LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[64] Saran Baru Dari Kak Layla


__ADS_3

“... Yakin kamu mau langsung ke kampung?”


“Iya, Kak. Tiba-tiba Nina kangen Emak dan Abah.”


“Kamu kepikiran omongan keluarga Om Dahlan, ya? Maaf ya Nin kalau mereka buat kamu nggak nyaman.” Terang Dirga seraya mendudukkan tubuhnya di ranjang ketika mereka akhirnya terbebas dari keluarga besarnya yang kepo itu.


Nina duduk di sampingnya. Perempuan itu menangis dalam diam.


Dirga tahu itu.


“Ya sudah, kita pulang ke rumah kamu, ya ...”


“Nina egois ya, Kak? Kak Dirga saja baru pulang dinas kerja semalam.”


Dirga menggeleng.


“Nggak masalah.”


“Barusan Nina impulsif kayaknya ... Maaf ya, Kak. Kita disini saja. Seharusnya Nina nggak menghindar begini ketika dihadapkan dengan keluarga Kak Dirga.” Katanya lirih. Perempuan itu menunduk pelan.


“Aku yang nggak enak. Memang kita nggak bisa menghalangi perbuatan orang lain, tapi kamu nggak salah Nin. Soal apapun yang mereka bahas, itu bukan urusan mereka. Peduli setan dengan segala hal yang mereka katakan.” Terang Dirga berusaha menenangkan istrinya.


Dirga memang baru kembali dari dinas kerjanya semalam. Dua hari lalu ia ingat jika untuk pertama kalinya Nina mengirimkan pesan teks menanyakam kabarnya. Bahkan ia menyisipkan kata rindu disana.


Seolah terjawab, Dirga yang tempo hari pun merasakan hal yang sama bahkan jauh sebelum dua hari lalu, meresponnya dengan senang. Kebetulan ada kesempatan untuk membalas pesan tersebut, Dirga membalasnya.


Tak ia sangka Nina mulai menjadi orang yang ia bayangkan sebelumnya. Perempuan sesungguhnya yang akan mengharapkannya kembali, tentunya selain Mama. Orang yang akhir-akhir ini mengisi pikiran Dirga, dan pelan-pelan mengikis ketakutannya untuk memulai kisah cinta seperti sebelumnya.


Dirga sepertinya merasakan apa yang Nina juga rasakan sekarang. Walau sebelumnya tak bisa menjawab, bahkan terkesan menampik, sepertinya sekarang tak lagi.


“Maaf ya Kak kalau Nina belum bisa jadi istri yang baik. Nina bahkan nggak tahu kalau Kak Dirga sedang diet, pun Nina belum merasakan tanda-tanda kehamilan ... Kak Dirga tahu sendiri kan, kita pakai pengaman? Aku nggak bisa jujur tentunya, tapi mendengar kenyataan yang mereka katakan, Nina tetap merasa agak sedih dan bersalah.” Katanya, lagi-lagi dengan nada lirih.


“Nggak, jangan begitu, Nin. Mereka saja yang sok tahu, padahal terakhir aku menimbang berat dua hari lalu di kantor, beeatku bertambah tiga kilo. Aku nggak benar-benar diet, kok. Santai saja.” Terang Dirga berusaha menenangkan istrinya.


Nina mengangguk kecil. Bagaimana pun Dirga sebenarnya dalam pemahaman Nina, jauh darinya bagaikan kekosongan baru yang sulit diisi apapun. Nina terbiasa bersama suaminya seperti ini. Walau Dirga belum membalas perasaannya-atau tidak membalas, entahlah-laki-laki itu tetap menjadi sosok yang ia sendiri janjikan.


Bertanggung jawab.


Djrga sangat bertanggung jawab, ia selalu memprioritaskan Nina dalam hal apapun, contohnya seperti peka dengan keadaan yang tak nyaman untuk istrinya itu.


“Dah, jangan sedih ya ... kita bisa ke kampung kamu sesegera mungkin. Sekarang pun sebetulnya nggak masalah, tapi aku sangsi kalau nanti kita paksakan pergi, kamunya lelah, nggak bisa deh ikut bimbingan besok lusa.” Ujar Dirga seraya tersenyum.


Dirga mengingat pesannya itu?


“Aku pikir Kak Dirga nggak baca pesan aku yang terakhir karena hanya ceklis dua dan nggak terlihat terbaca ...” Ujar Nina sedikit kaget.

__ADS_1


Dirga terkekeh. Dua hari lalu, selain pesan merindukan, Nina juga sedikit menceritakan kondisi skripsinya dan kesehariannya sebagai mahasiswa. Tentunya untuk yang pertama kalinya juga sejak mereka menjadi suami istri, Nina yang duluan menceritakan kondisi itu.


“Aku baca kok, dari kayar notifikasi. Walau nggak aku buka, karena nggak sempat. Aku tahu kamu mulai memberanikan diri untum cerita, Nin. Nggak apa-apa, aku juga minta kamu begitu kan tempo hari? So, silahkan cerita apapun yang kamu mau. Tapi maaf kalau aku nggak bisa cepat jawabnya.”


Nina mengangguk.


“Nggak apa-apa, Kak. Terima kasih ya Kak Dirga sudah mau ada dan memahami Nina. Maaf waktu itu Nina marah. Kalau boleh jujur, semuanya karena Nina merasa Kak Dirga mungkin nggak nyaman dengan pernyataan cinta Nina waktu itu. Maaf ya, Kak kalau memang Kak Dirga nggak bisa menerima Nina lewat cinta, karena Nina malah mencintai Kak Dirga. Sepertinya begini saja sudah baik, Kak. Nggak apa-apa kok, Nina nggak marah.” Terangnya polos.


Nina berujar seadanya karena ia tak ingin lebih jauh lagi menyimpan perasaan tak nyaman ingin.


Dirga terkekeh. Istrinya ini sangat lucu.


“Kata siapa aku nggak mau membalas perasaan kamu? Kalau sekarang aku bilang, aku juga mencintai kamu, bagaimana?” Tanya Dirga seraya tertawa.


Nina menutup bibirnya kaget.


Bagaimana bisa Dirga mengatakan ini sekarang ...


“Tapi Kak Dirga bahkan kabur dari kamar di hotel waktu itu saat Nina mengatakannya ...”


Dirga mengangguk.


“Iya, saat itu aku masih menampik perasaan sama kamu karena takut memulai kisah cinta baru. Nyatanya memang nggak buruk, dan hanya kamu orang yang pantas Nin.”


Nina yang tak bisa berkata-kata, langsung memeluk suaminya erat.


Dirga mencintainya juga ...


...-


...


“Nin? Sudah istirahatnya?” Nina kembali ke meja makan menghampiri Mama yang kelihatan sendiri disana. Mungkin keluarga sedang ada di taman belakang.


“Sudah, Ma. Tadi hanya ada perlu sebentar sama Kak Dirga.” Terangnya.


Mama mengangguk.


“Mama minta maaf ya jadi merepotkan kamu hari ini untuk masak banyak karena mau ada arisan keluarga, belum ditambah sama kondisi kamu yang sedang repot skripsi kan sekarang? Seharusnya tadi kita pesan saja, ya ... Mama jadi menyesal deh, nanti kita jadikan evaluasi ya suapa nggak begini lagi.” Ujar Mama seraya mendekatinya, menyentuh kedua tangannya dengan lembut.


“Nggak apa-apa, Ma. Nina nggak masalah kok. Lagipula nggak setiap hari begini, nggak masalah.” Jawab Nina ditambah senyum,.


“Terima kasih ya Nin. Mama juga minta maaf kalau tadi perkataan keluarga Mama ada yang menyinggung kamu sebagai istri dan menantu Mama. Sama sekali nggak ada yang Mama rasakan soal kamu. Mama yang memilih kamu hadir dalam hidup kami, seharusnya Mama nggak membebani kamu dengan hal seperti ini juga, tapi omongan orang memang sulit kita atur. Mama minta maaf ya sekali lagi.”


Nina lalu mengangguk sebagai balasan untuk Mama.

__ADS_1


“Iya, Ma. Mama jangan minta maaf, bukan salah Mama juga kok. Dah ya, Ma. Anggap saja ini challenge untuk Nina supaya bisa lolos ujian sebagai istri yang baik. Ya sudah, Ma. Nina mau ke dapur dulu ya, bantu siapkan minum.” Katanya tersenyum.


“Nggak perlu, Nin. Mama sudah buatkan tadi. Kamu kalau kurang nyaman, diam di kamar saja, ya ... sekalian istirahat.” Tambah Mama.


Nina menyerah. Ia memang merasa tak nyaman, tapi mau bagaimana? Omongan orang memang tak bisa kita atur, persis seperti perkataan Mama tadi.


Kaki mungilnya kemudian bergerak meninggalkan Mama.


Melihat Mama yang ternyata memahami perasaannya barusan, Nina merasa bersyukur. Karena banyak pasangan lain yang memiliki mertua yang berkarakter lebih tegas dan cenderung ‘traditional’ dalam praktik istri di rumah, pun menantu. Sedangkan Mama tidak, dan hal itu sangat patut Nina syukuri.


Beberapa waktu lalu pun satu hal yang sebetulnya perlahan mengubah moodnya, membuat ia mengingat.


Dirga menyatakan perasaannya.


Nina tak bisa berbohong kalau ia benar-benar selalu merindukan Dirga sebagaimana senyum manis itu menghantarkan jeritan aneh di dalam dirinya. Seperti pernyataannya tadi, Nina kini merasa berbunga-bunga. Langkahnya memilih cinta ternyata tepat, walau harus memunggu lebih lama untuk perasaan itu terbalas.


Dirga dan perkataan manisnya langsung membabi buta masuk ke dalam perasaannya sehingga Nina merasa lebih baik sekarang.


Ia hanya harus menjalani semua kisah ini dengan baik bersama suaminya.


Tak memilih kamar, langkah Nina berhenti ketika sampai di taman belakang. Ya, dia tak harus menghindari keluarga Mama.


Toh mereka mungkin ada benarnya, sekadar sebagai pengingat dan bukan justru membuatnya down. Keluarga Mama sedang saling bercengkrama begitupun Dirga yang juga berada disana.


Dirga disana dengan Irvin, si kecil yang lucu itu-bayi milik Layla-dalam pangkuannya. Sorot mata seorang laki-laki dewasa yang mengajak seorang bayi bercengkrama.


“Nina! Sini yuk nimbrung. Kenapa diam saja disana?” Suara cempreng kak Layla mengalihkan lamunannya yang berdiri tak jauh dari sana. Semuanya mata bertumpu pandang pada Nina seorang.


“Oh, iya kak!” Jawabnya bergerak mendekati para keluarga di saung besar yang sengaja Mama bangun beberapa tahun lalu. Halaman belakang rumah terlalu polos sehingga Mama berpikir untuk mengisinya dengan saung lumayan besar agar kelihatan asri dan juga sejuk.


“Duduk Nin. Sudah istirahaynya? Tadi Dirga kesini sendirian.” Layla menunjuk Dirga di ujung saung dengan matanya.


“Kamu suka anak-anak, nggak? Kalau Dirga aku tahu dia suka banget anak kecil. Irvinnya suka bercanda, ya mereka cocok deh ...” Ujar Layla sambil mengarahkan pandangan pada Dirga, begitupun Nina.


“Suka kok, Kak. Apalagi Irvin pintar dan lucu.” Nina melirik Dirga.


“Seru loh punya, Baby. Walau memang nggak seru kalau sudah capek seharian mengurus detil dan ***** bengeknya, tapi anak bisa menjadi sarana lebih dekat antar pasangan loh. Ya ... tapi kupikir kamu masih muda ya, Nin. Masih ada tanggung jawab skripsi juga, ikut baik saja sih menurutku. Asal jangan sengaj menunda.” Ujar Layla yang kemudian di akhiri senyum dan kerlingan mata genit.


Nina mengangguk malu. Ia tak merasa tersinggung kali ini, karena ini pesan yang mungkin bisa ia pertimbangkan. Terlebih melihat Kak Layla dan suaminya yang memang sangat serasi, membuat Nina iri. Apalagi ketika Bang Bahri dengan santai menggendong Irvin yang tertidur sementara sedang makan dan akhirnya bergantian dengan Kak Layla. Mereka sangat romantis, walau tinggal terpisah karena Bang Bahri harus mengurus beberapa cabang perusahaan di Indonesia, sedang kak Layla sedang melanjutkan studi di London pun tinggal bersama orang tuanya juga disana karena mereka memiliki usaha skala internasioanal.


“Iya kak, masih kami bicarakan. Memang perlu banyak pertimbangan walau nggak menunda.” Ujar Nina diiringi senyum.


“Kita saling berbagi saja ya, sebagai sesama istri.” Jawab Layla yang dibalas anggukan oleh Nina.


Dirga dan dirinya memang sudah sama-sama mencinta, walau perkara soal anak belum mereka bahas sejauh ini.

__ADS_1


Jika sudah rejeki pun nanti datang. Nina hanya sedang ingin menikmati waktu lebih lama dengan cinta yang baru dari suaminya Dirga.


__ADS_2