![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Setelah acara haru karena keluarga Nina berhasil bertemu kembali dengan Fahri, semuanya pun menikmati santap malam yang disajikan Mama untuk kembali mempererat kekeluargaan.
Emak tampak tidak mau lepas dari Fahri sejak tadi. Begitupun dengan Sholehah yang terlihat kagum setelah tahu Fahri sudah menjadi orang sukses yang bekerja sebagai pilot dengan istri yang cantik. Abah memang tidak menangis, tapi wajah penuh gurat lelah itu benar-benar menyiratkan hal yang sama. Sekaku apapun laki-laki bisa menahan rasa sedih, mereka sama sekali tidak bisa menutupi semuanya hanya dengan diam. Nina bisa merasakan itu.
Selesai menyantap makan malam, semuanya kembali berkumpul di ruang keluarga. Malam keakraban benar-benar terjadi tanpa diminta. Nina dan Dirga memandangi semua keluarganya dengan senyum bahagia.
"Akhirnya kebahagiaan kita utuh ya, Nin." Ujar Dirga sambil mengusap kepala Nina dengan tangan kanannya ketika kepala perempuan itu bersandar dibahu Dirga. Mereka duduk di sofa yang agak jauh dari tempat yang lain berkumpul. Tapi semuanya bisa diihat dari dekat.
"Belum utuh kayaknya, Kak. Kalau kamu bisa peka, kira-kira apa yang kurang?" Tanya Nina dengan senyuman manis yang membuat tangan Dirga nakal untuk mencubit hidung Nina. "Apa ya? Aku memang nggak mudah peka orangnya Nin." Dirga tertawa pelan yang disambut decakan dari Nina, "Kamu nih apa saja nggak. Ya sudah aku nggak mau buat kamu peka kalau begitu."
Dirga mengeluh dengan imut di depan Nina, "Ah, jangan begitu ah Nin." Ujar Dirga dengan intonasi bicara layaknya anak kecil. Nina menggeleng, "Nggak ah ... Kak Dirga nggak peka orangnya. Bikin males."
Dirga tertawa pelan, "Ih, Nina, jangan begitu dong." Dirga memasang wajah cemberut yang bagi Nina sangat menjijikan.
Nina tertawa, "Ya sudah, kalau kamu mau aku kasih tahu, kamu mau kasih aku apa?" Tawar Nina sambil menaik turunkan alisnya.
"Ih, Nina sekarang nakal yah. Dasar ibu-ibu-eh nggak deng, Eneng-eneng, apa-apa harus ada untungnya ya ..." Ujar Dirga yang dibalas gelengan Nina.
Nina kemudian mengubah posisinya menjadi duduk, "Nih ya, aku kasih tahu, aku memang benar-benar bakal jadi ibu-ibu kok, sekarang." Ujar Nina tampak tenang.
"Bakal jadi ibu-ibu? Maksud kamu-"
"Iya, perut aku lagi isi. Tapi kan Mama bilang sebelumnya isinya angin, trus aku iseng-iseng cek, ternyata nggak kok, beneran isinya bayi, aku sudah mastiin." Dirga tiba-tiba berdiri dengan senang, "Kamu hamil, Nin? Beneran?"
Semua orang yang tadinya sedang sibuk bercengkrama di tempat lain, tiba-tiba terdiam setelah mendengar teriakan heboh dari Dirga.
"Nin? Apa kata Aa'? Kamu Hamil?" Tanya Mama sambil mendekati Nina dan Dirga yang terlihat berbinar dengan heboh.
Nina terlihat bersemu saat Mama tanya. Tapi kemudian perempuan itu mengangguk pelan. "Ya Allah, tapi tadi kamu bilang kalau asam lambung kamu naik-"
__ADS_1
Semua orang yang tadinya terdiam di tempat mereka sebelumnya, akhirnya mengikuti Mama mendekati Nina. "Neng? Beneran? Tanya Emak dengan berbinar.
Nina mengangguk sekali lagi, "Iya benar Mak, Ma. Tadi setelah Mama bercanda soal isi di perut, Nina memang sudah ada niatan mau cek. Trus Nina mutusin buat cek dan ternyata hasilnya positif. Alhamdulillah Nina hamil."
Dengan serentak semua orang disana mengucap hamdalah.
Nina yang tadinya masih menunduk malu, langsung dipeluk dengan erat sama Dirga.
Dan rasanya setelah ini keluarga baru pasangan Nina dan Dirga, benar-benar telah lengkap dengan kehadiran titipan Allah yang ada di kandungan Nina.
Dalam pelukan Dirga, Nina kembali mengulang ingatannya tentang hidupnya saat ini.
Walau semuanya bermula dari hal yang terlihat tidak biasa bahkan mungkin tabu, buktinya tidak ada yang tahu bagaimana rencana Allah untuk kehidupan selanjutnya dari dua orang asing yang tiba-tiba disatukan dalam doa dan takdir Allah.
Nina dan Dirga yang bersatu karena Lamaran Ekstrim Mama hingga akhirnya mereka berhasil sampai pada kebahagiaan yang benar-benar ekstrim.
Bersyukur, itulah salah satu kunci dalam mempertanggung jawabkan atas pilihan apa yang sudah kita ambil.
...-
...
Beberapa bulan kemudian
"Aduh, bisa nggak diem saja mbak? Saya pusing lihatnya ini sih."
Nggak akan.
Itu yang barusan Nina teriakkan didalam hatinya sebagai pelampiasan karena kejahanaman Dirga yang enggan datang cepat sebelum waktu kelahiran benar-benar ditetapkan oleh dokter. Katanya hari ini Dirga akan pulang, bahkan laki-laki itu bilang dia akan pulang kurang lebih satu atau dua hari sebelum tanggal kelahiran yang sudah di perkirakan dokter. Bahkan Nina sudah berdiri berjam-jam dengan sesekali duduk di ruangan khusus yang sudah di persiapkan untuk observasi pembukaan sebelum benar-benar dekat dengan tahap kelahiran.
__ADS_1
Nina dan Mama sudah datang kerumah sakit sekitar pukul delapan malam kemarin. Tapi karena di jam delapan pagi ini pembukaan Nina Cuma sampai tiga, jadinya Nina masih belum bisa bergegas keruang operasi. Tapi kalau mau tahu alasan lainnya, sebenarnya Nina lah yang bilang kepada anak daam kandungannya sendiri untuk menunda keluarnya dia karena Dirga masih belum disini sampai detik ini.
Laki-laki yang sejak kemarin duduk menemani Mama dan Nina diruangan, bahkan nggak pulang demi keselamatan istri temannya. "Gimana saya mau diem sih Mas? Ini perut sakit tahu nggak sih." Bukannya diam atau memilih mengabaikan, Nina justru kesulut emosi sama laki-laki di depan nya ini.
Karena Rehan- yah dia Rehan- nggak bisa marah sama sekali kalo sudah berhadapan dengan perempuan, dia memilih diam sedari tadi walaupun Nina terus-terusan mencecarnya dengan kemarahan akan Dirga yang nggak kunjung datang. Dan baru barusan saja Rehan komplain sebagai luapan kekesalannya sama Nina setelah sekian waktu.
"Untung gue cowok baik dan menghargai perempuan. Kalo nggak sudah gue jadiin simpenan nih cewek." Gumam Rehan yang tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya. Sungguh, dia bahkan bukan suami, kakaknya atau temennya. Dia Cuma temen Dirga.
Yaampun, gadirnya Nina.
"Kamu ngomong apa barusan? Mas Rehan, saya ini lagi nunggu proses kelahiran yah, wajar saja kalau kayak gini. Kalau nggak mau dimarahin, jangan bikin kesel deh." Ujar Nina dengan penekanan di beberapa katanya.
Rehan menghempas napasnya berat, "Ya sudahlah, perempuan memang paling benar. Kalau begitu saya keluar dulu." Rehan memilih undur diri setelah hampir dua belas jam dia menemani Nina dan Mama. Tapi karena Mama belum sempat membawa pakaian Nina, beliau jadi pulang sama Saiful yang langsung datang setelah di telpon sama Dirga untuk mengantar Mama.
Dan setelah Mama pergi sekitar dua jam, hanya ada dirinya dan Nina didalam ruangan seperti perintah Dirga di sms saat itu.
'Tolong jagain bini gue dulu Han. Ntar lo gue cariin bini juga deh.' Dengan teganya Dirga meminta tolong dan seakan-akan menawarkan suatu hal yang mudah seperti berjualan kacang. Padahal urusan pasangan dan jodoh, itu sesuatu yang sangat rumit untuk Rehan walau dia sendiri sering kali berbual pada Dirga kalau dirinya adalah laki-laki yang paling dicintai banyak wanita.
Kenyataannya dulu, saat dia bayi.
Kalau sekarang, mungkin saja nenek-nenek malas ngeliat muka dia yang gosong karena keseringan mantau kebun sawit bahkan sok-sok an berjemur dibawah pohon kelapa di pantai.
Tapi nasi sudah menjadi bubur, dan impian untuk kabur sudah terkubur.
Sepeninggal Rehan yang entah kemana, seperti ada perasaan tidak enak di hati Nina. Padahal awal kedatangan Rehan kerumah untuk mengantarnya kerumah sakit karena kontraksi, benar-benar awkward. Memang, karena Dirga juga jarang dirumah dan teman Dirga yang paling sering untuk mampir juga Cuma Wahda yang notabennya cewek, jadinya yah begitu. Tapi entah apakah ini yang disebut sindrom ibu hamil sampai Nina kayaknya jadi harimau mendadak.
Nina merutuki sikapnya untuk beberapa saat. Kenapa ini kesannya kayak salah sasaran? Yang nggak dateng kan Dirga bukannya Rehan yang justru nungguin dia disini.
Sekali lagi, betapa gadirnya Nina.
__ADS_1
Kalau sudah begini juga mau bagaimana. Pokoknya sebelum masuk ruang operasi nanti, Nina mau minta maaf sama Rehan. Ajal siapa yang tahu. Lagipula kalau nanti Nina meninggal, setidaknya Rehan bisa nengokkin anaknya karena Dirga yang ayahnya sendiri mungkin akan sangat sibuk.
Hah, pikiran Nina terlalu panjang kayaknya.