LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[39] Setelah Malam Pertama ada Hari Pertama Sebagai Pasangan


__ADS_3

“Y-ya?” Kata Nina berujar gugup.


Dirga berdeham sebentar. Ia juga tahu jika Nina mungkin tak terbiasa dengan kondisi ini, perempuan itu tampak gugup. Begitu pun dirinya yang tiba-tiba merasa gugup.


“Terima kasih ya karena sudah mau menikah denganku. Walau awalnya aku ragu sama kamu, tapi keyakinan Mama melunturkan keraguanku. Semoga kita bisa kompak menjalani hari-hari selanjutnya.” Terang Dirga tersenyum tulus.


Ia tak tahu apa kata yang pantas untuk mengakhiri hari ini-tentunya sebelum menghadapi hari berikutnya. Dirga hanya ingin berujar soal itu sejak tadi, sejak ia mengingat betapa bahagianya Mama ketika ijab qabul itu selesai.


Wajah bahagia yang tak pernah bisa ia beli dengan apapun.


Kini Nina memutar tubuhnya. Menatap Dirga di depannya.


Posisi mereka berdiri di depan meja rias, saling tatap walau Nina harus sedikit mendongak karena tinggi badan Dirga yang cukup berjarak dengannya.


“Sama-sama, Kak. Terima kasih juga karena sudah mau menerima Nina, membawa solusi baik untuk masalah ekonomi Nina semalam kuliah di Jakarta. Bisa tinggal dirumah ini tanpa menyewa. Kalau boleh jujur, sebetulnya alasan lain Nina menerima penawaran Mama adalah karena masalah itu. Maaf ya Kak, Nina nggak maksud berkata seolah memanfaatkan kondisi, tapi Mama sangat membantu Nina karena masalah itu. Selebihnya Nina jadi nggak begitu khawatir soal pergaulan, karena niat utama pernikahan ini adalah ibadah, Nina hanya merasa jika sekarang atau pun nanti, ibadah ini akan tetap berlangsung.” Jujurnya.


Nina tampak begitu tak enak ketika menjelaskannya. Ia mungkin takut Dirga marah karena terkesan memanfaatkan kondisi, tapi Dirga sendiri mengerti. Wajar jika akhirnya Nina merasa menemukan solusi hidup disamping niatan ibadah tentunya. Dirga juga punya niat yang tak berbeda jauh, ia ingin membahagiakan Mama, dan disisi lain juga ingin terlepas dari teror Mama soal menikah, pun akhirnya kembali pada esensi utama, semua untuk ibadah.


Pada akhirnya tujuan mereka serupa.


“Nggak apa-apa, nggak ada yang perlu dikhawatirkan,” Terang Dirga.


Nina mengangguk seraya menampakkan senyum termanisnya yang membuat Dirga tersenyum dalam hatinya.


Manisnya istriku! Teriak Dirga dalam hati.


Berdeham sebentar, laki-laki itu kembali berujar.


“Nin ... kamu pasti mengerti kalau ini malam pertama kita. Stigma yang terbangun diantara para pengantin selalu mengindikasikan pada hubungan ‘lanjut’ antar dua pengantin, kan,” Dirga menjelaskannya dengan kedua jarinya membentuk tanda ‘v’.


“Itu pun yang seharusnya terjadi sama kita sekarang ...” Lanjutnya menggantung kata.


Belum sempat Dirga kembaki melanjutnya, Nina sudah mengambil alih.


“Iya, Kak, Nina paham kok. Apa Kak Dirga mau memintanya juga malam ini?” Tanya Nina terdengar pasrah ditelinga Dirga. Mata bulat itu memandanginya polos. Ada sebersit rasa tidak tega di dalam hati Dirga kala menatapnya. Walau kilat menggebu seolah menyuruh Dirga segera merealisasikannya, namun logikannya lebih bekerja cepat. Bukan hanya hal baru, ini pasti pengalaman pertama untuk Nina. Sebetulnya dirinya juga, tapi Nina pasti akan merasa berat dibadingkan dengannya.


Dirga tersenyum. Tangannya menyentuh kepala Nina pelan seraya mengusapnya. Turun kearah kedua pipinya yang terasa lembut. Menimbulkan gelenyar aneh disusul desir darah yang terasa cepat.


Baik Dirga maupun Nina.


Dirga menyentuh pinggang Nina, menarik perempuan itu mendekat padanya. Nina sempat tersentak kaget dengan gerakan spontannya, tapi kemudian perempuan itu menunduk. Menyembunyikan semburat merah yang Dirga tahu telah muncul dikedua pipinya.


“Kulit kamu halus betul, Nin ...” Ujar Dirga dengan suara yang mendadak serak.

__ADS_1


Aduh suara! Lo kenapa jadi begini, sih? Hati Dirga berteriak ricuh. Menyalahkan suaranya yang mendadak serak setelah desir-desir lain muncul dalam dirinya.


Beberapa detik Dirga hanya mengikatkan tangannya dipinggang Nina, sementara tangannya yang lain bergantian mengusap pipi kiri Nina.


“Aku tahu kamu cantik, Nin. Walau nggak pernah se-sadar ini kalau kamu ternyata jauh lebih cantik setelah mandi dan tanpa makeup.” Kata Dirga memuji betapa cantiknya sang istri.


Nina berkali-kali menelan salivanya. Menunggu apa kiranya yang akan Dirga lakukan.


Dia pasrah, dia benar-benar pasrah.


Dirga tahu-tahu mendekatkan wajahnya kearah Nina. Refleks perempuan itu memejamkan matanya.


Ketika membuka mata, ia tersadar bahwa Dirga tak mencium kearah mana yang Nina pikirkan tadi. Alih-alih memagut benda kenyal diwajahnya itu, Dirga justru mengecup pipinya singkat. Melepas ikatan eratnya pada tubuh Nina.


“Malam ini kita tidur saja seperti biasa. Tenang, aku nggak akan macam-macam. Kamu bisa percaya aku, kok Nin. Ya ... walau kamu cantik banget, sialnya kenapa malam ini aku jadi kecanduan memandang kamu?” Dirga tertawa.


“Ya sudah, yuk kita tidur. Soal itu, kita pikirkan hari lain. Aku tahu kamu lelah, aku juga lelah-walau nggak masalah,” Dirga tertawa lagi, “Nggak, aku bercanda. Aku menghargai kamu dan kondisi kesehatan kita yang kurang fit. Lebih baik sekarang kita tidur dan menyiapkan hari esok dengan baik. Hm ... bagaimana kalau berpelukan sambil tidur? Boleh?” Tanya Dirga menyadarkan Nina dari lamunan sejenaknya ketika mendengar penjelasan laki-laki di depannya ini.


Nina mengangguk. Dia tak berujar apapun lagi, memilih bergerak keatas ranjang disusul Dirga yang juga merebahkan tubuhnya disisi kiri. Laki-laki itu mendekat kearah Nina yang membelakanginya, menarik tubuh istri barunya untuk mendekap dengan pelan. Menghantarkan kehangatan tubuhnya.


Walau keinginan itu ada, rasa lelah jauh mengambil alih dirinya. Dirga butuh tidur untuk kembaikan kondisi fisiknya besok.


Soal itu, ia bisa pikirkan nanti. Toh tampaknya Nina juga belum siap.


“Kalau nggak nyaman bilang ya, Nin. Aku bisa putar badan membelakangi kamu- ya ... walau sebetulnya nggak enak saling memunggungi, sih.” Ujar Dirga lagi seraya memeluk Nina. Matanya mulai memejam.


Kini Nina yang justru tak bisa memejamkan matanya.


Bagaimana bisa tenang ketika ada seseorang baru yang akan memeluknya semalaman. Nyaman, iya ini nyaman, tapi ...


Ah! Dirga sangat tidak baik untuk jantungnya yang tak berhenti berdegup.


“Bisa, yuk tidur Nin.” Gumamnya sangat pelan. Berusaha untuk tak membangunkan Dirga.


Semoga hari esok lebih baik dari hari ini.


...-


...


Makan siang belum tersaji di meja makan ketika Nina keluar dari kamar. Ini hari pertamanya menjadi seorang istri dan pasangan menikah bersama Dirga. Setelah kecanggungan semalam, akhirnya ia bisa mengontrol hal itu dan mulai menjalani hari kembali seperti biasanya.


Berjalan gontai, ia tak melihat Mama. Hanya ada Lila yang tengah membereskan piring kosong serta beberapa perkakas makan.

__ADS_1


“Mama mana, Lil?” Nina menarik serbet di dapur sebelum kembali ke meja makan membantu Lila me-lap beberapa piring yang selesai dicuci.


“Ibu keluar, Kak. Kerumah tetangga, bagi makanan. Banyak banget tadi soalnya, sampai menumpuk. Supaya nggak mubadzir.” Nina mengangguk tanpa menoleh ke Lila.


Suara derap langkah mengalihkan perhatian kedua perempuan di dapur itu. Dirga turun dari kamar dengan peci serta sarung yang melilit kakinya.


Tanpa pamit, laki-laki itu keluar rumah.


Hanya salam yang mereka dengar dengan suara pintu yang berderit mengakhiri suara langkah yang hilang.


“Kak Dirga sudah ke masjid saja jam segini?” Ujar Lila melirik Nina disampingnya.


“Kayaknya mau ikut kajian sabtu deh, biasanya sebelum dzuhuran, Lil.” Jawab Nina. Dirga tak benar-benar cerita jika ia akan menghadiri kajian sabtu dimasjid komplek, tapi beberapa hari lalu Nina melihat banner yang berisi informasi kajian sabtu. Sepertinya di jam sebelum dzuhur, dan karena Dirga mengenakan peci juga sarung, seharusnya dia kesana. Dirga menyapanya selepas membuka mata pagi tadi. Nina merasa sesikit awkward namun Dirga menepati janjinya dengan tidak melakukan apapun selama mereka tidur. Setelahnya mereka bersama-sama merapihkan beberapa barang, kado serta amplop yang menumpuk dikamar. Tak banyak pembicaraan yang mereka lakukan. Lebih banyak hanya sibuk dengan apa yang harus dikerjakan.


Mama masuk kerumah beberapa menit setelah Dirga keluar. Perempuan paruh baya itu meletakan sekantong besar hand bag yang mana kelihatan berat.


“Mama bawa apa?” Tanya Nina sambil merogoh isi tas tersebut.


“Ini bebawaan dari tetangga. Mama kasih makanan yang masih banyak ke mereka, eh ... malah dikembalikan lagi sama makanan lain.” Terang Mama seraya duduk dikursi meja makan.


Nina menuangkan beliau segelas air.


“Banyak banget Ma. Ini sih kayak balik lagi.” Nina terkekeh.


Mama ikut terkekeh.


“Mangkanya.”


“Minum dulu, Ma.” Nina meletakkan gelas berisi air didepan Mama.


“Kak Nina, ini banyak lauk matang. Untuk makan siang saja mungkin ya?”


“Iya nggak apa-apa. Kebetulan kita belum sempat masak buat makan siang juga, kan.” Ujar Mama.


Lila mengangguk.


Setelah selesai dengan beberapa urusan rumah tangga, mereka bersama menikmati makan siang dari lauk yang diberikan beberapa tetangga.


Dirga pulang selepas ashar dari masjid. Setelah acara kajian dan melaksanakan jamaah dimasjid, ia pergi sebentar kerumah Saiful untuk membicarakan soal beberapa hal. Salah satunya soal Papa yang semalam sempat ia kesampingkan ingatan soal itu.


Setelah menerima saran, dia kemudian pulang kerumah. Setibanya dirumah, diliriknya Mama, Nina dan Lila yang asik bercengkrama di ruang keluarga sambil menikmati beberapa keripik didalam stoples. Duduk di sofa dalam posisi membelakanginya.


Kakinya beralih meneruskan perjalanan menuju kamar. Tampaknya mereka tidak menyadari salam, apalagi kedatangannya.

__ADS_1


Tak sadar hari sudah akan berganti saja, padahal gelar sebagai suami dan pasangan bersama Nina, baru saja tersemat pada dirinya hari ini.


Dirga terkekeh lucu ketika mengingingat ini.


__ADS_2