![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Kontak mata antara Dirga, Dahlan dan Nina terus terjadi hingga Nina yang terlihat kebingungan, sambil sesekali membalas pertanyaan basa-basi dari Muhadi dan Novia, ketika mereka mulai duduk bersama sejak sekitar dua puluh menit yang lalu.
Hal yang membuat Nina cukup kaget selain kebingungan adalah, Novia merupakan istri Muhadi, pun perempuan itu adalah teman kerja suaminya yang ternyata juga orang yang pernah menjadi tambatan hati.
Mengapa semua hal ini salong berhubungan?
"... Ternyata kamu menikahnya sama Dirga, Nin. Kalau begitu seharusnya aku datang ya." Itu perkataan terakhir yang Nina serap dari ucapan Muhadi ketika laki-laki itu baru mengetahui kalau orang yang dinikahinya adalah Dirga. Nina hanya tersenyum menanggapinya. Perasaan di dalam dirinya justru menjadi gamang, terlebih Muhadi sendiri dalam pandangannya telah berbeda, bukan seperti laki-laki yang ia kenal akibat curhat colongan karena masalahnya dengan sang istri.
“Terima kasih ya Mbak Nina, Bang Muh cerita kalau kalian kenal tanpa terduga, dan Bang Muh jadi punya kekuatan untuk kembali menemui aku setelah bicara sama Mbak. Saat itu mata ku dibutakan ketidakpercayaan, sampai Bang Muh nggak pernah bisa bicara sama sekali,” Ujar Novia setelah mendengar siapa Nina sebenarnya dari pengakuan sang suami.
"Bagus karena kita semua memang sudah saling kenal. Omong-omong, untuk semua masalah di saat yang lalu, pasti masing-masing sudah dapat ceritanya, kalau bisa kita mulai semuanya seperti biasa lagi, ya? Anggap saja nggak pernah ada masalah yang terjadi. Aku sama Bang Muh di Bandung, untuk mengurus urusan rumah tangga kita. Pendekatan diri agar kita bisa menjadi lebih baik lagi dan mulai belajar mengerti masing-masing. Mohon doanya ya, supaya kita bisa sejalan lagi kayak dulu." Tambah Novia yang di akhiri dengan lirikan penuh senyum ke arah Muhadi.
Setelah penjelasan singkat mengapa akhirnya Novia kembali duduk bersama Muhadi disana membuat Dirga pada akhirnya mengerti. Mereka saling mencintai, dan tak ada satu orang pun yang sebenarnya bisa mengalahkan kedekatan mereka berdua dalam hubungan ini.
Sekalipun Dirga, sebagai orang yang pernah berharap di masa lalu.
Itu memang sudah tak lagi terjadi, namun menerima kenyataan bahwa kedua orang di depannya memilih kembali bersama setelah menyelesaikan masalah, dirinya merasa senang. Begitupun Nina yang pada akhirnya tahu bagaimana akhir kisah mereka-terutama Muhadi.
Keberadaan keduanya disini pun bukan tanpa alasan. Dirga meminta tolong pada Dahlan untuk mempertemukan mereka, berdasarkan pada foto yang Dirga tunjukan hari itu di rumah orang tua Nina, mereka pun mencoba mencari tahu dan memastikan apakah benar seseorang yang Nina tahu di dalam foto adalah A’ Fahri, sebetulnya Rifai Muhadi yang ia kenal. Mengetahui alasan dibalik bagaimana istrinya itu mengenal seorang Rifai Muhadi, Dirga cukup kaget. Tak menyangka, walau akhirnya ia bersyukur sebab Muhadi hanya mencari seorang teman untuk membagi kisahnya, alih-alih berbuat tak baik seperti apa yang pernah Dirga pikirkan sebelumnya.
Dahlan memilih menyesap kembali kopinya yang sudah mulai dingin. Dia memang tidak mendapat berita-berita mengenai Abangnya belakangan ini. Karena Dahlan sendiri berpikir jika Muhadi dan Novia adalah dua orang dewasa yang memilih menikah, dan tentu tahu bagaimana risikonya. Entah bagaimana, mereka kembali membaik, rujuk dan berkumpul lagi sehingga Dahlan merasa lebih tenang.
Selain ia tak akan banyak diganggu urusan Novia yang menangis atau galau, Abangnya pun baik-baik saja.
Justru ada hal lain yang membuat Dahlan kaget. Permintaan Dirga untuk mempertemukan mereka berempat-Nina, Dirga, Novia, Muhadi-untuk mengklarifikasi suatu hal.
Hal yang tak Dahlan bayangkan.
Dirga berdeham sambil melirik Nina disampingnya.
"Mas Rifai," Suara Nina tiba-tiba mengalun di dalam pendengaran lima orang yang saling duduk berhadapan itu. Entah apa yang ada di dalam pikiran Nina, tapi Dirga tebak kalau kini rasa penasaran Nina sudah akan keluar dari tempatnya.
Semua orang memandangi Nina dengan tanya.
"Ya, Nin?" Tanya Muhadi sambil melirik Novia sekilas lalu beralih ke Nina. Seperti memberi kode kepada istrinya.
"Sebenarnya ini permintaan Nina pada Bang Dahlan untuk bantu mempertemukan kita disini. Sebab, ada hal yang ingin Nina tanyakan," kata-kata Nina menggantung. Perempuan itu melirik Dahlan di depan nya sekilas. "Apa Mas Rifai bersedia kalau Nina menanyakan sesuatu?"
__ADS_1
"Iya, saya juga dengar dari Dahlan kalau kalian mengundang kami kesini, bukan hanya untuk saling memperkenalkan diri atau apa, tapi juga untuk membicarakan sebuah hal. Nggak apa-apa, Nin. Katakan saja ...”
"Apa Mas Rifai suka sama kedongdong?" Tanya Nina spontan, membuat dahi ketiga laki-laki disana mengernyit bingung.
Kenapa pertanyaan Nina lucu sekali? Anehnya perempuan itu tidak tertawa jika dia sedang ingin melucon?
“Kedondong? Kenapa memangnya, Mbak?" Sahut Novia merasa aneh dengan pertanyaan Nina.
Memilih diam, Nina seperti mengabaikan kata-kata Novia barusan.
Muhadi merasa ini serius, laki-laki itu mengangguk menanggapi pertanyaan Nina.
"Iya saya suka sama kedondong. Kenapa memangnya, Nin?"
Tangan Nina tiba-tiba bergetar dalam genggaman Dirga. Laki-laki itu menatap mata Nina yang mulai memerah.
"Dulu waktu aku kecil, Mama sama Papa suka banget kasih aku kedondong karena saat itu juga berbarengan sama Mama yang sedang hamil Dahlan dan ngidami buah itu. Aku nggak ingat banget sih saat itu, soalnya waktu masih kecil katanya aku sempat amnesia akibat kecelakaan sama Papa, walau Papa baik-baik saja, tapi aku kena akibat cukup parah hingga koma. Jadi ada beberapa hal-hal lalu yang aku nggak ingat, apalagi kalau Mama sama sekali nggak cerita. Soal kedondong, tetangga saja aneh liat aku suka banget makan kedondong kata Mama, padahal jarang anak-anak seusiaku suka buah itu. Ada suatu hal yang aneh karena itu, kah? Jujur loh, kalau kamu nggak tanya, aku nggak akan ingat buah ini."
Tiba-tiba satu tetes air mata jatuh membasahi pipi Nina.
"Kalau makan pakai kecap, apa Mas Rifai suka kecap?" Tanya Nina lagi yang membuat Dirga merasakan hal aneh dari kata-kata yang Nina yang ia tanyakan pada Muhadi.
"Kalo kecap, kayaknya banyak yang suka ya, aku juga suka." Kini giliran Dahlan yang menyahut.
“Kalo bukan karena Bang Muh kecap lovers, sampai saat ini mungkin aku nggak akan suka sama kecap, ya nggak Bang? Abang itu fans fanatic kecap."
Muhadi mengangguk pelan sambil menyesap cappuccino nya yang baru saja dihidangkan.
"Iya, benar. Aku ini cinta banget sama kecap. Kalau makan nasi nggak ada kecap, rasanya ada yang kurang. Jadi sebisa mungkin aku akan mencari kecap agar bisa lebih nafsu makan." Jawab Muhadi yang malah kembali mengundang tawa dan pertanyaan yang sama dari Novia.
"Mbak Nina kok menanyakan hal-hal unik? Bang Muh ini memang orang yang unik. Lagipula semua pertanyaan Mbak itu kebiasaan sejak kecilnya Bang Muh loh Mbak Nina ...”
"Apa Mas Rifai juga ingat nama Fahri Firmansyah?"
Semua orang tiba-tiba diam setelah mendengar pertanyaan Nina.
"Nin ..." Panggil Dirga sambil mencengkram bahu perempuan itu. Aliran kristal luruh dari matanya yang indah.
__ADS_1
"Mas Rifai, Nina minta jawabannya Mas."
Novia dan Dahlan saling melempar pandangan yang mengisyaratkan ke kagetan. Terlebih Novia juga tak begitu paham kalau Nina dan Muhadi ternyata sedekat ini.
"Mas Rifai tolong ...”
"Ada apa dengan nama itu Nin? Atas dasar apa kamu menanyakan hal ini?"
Kecanggungan makin meningkat ketika Muhadi terlihat menahan emosinya setelah mendengar pertanyaan Nina. Perempuan di depan nya sudah menangis kecil, ketika Novia meliriknya dengan tiba-tiba merangkul Nina walau dia sendiri tak yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Nina hanya minta jawabannya ..." Tambahnya dengan lirih.
"Bang ...” panggil Dahlan sambil memegang bahu Muhadi.
"Bang Muh, sebetulnya ini yang sejak awal menjadi tujuan kami mengundang Bang Muh kesini.” Terang Dirga.
"Itu masa laluku, Nin. Beberapa tahun lalu mungkin aku hampir melupakan semuanya. Sedikit demi sedikit aku sudah mengingatnya kembali, walau rasanya aku hampir nggak mau dengar nama itu lagi untuk seterusnya. Tapi dari mana kamu tahu tentang nama itu?” Tanya Muhadi lagi dengan suara yang tegas.
Nina mengusap aliran air yang jatuh dari matanya.
"Nin?" Panggil Dirga mencoba menyadarkan Nina dari apa yang sudah ia tanyakan.
"Dir, kamu tahu urusan-"
"Ternyata perkataan Bang Dahlan soal kamu yang sebelumnya amnesia sudah nggak berlaku ya, Mas? Kamu sudah ingat. Aku Nina Mas, adikmu ..." Semua orang yang tengah diliputi ketegangan, tiba-tiba mengarahkan pandangannya kepada Nina secara cepat. Dirga bahkan nggak menyangka kalau Nina akan berkata begini.
"Nina ..." Dirga mencengkram bahu Nina sambil mengarahkan kepala perempuan itu untuk menatap wajahnya.
"Biarkan saja, Kak Dirga. Kalau akhirnya harus begini, lebih baik kita menyelesaikannya sekarang. Seperti kata kamu, mungkin sudah jalannya ..."
"Adik?" Muhadi berdiri dari tempatnya. Mendengar perkataan Muhadi, Nina langsung mengarahkan kembali pandangannya kearah Muhadi.
"Nin tolong, jangan sekarang-"
"Iya, aku Adikmu. Nina Fahira binti Ahmad Bahri, Ayah kita."
Dan semua orang disana tecengang dengan apa yang barusan Nina katakan.
__ADS_1