LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[47] Titik Terang Keberadaan Papa dan Prioritas Baru Dirga


__ADS_3

Tiga hari yang lalu.


“... Iya, Om Iya, maaf Dirga lupa nggak mengundang. Iya, terima kasih doanya. Salam sama semuanya, Assalamualaikum.” Dirga lalu menutup teleponnya setelah kata salam mengakhiri.


Seperti angin segar, ternyata telepon rumah Om Anan belum berubah. Baru kali ini Dirga merasa ingatannya sangat berguna. Terbukti ketika mengingat soal Papa, ia juga mengingat kedatangan Om Anan beberapa tahun lalu. Ketika menelpon tadi, awalnya dia sangsi jika pemilik nomor ini kemungkinan sudah berubah. Nyatanya Om Anan masih menggunakan nomor telepon ini sebagai panggilan rumah. Dilanjut dengan pembicaraan soal kabar, lalu menanyakan soal keberadaan Papa. Om Anan bilang sudah dua bulan yang lalu sejak Papa terakhir kali ia melohat kehadiran Papa di acara kumpul keluarga bertempat di villa salah seorang kerabat. Om Anan bilang saat itu Papa terlihat berbeda.


Beliau datang dengan setelan sederhana yang terkesan lusuh, menggunakan motor yang menurut beliau, hal itu bukan Papa seperti biasanya. Terlihat keren dengan setelan jas, jam tangan mahal, bahkan beberapa pengawal dan seorang asisten.


Perkataan Sofia saat itu bisa jadi tidak salah, walau ia kecewa karena Papa tidak memilih menemuinya untuk masalah ini.


Ya ... ia memang membenci Papa sebelum ini, Papa pasti tahu, dan Dirga paham bahwa beliau adalah orang dengan tingkat gengsi tinggi.


Jadi wajar jika beliau berakhir seperti apa yang terjadi padanya sekarang.


Setidaknya Dirga merasa lebih tenang karena waktu dua bulan tidak terlalu lama untuk bisa meyakinkan diri bahwa Papa kemungkinan masih baik-baik saja.


Laki-laki itu kembali ke kamar setelah menelpon. Bukan hanya sebuah solusi tentang keberadaan Papa, tapi juga pikiran baru yang mengganggu dirinya.


Ia masih tetap harus mencari Papa berbekal alamat sekadarnya dari Om Anan.


Diliriknya Nina yang kini menyalakan televisi di kamar dengan posisi duduk menyandar pada kepala ranjang.


“Nggak pusing lagi?” Tanya Dirga pelan sambil meletakan ponsel Nina.


“Thanks handphonenya.” Lanjut laki-laki itu.


“Oke.” Respon perempuan di sampingnya seraya melirik sang suami, kembali mengalihkan pandangannya kearah televisi,


“Alhamdulillah, mual masih, pusing juga, tapi nggak separah sebelum ini.” Terangnya merespon pertanyaan Dirga sebelumnya.


“Alhamdulillah kalau begitu.”


Dirga lalu berbaring di sofa. Sebetulnya ia lelah seharian ini, tapi melihat Nina yang hanya berbaring lemah disana, membuatnya tak tega untuk memaksakan diri berbaring disampingnya yang mungkin akan merasa tak nyaman, pun karena suhu tubuhnya masih hangat walau akunya perempuan itu sudah lebih baik.


“Aku tidur dulu ya, Nin. Agak lelah ...” Terangnya pelan seraya memejamkan mata tanpa menunggu jawaban sang istri. Setelahnya, walau sudah terpejam Dirga tahu bahwa Nina mematikan lampu beserta televisinya, memberikan kondisi nyaman seperti yang ia suka.


Perempuan itu mengerti kondisinya, walau tak bisa memaksanya untuk ikut bergabung diranjang.


Toh dia yang memilih sofa, dibandingkan bertanya langsung untuk tidur bersama disana, kan?


Heh ... Dasar dirinya yang tsundere!


...-

__ADS_1


...


Sekarang


Dirga memasuki rumah dengan beberapa orang yang sejak kemarin telah menghubunginya untuk meminta izin bertandang. Kedua laki-laki itu berjalan dibelakang seraya mengikutinya.


Ditambah satu perempuan muda yang baru saja datang, langsung menjadi atensi ketiganya ketika mereka tiba di ruang tamu.


“Eh ... Kak Dirga sedang ada tamu, ya? Kalisa balik dulu, deh. Nanti kesini lagi.”


Kalisa, perempuan muda yang rumahnya beberapa blok darinya itu menatap dengan ragu. Melirik dua laki-laki lain disisi Dirga. Niatnya datang untuk membawa pesanan seprai dan sarung bantal Mama Elsa.


“Nggak apa-apah Kal, santai saja. Mereka nih orang nggak penting juga. Kamu mau antar seprai pesanan Mama kan, ya? Aku panggil Mama dulu, deh.” Ujar Dirga.


Kalisa tampak mengangguk ragu.


“Boleh, Kak. Terima kasih, ya ...”


“Duduk dulu, Kal. Aku ke dalam sebentar,” Dirga kemudian melirik dua temannya itu.


“Lih, Us, titip Kalisa. Jangan macam-macam atau buat dia lecet ya, awas saja kalian.” Kelakar Dirga menunjuk kedua rekannya.


“Santai, Dir ...” Jawab Galih terkekeh.


“Eh ... ramai-ramai nih. Firdaus, ya? Sama Galih kan kalau nggak salah? Oh! Ada neng Kalisa juga. Mau antar pesanan ya, Neng?” Mama yang datang dari dapur menyapa beberapa orang itu santai.


Kalisa langsung maju seraya mencium punggung tangan Mama.


“Iya, Tante. Seprai dan sarung bantalnya sudah jadi.” Terangnya sopan seraya menyodorkan paperbag ditangannya kearah Mama.


“Wah, sudah jadi? Cepat ya nenek kamu buatnya, Neng. Ayo duduk dulu. Ibu buatkan minum ya?” Tawar Mama.


Kalisa menolak dengan halus.


“Nggak usah, Tante. Kalisa mau langsung balik saja. Nggak enak ini ada teman-temannya Kak Dirga. Kalau begitu Kalisa permisi ya ...“


“Berapa umur kamu sih, Kal?” Tanya Firdaus sok akrab.


Dirga tertawa.


“Nggak perlu kepo deh, Us.” Ujar Dirga menimpali pertanyaan Firdaus.


“Nggak apa-apa, Kak. Saya tujuh belas tahun, kak.” Katanya sopan.

__ADS_1


Wajah Dirga tiba-tiba berubah kaget.


“Masa?”


“Iya dong kak.” Jawabnya riang.


Galih yang sedari tadi diam, terlihat tertawa. Begitu pun dengan Firdaus.


“Mau nggak sama Kak Galih? Cuma beda sepuluh tahun kok, Kal.” Canda Firdaus konyol.


“Wush! Ngegodain anak orang saja kalian.”


Dirga tertawa pun Galih yang tampak menggeleng tak menyangka dengan Firdaus yang konyol.


“Jangan di dengarkan mereka, Kal. Memang dasar orang gila kalian!” Ujar Dirga dengan nada meledek.


“Jangan di dengarkan si, Daus Kal.” Respon Galih membuat Kalisa mengangguk malu.


“Eh ... eh ini kok malah pada meledek? Sok atuh di cicip kue Mama.” Tegur Mama seraya meletakan nampan berisi kopi dan kukis.


Mama melirik Kalisa hanya terkekeh memperhatikan tiga laki-laki yang sedang tertawa di depan nya.


“Jangan ganggu Kalisa. Datang saja lagi nanti kalau sudah waktunya. Ya, Neng?” Canda Mama membuat Kalisa terkekeh malu.


“Tante Elsa, ih ...” Ujarnya seraya tertawa pelan.


Beberapa menit perbincangan itu berakhir setelah Kalisa benar-benar izin pamit untuk pulang karena Neneknya menunggu. Tersisa lah tiga orang laki-laki yang duduk sambil menikmati kopi dan sajian diatas meja.


“... Lo bisa kan Dir, jadinya?” Itu Galih yang menegurnya duluan setelah mengingat pembicaraan mereka semalam.


Dirga lalu meneguk kopi di meja.


“Belum tahu, gue tanya Mama dulu sih.”


Galih menambahkan.


“Bukannya cukup hanya izin istri? Mama juga, ya? Anak Mama betul dirimu, Dir.” Kelakar Galih.


“Ya ... bagaimana ya, soalnya sekarang perempuan prioritas gue bertambah satu, jadi harus dua-duanya, lah.”


“Anjay! Bisa-bisanya lo pakai kata-kata begitu, Dir? Mau nikah saja rasanya gue!”


Dirga tertawa geli mengingat kata-kata yang barusan ia lontarkan. Dapat kosa kata dari mana dirinya ini?

__ADS_1


Tapi benar kan, Nina memang prioritasnya sekarang.


__ADS_2