![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Di sela-sela doa, Nina masih merintih kesakitan karena kontraksi. Dirga yang melihatnya sangat tidak tahu apa yang harus dilakukan selain menyuruh Nina untuk memposisikan tubuhnya miring, lalu mengusap sekitaran pinggangnya yang terasa remuk redam. Dirga nggak tahu seberapa sakitnya, yang jelas, meihat bagaimana ekspresi Nina dan keadaan tubuh istrinya yang berpeluh, rasa sakit bekerja seharian sama sekali nggak ada artinya dengan perjuangan seorang ibu untuk melahirkan.
Nina tiba-tiba menahan tangan Dirga yang masih bergerak mengusap pingganya, "Kak Dirga?" panggil Nina masih membelakangi Dirga.
"Kenapa? Mau minum? Atau kamu laper? Apa yang sakit?" Tanya Dirga bertubi-tubi. Sungguh, kekhawatiran Dirga sangat tidak berujung sekarang.
"Nggak, sakit memang sudah pasti dari tadi. Aku Cuma mau minta maaf-"
"Kamu jangan suka ngomong ngaco deh. Tenang, kamu dan bayi kita pasti baik-baik saja. Insya Allah, Allah masih memberikan kita waktu untuk bisa membangun keluarga kecil yang bahagia sama anak kita nanti. Kamu nggak usah ngomong apapun. Istirahat saja." Ujar Dirga menyela perkataan Nina. Kalau sudah kayak gini, Dirga jadi makin parno.
Nina memutar tubuhnya kearah Dirga dengan susah payah, "Nggak Kak Dirga, bukan masalah itu. Aku sangat yakin dengan keputusan Allah dan insya Allah aku ekarang ikhla saja sama segala keputusannya. Tapi aku Cuma mau minta maaf saja sama kamu. Sama semua kesalahan yang sengaja maupun nggak sengaja pernah aku lakukan ke kamu. Aku minta maaf yah. Aku Cuma mau jadi ibu dan istri yang baik untuk kamu dan anak kita. Kamu mau maafin aku kan?" Ujar Nina diakhiri dengan pertanyaan yang tanpa sadar justru membawa Dirga kepada haru yang membuat air matanya lolos, "Kamu nangis Kak Dirga?" Tanya Nina lagi sambil berusaha meraih pipi Dirga yang dialiri air.
Dirga memutar tubuhnya membelakangi Nina dengan tiba-tiba ketika dia benar-benar sadar sudah melakukan kesalahan dengan menangis di depan Nina. Bagaimana Nina mau kuat kalau dianya sendiri nggak bisa kuat, "Itu wajar Kak Dirga. Kamu memang nggak akan pernah merasakan sakitnya melahirkan seperti para wanita. Tapi aku tahu, sebagai laki-laki, kamu merasakan sakit yang sama ketika melihat istri kamu sakit. Aku nggak pernah kepikir punya suami yang sangat baik kayak kamu. Aku minta maaf yah Kak Dirga." Tangan Nina bergerak dengan pelan memeluk tubuh Dirga yang duduk membelakanginya.
Dirga nggak bohong. Dia memang tengah menangis sekarang. Menangisi banyak hal yang sudah ia lakukan dan ia lalui sebelum atau sesudah ia bersama Nina. Menliti satu persatu perlakuan Mama selama ini padanya. Menyelami penglihatannya terhadap Nina yang mengatakan kalau apa yang kini terjadi pada Nina, sudah pasti terjadi pada Mama.
Laki-laki memang harus kuat, tapi kodrat seorang manusia adalah berperasaan. Sehingga laki-laki atau perempuan, sama-sama memiliki perasaan sehingga kejadian memilukan apapun, tentu bisa dirasakan. Tapi mungkin penguasaan diri akan rasa sakit yang dirasakan pasti berbeda-beda. Tapi saat ini, Dirga memang sudah sangat tidak bisa lagi membendung rasa sedih dan sakit di hatinya meihat keadaan Nina.
Dirga mengusap matanya dengan pelan lalu mencoba tersenyum setelah memutar kembali tubuhnya kearah Nina sambil meraih tangan Nina dalam genggamannya. "Nggak Nin. Kamu nggak punya salah. Rasa sakit yang sekarang kamu rasakan ini semoga saja bisa mengapus dosa-dosa kamu yang terdahulu. Tapi aku sama sekali nggak ngerasa kamu punya salah. Kamu perempuanterbaik setelah Mama yang pernah aku temui, aku kenal, bahkan aku cintai. Karena sejatinya, awal aku menyetujui permintaan Mama untuk meminangmu, aku tahu, Allah sudah memberikan jalan terbaik untuk diriku. Jadi tenang saja Nin, namanya dosa Allah yang bisa maafkan. Dan kalo manusia itu nggak ada yang bisa lepas dari dosa."
Nina tersenyum, "Makasih Kak Dirga. Allah segalanya buat aku dan kita, tapi kamu jalanku untuk mencapai keberkahan Allah."
Dirga memeluk Nina dengan erat. Menghantarkan panas kebahagiaan yang utuh setelah masing-masing dari mereka mengikhlaskan diri akan jalan kedepannya yang sudah Allah tentukan.
"Kak Dirga?" Panggil Nina dalam pelukan Dirga.
"Apa?" Tanya Dirga balik sambil melepas pelukan pada Nina.
"Kayaknya ini memang waktunya-akh ..." Nina meringis tiba-tiba setelah Dirga melepas pelukannya. Kini raut Nina terlihat lebih menyedihkan karena butiran peluh yang tiba-tiba turun dengan banyak. Nina bahkan menggeliat-geliat kesakitan disamping Dirga.
"Nin, Nin? Sakit banget kah! Nin?" Panggil Dirga dengan syok.
"Kak Dirga sakit banget, banget Kak Dirga! Akh, Ya Allah sakit!"
__ADS_1
Ditengah kekhawatiran Dirga akan Nina yang tiba-tiba menjerit-jerit melebihi beberapa waktu lalu, membuat Mama yang masih tertidur, tiba-tiba saja langsung terbangun sambil mendekati mereka.
"Nina kenapa A'?" Tanya Mama sama khawatirnya.
"Nggak tahu Ma tiba-tiba saja."
"Dedeknya mau keluar ini sih. Ya sudah pencet tombol darurat. Panggil suster secepatnya." Dirga mengangguk mengikuti instruksi Mama. Dengan cepat laki-laki itu memencet tombol darurat disamping ranjang pasien. Nggak berapa lama, beberapa suster datang.
"Sebentar yah pak kami periksa dulu." Salah satu suster memeriksa Nina dibawah selimutnya yang entah apalah Dirga nggak tahu.
Setelah beberapa menit, suster tersebut kemudian seperti memberi instruksi kepada suster lain untuk bersiap, "Alhamdulillah pak, sudah pembukaan sepuluh. Kalau begitu langsung saja kita bawa ibunya ke ruang operasi."
Dirga dan Mama mengucap syukur dengan pelan. Dibantu beberapa suster dan perawat laki-laki, Nina dibawa keruang operasi.
Nina mungkin belum ngeh karena rasa sakitnya yang teramat dalam. Tapi Mama dan Dirga sangat bersyukur karena keinginan Nina di jawab oleh Allah.
Dirga berdoa selalu kepada Allah kalau kesempatan yang Allah berikan ini adalah yang terbaik untuk Nina dan jalan Nina menuju kebahagiaan sejati menjadi ibu yang sholehah dan istri yang berbakti.
...-
...
Nina sudah masuk ruang operasi sekitar lima belas menit lalu. Dirga sebenarnya diperkenankan masuk, tapi berhubung Dirga takut sama jarum suntik dan Rehan yang enggan diajak masuk karena tak boleh, akhirnya memilih menunggu Nina di luar ruangan. Mama juga nggak masuk karena beberapa kali orang tua Nina menelpon Mama sehingga Dirga yang sudah kalut, hanya bisa mondar mandir merapalkan doa. Tapi barusan saja Dirga tiba-tiba jadi orang nggak jelas karena mode alay akan ketegangannya menyerang Rehan. Yah, Dirga jadi mirip orang yang kebakaran jenggot sekarang.
"Tenang elah Dir. Istri lo perempuanbkuat. Dia bisa tahan kontraksi dari kemarin sampe sekarang. Sudah pasti istri lo bisa jalanin ini. Lagipula akhirnya bisa normal juga kan."
Dirga merengut dengan sedih di depan Rehan, "Gue mau nemenin dia. Tapi gue takut jarum suntik bro."
Rehan tertawa, "Takutan mana sama ditinggal Nina?"
"Sialan, gila kali lo. Nggak dua-duanya."
Rehan mencebik, "Dih, nggak bisa begitu. Lo ini sudah dewasa, jadi harus bisa pilih salah satu diantara dua pilihan. Masuk atau nggak masuk dan lo bakal jadi makin khawatir kayak gini. Nggak akan ada orang yang bisa dukung Mbak Nina didalem. Jadi lo harus kuat. Nih yah gue bilangin, kalau boleh, gue temenin lo didalem. Cuma karena nggak boleh, sudah sepatutnya sang Abah yang nemenin. Sudah gih sono masuk."
__ADS_1
Mama tiba-tiba bergabung, "Bener A'. Kamu masuk deh sana. Mama kasihan lihat Nina dari tadi. Dia kan nungguin kamu lama, anak kalian juga nggak mau keluar kalo ayahnya belum dateng. Jadi kamu masuk saja gih sana. Mama sama Rehan disini." Ujar Mama menyuruh Dirga untuk masuk ruang operasi.
Dirga jadi diam secara mendadak. Pikiran akan masuk atau tidak benar-benar berputar diotaknya. Dirga nggak tega liat orang disuntik apalagi liat jarum suntiknya. Tapi benar apa kata Rehan, Nina butuh dirinya di saat-saat menegangkan seperti ini.
"Gimana Dirga? Mau masuk nggak lo?" Tanya Rehan lagi memastikan.
Masih ada ada lima menit sampai waktu diberikan untuk Dirga bisa masuk, "Oke, Aa' masuk Ma."
Mama lalu menepuk bahu Dirga, "Bagus, kamu masuk, lalu dukung Nina yah. Kalian pasangan yang hebat. Mama yakin semuanya berjalan lancar. Mama doa yah dari sini."
Rehan mengangguk, "Bener. Lo masuk saja sekarang, nanti gue sama Mama disini kirim doa. Sekalian tungguin besan."
Dirga mengangguk, "Ya sudah, Ma, Han, aku masuk dulu yah. Doain biar semuanya lancar."
Mama menagangguk, "Iyah iyah, Mama sudah pati doain cucu pertama Mama disini."
Setelah memastikan tekadnya untuk masuk ruangan operasi, Dirga pun ditemani Rehan hingga sampai pintu didalam ruangan. Rehan keluar kemudian menyisakan Dirga yang tiba-tiba malah mematung disana.
"Nah, bu, suaminya masuk tuh." Suara suster yang membantu memasang beberapa alat di tangan Nina, memberi tahu kedatangan Dirga. Dengan sedikit lemas dan cemas, Dirga mendekati ranjang yang kini tengah di tiduri Nina.
"Rileks saja pak." Ujar salah satu dokter disana, "Eh iya dok." Balas Dirga sambil tersenyum canggunhg.
Tangan Dirga bergerak menyentuh dahi Nina yang makin berpeluh. Istrinya itu kelihatan agak kelelahan, "Nin? Kuat kan?" Tanya Dirga diiringi senyum yang sebisa mungkin ia buat untuk menutupi ketakutannya.
"Bismillah Kak Dirga. Kok kamu datengnya belakangan? Nggak masuk bareng aku ih."
Dirga tertawa, "Hehe, aku haus tadi." Jawab Dirga ditambah alasan kurang mumpuni.
Nina tertawa, "Haus apa takut? Aku tahu kamu takut jarum suntik."
"Ah kamu nih."
"Wah bapaknya takut jarum suntik? Kalau jarum-jarum cinta pak?" Goda salah satu dokter perempuan yang terihat cukup paruh baya, "Bisa saja dok."
__ADS_1
Lalu karena Nina tiba-tiba kembali sakit karena kontraksi, langsung menjerit tertahan karena dorongan bayi didalam perut yang ingin segera keluar. Dibantu dokter dan suster serta dukungan semangat dari Dirga, Nina akhirnya bisa merasakan perjuangan yang dirasakan oleh orang tua perempuanlain di luar sana.
Betapa hebatnya perempuan melahirkan yang merasakan sakit rusuk yang dipatahkan.