LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[46] Siapa Sebenarnya yang Dirga Telepon?


__ADS_3

Siang berganti malam, Mama memanggil semua orang di rumah untuk duduk di meja makan, kecuali Nina. Dirga baru selesai berganti pakaian pakaian, lantas turun ke bawah menemui Mama dan Lila yang tengah membereskan makan malam. Nina kembali tidur di kamar setelah selesai meminum obatnya.


“Duduk, A’,” Mama memberi instruksi ketika dilihatnya sang putra berjalan mendekat kearahnya di meja makan. Dirga duduk di kursi meja makan tepat di depan Mama. Memperhatikan berbagai makanan di depan nya. Padahal yak banyak orang dirumah ini, tapi Mama memasak seolah akan menyajikan makan untuk belasan orang.


Dasar Mama, beliau memang kerap kali memasak dalam jumlah banyak.


“Banyak banget, Ma.” Respon Dirga setelah tak habis pikir dengan banyaknya menu yang tersaji.


Mama tertawa.


“Kayak kamu makannya dikit saja, A’. Nggak perlu komentar, semua makanan ini pasti habis. Percaya sama Mama.” Katanya berkelakar.


Dirga lalu tertawa.


Laki-laki itu tak menggerakkan tangannya sama sekali, seperti kebiasaan yang beliau lakukan sebelum-sebelulnya, Mama mengambil alih tugas mengambil nasi dan lauk untuk dirinya.


Ah, Dirga jadi tak merasa statusnya telah berubah.


Sejenak ia teringat Nina, sudah lebih dari tiga hari sejak mereka menjadi suami istri. Namun kali ini Nina tak disini menemaninya sarapan karena ia masih sakit, Dirga terkekeh geli dalam hatinya, tahu-tahu dia sudah merindukan makan bersama dengan perempuan itu. Padahal baru beberapa jam lalu mereka makan bersama.


“Cukup, cukup, Ma. Jangan terlalu banyak, masih pagi ini, Ma!” Responnya cepat ketika Mama meletakan nasi yang menggunung dengan lauk disana. Dirga memang suka makan, namun tak seperti ini juga.


Apa Mama mau perutnya meledak?


“Mama kira-kira dong, ya kali Aa' langsung makan segini banyak?” Keluhnya sebal.


Mama tertawa sebagai respon seraya memajukan piring tersebut kedepan putranya.


“Seingat Mama kamu makannya banyak, loh A', ya wajar dong kalau Mama kasih yang banyak sekalian.” Elak Mama membela dirinya.


Dirga tertawa.


“Ya, tapi nggak begini juga atuh, Ma. Aneh-aneh saja, sih ...” Kekehnya walau sebal.


Mama kembali tertawa. Lila juga terlihat tersenyum disamping Mama.


Makan malam hari ini benar-benar seru, walau tanpa Nina. Sekilas Dirga seperti kembali menjadi seorang single tanpa istri yang mengambilkan makan yang hanya ditemani sang Mama.


Ia terkekeh kecil.


Ternyata tak adanya kehadiran Nina bisa begitu ber-efek setelah mereka menikah. Dirga tak pernah menyangka jika hal ini akan terasa berbeda ketika sudah berganti status sebagai seorang suami, padahal biasanya dia hanya makan bersama Mama, namun ketika saat ini dirinya memiliki gelar suami, makan tanpa istrinya terasa agak aneh.


Ah ... Dirga terus mengingat Nina.


...-


...


Selesai makan malam, laki-laki itu kembali masuk kedalam kamar. Hari ini tak banyak yang ia lakukan selain keluar masuk kamar, dan sesekali menghabiskan waktu diruang kosong yang telah disulap menjadi ruang PC-nya dan beberapa koleksi buku. Pukul sembilan malam ini, dilihatnya sang istri tengah menjalankan sholat di ranjang. Dirga duduk di sofa kamar yang agak jauh dari posisi Nina agar tak membuatnya terganggu.


Sesekali laki-laki yang kini fokus pada ponselnya itu melirik sang istri yang tengah beribadah dengan khusyu di ranjang.


Perempuan itu sangat bersinar dalam pandangan Dirga. Nina sangat cantik dengan mukena seperti itu. Kalau saja sejak pertemuan mereka diawali dengan cinta yang telah terjalin satu sama lain, pasti rasanya akan sangat indah dan penuh cinta. Bahkan Dirga yakin jika kini dia pasti seribu persen lebih mencintai Nina dengan sangat. Bahkan mengingat kedekatan mereka yang hanya sebatas ‘skinship standar’ seorang pasangan sah, membuat darahnya berdesir.


Sayangnya awal pernikahan ini tak semudah yang Dirga inginkan. Dia menyukai Nina, dia tertarik dengan perempuan itu, tapi tak bisa memaksakan semua hal tertangnya sesuai kemauan ia pribadi. Dirga butuh membangun kepercayaan lebih yang tentunya memakan waktu sedikit lebih lama dibandingkan pasangan lain. Nina memang semakin cantik saja jika dilihat. Dirga selalu tertegun dengan wajah bersih perempuan itu. Bukan tipe perempuan polesan, bahkan Nina terlihat cantik dengan wajah alaminya yang terbasuh air dari kamar mandi selama tiga hari hidup bersama.


“ ... Assalamualaikumwarahmatullah ...” Ucapan salam perempuan itu mengalihkan atensinya dari bayangannya soal sang istrk. Nina lalu mengusap wajahnya dengan dua tangan setelah menyelesaikan ibadahnya dengan salam.

__ADS_1


Kepalanya menangkap wajah Dirga yang tengah memperhatikannya.


“Nggak makan?” Tanya Nina berusaha mengalihkan pandangan Dirga. Seolah tersadar dengan pertanyaan istrinya, laki-laki itu mengangguk cepat.


“Sudah ... Tadi katanya Lila sudah bawakan makan malam kamu kesini, kan?”


Nina mengangguk.


“Iya, sudah. Kak Dirga mau tidur sekarang ya? Ini, Nina geser sedikit.” Katanya seraya bergerak kesisi kanan ranjang.


Dirga menggeleng.


“Nggak, belum kok. Take your time, Nin.” Ujarnya santai.


Nina tersenyum.


“Maaf ya karena aku sedang sakit, Kak Dirga nggak bisa istirahat karena ranjangnya ku kuasai sendiri seharian ini.” Ujar perempuan itu menyelipkan kekehan disana.


Dirga tersenyum kecil seraya menggeleng.


“Nggak-nggak apa-apa. Aku bisa tidur nanti, lagipula belum enak tidur juga.”


Dirga lalu meraih ponsel diatas nakas.


Ponsel Nina.


“Nin, boleh aku pinjam ponsel kamu? Aku baru ingat ponselku dibawah, agak malas turun.” Kekehnya seraya menunjukkan tanda peace dengan dua jarinya.


“Oh ... boleh, Kak. Pakai saja.” Jawabnya cepat.


Sebelum sampai keluar pintu, Dirga berbalik.


“Nggak di kunci kan?”


Nina menggeleng.


“Nggak kok. Usap saja.”


“Oke. Thanks, ya ... Ku pinjam dulu.” Putusnya kemudian Dirga berjalan keluar.


Muncul perasaan nyaman ketika semakin lama suaminya itu semakin menujukkan indikasi nyaman kepadanya. Memberikan perhatian-perhatian, tak hanya yang besar, namun pada hal-hal kecil juga. Sejenak membuat Nina tersipu malu, menumbuhkan lebih banyak keyakinan lain dalam dirinya tentang bagaimana nantinya laki-laki itu akan menjaganya dengan baik.


Rasa hangat tiba-tiba timbul di hatinya. Jantungnya pun seolah memompa dengan cepat.


Apa dia sudah benar-benar jatuh hati pada suaminya setelah hanya rasa suka saja yang selama ini ia ungkapkan pada dirinya sendiri?


...-


...


Tiga hari setelah Nina dinyatakan sakit, dokter yang kembali datang mengecek kondisinya mengabarkan bahwa Nina sudah lebih baik. Perempuan itu juga mengaku tubuhnya sudah lebih kuat, tak ada lagi mual atau pun demam. Ia sudah pulih dan boleh makan makanan seperti biasa walau tetap perlu dijaga pada makanan-makanan pemicu maagnya. Gejala tipusnya tak benar-benar terjadi setelah tiga hari minum antibiotik yang diresepkan.


Mendengar hal itu, Mama mengucap syukur dan merssa senan, begitupun Nina. Sehabis ini dia bisa beraktifitas normal lagi setelah tak merasa sakit kepala atau mual.


Selain karena itu, Nina juga merasa tak enak hati dengan suaminya. Sebab Dirga justru tidur di sofa selama tiga hari ini karena tak ingin Nina terganggubdari tidurnya. Nina selalu mengatakan pada suaminya bahwa tak masalah jika ia tidur disampingnya. Nina bahkan berujar jika laki-laki itu melihatnya tidur dengan posisi seolah menguasai ranjang, untuk menegurnya.


Dirga mengakut tak masalah, ia merasa nyaman saja dengan keputusannya itu. Nina pada akhirnya menyerah dan memberikan ruang untuk Dirga memilih keputusannya.

__ADS_1


Takut dikira maksa, Nina tak ambil pusing kemudian.


Nina sekarang masih duduk di ranjang setelah menikmati sop ayam yang dibuat Mama. Berjalan pelan menuju kamar mandi, yang tersisa dari sakitnya hanya sesekali merasa tak nyaman dikepalanya jika berjalan. Walau tidak sebanyak saat pertama kali. Sisanya, ia merasa sudah jauh lebih baik.


Setelah beberapa menit, perempuan itu keluar dari kamar mandi dengan wajah sedikit cerah. Dia tak mandi secara berlebihan, hanya membersihkan tubuh seringannya saha. Selesai mandi, Nina langsung melaksanakan sholat ashar karena adzan sudah berkumandang, kemudian keluar kamar bermaksud menemui Mama dan menikmati hawa diluar kamarnya yang terasa menyiksa selama tiga hari ini.


“Nina, sini.” Ajak Mama di depan meja makan. Nina mendekat setelah turun dari tangga.


“Masak apa, Ma?” Nina duduk di kursi meja makan setelah tangan Mama tanpa bicara menginstruksikan dirinya untuk memposisikan diri disana.


“Biasa saja, Nin. Masih yang aman-aman untuk kamu, nggak masak gorengan. Ini sisa sop ayam kayak tadi, sama ada tambahan pepes ikan, sih.” Jawab Mama.


Nina mengangguk.


Mama selesai menata makanan di meja, ketika beliau lihat Lila keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapih.


“Mau kemana Lil?” Tanya Nina ketika Lila hendak berjalan mendekati mereka.


“Mau kuliah kak. Ada jam malam hari sabtu ini. Lila ‘kan extension kuliahnya.”


Nina mengangguk.


“Oh iya. Duh, aku juga pekan depan sudah harus bimbingan bab baru, nih.” Keluh Nina ketika mengingat skripsinya yang sejenak terbengkalai.


Lila tersenyum lebar.


“Ya sudah kak, aku duluan ya.”


Lila mendekat ke Mama lalu mengecup punggung tangan beliau. Begitu pun ketika dia mendekat ke Nina.


“Nggak perlu, cium tangan lah. Kita salaman saja. ‘Kan seumur.” Kelakar Nina. Padahal keduanya berjarak usia hampir empat tahu, walau Nina tak ingin terlalu merasa lebih tua.


Mereka berdua tertawa.


“Iya kak Nina, siap deh! Ya sudah semuanya, Lila berangkat dulu ya. Assalamualaikum.”


Dengan serempak Nina dan Mama menjawab salam.


“Kamu nggak lihat Dirga, Nin? Mama belum lihat dia, kemana ya?” Nina menggeleng.


“Nggak tahu Ma. Mungkin ada perlu di luar.” Jawabnya asal. Ia memang belum melihat Dirga setelah makan siang.


“Pergi terus bawaannya itu barudak. Nggak bisa betul diam sedikit. Tahu istrinya lagi sakit, dia ngayap we kemana-mana. Kamu nggak kesal ditinggal Dirga mulu, Nin?” Tanya Mama dengan nada sebal sambil duduk menatap menantunya itu.


Entahlah ... Nina tak tahu jika part menghilangnya Dirga akan menjadi masalah untuk Mama. Justru baginya sendiri, Nina merasa tak enak. Tentu saja karena perkara tak jadinya mereka pergi hari itu. Dirga pasti ingin menikmati liburannya juga, walau akhirnya ia hanya menganggur tanpa kerjaan setelah semua itu batal.


Nina tak tahu harus bereaksi seperti apa. Dia tak merasa harus menggugat kemana kepergian suaminya. Toh Dirga selalu memperhatikannya dan menjaganya dengan baik selama sakit ini. Walau memang jarang terdeteksi radarnya.


Tapi Nina tak masalah, Dirga mungkin butuh waktu untuk dirinya sendiri.


“Nggak tahu Ma, mungkin Kak Dirga keluar ketemu temannya. Nggak apa-apa lah, Ma.” Jawabnya yang dibalas decakan Mama


Dirga tak mungkin macam-macam juga, dia pasti hanya sedang mengerjakan sesuatu.


Ah iya, Nina ingat tiga hari lalu laki-laki itu meminjam ponselnya. Siapa yang sebenarnya Dirga telepon, ya?


Tampaknya ada hal serius yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2