![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Dahlan mengantar kedua kakaknya untuk lebih dulu meninggalkan kafe. Laki-laki dengan potongan rambut klimis itu kembali masuk ke kafe setelah kejadian beberapa menit lalu. Ini semua belum selesai, karena Muhadi menolak menjawab pertanyaan Nina.
Dahlan sendiri bisa menebak kalau Muhadi mengingat masa lalunya. Jarak umur yang jauh antara Muhadi dan Nina mungkin saja menjadi alasan mengapa Muhadi tidak bisa mengenali Nina. Kalau pun Muhadi memang benar A’ Fahri, pasti saat dia menghilang, Nina bahkan belum lahir. Sebenarnya wajar saja, tapi tidak menjadi wajar saat Nina mulai memaksa Muhadi untuk menjawab atau mengiyakan pertanyaannya.
Dahlan dalam posisi yang membingungkan sehingga dia memilih diam sedari tadi.
"Sudah minum tehnya?” Tanya Dahlan dengan pelan setelah laki-laki itu kembali mendekati Dirga dan Nina yang terdengar sibuk menangis pelukan dipelukan suaminya.
"Sudah." Jawab Dirga sama pelannya.
"Bagus," Jawab Dahlan.
“Ya sudah kalau begitu, nanti gue bantu bicara sama Bang Muh juga. Sekarang lo balik saja dulu, tenangkan Mbak Nina dulu.” Saran Dahlan terlihat khawatir.
Tangan Dirga tetap mengusap bahu Nina dengan pelan.
"Iya Lan. Thanks ya, lo sudah mau meluangkan waktu begini. Gue memang sudah bayangkan akan begini akhirnya, tapi Nina kayaknya terlalu emosional dan terburu-buru." Ujar Dirga sambil tersenyum pada Dahlan.
"Santai ... InsyaAllah waktu gue yang sedikit ini bisa bermanfaat, tapi ya memang gue agak khawatir tadi. Gue pun baru tahu kalau Bang Muh ternyata anak angkat semalam. Bang Muh tahu, tapi bokap dan nyokap nggak mau bilang ke gue supaya nggak jadi masalah atau kita saling nggak enak setelah hidup bersama sejak kecil." Balas Dahlan.
Dirga mengangguk singkat. Ia takut akan ada masalah lain kedepannya. Namun, jika Nina memang tak salah dengan tebakannya, bisa jadi Muhadi memang kakaknya yang hilang puluhan tahun lalu.
-
"Nggak apa-apa Ma, Nina bisa kok."
Sudah hampir tiga bulan sejak kejadian dimana Nina begitu memburu untuk bisa memastikan kalau Muhadi itu Fahri, sejak saat itu pula semuanya berjalan penuh dengan tanda tanya. Sampai saat ini masih belum ada saat dimana Muhadi benar-benar membawa dirinya untuk bisa bercerita hal yang sangat Nina ingin tahu. Keyakinan Nina semakin terarah jika Muhadi memang Fahri. Pasalnya, dari foto yang pernah Nina lihat dan semua tentang Fahri yang pernah Emak ceritakan hampir semuanya ada dan diakui Muhadi jika dia memang seperti itu. Nina sangat yakin kalau laki-laki itu kakaknya yang telah pergi, tanpa tahu kabarnya hingga saat ini.
Walau belum ada kepastian lewat tes DNA atau sebagainya, dengan cara ia mengakui dan kesamaan foto kecilnya dengan yang Nina miliki, ia semakin tak bisa menghilangkan ingatan itu.
Mama tiba-tiba meraih mangkuk yang tengah Nina usap dengan serbet.
__ADS_1
"Sudah Nin, kamu duduk saja jangan capek-capek dulu. Katanya kemarin muntah-muntah dan perut kamu sakit? Ya sudah tidur. Nanti kalo Aa' pulang Mama yang disalahkan loh. Mana masih harus berangkat ke kampus kan?"
Nina tertawa pelan.
"Mama nih bisa saja. Lagipula Nina juga sudah baikkan kok, kemarin asam lambung Nina kayaknya tuh naik gara-gara nggak makan apa-apa, tapi makan semangka di kampus. Jadi ya … mungkin karena itu, Ma. Tapi sudah nggak apa-apa, kok." Jawabnya tenang, berusaha memberikan mama pengertian untuk tidak terlalu khawatir.
"Nggak, nggak. Kamu nih alasan saja, jangan kayak waktu itu, suka banget menyepelekan sakit." Nina terkekeh pelan.
Mama kembali sibuk membersihkan jejak-jejak air di mangkuk-mangkuk besar setelah di bersihkan.
"Apa jangan-jangan kamu isi, Nin?" Nina mengangkat kepalanya yang menunduk dengan tangan yang masih sibuk menyeka gelas setelah mendengar kata-kata Mama.
"Mama nih ada-ada saja. Mana ada Nina isi, Ma?" Ujarnya dengan nada yang gamang.
Nina bukannya ingin mengelak, namun ketika mendengar mama berbicara soal isi—wich means hamil—ia sedikit merasa kepikiran, sebab tamu bulananya memang agak telat bulan ini.
"Ih kamu nih yang apa-apaan? Memang maksudnya isi itu apa? Maksud mama, mungkin saja kamu isi angin perutnya. Jadi masuk angin, trus sakit perut deh." Kelakar Mama yang dibalas decakan kecil dari Nina.
"Eh tapi bisa juga sih Nin kalau isi yang itu. Rejeki siapa yang tahu, kan?”
Nina agak khawatir, tapi tak ingin menampik, ia menganggap perkataan Mama sebagai doa.
-
Setelah semalam Mama dan Nina sibuk membersihkan macam-macam peralatan makan di dapur, pagi ini Nina bangun tidur dengan wajah yang sumringah dan tampak cahaya binar yang kian menyilaukan mata muncul dari maniknya yang indah. Tangannya bergerak mengusap perutnya yang rata.
Semoga doa Mama benar-benar di amin kan malaikat.
Kakinya bergerak membawa tubuhnya hendak membuka gorden kamarnya walau hari masih gelap. Nina selalu semangat untuk bangun pagi karena saat ia bangun, dirinya akan selalu mengingat hal-hal manis tentang apapun, termasuk Dirga.
Sikap Dirga sebelumnya memang hanya sebagian kecil dari banyak cinta yang saat ini sudah laki-laki itu berikan untuknya. Di awal rasanya sulit sekali membayangkan suaminya akan memberikan sebagian hatinya untuk nama Nina bisa terukir disana, kini Dirga mengaku jika ia sudah merasakan itu semua. Walau ada banyak masalah yang sampai saat ini belum selesai, Nina selalu berharap jika hari-harinya masih akan tetap baik dan lancar, terlepas apapun yang masih menganggunya.
__ADS_1
Untuk saat ini Nina hanya akan mengikhlaskan dan berdoa sebanyak mungkin agar semua hal bisa sesuai yang ia bayangkan.
"Nin? Sudah bangun?" Suara Mama yang mengetuk pintu diluar membuat lamunan Nina buyar. Setelah dia tersenyum sekilas untuk membangkitkan positifitas, kakinya bergerak mendekati pintu.
"Yuk sholat jamaah." Ajak Mama setelah Nina membuka pintunya.
Nina mengangguk pelan setelah mengiyakan kata-kata Mama. Nina bergegas ke kamar mandi, lalu langsung bergabung dengan Mama yang sedang mengaji.
Setelah beberapa waktu, mereka selesai melaksanakan sholat. Kegiatan rutin yang sering kali Nina lakukan di rumah saat pagi hari setelah sholat subuh adalah menyirami tanaman. Padahal baru beberapa bulan Nina jadi bagian dari keluarga ini, tapi rasanya seperti sudah bertahun tahun lamanya. Mama benar-benar sangat menyayanginya, juga menjaga Nina seperti yang Emak lakukan. Sulit membandingkan mana yang namanya mertua dan menantu. Karena menurut Nina, perempuan yang sudah dipinang dan tinggal satu rumah dengan mertuanya ataupun tidak tinggal satu rumah, dia merupakan harta yang sangat berharga dan harus dijaga.
Karena percayalah, saat mertua marah akan kita, itulah saat dimana mereka menjaga harta berharga yang mereka miliki. Para orang tua punya cara sendiri untuk bisa menjaga dan melindungi harta yang tidak bernilai dari kehadiran seorang menantu di sebuah keluarga.
Walau tak semua mertua berpikir seperti itu, sebagian diantara mereka mungkin hanya merasa disisihkan oleh putranya, padahal tak ada yang lebih putranya inginkan selain kebahagiaan orang tua dan istrinya.
Mama sudah bergerak cepat untuk menyiapkan sarapan setelah selesai berganti pakaian.
"Nin, jangan siram tanaman yang dibelakang, biar Mama saja ya."
Mama berdiri di pintu masuk rumah sambil menyerukan ke arahnya.
"Loh? Kenapa Ma?"
Mama menaruh lengannya di pinggang.
"Jangan saja pokoknya. Sudah, cepat kamu masuk. Masih sepi nih bahaya, nanti kamu diculik lagi." Kelakar Mama yang kemudian dibalas jempol meninggi oleh Nina, mengisyaratkan setuju.
Nina memang suka menyiram tanaman, kebetulan karena di kampung Emak yang senang menanam pun mencoba menjual beberapa tanamannya di halaman. Sehingga mereka memiliki banyak di rumah.
Sementara soal bahaya akan penculik, tak perlu khawatir.
Hati Nina sudah diculik kok sama Dirga.
__ADS_1