![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Mama dan Lila sudah sampai di tengah jembatan, sedangkan kedua pasangan itu masih berdiri di ujung jembatan. Berpikir apakah mereka akan melewatinya bersama atau tidak.
“Nina, Aa’ ayo! Nanti Lila fotokan dari sini!” Seru Mama yang berdiri beberapa meter dari mereka, tepat diatas jembatan.
“Nggak lah Ma. Kita lewat jalanan setapak saja!”Jawab Dirga kembali berseru pada Mama dari tempatnya berdiri sekarang.
Dirga bukannya takut atau malah percaya mitos, dia hanya malas membuang-buang waktunya dengan menyebrangi jembatan ini sementara banyak orang yang mulai mengantir untuk melewati dan berfoto diana.
Sedangkan Nina, perempuan itu sendiri sebetulnya takut melewati jembatan ini.
Beberapa menit berikut, ponselnya bergetar.
Dilihatnya kedepan, Mama menelpon dari posisinya diatas jembatan.
“Bagaimana kamu sih, A'? Sini atuh buruan, Mama fotokan!” Ujar Mama dari sambungan telepon.
Dirga menggeleng memberi respon pada Mama lewat gerakan.
“Nggak usah lah, Ma. Ramai ini, banyak yang mengantri ...”
“Nggak apa-apa! Namanya orang mau foto, lewat saja, A’. Ambil selfie sama Nina.” Terang Mama dengan sepihak memutus panggilan.
Dirga berpikir sebentar. Mama dan Lila sudah duduk nyaman di kursi taman dekat jembatan di sebrang.
“Nin, mau lewat, nggak?”
Nina memandangi Dirga sekilas.
“Boleh saja sih ... tapi-Kak Dirga mau juga?” Tanya Nina.
“Ya ... kalau aku sih ayo saja. Malas berdebat sama Mama. Kalau kita putar arah lumayan juga.” Responnya.
Beberapa detik tidak terdengar apapun, sampai akhirnya angin menerpa wajah Nina dan tanpa sadar telapak tangannya sudah berada pada genggaman telapak besar milik Dirga.
“Kamu takut, kayaknya? Ya sudah jalannya pelan-pelan. Mama kalau nggak dituruti repot.” Dirga menggenggam tangan Nina lalu mengajak perempuan itu berjalan dengan tenang menaiki jembatan.
Seperti sebuah kebetulan, Nina dan Dirga melewati jembatan hanya berdua saja. Tidak ada pengunjung lain disana.
Dirga berjalan dengan pelan lalu mengajak Nina berhenti ketika mereka telah berdiri di tengah jembatan.
“Mau aku fotokan, nggak? Kita nggak boleh lama-lama disini soalnya.” Dirga mengeluarkan ponselnya hendak mengarahkannya pada Nina disampingnya.
“Ah, nggak-nggak Kak. Nina saja yang fotokan Kak Dirga sini? Nina kurang suka difoto.” Jawabnya seraya menghalau tangan Dirga yang hendak mengambil gambar dirinya dengan ponsel.
“Loh? Biasanya cewek-cewek suka banget foto-foto. Sampai timeline sosmed ku tuh penuh rekan cewek-cewek dan selfienya setiap kali ketemu spot foto bagus.” Kekeh Driga mengingat rekan-rekan yang sering ia lihat di sosial media.
Laki-laki itu tampak berbeda dimata Nina. Tampak ada pancaran lain yang menguar dari diri Dirga ketika tersenyum seperti ini. Suaminya manis, ramah dan ternyata memiliki banyak rekan perempuan sampai-sampai terkekeh ketika mengingatnya.
Pasti mereka cantik-cantik. Wajar jika merasa percaya diri ketika di foto.
“Um ... Nina hanya nggak biasa, Kak. Kurang nyaman ...” Katanya seraya beralih menatap aliran air.
“Ya sudah kita foto berdua kalo begitu.” Nina melirik ke sisi kanannya dimana Dirga telah mengarahkan kameranya untuk mengambil gambar mereka berdua. Tangan panjang Dirga mengarahkan kamera itu kedepan mereka lalu menginstruksikan Nina untuk tersenyum.
Nina sedikit terkesiap tat kala Dirga merapatkan posisi tubuh mereka. Dia menyerah dengan menuruti Dirga untuk foto berdua.
“Nah ... Bagus kok, kamu fotogenic. Tapi kayaknya senyumnya harus lebih lebar, Nin. Sekali lagi, ya ...” Ajak Dirga kembali mendekatkan tubuh mereka. Kini Dirga mengambil posisi memeluk Nina dari belakang dangan satu tangan mengarahkan kamera untuk memotret keduanya.
Selama beberapa detik Nina menahan napas. Dia gugup karena ini tempat umum. Suaminya itu hanya tersenyum. Tampak tak ada beban di wajah Dirga selain ekspresi sumringah.
Ketika Dirga masih sibuk dengan hasil foto di dikameranya, tiba-tiba jembatan bergerak. Beberapa orang mulai menaiki jembatan. Cukup ramai sehingga jembatan bergoyang. Nina yang tak siap berpegangan, tiba-tiba terguncang dengan kehadiran beberapa orang itu. Dia oleng dan hampir jatuh kalau saja Dirga tidak menahannya. Memeluk tubuh Nina dengan erat.
__ADS_1
Nina kaget, hanya bisa terdiam saja ditempat. Kepalanya berada di sisi kiri pipi Dirga yang menempel dengan pipinya.
Dirga menghempas napasnya berat setelah kaget sengan refleknya sendiri.
“Nin, kamu nggak apa-apa?” Tanya Dirga tanpa menoleh ke Nina yang masih menempelkan kepalanya disamping pipi Dirga. Laki-laki itu tidak melepas pelukan istrinya ditubuhnya, tapi membiarkan Nina tenang dahulu dengan apa yang barusan terjadi.
Nina kembali pada kesadarannya lalu dengan cepat melepas pelukan Dirga setelah dia sadar dengan apa yang ia lakukan. Jantung Nina berpacu dengan cepat.
“Kayaknya bahaya banget kalau ramai-ramai begini. Ayo kita ke seberang.”
Dirga melirik kebelakangnya. Beberapa orang yang menaiki jembatan ini dengan tiba-tiba, jumlahnya lebih dari sepuluh. Padahal kapasitas yang dianjurkan hanya sepuluh orang.
Tanpa sadar tangan Dirga kembali merengkuh tangan kecil milik Nina. Peluh membanjiri seluruh wajahnya setelah jantungnya tidak berhenti memompa dengan ekstrim.
Dirga tampak sangat posesif dimatanya, dia juga mengeluhkan soal terlalu banyaknya orang yang memaksa naik keatas jembatan.
“Orang-orang kok nggak pada mengerti aturan. Memaksa naik padahal sudah over capacity.” Keluh Dirga setelah mereka tiba di seberang.
Nina tak merespon. Perempuan itu hanya mengikuti langkah Dirga dengan tangannya dalam genggaman sang suami.
“Untung kamu nggak jatuh, Nin. Kalau sampai jatuh, aku tuntut semua orang disana.” Lanjutnya masih mengeluhkan soal yang terjadi dijembatan tadi.
Nina masih tak berkata, dia benar-benar speechless dengan semua hal yang Dirga katakan. Diam-diam hatinya menghangat setelah tahu bahwa Dirga sangat mengkhawatirkannya.
Ah ... Nina terbuai dengan sikap Dirga. Belum lagi sejak tadi suaminya tak berhenti menyentuhnya, memegang tangannya, menjaga bahunya agar tak tersenggol orang.
Apa ini love languagenya? Physical touch?
Hiya!
...-
...
Mama turun dibantu valley parking yang mengambil alih mobil Dirga kemudian. Lila langsung kebelakang untuk menurunkan barang.
“Selamat sore Ibu. Sudah reservasi sebelumnya?” Tanya si resepsionis ketika Mama tiba disana. Dirga Lila dan Nina masih dibelakang mengurus bawaan.
“Sudah mbak, ini resinya.”
“Oh iya Ibu, baik. Sebelumnya, boleh kami konfirmasi pesanannya ya ...” Sementara si resepsionis mengonfirmasi pesanan, Mama melirik ketiga orang dibelakangnya. Dirga langsung meposisikan diri duduk, begitupun Nina dan Lila.
“Terima kasih Ibu, reservasi sudah kami konfirmasi, ini kunci kamarnya. Staff kami akan mengantar Ibu keruangan. Selamat beristirahat dan silahkan dinikmati fasilitas dari kami.” Mama mengucap terima kasih lalu dengan cepat mengambil kunci itu.
Dirga mendekat lebih dulu dengan ransel yang tergantung dipunggunya.
“Sudah, Ma?” Mama memberikan satu kunci kamar kearahnya.
“Sudah, ini kuncinya. Kamu sama Nina, Mama sama Lila, ya ...”
“Mari Bu.” Ajak salah seorang staff yang sudah menunggu disana.
Mama melambai memanggil Lila yang berjalan bersamaan dengan Nina dibelakang. Dirga masih diam di tempat dengan kunci yang ia pegang. Melirik Nina yang berjalan mendekat.
“Kenapa?” Tanya Nina ketika Dirga hanya terlihat diam berdiri.
“Nggak, ini Mama sudah kasih kita kunci untuk kita,” Dirga tampak mengendurkan ranselnya.
“Oke ...”
“Permisi Mas dan Mbak, saya Saka yang akan mengantar Mas dan Mbak ke-kamar yang sudah kami siapkan, silahkan.” Keduanya mengikuti salah seorang staff yang akan mengantar. Memasuki lift, staff tersebut menekan lantai sepuluh.
__ADS_1
Mereka tiba dilantai sepuluh. Diliriknya kearah ruangan lain. Sepertinya Mama tak berada di dekat sini?
Petugas itu mengantarkan mereka ke salah satu ruangan yang letaknya diujung dan sedikit terpisah dari ruangan lain.
“Ini kamar-nya Mas, Mbak. Silahkan menikmati fasilitas dari kami.” Dirga mengangguk lalu tersenyum sambil mengucap terima kasih.
“Tolong pegang sebentar, Nin.” Dirga memberikan tas kamera milik Mama ke depan istrinya. Nina menerimanya lalu memperhatikan Dirga menempelkan access card disana. Ketika pintu terbuka, terpampanglah bagaimana isi ruangan ini yang seketika mengagetkan Dirga.
Kayaknya ada yang salah, pikir Dirga.
“Ini nggak salah kamar, kan?” Tanya Dirga bermonolog. Nina mendekat kearah suaminya dari ambang pintu. Dirga melirik Nina yang terlihat kaget memandangi isi kamar.
Tiba-tiba laki-laki itu berlari meninggalkan Nina.
Dirga berlarian dengan cepat melewati jalan yang memutar. Dirga berhenti setelah hal yang ia tuju ada di depan mata.
Napasnya putus-putu.
“Mas!” Dirga memanggil petugas yang tadi mengantarkan mereka. Beruntung staff itu masih disana sedang berbincang dengan stff lain.
Staff itu mendekat, “Ada yang bisa dibantu, Mas?” Tanya staff tersebut sopan.
Petugas itu memandang Dirga.
“Kayaknya salah kamar, ya? Saya nggak pesan tipe kamar seperti itu.” Ujar Dirga.
Petugas itu mengangguk lalu berjalan kembali bersama Dirga keruangan tadi.
Mereka sampai di depan pintu dengan Nina yang masih berdiri disana.
“Seharusnya sih ruangan biasa saja, Mas? Atau salah kamar?” Tanya Dirga menunjuk kamar itu. Memastikan bahwa ia salah.
Si staff itu mengerutkan dahinya bingung.
“Apa yang salah, ya, Mas?” Tanyanya.
“Kayaknya kami pesan kamar biasa, sementara ini sepertinya kamar khusus, Mas? Salah kan, ya?” tanya Dirga dengan bingung.
Staff di depannya itu tiba-tiba tersenyum.
“Maaf Mas, kayaknya ada missinformasi. Atas nama Ibu Elsa memang memesankan kamar ini. Betul ya, informasi pemesan?”
Dirga mengangguk, “Betul. Itu nama Mama saya.
“Bu Elsa memang pesan satu kamar reguler dan satunya lagi, beliau pesan honeymoon suite.” Terang si petugas seraya menampakkan senyumnya kembali.
“Apa tadi namanya, Mas?” Tanya Dirga yang kini mencoba mengulang perkataan laki-laki di depannya.
“Honeymoon suite, Mas.”
Dirga memandangi Nina, begitupun Nina. Keduanya saling berpandang.
“Baik Mas, jika tidak ada lagi yang diperlukan, saya pamit undur diri. Selamat beristirahat.” Staff itu kemudian pergi meninggalkan mereka yang masih berdiri dengan bingung di depan pintu masuk.
Diam-diam Nina justru terkekeh. Pertama kalinya melihat jenis kamar honeymoon suit seperti di drama-drama.
Dasar Mama kalau sudah ngide! Teriak Dirga dalam hatinya.
“Mama mau kita honeymoon kayaknya Nin.” Ujar Dirga seraya terkekeh.
Istrinya balas terkekeh.
__ADS_1
“Mama ada-ada saja.”