LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[58] Bukan Hanya Masalah Nina, Tapi Juga Masalah Keluarga


__ADS_3

Nina kembali pada kegiatannya menjalani masa skripsinya seperti biasa. Perasaan campur aduk meliputinya belakangan ini, apalagi kalau bukan perkara Dirga dan hati mereka yang belum tertaut-lebih tepatnya Nina yang tak tahu bagaimana isi hati sang suami.


Kakinya kembali berpijak di rumah pukul sembilan malam setibanya dari kampus. Hari ini banyak yang perlu ia cari sebagai referensi skripsinya di perpustakaan, pun menemui beberapa dosen dan teman kelasnya untuk mengurus hal-hal perkuliahan lainnya.


Memasuki rumah, perempuan itu merasa sudah sangat lelah. Seolah energinya hanya tersisa beberapa persen saja.


Ketika melewati tangga menuju pintu masuk, Mama sudah tampak disana, menyambutnya dengan senyuman.


“Sudah pulang sayang?” Mama membuka pintu bahkan ketika Nina belum sempat melepas sneakersnya.


Perempuan itu menyambut tangan Mama.


“Iya, Ma. Maaf agak kemalaman, karena ada beberapa hal yang mesti Nina urus.” Mama mengusap kepala Nina sebentar lalu mengajak perempuan itu masuk.


"Ya sudah nggak apa-apa, yang penting kamu selamat. Jangan begadang lagi sehabis ini, Nin. Langsung istirahat ya ...” Pinta Mama seraya merangkul pinggangnya hingga memasuki rumah.


Jika dihitung-hitung, sudah hampir sebulan lebih Nina menempati rumah ini dengan status menantu dan istri. Selama itu pula, tak banyak yang bisa ia lakukan sebagai istri dari seorang Dirgantara. Suaminya jarang pulang, Dirga pun tak sering mengubunginya. Kedekatan mereka hanya sebatas kebutuhan batin yang Nina rasa semakin menjenuhkan. Dia tak keberatan, terkadang Nina menginginkannya juga. Bukan lagi hal tabu atau menakutkan, ia menjalaninya seperti biasa ketika Dirga di rumah dan menginginkan itu.


Bahkan terkadang hotel menjadi tempat mereka menghabiskan waktu-lebih tepatnya Dirga, ketika libur, ia akan mengajak Nina kesana.


Tapi sampai sekarang tak pernah ada kata-kata, maupun perbuatan yang membuat mereka semakin dekat secara emosional, bukan hanya fisik. Dirga baik, dia benar-benar bertanggung jawab soal moral, walau tak dapat dipungkiri bahwa Nina yang mulai memendam rasa pada suaminya, merasa tak lebih hanya sekadar singgahan duaniawi setelah melalui lelah berkepanjangan akibat pekerjaan.


Dia tak bisa jujur pada suaminya soal perasaan ini, terlebih Dirga tak banyak bicara ketika mereka bersama. Biasanya ia hanya menceritakan kisah selama bekerja, sesekali mendengarkan Nina bercerita juga soal skripsinya, lalu seperti itu terus.


Nina tak tahu kemana sebenarnya mereka berlabuh, selain hanya soal tanggung jawab masing-masing secara moral.


Nina diajak duduk di kursi meja makan. Mama memutari meja, membuka tudung saji di depan mereka lantas menawarkan beberapa lauk setelah Nina berujar bahwa perempuan itu belum makan malam.


“Mama buat schotle, kalau kamu nggak mau makan nasi, diambilkan itu saja, ya?” tawar mertuanya perhatian. Mama bukan perwujudan mertua seperti di sinetron kebanyakan. Dia tak memperlakukan Nina bak pembantu atau hanya sekadar pasangan sang anak, lebih dari itu, Nina adalah putrinya yang seolah kembali dari perjalanan jauh setelah tak dapat ditemukan.


Sosok Teh Icha yang datang kembali dalam wujud Nina sebagai putrinya. Miris jika diingat bahwa Mama menginginkan sosok itu kembali, walau perlakuannya sama, Mama tetap respect padanya dan mengaplikasikan perhatian secara normal dan sopan.


“Wah, Mama masak sendiri ini?” responnya mendadak bersemangat ketika Mama mendekat setelah mengambil makaroni schottle itu dari microwave setelah dihangatkan. Nina bermain dengan tangan nakalnya mencomot guliran keju diatas makanan tersebut.


“Pakai sendok Nin.” Ujar Mama seraya menyodorkan sendok kecil kedepannya. Nina tersenyum menatap Mama disampingnya.


“Iya, Ma ...”


Melupakan sejenak beban pikirannya belakangan, Nina berusaha menikmati makaroni schottle terenak menurutnya.


Mama kembali berujar.


“Nin, Mama agak khawatir sama Lila deh. Lila sering nggak pulang belakangan ini. Katanya urusan kampus dia makin banyak, jadi minta maaf nggak bisa bantu sering-sering. Mama sih mengerti, toh Lila pun sudah Mama anggap anak sendiri. Dia juga nggak betul-betul bekerja disini, Mama yang minta dia untuk menemani. Walau begitu, rasanya khawatir karena dia nggak ada kabar sudah dua hari ini. Kamu ada ngobrol sama dia nggak? Chattingan mungkin?” tanya Mama dengan wajah serius.


Soal Lila ...


Ya, sudah hampir seminggu Lila jarang pulang kerumah sepenglihatan Nina. Beberapa kali bahkan perempuan muda itu kerap pulang malam. Beberapa kali juga Nina memergoki nya ketika memasuki rumah dengan wajah lelah yang tidak bisa dijabarkan bagaimana. Seolah sedang menanggung suatu beban yang besar.


“Nggak ada sih, Ma. Lila nggak banyak ngobrol sama Nina juga. Mungkin dia nggak enak karena Nina belakangan juga sedang sibuk dan fokus sama skripsi. Dua hari nggak pulang berarti nggak pernah ada kabar juga sebelumnya ya, Ma?” Tanya Nina.

__ADS_1


Mama menggeleng.


“Nggak, Nin ... Mangkanya Mama tanya kamu. Orang tuanya sih nggak sampai telepon ya, tapi Mama nggak enak kalau ada apa-apa.” Terang Mama.


“Ya sudah Ma, sementara biarkan saja. Mungkin Lila memang sedang sibuk banget di kampus. Dia kan baru masuk kuliah ya? Kayaknya wajar kalau memang sedang sibuk. Biar nanti Nina yang bantu Mama untuk beberapa kerjaan yang biasa dipegang Lila.”


“Mama juga kasihan sebetulnya sama dia. Mama sebenarnya bawa dia kesini bukan untuk disuruh ini, itu. Tapi untuk menemani kita saja. Kan nggak enak kalau Aa’ sedang pulang, mama ganggu kalian. Misalkan ada Lila, mama tetap ada teman.” Nina mengangguk menyetujui perkataan Mama.


“Betul, Ma. Supaya nggak sepi juga, ya ... untuk sementara kita lihat saja dulu ya, Ma. Nanti kalau Lila pulang, coba Nina bicarakan sama dia.”


Mama mengangguk.


“Iya ...”


“Ya sudah Ma, Nina ke kamar dulu ya, mau ganti baju dan mandi sebentar. Ini schottle nya Nina bawa ke atas ya? Kalau sudah selesai nanti Nina turun lagi.”


“Iya, habis itu langsung kebawah ya.” Nina mengangguk lalu hilang dari hadapan Mama.


Lila sudah seperti adiknya sendiri ketika Nina berkaca bahwa itu Sholehah. Belum lagi sudah sehari-hari mereka bersama.


Mendadak perasaannya tak enak ...


Semoga Lila baik-baik saja.


...-


...


...From : +6287736251819


...


...Assalamualaikum. Maaf mengganggu. Saya Edara, mahasiswa bimbingan Bu Wuri. Ini nomor Nina Fahira kan, ya? Maaf Nin, tadi sore saya bicara dengan Firdan terkait penelitian, katanya jenis penelitian kita hampir sama. Apa boleh saya ngobrol-ngobrol sama kamu untuk membahas materi penelitian? Sekalian cari referensi karena milik saya masih butuh lebih banyak teori. Kebetulan saya mahasiswa bimbingan baru akibat telat. Sebelumnya terima kasih.


...


Nina membaca pesan masuk itu. Ah ... Firdan. Dia ingat, laki-laki itu adalah rekan satu bimbingannya bersama Bu Wuri.


Namun Edara ...


Dia belum pernah bertemu laki-laki ini. Sepertinya dia memang mahasiswa bimbingan baru.


...To : +6287736251819


...


...Waalaikumsalam. Iya Edara, nggak apa-apa. Rencananya hari jumat minggu ini, sehabis sholat jumat saya mau ke perpustakaan untuk pinjam referensi baru disana. Mungkin kita bisa bertemu disana, atau sekalian makan siang nanti di kantin.


...

__ADS_1


Nina berusaha menjawab secara profesional, begitupun Edara yang menghubunginya dengan sopan. Wajar dalam menyusun skripsi kadang kala dibutuhkan opini atau pendapat untuk bisa dibagi sebagai referensi dan bahan pembahasan. Selain itu, tak ada salahnya membantu orang lain. Berhubung jenis penelitian mereka sama, Nina bisa mempertimbangkan untuk membantu Edara.


Balasan masih belum muncul di menit kedua Nina menunggu. Memilih menyudahi, perempuan itu lantas berjalan cepat turun kebawah.


Tidak ada suara Mama atau suara siapapun dibawah. Rumah rasanya sangat sepi, padahal Nina meninggalkan tempat ini nggak lebih dari setengah jam. Dimana, Mama?


“ ... sayang, sayang, jangan tidur disini! Duh, ayo masuk Lila!”


“Ah, nggak usah sibuk mengurusi gue deh, minggir.”


Sayup-sayup Nina mendengar suara rintihan Mama dengan suara jeritan dari arah luar rumah. Bergegas kaki mungilnya bergerak keluar rumah untuk memastikan.


Ketika Nina tiba di teras, dilihatnya Mama dan Lila yang terduduk di tanah. Tampak hal aneh dari sikap Lila yang terlihat linglung atau malah ... mabuk?


“Mama!”


“Nina ...” Mama memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit. Nina meniti wajah Mama dengan cemas, lantas melirik Lila yang terlihat marah-marah sendiri di depan mereka.


“Lil, kamu kenapa, Lila?” Nina meneriaki Lila yang terus berguling tak nyaman disana. Satu kali tidak dapat sahutan, sampai Nina akhirnya memilih meninggalkan Lila dan berencana mengurus perempuan itu nanti.


Nina membawa Mama kedalam rumah dengan pelan. Dibaringkannya tubuh Mama pada ranjang.


“Ma, duduk dulu sebentar. Nina ambilkan minum.” Ujarnya membantu Mama duduk setelah mengambil gelas di nakas samping ranjang. Membantu Mama minum sambil memperhatikan wajah Mama yang tiba-tiba pucat.


Nina enggan membahas hal apa yang terjadi barusan. Sekarang dia harus memprioritaskan Mama.


“Nin, tolong lihat Lila dulu sekarang. Mama mau istirahat saja, sudah enak kok ini.” Ujar beliau menyuruhnya pergi.


“Mama sudah baikkan? Nina tinggal nggak apa-apa?” tanyanya khawatir.


Mama mengangguk.


“Nggak apa-apa. Cepat, kasihan Lila linglung begitu Nin. Tolong bantu ganti pakaiannya juga. Tubuh Lila agak bau alkohol.” Pinta Mama.


Nina mengangguk, lalu pergi keluar dari kamar sambil sekali lagi melirik Mama dengan senyuman.


Setelah keluar kamar, Nina bergegas keluar rumah menghampiri Lila yang seharusnya ia tangani juga sejak tadi.


“Lil?” Panggil Nina mendekati Lila yang masih duduk di dekat pafar dengan kepala menunduk. Ketika Nina menyentuh bahunya, perempuan itu justru jatuh dalam pelukan Nina.


“Lila!” Nina meneriaki nama Lila sambil terus mengguncang tubuhnya. Napas Lila masih terdengar, namun mendadak melemah.


Dengan cepat Nina membawa Lila kedalam kamar lalu membaringkan perempuan itu dikamarnya yang sangat disyukuri berada dibawah dan tidak jauh dari pintu masuk.


Nina meletakan tubuh Lila lalu bergegas keluar kamar menuju telepon rumah. Menekan panggilan darurat.


Tak berapa lama, teleponnya tersambung dengan panggilan darurat medis. Telepon Nina di konfirmasi dan dalam waktu kurang lebih dua puluh menit bantuan medis akan segera datang.


Nina menghempas tubuhnya duduk keatas sofa di depan telepon sejenak, lalu kembali ke kamar Lila dengan cepat. Nina menangis memegangi pergelangan tangan Lila sambil terus mengecek nadinya.

__ADS_1


Tangisan Nina semakin besar ketika ia ingat tak ada siapapun yang bisa membantunya dirumah ini.


Nina butuh Dirga.


__ADS_2