LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[63] Perasaan Rindu Sekaligus Terluka


__ADS_3

Sudah lewat satu beberapa hari sejak Dirga kembali sibuk mengurus pekerjaannya yang jauh dari jangkauan Nina. Selama itu pula tidak ada kabar terbaru dari suaminya. Nina sempat berpikir untuk menghubungi suaminya jika laki-laki itu saja jarang memegang ponselnya


Hari ini sudah lewat hampir tiga hari setelah check up di rumah sakit, Lila diperbolehkan beraktifitas sebagaimana biasanya. Banyak yang terlewati oleh Lila karena hampir beberapa hari dia hanya di kamar dan sesekali turun ke bawah membantu Nina. Tidak ada operasi besar atau kecil, tapi hanya pantangan pada beberapa makanan yang perlu di perhatikan. Mama sudah sehat hingga hari ini beliau bisa menjalani hari-hari dengan lancar di tambah mengerjakan beberapa pesanan yang mulai berdatangan tanpa henti.


Ya ... walau sudah tercapai cita-cita memiliki menantu, Mama tetap mengerjakan kegiatannya berjualan kue seperti biasa.


Lila belum kembali kerumah karena sedang menghadiri acara di rumah salah satu temannya-yang selalu Nina ingatkan untuk kedepannya agar ia lebih berhati-hati. Sehingga di sela-sela waktunya beristirahat dari penyusunan skripsi yang melelahlan, Nina akan membantu Mama. Begitu pun yang terjadi saat ini ketika ia tengah merapihkan bahan untuk membuat kue nastar bersama ibu mertuanya itu.


“Nin, sudah selesai semua?”


Nina memutar dirinya yang membelakangi Mama. Melirik Mama yang tengah berdiri dengan kedua tangan di pinggang sambil memperhatikan banyak toples di depan mereka.


“Sudah Ma,” Jawabnya.


Nina mengikuti arah pandang Mama


“Ada masalah, Ma?” Tanya Nina ketika Mama sibuk melihat semua nastar.


Seperti sedang kebingungan pada satu hal.


“Urusan kiriman Nin. Gimana ya? Bu Wirjo mau sampai kira-kira lusa, tapi hari sabtu jasa pengiriman yang biasa Mama pakai dan dijamin aman, tutup.”


“Rumahnya jauh, memang, Ma?” Tanyanya lagi.


“Nggak jauh-jauh banget sih. Di Bogor, tapi kan mau nggak mau yah tetap dikirim pakai jasa pengiriman.”


“Iya juga sih. Ya sudah baiknya saja bagaimana menurut Mama?”


“Mama belum konfirmasi lagi sama Bu Wirjo, tapi nantilah Mama tanyakan. Dah, kamu bersih-bersih sana.”


“Ya sudah Ma, Nina duluan ya.” Setelah melihat pekerjaannya menata makanan selesai, Nina beranjak ke kamarnya.


Terpikir untuk menghubungi suaminya saja terlepas kesibukan Dirga yang sulit memegang ponselnya berdasarkan penuturan Mama.


...-...


“... maaf Ibu, nggak bisa ... iya, jadi gimana ya?”


Suara Mama yang tengah menelpon menjadi pengiring malam di ruang makan. Sebetulnya Nina tak begitu minat makan, tapi melihat Mama yang makan sendirian, rasanya tidak enak. Mau tak mau ia ikut duduk di meja makan menemani beliau.


Nina ingat, sebelum ini ia selalu harus makan mapam jika tak ingin mengalami sakit maag karena perut kosong. Namun nafsu makannya selalu tak ada karena menu yang terpaksa ia ulang berkali-kali demi menghemat pengeluaran membuatnya bosan. Kini, karena kebiasaan tersebut, Nina jadi kerap berkaca pada hari-harinya saat ia masih kost. Bersyukur kehidupannya berubah lebih baik. Tanpa perlu menunggu mendapat rejeki lebih, Nina bisa mendapat makanan yang ia mau, walau akhirnya tetap terulang pula pola hidup buruknya yang malas makan.


Statusnya bukan lagi lajang, melainkan wanita menikah, maka sudah seharusnya Nina lebih menjaga kesehatan dan fisiknya untuk tetap prima agar bisa kuat menjalani hari dan segala adapatasi yang ada. Memang, rasanya terkadang miris karena suaminya sendiri jarang pulang sebab bekerja. Ini lah risiko seorang istri, hingga terkadang Nina berpikir apakah ia benar-benar istri, atau hanya merubah status untuk menempati sebuah hunian baru? Terkadang sama saja, walau perubahan besar ada pada pola hidup yang lebih teratur dengan keuangan yang stabil.

__ADS_1


“Hei, jangan melamun atuh Nin. Nggak baik ah? Sok makan duluan, Mama teh bisa nyusul.” Tegur Mama membuat Nina tersadar dari lamunan.


Mendongak, perempuan itu melirik Mama disampingnya.


“Iya, sekalian sama Mama saja lah. Nina tunggu Mama selesai urusannya. Mama kan juga lelah seharian ini sudah biat pesanan sampai lima puluh stoples.” Ujarnya Nina lalu tersenyum riang.


“Maaf ya karena bantu Mama kamu kelelahan. Jadi nggak nafsu makan ya, Neng?”


“Nggak atuh Ma. Lelah sih wajar saja lah, rasa lelahnya juga terbayar karena kita berhasil pesanan pesanan kue lima puluh stoples.” Ujarnya. Mama tersenyum lantas menduduki kursi di depan Nina.


“Alhamdulillah Nin, biasanya Mama hanya bisa menerima paling banyak dua puluhan kalau cuma dibantu Teh Rini, Dian, mbak-mbak yang tadi lah pokoknya. Tapi ini karena ada kamu juga, jadi bisa lebih banyak. InsyaAllah barokah ya ...”


“Iya Ma, Amin ...”


“Ya sudah kamu makan saja duluan, ya.” Putus Mama kemudian pergi meninggalkannya sebentar untuk mengurusi beberapa telepon dari customer.


“Iya Ma.”


Nina memang bahagia memiliki mertua yang baik dan penyayang, tapi ia tetap menginginkan keluarga yang utuh bersama suaminya yang menemani di meja makan. Dia mengerti jika ini karena pekerjaan yang mengharuskan suaminya tak selalu berada di rumah, tapi bukan hanya itu saja.


Jika mereka dalam kondisi normal orang menikah, pasti Nina akan senang sebab suaminya akan menunjukkan banyak cinta lewat pesan atau telepon karena tahu istrinya berjauhan dan mereka butuh membangun komunikasi yang baik.


Sementara mereka tak dalam keadaan itu, hanya Nina yang mencintainya saja.


...-...


Inilah risiko lain yang pernah menjadi pertimbangan Nina sejak awal ketika memutuskam menerima pinangan Mama dan Dirga. Hal-hal berkaitan dengan kekeluargaan yang kerap ada. Di tambah, keluarga Mama Elsa datang dari kalangan berada untuk sebagian besar anggota keluarganya, sehingga hal seperti ini menjadi biasa dan seakan harus diadakan.


Bukannya apa, selain perlu membagi waktunya dengan baik diluar kegiatan sebagai mahasiswa dan seorang istri, acara seperti ini kerap kali membuat Nina tak nyaman. Insecure yang datang karena latar belakangnya yang tak dapat dipungkiri, membuat Nina sedikit minder jika akhirnya dapat berbaur dengan baik bersama keluarga suaminya.


Apalagi ketika beberapa bibi mengomentari soal mereka.


Nina merasa sedikit tersinggung, walau tak bisa berbuat banyak.


“Makan yang banyak atuh Dir. Kamu makin kurus saja tahu? Sudah menikah kok ... Apa efek kelamaan di kereta jadi kering terjemur matahari siang?” Kelakar Bi Sarah ditengah perkumpulan beberapa orang yang disana tentunya berisini Nina dan Dirga.


Mata perempuan itu tak berhenti melirik suaminya yang duduk berhadapan. Wajah laki-laki itu kelihatan segar dengan titik peluh yang menurun sedikit demi sedikit. Ini sosok Dirga ketika ia dalam mode kepedesan saat makan sesuatu.


Mereka sedang menikmati makan siang di meja makan besar yang ada di rumah ini. Kurang lebih ada sepuluh orang yang bisa menempati, namun sebagian yang lain mengisi ruang sekitar di rumah ini. Tak semuanya berkumpul menjadi satu.


“Ayo Nin, suaminya dilayani lebih lagi. Biar sehat, badan berisi.” Timpal Bi Hani dengan tawa menggelegar yang Nina artikan sebagai teguran alih-alih pujian.


Ini lah salah satu yang ia tak suka.

__ADS_1


“Ah, biasa saja Bi. Aku sehat begini kok, memang sedang diet untuk bentuk badan.” Dirga berujar dengan mata yang bergerak berulang melirik Nina di depan nya.


Dirga dapat merasakan ketegangan yang Nina rasakan saat ini lewat lirikan berkali-kali dari istrinya itu.


“Ma ... mana ada Nina nggak kasih perhatian ke Dirga? Dah ah, komentar saja Mama nih. Tuh dengar, Dirga memang sedang diet.” Timpal Kak Layla-sepupu Dirga dari keluarga Mama.


Nina di depan nya hanya diam sementara Dirga memilih memasang senyum seadanya.


Keluarga Bi Hani dan Kak Layla adalah satu-satunya keluarga Mama yang tak datang ke pernikahan mereka karena menetap di London. Kedatangan keluarga ini ke indonesia, salah satunya untuk mengucap selamat pada Dirga sekaligus temu kangen dengan beberapa keluarga lainnya di acara arisan yang kebetulan bertempat dirumah Mama.


Hari ini acara berjalan lancar, keluarga besar yang sebagian sudah Nina kenal memadati sekitar rumah, sebagian lainnya ada yang masih Nina perlu ingat dengan baik.


Keluarga Mama cukup besar, banyak cucu pun sepupu yang memadati rumah hari ini.


Rasanya tak terbiasa, namun Nina harus berusaha terbiasa sebab ia tak ingin citranya sebagai menantu baru menjadi buruk.


“Nin, sejak menikah kamu sudah pulang kampung? Kabar orang tua kamu bagaimana? Sehat?” Tanya Kak Layla.


“Alhamdulillah baik Kak. Nina belum ada waktu. Masih harus menyelesaikan skripsi sementara ini.” Jawabnya seraya melirik Dirga lagi di depan nya.


“Iya kak, Nina belum ada waktu mungkin menunggu beberapa hal agak santai.” Jawab Dirga dengan tenang.


“Kuliah memang harus fokus, apalagi sudah skripsi. Tapi sudah ada tanda-tanda hamil, Nin?” Timpal Om Dahlan-suami Bi Hani-dengan pertanyaan tiba-tiba disamping Dirga mengundang perhatian beberapa keluarga yang duduk disana.


“Belum, Om. Kita masih pengantin baru kok, santai dulu lah. Waktunya pacaran ...” Jawab Dirga dengan tenang sambil lagi-lagi melirik Nina dengan wajah bingung.


Tak ingin jika istrinya seolah ditekan kondisi tak nyaman seperti ini.


“Di rencanakan, Dir. Kalau sudah terlalu lama asyik berdua saja, lama-lama justru nggak pengin punya, loh. Nih kayak Layla, tiga bulan langsung isi. Jadi muda-muda sudah punya anak.” Tambah Bi Hani melirik Nina juga.


“Biar lah, Han. Mereka ini masih muda, apalagi Nina. Biar dipuaskan dulu saja pacarannya. Mereka aku yang jodohkan, jadi pasti butuh lebih banyak waktu mengkondisikan hal seperti ini.” Kali ini Mama yang menyahut dengan tenang.


Dirga hendak bangkit dari duduknya seraya memberi kode pada sang istri untuk ikut.


“Mau kemana, A’?” Tanya Mama menatapnya.


Dirga balas menatap Mama.


“Mau ke belakang sebentar, Ma. Tante, Om, Kak Layla, saya pinjam Nina dulu ya kebelakang.” Putus Dirga kemudian menarik istrinya bergerak menghindar dari sana.


Nina sudah hampir menahan perasaan yang tak nyaman, jika Dirga tak cepat-cepat membawanya pergi dari sana.


Beberapa hari tak bersama, keinginan untuk bertemu dan segala kesibukan yang mendera Nina, ditambah acara saat ini yang ternyata dua kali lipat melelahkan-tak hanya fisik, tapi juga psikis-rasanya ia ingin menangis.

__ADS_1


Bahasan soal kehamilan, Nina yang seolah tak bisa mengurus suaminya. Nina sedih, mengapa semua kekurangan di salahkan pada istri?


Apa mereka pernah melihat jika Nina lah satu-satunya orang yang kini tengah berjuang sendiri dengan perasaan cinta pada sang suami yang belum terbalas?


__ADS_2