![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Hari pernikahan.
Semua keluarga besar Mama berkumpul di ruang tamu dengan cemas. Sudah setengah tujuh pagi, tapi Dirga belum keluar kamarnya lagi setelah subuh tadi. Entah apa yang terjadi padanya di dalam. Hal terakhir yang Mama lihat adalah setelah kepulangannya dari luar kemarin, Dirga terlihat tak ingin ditegur siapapun. Wajahnya tampak sembab, seperti orang habis menangis.
Selain keluarga dan tim wardrobe Mbak Ila, ada Rehan dan Saiful yang sudah tiba sejak pagi. Laki-laki itu tengah berdiri di depan pintu kamar Dirga. Mengkhawatirkan kondisi sahabatnya yang ia tak tahu apa yang sudah terjadi.
“Dir! Buka Dir! Semua orang sudah menunggu.” Mama harap-harap cemas dengan keadaan Dirga di dalam. Takut-takut laki-laki itu berbuat hal aneh disana.
Saiful datang setelah membawa air putih untuk Mama.
“Mam, minum dulu saja.” Mama yang duduk di kursi dekat kamar mengangguk, mengambil gelas air yang disodorkan Saiful.
“Han, dobrak saja, bagaimana?” Ujar Saiful mencetuskan ide konyol tiba-tiba.
Mama memandang Saiful.
“Harus sampai begitu, pul?”
Saiful tampak menggigit bibirnya ragu dengan ide tersebut.
“Er ... Mungkin bisa dicoba, Mam.” Ujar Saiful pada akhirnya.
Mama juga tampak bingung, tapi beliau akhirnya menyetujui ide Saiful tersebut.
“Ya sudah kalian dobrak deh.” Putus Mama.
Rehan dan Saiful berpandangan sebentar. Lalu dengan menghitung masing-masing, keduanya bersamaan mencoba mendobrak pintu.
“Sekali lagi, Han.” Ujar Saiful.
Belum sempat mendobrak untuk yang kedua kalinya, suara kunci diputar terdengar. Dirga keluar dari sana dengan santai seraya memandangi kedua temannya yang saling melirik bingung
“Kalian ngapain dorong-dorong pintu kamar gue? Berisik banget, pakai teriak-teriak segala.” Decak Dirga dengan wajah santai menatap kedua temannya yang kaget melihat reaksi santai dirinya.
“Lo nggak apa-apa kan, Dir? Kenapa nggak buka pintu dari tadi, sih?! Kita panik karena lo nggak keluar-keluar. Buruan, sudah telat.” Ujar Saiful tampak sewot.
"Gue ketiduran, trus barusan habis mandi. Ngapain pakai dobrak-dobrak segala? Kayak gue mau bunuh diri saja." Ujar Dirga sebal.
Saiful dan Rehan menghela napas lelah bersamaan. Mama kembali terlihat mendekat kearah mereka.
“Ma? Ini pada kenapa sih?” Tanya Dirga ketika Mamanya mendekat.
“A’! Dari tadi dipanggil-panggil nggak menyahut? Kamu lupa hari ini kamu menikah?!” Tegur Mama dengan intonasi tinggi.
Dirga mengernyit bingung.
“Aa’ ingat kok, tapi tadi ketiduran. Sedang mandi dengar suara ribut-ribut dan pintu mau didobrak. Kenapa pada panik, sih? Santai saja, lah.”
“Masalahnya kamu belum pakai kainnya, A’!” Seru Mama.
Dirga terkekeh. Ia meminta maaf karena kelalainnya menyebabkan semua orang khawatir.
__ADS_1
“Maaf ya, Ma. Ya sudah nih sudah siap, pakai sekarang saja. Mbak Ilanya dimana? Di depan, ya? Aa’ kesana dulu, deh.” Katanya santai, melewati Mama kemudian menemui Mbak Ila yang tengah duduk menunggu.
Rehan dan Saiful saling pandang, begitupun Mama yang masih berdiri disana, tak percaya dengan apa yang barusan membuatnya dan kedua sahabat putranya itu panik.
“Ya sudah Han, Pul, Mama kedepan dulu ya menemani Dirga pakai baju.”
“Iya, Ma.”
Sepeninggal Mama, tersisa Saiful dan Rehan yang masih saling lirik.
“Dirga positif gila! Mana bisa dia ngomong santai begitu padahal sudah mau telat begini? Teman lo tuh, Pul. Capek gue sama dia.” Tegur Rehan menatap Saiful tak percaya.
Begitu pun Saiful yang hanya bisa terdiam. Tak aneh dengan Dirga yang sering kali membuat orang jantungan, tapi dia sendiri selalu santai ketika orang lain panik.
Sambil dipasangkan kain oleh Mbak Ila, Dirga terkekeh pelan. Aktingnya barusan benar-benar keren. Caranya bersikap santai seperti tak terjadi apapun telah membuat Saiful dan Rehan kesal, pun Mama. Walau dia sebetulnya tak benar-benar berbohong soal ketiduran barusan. Nyatanya ia memang sulit tidur semalaman karena memikirkan kenyataan bahwa Papa kemungkinan telah pergi untuk selamanya.
Biarlah, untuk saat ini dia saja yang simpan sendiri rahasia ini.
...-...
Setelah datang kabar baru bahwa keluarga Dirga sudah dalam perjalanan ke tempat acara, Nina sekeluarga segera bersiap turun kebawah. Doanya tak henti terpanjat sedari tadi, berharap Dirga tak melakukan hal aneh atau bahkan sampai ingin membatalkan pernikahan ini.
Setibanya diballroom acara, Nina diarahkan untuk menempati ruang tunggu yang tak jauh dari ruangan utama. Nina duduk di samping Solehah yang terlihat memegangi tangannya sejak tadi.
“Teh, tangannya keringatan banget. Khawatir ya, Teh?” Nina melihat Solehah disampingnya.
“Agak sih, Dek ...” Kekehnya.
“Tenang, Teh. Pasti berjalan lancar.” Ujar Solehah memberikan kekuatan lewat genggaman tangannya.
“Teh, keluarga Kak Dirga sudah datang.” Saiful masuk kedalam ruangan cukup tergesa. Memberikan informasi yang sedari tadi telah Nina tunggu.
“Alhamdulillah ...” Ujarnya mengucap syukur.
“Iya Alhamdulillah. Masih menunggu penghulu nggak lama lagi.” Terang Saiful lagi.
Sambil menunggu kedatangan penghulu, masing-masing keluarga melakukan sarapan pagi. Masih setengah jam lagi sebelum akad dimulai.
“Teteh mau makan apa? Sol mau ambil sarapan, nih?” tanya Solehah menatapnya dengan senyum.
“Terserah kamu saja, Dek. Teteh nggak lapar.”
“Ih, Teteh! Jangan begitu. Harus sarapan supaya nggak lemas.” Tegur Solehah.
Nina terkekeh melihat tingkah adik kecilnya. Dia kemudian menyerah dengan keputusan sang adik yang tak mengindahkan keinginannya seraya berlalu pergi.
Selepas Solehah pergi untuk mengambil makanan, kini berganti dengan kedatangan Saiful yang sudah rapi dengan pakaiannya.
“Teh? Sudah sarapan?” Tanya Saiful duduk di sampingnya.
“Solehah lagi ambil, Dek.” Terangnya.
__ADS_1
Saiful mengangguk, remaja itu mendekat kearah sang kakak seraya menggenggam tangan kanannya.
“Tangan Teteh dingin, gugup banget, ya? Tenang saja, Teh, pasti semuanya lancar. Rombongan Kak Dirga sedang siap-siap di depan. Penghulu sudah datang juga, sebentar lagi segera dimulai.” Katanya seraya memberikan usapan penenang untuk sang kakak.
“Teh, ini makanannya. Aa’? Disini?” Solehah muncul di depan mereka dengan sepiring makanan beserta minum. Dirinya dikagetkan kehadiran Saiful yang tiba-tiba berada disamping Nina.
“Kamu mondar-mandir dari tadi Sol, apa nggak capek?” Tanya Saiful seraya mengambil alih piring ditangan Solehah.
“Nggak, A’ biasa saja. Teteh makan ya. Jangan sampai enggak. Kita keluar dulu sebentar.” Solehah menatap Saiful di depannya.
“Yuk, A’." Ajak Solehah yang dibalas anggukan Nina ketika keduanya kemudian hilang dibalik pintu ruanga .
Dia tak tahu apa yang menyebabkan kedatangan mempelai pria terlambat, pemikiran gilanya beberapa saat lalu sangat tidak sehat untuk pikirannya. Nina takut, bukan hanya khawatir, tapi dia juga takut. Ketakutan yang Nina tak mampu mengusirnya kali ini.
Semoga semua baik-baik saja, terutama Dirga.
...-...
Dua pihak keluarga dan kerabat dekat telah berkumpul menjadi satu diballroom hotel pada pukul sembilan pagi hari ini. Menyaksikan acara utama yang akan diadakan tak lama lagi. Mulai dari para saksi yang sudah menepati tempat duduk yang disediakan, hingga mempelai pria yang terdiam sambil sesekali mengiyakan perkataan penghulu yang memulai dengan pengecekkan data dan validasi berkas. Banyak lampu flash dari kameramen yang memancarkan cahaya untuk memperjelas setiap kegiatan yang berlangsung. Bahkan beberapa kameramen sudah siap berkeliling disekitar mempelai pria, menyiapkan diri untuk saat yang paling ditunggu.
Kecemasan Dirga meningkat tat kala penghulu telah menyelesaikan pengecekkan data dan validasi berkas yang dibutuhkan untuk mengesahkan akad nikah yang berlangsung hari ini.
“Alhamdulillah … validasi berkas dan data sudah selesai, selanjutnya untuk mempelai pria, kita latihan dulu ya, Mas?” Ujar Penghulu yang duduk disamping Abah seraya terkekeh menatap Dirga.
Satu kali latihan agaknya cukup bagi Pak Penghulu untuk Dirga bisa memulai janjinya dalam akad nikah yang akan dilaksanakan sebentar lagi.
Barusan dia cukup bisa mengontrol kekhawatiran dan gugup setelah latihan tak lebih dari satu menit bersama penghulu. Kali ini Dirga mengangguk mantap setelah Abah juga meyakinkan padanya bahwa laki-laki itu mampu mengucap janji dengan lancar tanpa halangan. Pak penghulu yang duduk di sisi kiri Abah, menyerukan doa sebelum acara dimulai. Semua hadirin tampak tak bersuara setelah Abah terlihat menggenggam tangan Dirga dengan kuat.
“Bismillahhirahmanirrahim,” Abah memulai.
“Saya nikahkan dan kawinkan engkau, ananda Dirgantara Mulia Radjasa Bin Syahid Radjasa dengan putri saya, Nina Fakhira Bahri Binti Ahmad Bahri dengan mas kawin uang sebesar delapan juta, seratus dua belas ribu, sembilan ratus tujuh puluh rupiah cash virtual dan seperangkat alat sholat dibayar tunai.” Pungkas Abah memberikan tekanan pada genggaman tangan mereka.
“Saya terima nikah dan kawinnya Nina Fakhira binti Ahmad Bahri dengan mas kawin tersebut, tunai.” Satu kali tarikan nafas, Dirga berhasil mengucap janjinya dengan mantap walau sedikit gugup.
Penghulu dan para saksi saling pandang hingga kata sah bergemuruh diseluruh ruangan. Dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh penghulu, membuat beberapa keluarga meneteskan air mata.
Terutama dua perempuan paruh baya yang duduk di barisan paling depan.
Mama dan Emak.
“Selamat untuk Mas Dirga dan Mbak Naura karena sudah sah sebagai suami dan istri ..." Suara MC memecah suasana haru diatara semua yang hadir diruangan. Dirga mengangkat kepalanya selepas doa berlangsung.
Hebat, gue suami sekarang. Pikir Dirga penuh perasaan aneh dalam dirinya.
“Prosesi selanjutnya, pelengkapan berkas-berkas pernikahan dan tanda tangan buku nikah. Sebelumnya, kita persilahkan kepada mempelai pria untuk menjemput pujaan hatinya.” Ujar MC lagi yang diikuti seruan dari seluruh tamu yang hadir.
Peluh di dahi Dirga belum seluruhnya surut, tapi situasi mendebarkan ini lagi-lagi harus ditambah dengan instruksi dari MC untuknya segera menjemput ‘sang pujaan hati’. Walau sebelum ini ia merasa biasa saja ketika menatap, bahkan berbicara empat mata dengan Nina, tapi aneh rasanya ketika kali ini dia harus menjemput Nina dalam keadaan yang berubah setelah kurang lebih lima menit lalu janji pernikahan itu selesai ia ucapkan.
Dirga ragu apakah saat ini kakinya bisa melangkah pergi menjemput Nina diruangan lain. Rasanya kedua kaki ini bagaikan jeli—dia tak menyangka bisa merasakan efek gugup yang seperti ini. Matanya mengedip cepat. Masih terdiam di tempatnya hingga suara penghulu kembali meraup semua pikiran ragunya.
“Mas Dirga? Silahkan …” Suara penghulu membuat pikirannya memusat kembali. Mengucap terima kasih, dengan sopan Dirga pun pamit pada Abah dan beberapa saksi yang duduk disana. Melangkahkan kakinya menuju tempat dimana Nina menunggunya harap-harap cemas.
__ADS_1
Dirga tak menyangka statusnya telah berubah. Sebelum ini ia memang merasa yakin dengan usaha yang akan ia lakukan nantinya sebagai kepala keluarga dan suami, namun … entah mengapa dalam langkahnya sekarang, Dirga justru takut ia tak bisa menepati perkataannya sendiri.