LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[22] Kisah Stockholme Sindrom Nina Masih Berlanjut


__ADS_3

Nina menggosok giginya di depan kaca kamar mandi seraya memikirkan Dirga yang terlihat marah karena kedatangannya yang terlambat. Dia sangsi akan apa yang terjadi pada Dirga. Tak mungkin hanya karena terlambat datang, Dirga sampai mengamuk seperti itu padanya. Dia memang tak membahas soal hal lain. Dirga memang hanya mempermasalahkan terkait kedatangannya yang terlambat, tapi seperti telah melihat sesuatu, Dirga marah padanya seolah tak terima karena ia melakukan hal tertentu?


Apa kepergian Dirga tadi, karena ia mencari Nina ke kost dan menemukan dirinya bersama Muhadi disana?


Nina tak ingin berspekulasi terlalu jauh, tapi dia menjadi khawatir jika Dirga memang melihatnya bersama Muhadi, dan laki-laki itu menganggapnya berselingkuh atau hal lain.


Selesai dengan urusannya, Nina kembali ke kamar untuk mengganti bajunya. Selesai dengan berpakaian, ditengoknya si ponsel yang seharian ini tergeletak di meja karena Nina pun tak membawanya sebab baterainya habis karena ia lupa mencolokkan kepala chargenya pada stop-kontak semalam, dan baru mengisinya setiba ia dikamar.


Menyalakan si benda persegi panjang yang sudah terisi tiga puluh persen baterai itu, benar saja, hampir tiga puluh notifikasi panggilan tak terjawab diponselnya. Semua panggilan itu kebanyakan berasal dari Mama dan Dirga, serta satu panggilan dari Muhadi.


Sejak pergi fitting baju bersama Mama dan Dirga, Nina memang merasa ada perbedaan dari cara Dirga berujar padanya, bahkan ia terlihat malas menanggapi saran-saran dari designer yang akan membantu membuatkan baju pernikahan mereka. Laki-laki itu terlihat dingin padanya. Padahal sebelumnya Dirga tampak menghangat, dan mereka mulai bisa akrab sebab keinginan laki-laki itu juga.


Sudah cukup dengan melihat Dirga yang dingin, Muhadi tahu-tahu menelponnya tadi sore mengatakan bahwa ia masih belum bisa menemui istrinya karena ia ternyata tidak ada dirumah, dan ingin bertemu Nina lagi untuk menceritakan masalahnya.


Bukannya Nina tak ingin menanggapi Muhadi, namun jika tebakannya benar, kemungkinan Dirga terlihat marah padanya pasti karena Muhadi.


Apa Dirga mengenal Muhadi? Atau ia hanya marah karena melihatnya berdua dengan laki-laki lain?


Nina merasa tak enak hati melihat laki-laki itu. Seharusnya Nina tidak membuat masalah, sementara ia yang akan menikah dan keterlambatan datang itu salahnya.


Haruskah Nina menghubungi Dirga untuk mengucapkan maaf? Tapi … dia juga tak tahu pasti dimana kesalahannya yang lain, selain karena dirinya datang terlambat.


Memberanikan diri, Nina coba mengetikkan pesan pada nomor Dirga yang sebelumnya menghubungi dirinya.


To : Kak Dirga.


Assalamualaikum Kak Dirga. Ini Nina, sebetulnya Nina mau minta maaf dengan Kak Dirga karena sudah terlambat datang dan membuat Kakak, juga Mama, menunggu. Semoga Kakak nggak marah dengan Nina terkait hal itu ya … kalau Nina ada salah, tolong beritahu Nina. Semoga persiapan pernikahan kita berjalan lancar hingga hari-h ya.


Nina tak tahu apa yang harus ia bahas, pokoknya ia hanya ingin membuat perasaan Dirga melunak dan tidak marah padanya, sehingga hal itu akan mempengaruhi rencana pernikahan ini.


Atau jika Dirga nantinya berkata padanya soal hal lain yang sebenarnya membuatnya marah.


Apa itu karena pertemuannya dengan Muhadi?


Memikirkan semua hal yang terjadi tadi siang, tanpa sadar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Meletakkan ponselnya diranjang, Nina segera membuka pintu.


Wulan—salah seorang tetangga kostnya yang cukup dekat dengan Nina—tampak dibalik pintu setelah Nina membukanya.

__ADS_1


“Nin, ada yang cari. Cowok, ganteng lah untuk ukuran sudah berumur—”


“Siapa, Lan? Lo tanya, nggak?”


Wulan menggeleng cepat.


“Nggak! Gue belum tanya-tanya, katanya sedang cari Nina. Cie … punya pacar nggak bilang-bilang lo, Nin!” Ledek Wulan membuat Nina terkekeh.


Perempuan itu menggeleng cepat.


“Mana ada! Bukan pacar! Kayaknya teman gue tadi siang deh. Sekarang dimana?”


“Teras depan. Seharusnya kan nggak boleh masuk sampai dalam pagar ya, tapi berhubung malam minggu, gue suruh dia masuk sampai teras deh. Ibu kost merangkap tante lo itu nggak akan datang juga, kok malam minggu begini.” Terang Wulan santai.


Nina mengangguk.


“Oke, Lan. Thanks ya, gue keluar deh menemui dia.”


“Ya sudah, sana. Gue masuk ke kamar dulu ya.”


“Oke.”


...-...


“… serius pilot? Wah, keren betul Masnya! Punya teman yang bisa dikenalkan ke kita nggak?”


“Hah … eh, teman saya sih banyak, tapi—”


“Mas Rifai?”


“Nina!”


Ketiga orang itu menolehkan kepalanya melihat Nina berdiri disana dengan napas yang menghempas berat.


Rifai? Untuk apa dia datang kesini malam-malam. Kost perempuan pula!


“Lo kenal sama Masnya, Kak Nina? Wah, jangan-jangan Mas pacarnya Kak Nina, ya?”

__ADS_1


“A—ah, bukan—”


“Dia Kakak gue. Sudah, kalian masuk sana! Ganggu tamu orang saja deh.” Tegas Nina sebal seraya mengusir Febri dan Hera yang asyik mengajak Rifai berbincang.


“Ih Kak Nina galak betul. Ya sudah, kami masuk dulu ya, Mas Rifai. Nanti kalau ada teman yang jomblo, tolong kasih tahu kami ya.” Kelakar Hera seraya bergerak meninggalkan tempat, pun menerima pengusiran dari Nina yang sebal karena mereka seolah tak mempedulikan kehadirannya.


Sepeninggal Hera dan Febri, Nina yang duduk diteras bersama Muhadi, menatap laki-laki disampingnya. Untuk apa ia datang kesini malam-malam begini, sih?


“Mas Rifai kenapa tiba-tiba kesini, nggak bilang Nina pula?!” Tegur Nina tegas seraya mendesah lelah. Hari ini ia terlalu lelah memikirkan banyak hal soal rencana pernikahannya, Dirga yang berubah dingin, belum lagi ditambah Muhadi yang kini berada didepannya dengan wajah merasa bersalah.


“Saya minta maaf, Nin. Sebetulnya saya dari rumah teman, tadi. Saya nggak betul-betul berniat kerumah kamu, menemui kamu malam ini, tapi nyatanya hanya kamu yang bisa mendengarkan dan mempercayai saya. Info dari teman saya barusan, yang juga mengenal adik saya Dahlan, katanya istri saya sudah mencari pengacara dan merencanakan gugatan perceraian ke pengadilan. Saya ingin bicara lebuh lanjut sama dia, tapi dia seolah menghindar nggak mau terlalu jauh ikut perkara saya. Padahal saya hanya ingin cerita sama dia. Saya nggak tahu lagi harus bagaimana. Apa menurut kamu saya harus mencari dia saat ini juga? Saya nggak ingin berpisah sama dia, saya harus menjelaskan lagi pada dia terkait apa yang sebenarnya terjadi.” Terang Muhadi dengan napas menggebu. Laki-laki ini dalam kondisi sama stressnya dengan Nina yang memikirkan kondisi hidupnya.


Kasus yang sama soal pernikahan. Bedanya, Nina baru akan memulainya, sementara Muhadi dalam ancaman mengakhiri pernikahannya.


Nina turut prihatin mendengar ceritanya. Diam-diam dia juga tertawa mengingat kisah stockholme sindromnya dengan Muhadi yang masih berlanjut.


“Kayaknya harus begitu deh, Mas. Kalau memang Mas Rifai jujur dan benar-benar nggak merasa melakukan hal itu, coba mediasi dengan keluarganya juga. Tapi saran Nina, pertama-tama Mas Rifai bicarakan ini dengan adik Mas yang Nina rasa dekat dengan istri Mas, kan? Nah, begitu saja, Mas. Supaya Mas Muhadi juga ada kekuatan untuk bisa bersuara.” Saran Nina membuat Muhadi mengangguk mengiyakan perkataan perempuan didepannya.


Nina tak terbayang bagaimana rasanya menjadi Muhadi yang harus melakukan semuanya sendiri. Kesalahpahaman ini memang datang darinya, tapi semua orang seolah tak mau ikut campur membantunya. Jika Muhadi salah, biarkan pihak berwenang memproses kesalahannya. Namun dari kesungguhannya memperbaiki ini, Nina berangsur yakin jika Muhadi memang tak bersalah, dan semua ini murni kesalahpahaman.


“Memang seharusnya yang pertama saya kondisikan adalah adik saya, tapi dia bilang pada saya untuk nggak membuat ini diketahui orang tua saya juga. Karena hal ini saya jadi bingung, tapi akan saya usahakan agar Dahlan mau membantu saya. Sekali lagi saya minta maaf karena tiba-tiba mendatangi Nina malam-malam, nggak saya sangka, begini rasanya sendirian seperti ini. Selama ini saya selalu dikelilingi orang yang bahagia dengan pencapaian saya, namun ketika saya terpuruk seperti ini, semua orang seolah pergi dan nggak merasa kenal dengan saya. Terima kasih ya, Nin … Semoga kebaikan kamu mendengarkan cerita saya dapat balasan terbaik.” Ujar Muhadi tulus.


“Sama-sama, Mas. Saya sebagai anak pertama pun sering kali merasa sendiri. Berhubung orang tua saya jauh dikampung, saya nggak bisa banyak merepotkan mereka dengan semua cerita saya. Memang senang rasanya bisa memiliki orang yang mau mendengarkan masalah kita. Semoga ada keputusan terbaik yang bisa Mas Rifai terima, ya. Nina doakan semoga semuanya lancar. Doakan Nina juga ya, Mas. Sebentar lagi Nina akan menikah.” Terang Nina pada akhirnya.


Ia pikir mereka sudah cukup dekat untuk bisa saling terbuka soal masing-masing. Salah satunya juga agar Muhadi tahu bahwa Nina akan segera menjadi milik orang lain, dan ia berharap jika permasalahan Muhadi selesai, mereka tak perlu banyak terlibat. Cukup sebagai teman yang saling mengenal saja.


“Oh? Nina mau menikah? Wah … saya nggak tahu, maaf ya jika saya merepotkan kamu. Sejujurnya saya sangsi jika nantinya akan sangat merepotkan Nina. Tapi saya berharap yang terbaik, terima kasih karena masih mau membantu saya. Kalau begitu saya pamit ya, Nin.” Pamit Muhadi beranjak dari duduknya.


Nina mengantar laki-laki itu hingga kedepan pagar dimana motornya terparkir.


“Saya pulang dulu. Kita sama-sama berdoa untuk kebaikan masing-masing ya. Apapun yang terjadi, jika keputusannya kami berpisah, semoga saya bisa lebih baik dengan hal itu. Begitupun kamu. Jangan khawatir untuk memulai sebuah jalan yang baik ini. Kisah saya hanya sebagian dari permasalahan yang terjadi setelah menikah, kamu yang bisa memutuskan jalan itu, Nin. Jangan jadi seperti saya, ya. Ya sudah, saya pamit. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam. Hati-hati, Mas.”


Nina mengantar Muhadi hingga kedepan motornya yang terparkir diluar pagar. Pikirannya menari-nari mengingat perkataan Muhadi barusan. Nina khawatir dengan kemarahan Dirga tadi, entah apa sebenarnya yang membuatnya begitu marah, tapi Nina tetap harus positif bahwa Dirga mungkin saja lelah.


Ini salahnya akan kelalaian itu, walau disisi lain ada niat membantu yang membuatnya terpaksa menggadaikan hal lain.

__ADS_1


Semoga hati Dirga bisa melunak setelah ini.


__ADS_2