LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[52] Karena Surat Abah Untuk Dirga


__ADS_3

Dirga sedari tadi sibuk dengan ponselnya dikamar padahal sudah lewat waktu isya. Beranjak dari posisinya sejenak, mengenakan setelan koko dan sarung lantas bergerak keluar kamar. Laki-laki itu menangkap bayangan Nina yang berjalan di depan dari posisinya berjalan menuruni tangga.


“Nin … Kamu ngapain dari luar? Nggak istirahat dulu? Katanya ada yang sakit?” Tanya Dirga beruntun, seketika itu mengundang reaksi Nina yang di tegur tiba-tiba.


“Eh … Kak Dirga … Hah? Nggak, Nina baik-baik saja kok,” Katanya menggigit bibir tampak ragu.


Bukannya takut, tapi Nina merasa malu jika harus mengulang dan mengingat kembali memori yang tersimpan di otaknya akibat apa yang terjadi sore tadi. Dia memang merasa beberapa bagian tubuhnya sakit. Mungkin karena pertama kalinya, pun bukan maksud menghindari Dirga dan tidak istirahat, ia hanya ingin menghirup udara luar sebentar sambil membuang sampah.


Mengumpulkan keberaniannya kembali menatap wajah itu dalam kondisi normal seperti ini.


Gila! Dirga membuatnya mendadak tak fokus!


“Serius? Kamu agak pucat loh tadi. Maaf ya kalau ini buat kamu nggak nyaman? Lain kali aku—”


“Nggak apa-apa, Kak! Kak Dirga mau ke masjid, kan? Nah, cepat, nanti masbuk kalau telat.” Potong Nina seraya pergi menuju atas meninggalkan suaminya yang mengernyit bingung melihat reaksinya.


Dirga melirik kembali keatas, tempat dimana Nina menghilang dibalik pintu kamar mereka.


Dalam hati ia terkekeh pelan, semua memori itu berputar dipikirannya seolah tak ingin berhenti. Tapi kemudian Dirga menggeleng, tak ingin larut atau hal itu akan menjadi masalah karena dia sudah telat ke masjid.


Akan ia bahas nanti saja bersama Nina.


Ketika Nina memasuki kamar, ada beberapa pakaian rumah yang tadi Dirga pakai, berserakan di sekitar ranjang dan lantai. Bahkan Dirga meninggalkan boksernya dengan sengaja di atas ranjang. Pasti saat bersiap dengan setelannya tadi ia langsung melesat pergi tanpa teringat untuk meletakkannya di keranjang pakaian kotor.


Ketika Nina mulai merapihkan pakaian milik suaminya, perempuan itu menemukan sebuah amplop yang sepertinya keluar dari kantong baju Dirga.


Nina mengangkat amplop itu lalu dilihatnya nama yang tertulis di depannya.


‘Untuk, Nak’ Dirga.’


Nina membaca sekilas tulisan tangan itu. Sepertinya dia familiar dengan tulisan ini.


Amplopnya sudah sedikit robek, pasti Dirga sudah membukanya. Nina awalnya hendak meletakan kembali amplop itu, tapi tiba-tiba ia penasaran dengan isi amplop ini.


Nina melirik pintu. Tentu Dirga masih akan memakan beberapa waktu di masjid. Dengan keberanian ala kadarnya, Nina membuka amplop itu.


Ini punya Dirga dan tidak seharusnya Nina membukanya. Tapi melihat bagaiman amplop ini tergeletak, bisa saja Dirga meninggalkannya dengan sengaja atau mungkin terjatuh dari kantungnya.


Nina ‘kan kepo ...


Nina membuka amplopnya. Benar, isinya sebuah surat. Dirga seperti baru membacanya.


...Assalamualaikum.


...


...Salam hangat untuk menantu Abah, Nak Dirga.


...


...Sebelumnya Abah minta maaf karena nggak bisa main lama-lama di rumah kalian karena Abah masih harus bekerja.


...


...Abah senang sekali karena putri sulung Abah sudah menikah. Abah juga bersyukur karena dia mendapat laki-laki yang baik seperti Nak Dirga.

__ADS_1


...


...Tidak berpanjang, Abah hanya akan menitipkan putri Abah pada Nak Dirga. Sebagai pengganti Abah mulai saat ini, Abah harap Nak Dirga bisa memimpin keluarga dengan baik dan menyayangi keluarga dengan sepenuh hati. Bukan harta atau jabatan yang Abah butuhkan, Abah hanya minta pahala dan doa agar lepasnya tanggung jawab Abah ini yang kemudian diberikan kepada Nak Dirga, dapat menjadi kebaikan untuk Abah sekeluarga dan kalian berdua kedepannya. Abah titip Nina, ya.


...


...Dia anak perempuan pertama Abah yang baik dan kadang manja.


...


...Abah tahu Nak Dirga yang terbaik setelah yang maha kuasa menentukan kalian bersama. Abah ucapkan syukur sebanyaknya karena memberikan menantu seperti Nak Dirga.


...


...Semoga sakinah, mawadah warahmah.


...


...Salam hangat,


...


...Abah Bahri


...


Tanpa sadar, beberapa genangan air luruh dari mata Nina. Perempuan itu menangis setelah membaca surat yang ditujukan Abah untuk Dirga. Betapa Abah sangat ingin yang terbaik untuk putrinya dan bahkan, Abah begitu membanggakan Dirga sebagai menantunya.


Abah begitu mencintai mereka bahkan sangat menghargai Dirga.


Jika itu Dirga, semoga semua yang sudah diusahakan memberikan jawaban terbaik.


...-


...


Perempuan bersetelan one set kekuningan itu sedari tadi tampak tidak fokus dengan dirinya. Hampir saja jatuh terpeleset lantai basah yang dia pel. Semenjak tak sengaja menemukan amplop yang berisi surat dari Abah itu, Nina mendadak ceroboh. Bahkan Mama sampai dua kali memperingatkannya untuk tidak terus melanjutkan mengepel lantai. Namun Nina menolak karena beralasan dia baik-baik saja.


Pikirannya hanya mendadak berputar pada pesan abah. Terlalu sulit memikirkan jika beban yang Dirga tanggung sangat berat, pun belum adanya ikatan jelas diantara mereka sebagai suami istri baru-kecuali untuk part itu.


“Assalamualaikum.” Dirga memasuki rumah ketika Nina baru selesai mengepel.


Laki-laki itu melangkah naik ke kamar seraya menyapanya sekilas.


Nina meletakan bak berisi air kotor ke kamar mandi lalu, membersihkannya, sebelum akhirnya kembali ke kamar.


Rumah sudah agak sepi setelah waktu menunjukkan pukul delapan. Tak ada suara Lila, maupun batang hidung Mama yang tak lagi ia temukan.


Masih dalam perjalanan menuju kamar, Nina berpikir untuk beralih sebentar ke balkon luar dekat dengan ruang santai lantai dua.


Agaknya ia perlu sedikit merilekskan pikiran, dan menghiraukan segala pesan abah pada suaminya.


Dirga pasti bisa, Nina tak perlu merasa menjadi beban kan?


...-

__ADS_1


...


Dua jam sebelumnya.


Dirga bergegas berganti paiakan jika tak mau telat dan berakhir menjadi masbuk di masjid. Berganti di dalam kamar bukan di kamar mandi, rasanya sangat Dirga rindukan. Dulu sebelum menikah, Dirga sebetulnya biasa tidur sesukanya, bahkan biasanya ia shirtless dan tak begitu peduli dengan pakaian. Namun semenjak adanya Nina, laki-laki itu mencoba lebih menjaga sikap agar istrinya nyaman dan terbiasa.


Setelah baju koko yang selalu Nina siapkan selesai ia gunakan, laki-laki itu keluar kamar, tapi tidak jadi saat dia ingat satu barang kesayangan plus penting itu tertinggal. Dirga tak bisa jika tak membawanya, atau ia akan lupa waktu.


Si bebi-smart watchnya.


Dirga ingat terakhir kali dia memakai bebi saat dirinya keluar dengan jaket kulit. Mengingatnya, laki-laki itu memutar kamar mencari jaket kulitnya lalu menemukan benda itu tergantung dibelakang pintu walk in closet. Meraihnya, ia lalu merogoh kantongnya dan menemukan bebi disana.


Tangannya pun tak dengaja ikut menyenggol amplop terbuka yang terlipat disana.


Ah ... surat dari Abahnya Nina.


Dirga membukanya sejenak, membaca ulang tulisan yang dibuat dari goresan tinta hitam itu. Pesan yang disampaikan begitu dalam, jujur ia merasa sedikit takut, namun bukan untuk menjadi pengecut, hanya saja hal sebesar tanggung jawab seorang suami memang sudah wajar jika ditakutkan. Perlahan ia belajar untuk mulai bersikap lebih bijak sebagai seorang suami.


Dirga tahu, selama ini ia sudah mendapatkan segala pencapaiannya. Ia merasa mampu melaksanakan sesuai apa yang ia bayangkan walau itu sulit. Membaca surat abah pun membuatnya bersyukur untuk selalu ingat dan senantiasa bersikap lebih bertanggung jawab.


Mengingat bahwa waktunya ke masjid sudah hampir selesai, laki-laki itu dengan terburu meletakkan kembali surat itu ke dalam amplopnya. Sekilas tersenyum kecil mengingat wajah Nina saat itu. Dia suka saat Nina tengah tersenyum.


“Yah ... sudah adzan.” Monolognya terburu buru meletakan kertas itu asal kedalam kantong, tanpa sadar jika benda itu justru terjatuh keluar.


...-


...


Sekarang


Nina kembali ke kamar dengan lesu. Diliriknya Dirga yang tengah sibuk dengan ponselnya diatas ranjang.


Apa yang ada dipikiran laki-laki itu tentang pesan abah, ya? Apa menurutnya ini beban? Atau apa Dirga biasa saja?


“Nin ... besok siap-siap ya, insyaAllah kita jadi jalan. Aku sudah dapat rekomen tempat dari Galih.” Nina mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk ketika duduk menghadap cermin di depannya.


“Iya.” Responnya singkat.


Perempuan itu melanjutkan pekerjaannya membersihkan wajah dengan pelembab yang biasa ia pakai. Nina masuk kamar ke mandi sebentar lalu keluar dengan piayamanya yang nyaman.


Diliriknya ranjang dimana Dirga tengah sibuk dengan ponselnya disana.


“Kenapa, Nin? Kamu nggak sehat?” Tanya Dirga menengok kearahnya yang hanya terdiam dengan wajah sedikit murung.


Perempuan itu menggeleng.


“Nggak Kak. Nina baik-baik saja. Pamit tidur duluan, ya ...”


Dirga balas mengangguk cepat.


“Iya, istirahat yang cukup karena besok kita juga mau pergi,” Laki-laki itu meletakkan ponselnya. Meluruskan tubuhnya berbaring tepat disamping Nina. Menarik selimutnya sebatas dada, kemudian meraih punggung ramping itu kedalam dekapannya.


“Aku ingin peluk kamu malam ini. Terima kasih ya untuk semua yang sudah kamu percayakan sama aku. Aku berharap bisa berusaha lebih baik kedepannya sebagai suami kamu, Nin. Dah ... good night, tidur yang nyenyak ya.” Lanjutnya seraya memeluk Nina dari belakang.


Perempuan itu meringkuk dalam pelukan suaminya dalam ingatan yang pelik soal surat Abah.

__ADS_1


Apa ini jawaban dari kekhawatirannya?


__ADS_2