasanya kamu mimpi buruk loh. Bahkan sejak kec. Ada apa sih sampai kamu teriak-teriak begitu semalam? Mimpi apa sebenarnya?" Tanya Mama sambil menyeduhkannya kopi instan di depannya.
"Kan Aa' bilang nggak ada apa-apa, Ma." Dirga menerima kopi hitamnya.
"Ya trus? Kayak orang ketakutan gini sekarang?" Tanya Mama lagi.
Dirga menggeleng.
“Nggak ada apa-apa. Aa’ masuk dengan cara begitu juga takut orang-orang belum pada bangun. Baru selesai subuhan, tapi kan masih pagi." Dalihnya.
Mama berdecak.
"Ada-ada wae kamu teh!"
Mama lalu menggeser stoples kukis buatannya kedepan Dirga.
"Kamu keliatannya kurusan. Padahal makan kamu banyak, A'." Ujar Mama lagi menatapnya denga senyum khas seorang ibu.
Dirga tertawa.
"Masa? Baguslah berarti nggak ngegym juga kurus dengan sendirinya."
"Aya-aya wae kamu mah. Orang kalau kurusan ada dua alasan, diet, kalau nggak ya kemungkinan sakit. Kamu nggak sakit kan, A’?" Tanya Mama.
Dirga menggeleng singkat.
“Nggak Ma. Aa’ totally fine. Hanya ada beberapa hal yang jadi pikiran.” Terangnya.
"Trus, bagaimana sama pencarian kamu? Apa membuahkan hasil?" Tanya Mama lagi mengubah topik.
Dirga mencoba menarik maksud dari pertanyaan Mama.
"Maksud Mama?"
__ADS_1
"Cari Papa kamu. Sudah membuahkan hasil?" Dirga menggeleng.
"Belum. Tapi Aa' sudah dapat sedikit info tentang keberadaan Papa."
Mama lalu mengangguk.
“Mama doakan niat kamu mencari ini membuahkan hasil. Bisa ketemu Papa kamu. Bagaimana pun, dia orang yang membuat kamu bisa ada di dunia ini. Terlepas kelakukannya pada kita, dia pasti akan selalu sayang sama kamu sebagai anaknya." Ujar Mama dengan lirih.
Tiba-tiba suasana mengharu.
"Iya Ma."
Mama mengusap matanya. Aliran air turun dari sana.
"Mama sadari itu beberapa hari ini, A'. Karena keegoisan Mama sendiri, nggak ada satupun keluarga Papa kamu yang hadir ke pernikahan kamu. Bahkan Papa kamu sendiri saja nggak hadir. Mama merasa bersalah sama kamu sebagai orang tua yang nggak bisa memberikan kenyamanan, peran lengkap yang harusnya dimiliki setiap anak. Harusnya Mama nggak jadi orang egois kayak gini." Tambahnya lagi merasa bersalah.
Mama tersedu tiba-tiba. Dirga yang melihatnya tak mampu menahan kesedihan Mama.
Harusnya Dirga nggak jujur sama Mama waktu itu, melihat Mama akhirnya menangis begini. Ya ... mau bagaimana, Dirga tak bisa berbohong untuk kenyataan besar seperti ini. Kenyataan bahwa ia kecewa dengan perpisahan orang tuanya, dengan sikap Papa, dan absennya beliau pada pernikahannya.
"Sudah Ma. Mungkin belum rejeki Papa lihat Aa' menikah. Nggak apa-apa, Aa’ akan cari Papa pelan-pelan." Dirga berusaha menenangkan Mama.
"Tapi Mama tahu kamu kecewa banget A'. Terutama sama Mama yang seolah memutus hubungan dengan Papa kamu dan keluarganya.” Kata Mama masih menangisi apa yang menurut beliau telah salah dilakukan.
Dirga menyentuh bahu Mama. Menarik kursinya mendekat ke Mama lalu memeluk perempuan baya itu.
Dirga sudah tahu sendiri akan kemungkinan-kemungkinan buruk mengenai Papa. Tapi Mama tak harus tahu. Mama hanya harus tahu kalau nanti Dirga sudah menemukan Papa.
-
Mama menyicip sup ayam yang lagi-lagi disajikan hari ini. Entah apa karena terlalu pusing memikirkan menu atau mungkin tidak tega membiarkan Nina makan-makanan khusus untuk dirinya sendiri, sedang orang lain dirumah ini dapat menyicip makanan yang lebih enak.
"Sup ayam lagi?" Dirga memutar tubuhnya di meja makan. Makanan yang berubah hanya pepes ikan menjadi perkedel.
Tak ada variasi berarti.
"Bersyukur. Kamu bukan anak kecil lagi. Jadi paham bagaimana sulitnya cari uang 'kan?"
Dirga tertawa.
“Iya sih ... Ya, tapi kan paling nggak menu ayam dibuat apa begitu Ma. Agak lain sedikit jadi ada variasi.” Katanya seraya menujukkan tanda peace dengan jari.
Mama menghalau Dirga di depan nya dengan tangan.
"Sana, kalau nggak mau nggak perlu makan. Ini buat Mama, Lila, sama Nina saja." Ujar Mama dengan intonasi sebal. Dirga bergerak cepat menduduki salah satu kursi.
"Ya sudah Ma. Jangan marah, Aa' bercanda kali." Mama tetap cemberut.
__ADS_1
Suasana diantara Mama dan Dirga sejak pagi tadi menjadi hangat seperti biasanya.
"Kamu nggak ganti baju?" Tanya Mama memerhatikan pakaian Dirga yang masih sama saat kembali dari masjid.
Dirga tertangkap basah masih memakai pakaiannya tadi. Padahal jarak ia pulang dari masjid dengan waktu saat ini cukup lama. Hampir beberapa jam lalu.
Dirga gelagapan. Sejujurnya ia tak kembali ke kamar karena konyolnya kejadian semalam, membuatnya merasa trauma!
Ya ... Dirga trauma bisa bermimpi seperti itu lagi, atau bahkan benar-benar mengalaminya sehingga ia tak mau melihat Nina dan berakhir di ruang laundry!
"Oh itu, tadi Aa' ketiduran sehabis minum kopi dari Mama, kan? Jadi belum sempat ganti baju. Eh ... bangun tidur malah lapar." Ujarnya asal dengan senyum dibuat-buat.
"Bisa-bisanya sehabis minum kopi kamu tertidur, A’? Aya-aya, wae.” Kekeh Mama tak percaya mendengar penjelasan putranya.
Dirga tertawa.
Padahal sebenarnya memang begitu yang terjadi. Dia enggan kembali ke kamar setelah dengan susah payah mengganti baju kaosnya menjadi baju koko di walk in closet kamar. Takut Nina terbangun.
Dirga parno menatap Nina dan sampai sekarang dia tak yakin apakah memikirkan untuk menghindari bertatap dengan Nina, adalah hal benar, sebab perempuan itu kini berdiri menuruni tangga di depan mereka menuju meja makan.
Damn ... Lihat, wajah Nina saat ini sangat cerah. Sama sekali tidak mengindikasikan bahwa ia akan berubah seperti sosok itu semalam!
Dasar parno sialan!
"Mama ...” suara Nina menyapa Mama tengah menata sendok agar rapih di tempatnya seperti biasa. Perempuan itu mengatensi Dirga di depan Mama. Laki-laki yang diam-diam ia tunggu untuk masuk ke kamar semalaman itu, bahkan tak menyapanya. Apa yang terjadi dengan suaminya? Hal itu membuatnya bingung.
Dirga baru ingat kalau dia tidak makan semalam karena ketiduran dan bermimpi konyol itu, pun dia mengunci diri di ruang laundry demi menghindari istrinya. Terlalu lapar, akhirnya ia keluar dari sana lalu memasak mie instan.
Setelah jam tiga, dia kembali masuk kamar tanpa melihat wajah Nina lalu langsung keluar menuju masjid.
"Wajah kamu sudah segar, Nin." Mama memberi instruksi untuk Nina duduk di sisi kanan Dirga.
"Alhamdulillah sudah enak banget badan Nina, Ma. Nanti siang Nina bantu masak ya." Ujar Nina yang dibalas anggukan Mama, "Iya sayang. Sekuatnya kamu saja, ya.” Jawab Mama membuat Nina tersenyum.
Perempuan itu duduk disamping suaminya, sedang laki-laki itu hanya mengatensi Mama di depan nya tanpa niat menegur Nina sedikitpun. Melirik suaminya sekilas, tak sengaja keduanya tiba-tiba dalam posisi yang sama.
Saling melirik.
Nina kemudian memasang senyum tanpa kata. Dirga seketika mengalihkan padangannya ke depan.
Ada apa dengan Dirga dan reaksinya yang berubah begini?
"Langsung melengos begitu, A’?" Tanya Mama menyindir setelah melihat gelagat aneh putranya. Nina tertawa kecil mendengar perkataan Mama.
"Kak, nasinya Nina ambilkan, ya?" Ujar perempuan itu membuat Dirga mau tak mau mengangguk. Istrinya itu tiba-tiba saja berdiri seraya menuangkan nasi keatas piringnya.
Tanpa kata, Dirga memulai sarapannya. Tak berujar sama sekali, bahkan setelah Nina meletakkan beberapa lauk keatas piringnya.
__ADS_1
Perempuan itu bertanya bingung dalam benaknya. Dasar aneh, bisa-bisanya Dirga bersikap begini sejak mimpi buruknya semalam?