![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Dirga membanting tubuhnya jatuh keatas ranjang di mess staff setelah tak dapat lagi membendung rasa lelah akibat pekerjaannya hari ini. Bekerja selama lebih dari delapan jam non-stop, dengan waktu istirahat yang singkat, membuat Dirga harus pintar-pintar mencari akal agar tak langsung pingsan karena lelah.
Tapi kini semuanya telah terbayar setelah kasur empuk ukuran single menjadi destinasi terakhirnya.
Dirga merasakan hal menyenangkan sepanjang jalan tadi, karena semua awak baru benar-benar membantunya dengan baik.
Mereka para trainee yang benar-benar bekerja keras dan tak main-main dengan impiannya. Dirga jadi ingat dulu saat pertama kali ia masuk sekolah kedinasan, dirinya sama dengan mereka. Sedang semangat-semangatnya mengejar impian.
Tapi sekarang rasanya berbeda setelah melalui beberapa tahun bekerjanya di perkeretaapian. Lelah dari impiannya memang benar-benar terasa, walau setelah mengingat kembali perjuangannya, Dirga jadi merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Setidaknya Dirga masih bisa mengucap syukur hingga kini.
Baru setengah menutup mata, ponselnya tahu-tahu bergetar.
Satu pesan dari Mama.
From : Mama
A’, kamu lagi ngapain? Sedang istirahat kah? Mama yakin sih kamu nggak langsung baca, tapi yang jelas, jangan lupakan janji kamu untuk pulang dua hari sebelum acara ya. Karena kamu juga harus fitting baju pernikahan lagi, dan kita ada pengajian sebelum acara.
Mama sayang kamu.
Dirga tersenyum memandangi ponselnya. Terkadang banyak pesan-pesan dari Mama yang terlantar di notifnya dan baru dibaca setelah beberapa hari, tapi kali ini ia bisa dengan segera membaca pesan tersebut tepat waktu.
Mengetikkan pesan balasan, ternyata Mama masih online dan langsung membaca pesannya.
From: Mama
Oh … ternyata kamu langsung baca ya, A’? Tumbenan. Ya sudah, sehat-sehat disana. Mama tunggu kepulangan kamu, ya …
Ia tersenyum setelah membaca pesan Mama barusan. Beliau benar-benar memperhatikan pernikahan ini.
Dirga jadi terharu
*
Lima hari dari sekarang, pernikahan akan segera digelar. Persiapan sudah lebih dari sembilan puluh persen, hanya satu yang kurang, mempelai pria. Walau Dirga sudah janji akan pulang dua hari sebelum pernikahan.
Semalam, Mama menyuruh Nina untuk tinggal dirumahnya. Karena hari pernikahan sudah dekat, dan tak ada alasan lagi untuk Nina tinggal di kostannya. Toh nantinya Nina akan jadi penghuni rumah ini juga. Nina menyetujuinya, namun rencanya perempuan itu akan keluar dari kostnya setelah menikah nanti, untuk sekarang Nina akan menginap saja dulu dirumah bersama Mama.
"Bagaimana, Nin? Terasa sesak nggak?" Tanya Mama ketika Nina selesai mencoba kembali baju pernikahannya.
Rencananya pernikahan Nina dan Dirga nanti akan digelar dengan mengusung adat sunda pada saat akad, hingga resepsi. Hanya berbeda warna saja untuk kedua waktu tersebut.
Dirga sendiri mengeluh takut susah jalan setelah melihat pakaiannya, tapi permintaan kekeuh dari Mama membuat ia menyerah pada akhirnya.
__ADS_1
"Nggak sesak, Ma."
Mama mengangguk.
"Ya sudah kalau begitu."
"Kelihatannya sudah pas dan cocok ditubuh Mbak Nina, ya. Tinggal menunggu Mas Dirga untuk fitting. Rencananya sekitar lusa ya, Bu?” tanya sang designer.
“Iya, Mbak. Lusa lah kira-kira nanti akan fitting lagi. Tapi kayaknya kami ke tempat Mbak Ila saja, ya?”
“Boleh, Bu. Nanti kami atur waktu untuk lusa, ya.”
“Baik Mbak. Terima kasih ya …” Putus Mama, mengantar designer itu, Mbak Ila, keluar.
Sepeninggal Mbak Ila, Mama dan Nina kembali duduk membicarakan hal lainnya yang perlu mereka bahas.
"Oh iya Nin, waktu itu pembahasan kita belum selesai karena kamu dan Aa’ kayaknya kurang nyaman membahasnya bersama. Nina kira-kira mau honeymoon dimana? Nggak apa-apa, nggak perlu malu. Hal yang wajar kalau setelah menikah, pengantin akan honeymoon. Mama juga dulu begitu. Kira-kira bagaimana, Nin?" Tanya Mama setelah keduanya duduk.
Nina yang baru saja selesai meneguk minumnya, sempat menghentikan gerakannya sejenak. Bayangan pergi honeymoon dengan Dirga membuat Nina tak bisa berpikir jernih. Anehnya Nina tak hanya memikirkan soal liburan, dia justru memikirkan hal lain yang rasanya sangat tabu dilakukan. Padahal sebetulnya mereka sudah sah-sah saja jika melakukan hal tersebut nantinya.
"Nggak tahu Ma, Nina masih bingung. Nanti Mama bicarakan sama Kak Dirga saja, ya? Nina sih nggak tahu biasanya orang honeymoon atau liburan kemana." Ujar Nina gamang. Antara tak enak, namun ingin terlihat antusias dengan bahasan Mama.
Nina jadi bingung.
"Kalau Mama tanya Dirga, pasti dia nggak mau bahas itu, deh. Mama tahu sih, Dirga dulu sempat pengin ajak Mama jalan-jalan ke eropa. Tapi karena kerja dipelayanan masyarakat, dia jadi nggak punya banyak waktu untuk pergi liburan. Biasanya hanya sebatas kumpul sama para temannya atau mengobrol saja seharian sama Mama."
"Kak Dirga dekat ya sama Mama?"
"Iya, dia dekat sama Mama. Dirga itu anak yang pendiam dulunya. Apalagi semenjak Mama hanya bergantung padanya sejak kakak perempuannya meninggal dan Mama cerai sama Papa."
Nina mendadak kaget. Dia sama sekali buta dengan asal usul keluarga calon suaminya. Dia hanya tahu sebatas Mama sudah bercerai dengan mantan suaminya, dan ya … hanya sebatas itu. Dia bahkan tak tahu jika Mama mempunyai anak lain yang sudah meninggal.
"Maaf Ma, Nina nggak tahu kalau Mama punya anak perempuan?" Tanya Nina.
Mama mengangguk pelan.
"Oh iya, Mama nggak pernah cerita ya, sebelumnya? Iya, Mama punya anak perempuan. Tetehnya Dirga. Namanya Icha. Farisa Mulia Radjasa. Dia meninggal satu hari sebelum menikah. Saat itu usianya sembilan belas tahun, beda dua tahun lah sama usia kamu sekarang. Ada laki-laki yang melamarnya, namanya Aksa Bani. Tapi ketika perjalanan kembali setelah gladi resik acara pernikahannya, mereka berdua meninggal karena kecelakaan. Tinggal Dirga saja lah anak Mama satu-satunya." Terang Mama tampak tegar.
Nina mengangguk. Dengan cepat berpikir untuk mengganti topik.
"Nggak apa-apa, Ma. Semoga Nina bisa menjadi anak perempuan Mama nantinya, walau tetap saja, posisi almarhumah Teh Icha nggak pernah bisa digantikan siapapun." Ujar Nina tulus seraya menyentuh kedua telapak tangan Mama yang terasa hangat.
“Terima kasih ya, Nin.”
Mama tiba-tiba memeluk Nina dengan erat.
__ADS_1
Rasa sedih akan kepergian seseorang memang tak dapat dilupakan, walau selama apapun dia telah pergi. Emaknya juga pernah merasakan apa yang Mama rasakan dulu.
Kepergian kakak laki-lakinya yang saat kecil dulu hilang dan kemungkinan diculik seseorang, sampai saat ini tak juga kunjung ada berita.
Hingga Emak di kampung hanya dapat berdoa yang terbaik untuk keselamatan dan kesehatan kakaknya jika ternyata ia mungkin masih hidup, atau bahkan sudah tidak ada. Kecanggihan alat komunikasi dan pelacak tidak sama dengan dulu dan sekarang, sehingga emak hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya pada yang maha kuasa.
Kejadian yang sudah berlangsung meninggalkan bekas yang tak dapat emak lupakan hampir dua puluh lima tahun lamanya.
...-...
Dirga mengemas segala macam barang kedalam ranselnya sebelum kembali pulang. Hari ini jam kerjanya selesai. Seterusnya ia akan menikmati libur selama satu minggu setelah pengajuan untuk cuti menikah, sekaligus pertama kalinya Dirga menikmati libur yang lama setelah memasuki dunia kerja.
“Calon manten wajahnya sumringah betul. Lusa kan lo menikahnya, Dir?” Galih-rekan tim yang menyelesaikan **** berbarengan dengannya, mendekati Dirga ketika tengah merapikan beberapa barang di ruangan messnya. Laki-laki itu mematut pandangan pada banyaknya barang yang Dirga bawa.
“Banyak betul barang lo. Kayaknya sebagian ini kado-kado ya, Dir?” Tanya Galih lagi.
“Iya, ini hadiah dari teman-teman yang kemungkinan nggak bisa hadir ke pernikahan gue karena shift mereka. Nggak tahu kalau mereka mau kasih kado sekarang, tahu begini gue bawa mobil saat berangkat kemarin.”
Galih mengangkat satu barang.
“Ya sudah bro, gue bantu antar sampai rumah lo. Sekalian gue balik juga hari ini.” Tawar Galih.
Dirga memasang wajah bingung.
“Lo naik mobil? Nggak perlu lah, ngerepotin.”
“Buset, bocah. Kayak sama siapa saja, lo? Nggak, nggak ... sini gue bawa. Masukan saja ke mobil, nanti gue antarkan. Hitung-hitung ganti kado pernikahan lo dengan bantu antar hadiah orang lain.” Kelakar Galih.
Dirga tertawa.
“Sialan, beda lagi itumah.” Balas Dirga berkelakar.
Kini giliran Galih yang tertawa.
“Bisa diatur bos. Dah, masukan ke mobil gue. Gue keparkiran duluan ya.”
Setelah mau tak mau setuju dengan tawaran Galih membantu membawa semua hadiah ini, Dirga bergerak keluar membawa kantung besar ditangannya.
Sesampainya diparkiran, dengan tentengan yang banyak, laki-laki itu langsung mendekati Galih yang tengah membuka bagasinya.
“Oke ... hanya ini saja, Dir?” Tanya Galih ketika laki-laki itu selesai memasukan barang Dirga.
“Sudah sih itu saja. Sisanya gue bawa diransel dan kotak motor.”
“Ya sudah. Nanti gue ikuti lo dari belakang ya.” Ujar Galih seraya berjalan menuju kemudi. Dirga kemudian menuju motornya yang terpakir setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal.
__ADS_1
Rejeki orang nikahan ada saja, pikir Dirga sambil tertawa.