LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[43] Dirga Normal dan Bahasan Soal Anak


__ADS_3

Setelah terjaga beberapa jam semalam, Nina akhirnya tertidur juga setelah Dirga kembai menawarkan pelukan untuknya. Tentunya pagi ini pun laki-laki itu yang membangunkannya.


Nina menyelesaikan sholat setelah Dirga memberitahunya bahwa jam menunjukkan pukul setengah enam.


Mereka sama lelahnya, bahkan sama-sama baru tidur kurang dari empat jam, tapi laki-laki  itu tetap pada kewajibannya untuk berangkat ke masjid ketika subuh. Nina turun dari kamar setelah selesai sholat. Walau masih mengantuk, dia tetap harus turun untuk membantu Mama walau sebetulnya Mama tak masalah jika Nina perlu waktu untuk dirinya.


“Sudah bangun, Nin? Lelah banget ya?” Mama bertanya ketika langkahnya semakin mendekat kearah mertuanya itu.


“Iya Ma. Agak sulit tidur semalam.” Lalu disambut tawa kecil milik Lila disamping Mama.


“Kak Nina lelah banget, ya?”


Nina menggeleng.


“Biasa lah, Lil. Kayaknya akumulasi dua hari lalu kan acara full seharian. Baru terasanya sekarang-sekarang. Aku bisa bantu apa, nih, Ma?” Tanya Nina setelah merespon Lila,  melihat Mama yang menata piring serta perkakas makan lain di meja makan.


“Aa’ kayaknya belum kembali dari masjid, ya? Sudah jam enam-an, nih. Masa iya belum pulang?”


Nina melirik tangga tempatnya turun.


“Nina belum lihat lagi, Ma. Padahal Kak Dirga yang membangunkan Nina, tapi setelah keluar kamar mandi orangnya hilang.”


“Tadi Lila lihat Kak Dirga pergi jogging, deh, Bu, soalnya pakai setelan olahraga.” Timpal Lila melirik Mama.


Mama mengangguk, “Oh ... Ya sudah, biasa dia seperti itu. Nin, kalian ‘kan berangkat hari ini, sudah siap?”


“Sudah Ma.” Tangan Nina masih fokus ke piring-piring,


“Kak Dirga kayaknya belum, tapi dia bilang nggak akan bawa banyak-banyak baju.


“Padahal hampir lima hari loh? Dia mau bawa baju sedikit apa? Mama titip Dirga tolong disiapkan pakaiannya ya, Nin. Walau dia bilang bisa mengurusnya sendiri, kadang-kadang sering tertinggal yang detail. Ujung-ujungnya dia lebih memilih beli pakaian baru daripada bawa sejak awal. Dasar memang dia anak boros.” Ujar Mama diakhiri kekehan ketika mengingat putranya itu

__ADS_1


Nina mengangguk.


“Baik, Ma. Nanti Nina akan temani kak Dirga siapkan.”


“Oke, terima kasih ya, Nin. Oh ya, ada yajg mau Mama bicarakan. Kebelakang sebentar dulu, yuk.” Ajak Mama sambil memegang lengan Nina.


“Lil, kamu nggak apa-apa ya disini dulu?” Ujar Mama pada Lila.


Perempuan muda itu mengangguk semringah.


“Nggak apa-apa, Bu. Serahkan semuanya pada Lila!” Katanya semangat.


Mama kembali terkekh seraya pergi meninggalkan area dapur bersama Mama


Apa yang mau Mama bicarakan?


-


“Maaf, Ma, maksudnya bagaimana? Kak Dirga nggak ada masalah semalam, Nina bangun siang karena agak kurang sehat semalam dan belum terbiasa pakai AC juga kayaknya mangkanya masuk angin.” Jujurnya.


Mama menatapnya kaget setelah mendengar penuturan Nina barusan.


“Kamu sakit, Neng? Kalau sakit minum obat, ya? Sudah enakan?” Tanya Mama tampak khawatir seraya menyentuh pipinya.


Nina tersenyum, menggeleng pelan.


“Nggak apa-apa Ma, sudah baik sekarang.”


Mama mengangguk.


“Ya sudah, Alhamdulillah ...” Syukur Mama.

__ADS_1


“Oh ya, maksud pertanyaan Mama tadi, sebetulnya ada kekhawatiran tersendiri yang Mama rasakan tentang Aa’ Nin. Sebelum menikah dia tampak nggak pernah tertarik dengan perempuan manapun. Teman perempuan, bahkan pacar saja Dirga kayaknya nggak punya. Maka dari itu Mama sangsi jika dia mungkin melenceng. Maaf kalau pertanyaan Mama ini terkesan ingin tahu atau tabu, tapi Aa’ normal sebagai laki-laki dewasa kan, Nin? Mama tanya ini ke kamu, karena hanya kamu yang bisa membuktikannya dan tahu. Maaf ya kalau Mama jadi bahas-bahas privasi kalian.” Ujar Mama merasa kurang nyaman, walau beliau sangat ingin tahu soal ini.


Nina menatap Mama bingung. Dia sebetulnya paham kemana arah pertanyaan Mama. Namun, seperti yang Mama katakan juga, ini terasa tabu untuk dibicarakan. Kenyataanya mereka hanya sebatas berpelukan dan skinship akibat suasana yang mendukung dari pergerakan provokatif suaminya


Menempelkan wajah mereka-ah! Nina nggak mau membahasnya.


Wajahnya memerah saat ini juga.


“Kalau dilihat dari ekspresi kamu sekarang, sepertinya Aa’ memang normal ya, Nin? Alhamdulillah kalau begitu. Mama bersyukur kalau dia normal dan memperlakukan kamu sebagaimana mestinya.” Ujar Mama tanpa menunggu jawabannya. Mama pasti mengerti bagaimana perasaan Nina untuk menjawab pertanyaan seperti ini.


Tak ingin memberikan Mama kenyataan yang mungkin saja membuat beliau kecewa, Nina memilih mengangguk pelan. Mungkin memang belum terjadi apa-apa diantara mereka, namun perlakuannya yang sangat seduktif itu membuat Nina yakin bahwa Dirga memang baik-baik saja dengan orientasi seksualnya.


Dia bahkan pernah membahas soal malam pertama, maka bisa disimpulkan jika Dirga memang ‘menginginkan’ Nina sebagai istrinya.


“Ya sudah, Mama nggak akan tanya lagi. Sisanya Mama serahkan sama kalian. Tugas Mama sudah selesai untuk menikahkan Aa’ dengan kamu, Nin. Selain mengurus dan memberikan pendidikan yang baik bagi anak-anaknya, menikahkan anak pun tugas orang tua. Maka Mama nggak akan khawatir lagi soal Aa’ dan masa depannya.” Ujar Mama seraya tersenyum. Memberikan tatapan hangat seorang ibu yang sarat akan keinginan terbaik untuk putra-putrinya.


“Nina akan usahakan untuk bisa menemani Kak Dirga selama kami bersama ya, Ma. Walau tugas Mama menikahkan kami sudah selesai, tapi masih ada Nina sebagai menantu sekaligus anak perempuan Mama yang masih perlu pengawasan dan ditemani dalam menyikapi hal-hal yang baru bagi Nina sebagai istri.” Ujarnya tulus.


Dirinya dan Dirga memang merasa jika Mama banyak mengintervensi mereka berdua, apalagi soal honeymoon yang membuat mereka sebal karena terkesan dipaksa. Namun pada lain hal, Nina merasa masih butuh mama sebagai sosok seorang ibu yang memberikan pelajaran pada balitanya yang baru mulai berjalan atau bahkan makan nasi. Seperti itulah kiranya Nina.


Teringat perkataan Dirga semalam soal keinginan untuk tinggal berpisah dari Mama. Nina tak berpikir jika meninggalkan Mama adalah pilihan terbaik, walau Dirga punya pertimbangan sendiri. Dia hanya perlu mengikuti suaminya, memang, tapi Nina tetap tak terbayang jika tak ada Mama dikesehariannya seperti belakangan ini.


“InsyaAllah … Mama akan usahakan untuk bisa selalu ada bagi kalian. Oh ya, Aa’ juga sempat bicara dengan Mama dimalam sebelum pernikahan kalian. Katanya dia tetap ingin kalian tinggal mandiri, walau nggak akan terlalu jauh dari rumah ini. Dia belum tahu respon kamu bagaimana, tapi kalau Mama setuju saja Nin. Toh ini hak kalian kok, kalian masih muda, pasti butuh banyak privasi. Mama mengerti, nggak perlu khawatir untuk menuruti apa yang Aa’ katakan ya, Nin. Dia pasti sudah mendiskusikannya dengan Mama jika itu menyangkut diri Mama sendiri juga. Kalian juga nggak akan pindah sekarang, kan? Mungkin nanti kali ya kalau kalian sudah ada anak,” Jeda Mama seraya terkekeh.


“Oh ya, soal anak, kalau bisa jangan menunda ya, Nin. Ketika masih muda punya anak akan lebih baik, walau tetap harus selalu siap secara mental, tapi pesan Mama jangan menunda yang baik seperti ini ya … Ikuti alurnya saja …” Tambah Mama seraya menepuk bahunya pelan.


“InsyaAllah ya, Ma … Nina dan Kak Dirga sendiri masih sedang belajar untuk tahu kemauan dan pribadi masing-masing. Soal anak, kami belum pernah bahas ini sebelumnya. Seperti kata Mama juga, kalau Nina mengikuti alurnya saja, sih. Kuliah Nina juga sudah mau selesai.” Responnya.


Soal anak memang sempat menjadi pikiran Nina walau hanya untuk dirinya sendiri. Bukannya tak ingin punya anak atau menunda, ia hanya merasa belum siap—bukan secara fisik, tapi kekhawatiran soal Dirga dan pribadinya yang terkadang masih sulit Nina baca, menjadi salah satu alasan.


Jujur, harapannya hanya jika nantinya ada anak, mereka benar-benar sudah siap.

__ADS_1


__ADS_2