![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
"... siapa sebenernya yang ditanya Sholehah, Nin? Kok aku nggak tahu kamu punya kakak laki-laki?”
Belum sempat Nina menempati bangku kecil didekat jendela kamar, pertanyaan penasaran milik Dirga terburu mengambil alih kerja otaknya untuk menjawab, alih-alih mendudukkan diri.
"Sebentar ..." Ujar Nina sambil mencoba membuat dirinya nyaman dengan memilih duduk diatas ranjang. Terlalu banyak memori terulang dipikirannya bahkan sebelum ia pernah menemui Fahri. Kepalanya akan terus terngiang dengan keberadaan Fahri yang tak pernah ia tahu, pun ia temui semasa hidup.
Bahkan Fahri tidak tercantum dalam daftar keluarga, walau Emak sangat ingin. Abah melarang beliau untuk memasukan Fahri karena bisa saja Fahri tidak akan pernah kembali lagi.
Semuanya tentang rumah ini, terkadang masih terlalu rumit.
"Jadi?" Tanya Dirga lagi ketika posisinya dengan Nina sudah bersebelahan diatas ranjang.
"Jadi, tadi yang di bahas Sholehah itu memang tentang kakak laki-laki ku, anak pertama di rumah ini, A’ Fahri.” Mulai Nina.
Dirga mengarahkan kepalanya lebih dekat kearah Nina dengan alis mengernyit.
"Jadi kamu bukan anak tertua rumah ini?"
"Iya aku bukan anak tertua, tapi aku anak gadis tertua-"
"-gadisnya di coret Nin." Kekekh Dirga membekap mulutnya sendiri sebelum tangan Nina dengan jahatnya mencubit bibir itu.
"Ish! Nggak usah dibahas. Kalo masih dibahas, aku nggak lanjut, nih." Rajuk perempuan itu sebal.
Dirga tertawa.
“Iya, iya, bercanda aku. So, gimana selanjutnya?"
Nina berdecak lalu dengan sebal melirik Dirga yang sudah menjatuhkan kepala diatas pahanya.
“Bisa nggak, nggak usah tiduran? Aku gerah tahu nggak?”
"Hi, gerah? Yah jendela juga sudah di buka Nin. Sudah ah lanjut. Rewel banget." Ujar Dirga dengan nada bicara penuh penasaran.
"Kamu nggak sabaran banget tahu nggak sih, Kak?" Ujar Nina dengan sebal.
"Tapi kamu cinta kan? Sudah cepat cerita.”
"Ish ..." Nina berdecak.
Tangannya lalu bergerak menarik rambutnya dalam ikatan.
"Yah begitu, A’ Fahri nggak pernah ada dirumah ini lagi sejak umur lima tahun. Emak sama Abah bilang sih, A’ Fahri di culik waktu kecil. Kita juga sudah sempat lapor polisi, tapi bertahun-tahun juga A’ Fahri masih nggak bisa ditemukan. Akhirnya polisi menutup kasus dan selama beberapa tahun itu pula, Emak terus saja menangis ingat-ingat A’ Fahri. Akhirnya di tahun kesembilan A’ Fahri pergi, Emak hamil aku. Sejak saat itulah kata Abah, aku ini penyemangat Emak untuk tetap hidup dan menjalani hidup dengan layak. Jadi ya begitu, aku juga nggak pernah tahu bagaimana wajah A’ Fahri. Emak hanya punya foto hitam putih dua hari sebelum A’ Fahri pergi. Foto itu diambil saat A’ Fahri tamat Iqro di TPA. Hanya itu foto yang kami punya."
Dirga mengangguk menanggapi cerita Nina.
"Apa kalian nggak coba cari lagi, sekarang?"
Nina menggeleng.
__ADS_1
"Abah sama Emak mencoba mengikhlaskan. Memang saat itu, lagi ramai banget penculikan untuk di jual jadi anak jalanan. Jadi, Emak sama Abah pasrah saja. Susah juga mau cari orang yang sudah hilang hampir dua puluh lima tahun. Apalagi kita hanya punya foto kecil, sedangkan sekarang, kalau pun A’ Fahri masih ada, pasti umurnya diatas kamu. So, sudah beda sama pas kecil."
Dirga mengangguk-angguk.
"Nin, aku boleh lihat foto A’ Fahri?" Nina mengangguk,
"Boleh kok. Bentar aku keluar dulu, kayaknya ada di Dapur."
"Dapur? Tumben foto di pajang di dapur." Kekeh Dirga.
"Iya, dapur. Soalnya kata Emak, dari kecil yang menemani Emak masak atau mengurus rumah itu A’ Fahri. Kan Abah meladang, trus baru-baru saja Abah kerja di pasar swalayan pas ada yang mengajak waktu itu. Jadi, Emak menyimpan foto A’ Fahri di dapur, supaya selalu ingat sama dia," Terangnya.
Dirga mengangguk.
"Ya sudah aku ambilkan fotonya dulu."
Dirga mengangguk lalu bangkit memposisikan dirinya duduk diatas ranjang.
Sekembalinya perempuan itu, ia langsung bergerak menyodorkan sebuah pigura foto kecil seukuran empat kali enam yang terlihat lusuh dan sedikit berdebu.
"Nih," Dirga menerima foto dari tangan Nina itu lalu melihatnya dengan seksama.
"Kang Fahri lucu ya,"
"Pikir saja dong, orang masih kecil juga." Jawab Nina yang mengundang decakan dari Dirga.
"Serius banget, Nin. Orang basa-basi doang." Dirga cemberut.
Matanya menyipit berulang kali. Seperti familier dengan foto yang ada di tangannya ini.
"By the way, Nin, aku kayaknya pernah lihat foto ini. Tapi dimana, ya?"
Nina dengan antusias mendekat pada Dirga.
"Dimana? Serius?"
"Iya, betul-betul familier, tapi dimana, ya? Sebentar, pegang dulu fotonya." Dirga lalu bergerak turun dari ranjang, meraih kantung jaketnya yang tersampir di balik pintu.
"Cari apa?" Tanya Nina melihat suaminya eperti merogoh-rogoh kantung jaketnya hendak meraih sesuatu, "Cari apa, sih, Kak?" Tanyanya.
"Handphone ku tadi ada disini kayaknya. Dimana ya?” Katanya melirik sekitar kamar.
Nina mendesah pelan.
"Kamu lupa, Kak? Di mobil tadi kan kamu taruh handphonemu di clutch ku, Kak. Sini, aku ambilkan." Nina lalu turun dari ranjang kearah lemari baju, meraih clutchnya yang tergantung di pintu lemari.
"Nih handphone kamu." Nina menyodorkan benda berbahan metal milik suaminya itu kedepannya.
“Nih, Nin. Ini nih, foto di belakang Dahlan ini mirip banget sama foto A’ Fahri." Katanya menunjukkan sebuah foto berisi dirinya bersama Dahlan di sebuah rumah.
__ADS_1
Nina buru-buru mendekati Dirga.
“Mana?"
"Ini Nih, pigura yang di belakang Dahlan. Ini mirip A’ Fahri kecil kan?"
Nina meneliti gambar yang Dirga tunjukkan. Disana ada Dirga dengan Dahlan yang berfoto senyum tiga jari dengan tangan yang saling merangkul bersahabat. Bukan itu yang menjadi fokus Nina, melainkan pigura besar yang terpampang di belakang mereka.
"Ini kamu foto dimana, Kak? Kok iya, sih mirip banget sama A’ Fahri?" Ujar Nina tak percaya.
"Ini aku ambil foto dirumahnya Dahlan waktu orang tuanya Anniversary pernikahan." Nina memandang Dirga dengan intens.
"Kamu serius? Dahlan punya keluarga lain selain dia? Kakaknya? Adeknya?"
“Adik sih nggak ...” Dirga menjeda. Tiba-tiba dia teringat suami Novia yang merupakan kakaknya Dahlan ...
Tapi ... Mana mungkin Muhadi? Pikirnya.
Nina mengernyitkan dahinya.
"Trus kenapa mereka pasang foto A’ Fahri disana? Sampingnya ada anak cowok masih bayi pula. Seharusnya dia keluarga inti Mas Dahlan, kan?"
Dirga mengangguk.
“Iya, tapi dia punya Abang, cowok. Kita biasanya panggil beliau Bang Muh, tapi sedang ada masalah sama istrinya, wich is temanku, Novia. Kamu ingat dia kan? Yang waktu itu datang terlambat ke pernikahan kita.
"Bang Muh?" Tanya Nina memastikan.
"Iya, Bang Muh. Bang Muhadi, dia pilot."
Nina menatap suaminya dengan mata terbelalak memegang lengan Dirga.
"Muhadi? Nama panjangnya siapa?"
Dirga terlihat berpikir setelah mencerna pertanyaan Nina.
"Siapa ya? Ada’ R’ nya begitu di depan namanya. Rafi? Apa Rifai? Ruli? Ah lupa Nin. Pokonya ada ‘R’ nya lah." Terang Dirga mencoba mengingat.
Nina tampak bergetar di depan Dirga.
"Na-namanya Ri-Rifai Muhadi bu-bukan?" Tanya Nina dengan bergetar. Ekspresi Dirga berubah kaget.
"Oh?! Iya kayaknya? Eh ... tapi kok kamu bisa menebak begitu?”
Nina tiba-tiba jatuh dalam pelukan Dirga setelah mendengar penjelasan suaminya barusan. Kepalanya tiba-tiba pusing hingga tubuhnya tak mampu lagi menopang tubuh karena tekanan di kepalanya yang teramat dalam.
Dengan kaget Dirga menahan Nina dalam pelukannya.
"Nin, Nina!"
__ADS_1
Dirga berteriak memanggil nama Nina sambil bepikir sejenak kenapa istrinya itu bisa terlihat begini saat nama laki-laki itu disebut.
"Muhadi mungkin pernah bertemu sama Nina ..." pikir Dirga dalam diam sambil mengangkat tubuh Nina keatas ranjang.