LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[28] Problematika Manusia Dewasa


__ADS_3

Sesampainya di stasiun tempatnya memulai shift kerja, Dirga menemukan kondisi disana sudah ramai dengan para rekan yang siap mengemban tugas, sama sepertinya. Dari posisinya mendekat kearah pintu masuk, ia melihat Firdaus menyapa dengan tangan melaimbai kearahnya.


"Woi Us! Buset, kinclong banget wajah lo." Kelakar Dirga menyapa Firdaus dengan candaan yang dibalas decakan olehnya.


"Kinclong apa gelap? Beda tipis tuh Dir." Balas Firdaus terkekeh.


Mereka tertawa.


"Gimana-gimana persiapan pernikahan? Mentang-mentang sudah nggak dekat lagi shift perjalanan, lo jadi jarang menghubungi gue. Padahal pertama kalinya pakai cuti dua tahun lo itu, yang buat izinnya kan gue! Lupa lo sama teman seperjuangan?” Sindir Firdaus membuat Dirga terkekeh lagi.


“Nggak lah, Us. Mana mungkin gue lupa sama teman gue yang satu ini. Ya … lo tahu sendiri kan gue kalau ada waktu libur dalam seminggu itu pasti disibukkan sama urusan pernikahan. Sorry ya kalau jarang menghubungi. Kapan-kapan kita ngopi lah seperti biasa." Ujar Dirga menaik turunkan alisnya menggoda Firdaus.


"Oke lah, santai man. Oh ya, by the way, waktu lo menghubungi gue dan bilang dijodohkan, gue ikut senang, man! Lo jadi nggak harus lebih lama lagi memendam cinta tak terbalas dari si Novia, ya." Sindir Firdaus lagi membuat Dirga berdecak.


“Bawa-bawa masa lalu, pula! Iya, semoga gue nggak terjebak kisah lama lagi. But, anyway, bagaimana kabar Novia? Lo ada ketemu dia belakangan? Gue nggak banyak ketemu Novia lagi, berhubung dia sudah naik jenjang dan gue juga sudah ada asisten baru.”


“Nggak juga sih sebetulnya, gue nggak sering ketemu dia. Apalagi belakangan katanya dia dengar-dengar mau cerai sama suaminya? Lo tahu ceritanya Dir?” Tanya Firdaus.


Mau tak mau Dirga mengangguk. Walau setelah cerita Novia padanya dimobil hari itu, dan perkataannya yang mengagetkan setelah seharian menjadi partner kerja, Dirga tak lagi ingin ambil tahu. Paling hanya bertemu Dahlan saja, karena kebetulan laki-laki itu sesekali menghubunginya.


Apalagi soal perjanjian Dahlan yang mengiming-iminginya hadiah karena sudah membantu kakak iparnya itu.


Dirga akhirnya tak mengambil untung apapun dari Dahlan, tapi laki-laki itu sangat bersyukur dan terus berterima kasih padanya karena mau mengurus Novia dan perasaan campur aduknya hari itu.


“Gue tahu sih kisahnya, karena waktu itu juga dia pernah bicara sama gue, Dahlan juga pernah minta tolong gue bantu menemani Novia waktu sedang lagi berat-beratnya masalah dia.” Terang Dirga seadanya.


Firdaus mengangguk.


“Ya itu namanya lo sudah tahu kasus Novia, bambang!”


Dirga terkekeh. Betul sih dia tahu, walau akhirnya tak begitu ingin lebih tahu.


“Iya sih betul gue tahu, tapi gue nggak mau tahu lagi urusannya, lah. Gue juga punya urusan sendiri.”


“Oke … jadi lo sudah nggak ada perasaan sama dia, kan?”


Dirga sejenak terdiam. Dia memang tak mau tahu soal Novia lagi, namun soal perasaan, ia hanya mengikuti apa yang sudah ia jalani sekarang. Jika perasaan suka, memang sudah tak begitu nampak dihatinya, tapi Dirga hanya sesekali menyesali apa yang terjadi pada Novia sebagai seorang teman dan rekan kerja.

__ADS_1


“Nggak sih, gue nggak mau mencungkil luka lama lagi, lah. Gue juga sudah mau punya istri, prioritas gue akan pindah ke istri gue kan? Apalagi rasa suka, harusnya semua untuk istri gue.” Terang Dirga jujur.


“Bagus, Dir … Memang harus begitu, bahkan seharusnya sejak lama lo nggak lagi mempermasalahkan soal kegagalan cinta sama Novia. Ya … tapi itu sudah lewat lah ya, sekarang fokus sama apa yang ada di depan kita saja.”


Dirga mengangguk, kemudian mengajak Firdaus untuk berjalan kedalam kantor. Hari ini banyak sekali teman-teman satu angkatannya yang kini berkumpul. Seperti ada reuni dadakan. Ketika Dirga tengah asyik bercengkrama dengan para teman lamanya, muncul Dahlan dan Novia dari arah pintu masuk.


Waktu mulai perjalanan masih sejam lagi. Tapi setengah jam lagi sudah waktunya briefing.


Melihat Dahlan, sejenak dia mengingat tawaran yang laki-laki itu berikan demi menjamin Dirga mau menemani kakak iparnya. Pada akhirnya ia menolak pemberian Dahlan yang ia janjikan hari itu, karena setelah dirinya sadari, tak ada yang ia lakukan pada perempuan itu. Pun ketika Nina menceritakan soal suami Novia yang tahu-tahu menjadi temannya, sedikit banyak membuat Dirga mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


Kemugkinan jika Muhadi memang bersalah, dia harus menerima kenyataan bahwa Novia memutuskan untuk berpisah. Namun jika ini hanya kesalahpahaman, seharusnya Novia bisa memberikan suaminya waktu untuk menjelaskan semua. Bahkan menurut Nina, Muhadi menjadi tak jelas harus mengadu pada siapa karena semua orang tak mau mendengar penjelasannya.


Menghapus ingatannya sejenak, Dirga menyambut Dahlan yang tersenyum melambai kearahnya.


"Dirga!" Panggil Dahlan sambil mendekat. Novia berjalan pelan dibelakangnya dengan wajah yang kurang segar.


Dirga paham mengapa Novia seperti itu.


"Lo kok disini juga, Lan? Tumbenan. Dapat shift siang juga?” Tanya Dirga.


Dahlan menggeleng.


Dirga melirik Novia disamping Dahlan.


"Hai Nov." Sapa Dirga santai, sejenak melupakan apa yang waktu itu terjadi sehingga ia akhirnya terpaksa kabur meninggalkan Novia karena telah lelah meladeni perempuan itu.


“Hai, Dir …” Balas Novia dengan canggung.


Lalu perempuan itu tampak izin undur diri ketika melihat Naura yang lewat di dekat mereka.


Jika dipikir tentang kejadian beberapa hari lalu, wajar sih kalau Novia jadi lebih banyak diam seperti ini.


Beberapa hari lalu, karena penasaran, Dirga akhirnya menghubungi Dahlan dan menanyakan siapa wanita yang diduga selingkuhan Muhadi. Dari cerita Nina, Muhadi mengaku diperalat oleh seorang pramugari junior hari itu.


Dahlan tak tahu menahu soal siapa perempuan itu, dia hanya mengatakan bahwa Muhadi kepergok dengan seorang pramugari.


Sejak perkataan Dahlan, Dirga coba menganalisa kebenaran yang ada soal pengakuan Muhadi pada Nina. Bisa saja ini hanya murni kesalahpahaman, walau begitu dia masih khawatir jika Nina yang menganggap Muhadi tak berbahaya, masih berhubungan dengan laki-laki itu sebelum kenyataan sebenarnya terungkap.

__ADS_1


Jujur, ada sebersit rasa aneh ketika Dirga memikirkan Nina. Walau perempuan itu tak pernah bersikap berlebihan, atau menghubunginya lewan pesan teks untuk tujuan selain urusan pernikahan, tapi Dirga merasakan ketenangan yang lain setelah matanya sendiri yang memantau keberadaan perempuan itu.


Dirga jadi aneh sendiri dengan dirinya.


"Gimana kelanjutan Novia? Sudah bicarakan ini sama Abang lo?” Tanya Dirga membahas permasalahan yang sempat Dahlan lakukan lewat telepon, namun tertunda.


Dahlan mengangguk.


"Abang gue datang ke gue, finally. Dia menjelaskan semuanya, dan kita bicara dengan kepala dingin. Gue juga sudah bicarakan dengan Novia, akhirnya dia cabut pengajuan cerainya walau belum mau ketemu abang gue. Ya … masih tegang, lah. Tapi gue netral, Dir. Kasihan juga gue lihat dia, selama ini dia tinggal dihotel, dan sementara akhirnya coba menyewa apartement."


"Bagus lah kalau begitu."


Dahlan berkata lagi.


"Tapi ada yang aneh dari Novia belakangan. Dia kayak nggak mau mengerti semua perkataan abang gue yang gue jelaskan ke dia. Malah kesannya dia seolah-olah sudah nggak ada rasa sama abang gue. Alasannya sih masih sama ya, Novia masih nggak bisa menghilangkan trauma merasa ditipu dan diduakan. Padahal biasanya orang yang jatuh cinta, tapi dibutakan sama kesalahpahaman, bisa lebih cepat memaafkan setelah tahu alasan sebenarnya. Gue benar, nggak?" Tanya Dahlan yang membuat Dirga berpikir.


Benar juga. Mendengar penuturan Dahlan barusan, mungkinkah kesalahan kedua ada di Novia? Atau wanita itu mengkambing hitamkan Muhadi untuk alasan tertentu?


"Yang gue pahami sih begitu, Lan. Tapi, ya sudahlah positive thinking saja. Mungkin Novia memang masih trauma karena untuk pertama kalinya, dan track record abang lo yang sangat family man membuatnya masih nggak bisa percaya sudah diperlakukan seperti itu.”


"Iya sih. Tapi kan setidaknya dia harusnya punya pengertian. Kasih waktu abang gue saja nggak. Kasihan gue lama-lama sama bang Muh. Luntang-lantung tanpa arah, nggak berani pulang ke rumah orang tua juga, karena takut masalah ini sampai ketelinga bonyok. Kadang malah katanya dia pergi-pergi nggak jelas setelah flight, menemui orang nggak dikenal dan mendadak jadi teman. Gue sih sempat suruh dia tinggal di kostan, tapi dia nggak mau. Katanya terlalu banyak bayang-bayang Novia yang membuat dia pada akhirnya selalu menyalahkan diri sendiri."


Dirga mengerti. Situasi seperti ini memang rumit.


"Iya gue mengerti. Terpenting sekarang peran lo kayaknya jadi lebih banyak untuk bantu menggantikan posisi abang lo dan coba imbangi Novia supaya dia nggak trauma lagi dan mau ketemu abang lo. Naudzubillah kalau sampai berniat bunuh diri. Ya sudah, gue duluan ya, Lan. Dibelakang lo si Gaska sudah lambai-lambai tuh memanggil gue. Firdaus juga nih. Kemana lagi tuh orang, menghilang begitu saja." Dahlan lalu memutar kepalanya melihat Gaska yang tersenyum seraya memberi hormatnya dari jauh.


"Ya sudah sana. Thanks ya bro sudah dibantu tambah pikiran lo. Oh ya katanya lo mau menikah ya? Wah, congrats Dir. Doakan gue menyusul segera, ya.”


"Nggak masalah, Lan. Lo teman gue. Sesama teman harus saling bantu." Putus Dirga seraya menepuk bahu Dahlan, lantas berlalu dari hadapannya.


Dirga anggap masalah Novia sudah membaik, tinggal tunggu hingga nantinya Novia bermediasi dengan sang suami untuk keputusan akhir.


Setidaknya kekhawatiran Dirga tentang kedekatan Nina dan Muhadi karena laki-laki itu sungguh-sungguh mencintai istrinya, dan merasa jika semua hal yang terjadi hanya karena kesalahpahaman dan butuh seseorang untuk mendengarkan ceritanya.


Hm … omong-omong, Nina sedang apa ya?


Tiba-tiba saja Dirga teringat Nina yang tampak cantik dengan kebaya khas sunda yang diam-diam membuat Dirga terpana. Walau ia tak menyukai pakaiannya sendiri, ia menyukai Nina dengan pakaian itu.

__ADS_1


Dasar dirinya!


__ADS_2