LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[50] Semua Gara-Gara Ucup dan Parno itu!


__ADS_3

Siang harinya laki-laki itu masih tidak terlihat memasuki kamar, justru memilih melirik Ucup yang belakangan ini Mama titipkan di klinik hewan setelah dirinya menikah-karena takut repot jika tidak terurus, dan bisa stress karena banyak orang yang selama beberapa hari memenuhi rumah. Kucing berjenis british shorthair itu baru saja dibawa balik kerumah oleh Dirga setelah tidak ada yang ingat bahwa ketidakhadirannya dirumah ini karena belum juga dijemput setelah acara. Kini kucing gembul itu tengah menemaninya dihalaman belakang.


Apalagi alasannya kalau bukan karena dia masih parno akan mimpi hari itu.


"Masih belum ganti baju?"


Suara seseorang mengalun ditelinganya ketika Ucup tengah melenguh malas diperutnya.


Itu Nina, berdiri dekat dengannya.


Tidak melirik, Dirga memilih fokus pada Ucup.


"Hah? Oh ... iya, nanti."


Satu hal yang nyatanya baru Dirga sadari setelah melirik setelannya detik lalu.


Jadi sejak tadi ia masih mengenakkan setelan ke masjid ketika menjemput Ucup, ya?


Ah ... persetan, hanya perkara pakaian.


"Kak Dirga sedang mode menghindar? Sampai nggak mau masuk ke kamar karena Nina disana, kan?” Tanyanya judes.


Tumben sekali Nina dengan terang-terangan berujar dengan jutek padanya.


Dirga memang menghindarinya-tak perlu penjelasan kedua-pokoknya dia hanya tak ingin menatap Nina sementara waktu. Seolah tak berpikir jika Nina akan menyadarinya, sebaliknya perempuan itu bersikap seperti ini.


"Nggak, biasa saja. Ngapain menghindar? Sedang nyaman pakai koko dan sarung.” Ujarnya santai lagi-lagi tak menatap, masih tidak melirik Nina di sisi kirinya.


Tentu saja hanya mengelak yang bisa ia lakukan.


Memangnya jujur itu selamanya baik? Of course not!


Tak menghiraukan pergerakan perempuan disampingnya, Nina tahu-tahu duduk merapat padanya. Mengarahkan tangannya mengangkat kucing gembul yang tak begitu peduli dengan dua orang di depannya ini. Wajahnya mengantuk, hanya pasrah yang bisa ia berikan sebagai reaksi setelah Nina memangkunya.


"Ucup ..." Suara Nina mengeluh lucu sambil memperhatikan Ucup dalam pangkuannya.


“Ternyata Ucup ganteng banget, ya? Kak Nina peluk, ya? Mau kan, mau, ya?” Oceh perempuan itu lagi.


Membuat Dirga mendesah sebal. Kemudian kembali menarik Ucup dalam pangkuannya.


Sementara Ucup tampak semakin tak peduli dengan kedua orang yang melakukan adegan oper-mengoper dirinya itu.


"Eh?" Nina memperhatikan Dirga disampingnya.


Seketika mereka bersitatap. Dirga terdiam seolah mencerna pemandangan wajah Nina sedekat yang ia ingat semalam. Sosok itu persis istrinya, namun berubah seketika menjadi lebih menyeramkan dibandingkan yang ini.


Bukannya takut, Dirga semakin tak bisa bergerak setelah terbius tatapan wajah dengan bulu mata lentik dan alis tebal yang memanjakan penglihatannya. Sebelum ini, wajah perempuan berstatus istrinya itu sangat membuatnya mabuk, namun ...


Ah ... sialan! Karena mimpi itu, Dirga tak lagi bisa mengingat bahwa Nina akan selalu secantik ini dalam keadaan apapun, apalagi ketika mereka sedekat ini.


Second, damn!


Ucup yang tadinya menutup mata karena mengantuk, tiba-tiba membukanya, terlihat menyebalkan. Kucing kesayangan Mama itu memandangi kedua orang di depannya dengan meneliti.


Sepesekian detik kemudian, Nina yang berdeham pun menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Dirga. Menyadari bahwa mereka saling terpaku satu sama lain hanya karena tatapan.


Reflek merapihkan pakaiannya, Nina berdiri seraya berujar.


"Nina ada di ruang tamu. Kalau Kak Dirga selama ini nggak nyaman saat ganti baju karena ada Nina, atau takut Nina masuk, kali ini Nina nggak akan masuk kamar, sementara Kak Dirga disana. Take your time, Kak."


Nina lalu pergi meninggalkannya dengan tatapan bertanya seraya melirik Ucup yang juga menatapnya.

__ADS_1


“Nina kayaknya nggak enak karena tatapan tadi ya, Cup? Ya ... habisnya bagaimana ya, Aa’ kan nggak tahu kenapa masih parno begini tiap lihat Nina!” Katanya berbicara menatap si kucing seolah frustasi.


“Meong ...” Respon Ucup singkat.


“Nah kan, kamu juga bingung, kan?” Monolognya seolah mengerti balasan Ucup akan perkataannya.


Dasar dua orang aneh. Pikir Ucup tak mengerti dengan Dirga si babunya, dan Nina si calon babu baru potensial.


...-


...


Dirga kembali dari kamar setelah memastikan perkataan Nina. Perempuan itu tidak masuk kamar karena ia tengah memasak bersama Mama. Dirga memikirkan kejadian di belakang. Kenapa saat ia menatap Nina, ada gelenyar aneh yang dirasakan? Padahal Dirga masih dalam mode parno yang mana dia tidak bisa terbius lagi dengan tatapan perempuan itu.


Keadaannya sama seperti didalam mimpi, walau wajah yang menghadapnya sangat jauh berbeda.


Hanya ada Nina yang cantik tadi.


Mata Nina kecoklatan khas mata orang indonesia. Kedipannya lucu sehingga Dirga pun terbius dalam hitungan detik. Entah mengapa ia tetap saja terpesona walau masih dalam mode parno beberapa waktu sebelumnya. Atas dasar apa dia mimpi seperti itu, rasanya masih sangat misteri untuk Dirga. Walau ia hanya ingin melupakannya, tapi mimpi konyol yang datang tanpa ia minta itu telah menghancurkan sedikit perasaannya untuk menjauh dari Nina yang .... ah, seharusnya mereka tidak menjauh kan? Bagaimana hubungan ini mau berlanjut lebih dalam jika ia menghindar?


Belum sempat menarik pintu untuk dibuka, seseorang mengetuknya dari luar. Siapa lagi kalau bukan salah satu pemilik baru kamar ini.


"Boleh aku masuk?" Tanyanya dari luar.


Dirga menarik pintunya tanpa menjawab. Nina tampak dalam penglihatannya ketika tangan kekarnya masih memegang gagang pintu.


But ... Look!


Jadi Nina betulan punya piyama saten itu, ya?


"Aku nggak bawa baju tadi, Kak. Trus mandi di kamar tamu dan ingat waktu itu pernah simpan ini disana, jadi hanya pakai ini. Boleh Nina masuk? Mau ganti baju yang lebih nyaman.” Katanya menjelaskan.


Dirga tak menghiraukan penjelasan itu. Matanya fokus memandangi wajah Nina tanpa kedip. Wajah yang dialiri air dari rambut yang basah itu tampak menimbulkan gelenyar yang anehnya tak membuat ia takut, justru sebaliknya!


"Ma-masuk saja ..."


****, Dirga mendadak gugup!


Nina memandang Dirga sekilas lalu masuk kamar dengan tenang. Seperti kembali di suguhi dejavu, memori Nina yang ia ingat berjalan mendekat kearah meja rias dengan tangan yang bergerak naik turun menyisir rambut basahnya disana, seolah tersetel secara sengaja. Seperti menyaksikan dirinya masuk kesebuah cerita dimana Dirga hanya datang sebagai bayang-bayang yang bisa menyaksikan kehidupan nyatanya tanpa disadari.


"Kenapa, Kak?" Tanya Nina meliriknya dari pantulan kaca meja rias dengan suara terdengar agak serak yang di akhiri deheman cukup keras.


Dirga sadar dirinya menjadi atensi atas pertanyaan perempuan itu. Dengan cepat kembali menutup pintu lalu menaiki ranjang. Mengunci kaki dan tubuhnya di balik selimut.


"Nina baru kali ini loh ketemu Ucup, Kak. Lucu banget ternyata. Hanya pernah lihat fotonya. Kak Dirga yang jemput Ucup?" Tanya Nina kembali membuka suara sambil melirik Dirga yang tak bisa ia lihat karena gelungan selimutnya.


Laki-laki itu hanya mengangguk, tak sadar jika gerakannya itu tak bisa Nina lihat.


Perempuan itu terdengar bergumam pelan.


Ya ... Dirga hanya terlalu parno, dia tak bisa terus menghindar. Setidaknya Nina tak berubah menjadi mengerikan, bahkan ketika mencubit pipinya, ini semua memang nyata.


Menurunkan selimutnya, Dirga mengangkat tubuh bersandar pada kepala ranjang. Menjadi sosok yang jelas terpantul dari sisi kiri posisinya, tepat dibelakang Nina.


“Kayaknya Mama lupa sih, mangkanya nggak ingat bawa Ucup balik." Monolognya tak membuat Dirga memberikan respon.


Suasana mendadak sunyi, ia kemudian menyalakan televisi dalam suara yang kecil. Sekadar mengurangi suasana canggung yang mungkin hanya ia rasakan sendiri.


Akibat tak fokus pada apa yang Nina lakukan, tahu-tahu ranjang yang ia tempati terasa bergerak. Dirga akhirnya melirik ke sisi kanannya. Nina duduk dipinggir ranjang. Tampak hanya melirik kesana-sini tanpa berujar.


Rambut Nina cukup panjang, wangi shampo yang menguar begitu harum. Sungguh, Dirga belum pernah menemukan wangi seperti ini sebelumnya.

__ADS_1


Beberapa detik berlalu. Tak ada suara diantara mereka, kecuali pembawa acara di televisi yang bercuap tanpa henti. Perempuan itu diam, tapi dengan pelan menaiki ranjang. Bukan mengisi sisi kanan Dirga, tapi justru mngarahkan haluannya pada Dirga.


Fokusnya pada televisi mendadak beralih pada Nina yang terus mendekat.


"Eh ... Kak Dirga, sebentar ..." Nina merangkak diatas ranjang mendekatinya. Desir darahnya mengalir dengan cepat, suasana bagi Dirga tiba-tiba menjadi mencekam.


"Rambut Kak Dirga,"


Nina semakin mendekatinya. Tak bisa bergerak kemana-mana, ia mendadak kaku. Terlanjur terpojok dengan dinding dibelakang tubuhnya.


Memorinya akan mimpi itu terus berputar, pergerakan yang sama seperti di mimpi!


"Sebentar, jangan bergerak!" Sergah Nina sedikit menaikan nada bicaranya. Dirga diam secara alamiah tubuhnya. Refleknya untuk menghindar tak bekerja sama sekali.


Nina bukan jelmaan makhluk lain, kan?!


Nina mendekat dan semakin dekat hingga akhirnya berdiri rendah di depan wajahnya dengan piyama sialan yang belum ia ganti dan rambut basah sialan yang membuatnya tampak seduktif ...


Wait, wait, wait... Apa yang akan Nina lakukan?


Dirga tiba-tiba menutup matanya berusaha menghalau dejavu yang terus menghantuinya. Berharap kakinya mampu berlari sekarang juga.


"Diam sebentar, Kak ...” Katanya lembut.


Tangan Nina sudah menyentuh rambutnya sebentar, membuat Dirga pada akhirnya reflek mendorong perempuan itu menjauh dari hadapannya.


Tak merasa disakiti, Nina yang sedikit kaget kemudian tertawa.


“Kamu kenapa sih, Nin? Aku yakin kamu manusia, please!” Serunya membuat Nina berhenti tertawa.


Menatap suaminya bertanya.


“Maksud Kak Dirga?”


“Kamu kenapa bersikap seperti barusan? Mendekat tiba-tiba, piyama merah kamu, rambut basah kamu-ah! Kamu sebenarnya mau ngapain, Nin?” Tanya Dirga lagi dengan nada cukup keras.


Nina bergeming sesaat.


"Sorry Kak Dirga ... Ini ada sesuatu dirambut kamu-Kak Dirga nggak suka, ya? Maaf ya, Ni-Nina nggak maksud apa-apa kok ..."


Dirga tidak tuli, dengan jelas Nina mengatakan sesuatu sambil menunjukkan sehelai bulu halus dari tangannya.


Yes, bulu kucing sepertinya.


"Bulu?"


"Iya sih, kayaknya ini bulu Ucup di kepala Kak Dirga. Nina ambil saja takut terhirup, lumayan menggumpal tapi sekilas nggak begitu terlihat sih karena agak abu-abu menghitam. Maaf, ya ..." Nina tersenyum tak enak sambil menunjukkan bulu itu.


Dirga menghela napasnya berat.


Tak sadar ada hal lain yang membuat Nina mendadak menelan salivanya, dan itu terdengar jelas oleh Dirga.


Posisi!


Ya, posisi mereka yang tanpa disadari seperti ini sejak beberapa detik lalu. Bahkan harum rambut Nina seolah mengambil habis oksigen disekitar Dirga dan akan segera memabukkan sekarang.


“Kak Dirga ... Boleh bangun? Ini kita posisinya nggak enak ... Um, maaf ..."


Nina terlihat menarik napasnya dalam-dalam. Dirga terpaku, tapi dengan cepat menyadarinya lantas turun dari ranjang seraya berjalan keluar meninggalkan Nina yang masih terbaring disana.


Dirga telah menimpa Nina tanpa sengaja

__ADS_1


****!


Semua gara-gara Ucup dan parno sialan itu!


__ADS_2