![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
“... Kamu apa nggak lelah, Kak? Nina belum butuh jalan-jalan saat ini, sih.”
Nina meletakan beberapa pakaian yang baru ia angkat dari jemuran untuk ia lipat dan letakan di dalam lemari. Menjawab tawaran Dirga yang sebetulnya mendadak membuat ia sebal sebab alih-alih mengajukan padanya, Dirga justru menannyakan Mama apa ia boleh mengajak Nina pergi.
Bukannya Nina tak berada disana, bahkan perempuan itu ada disampingnya sejak sarapan tadi.
“Biasa saja lah, aku nggak lelah. Lagipula kita belum pernah menikmati quality time, kan? Sekali-sekali kita pergi, saling berbagi cerita di luar, sambil belanja apapun yang kamu mau.” Terang Dirga masih berusaha mengajak istrinya untuk mau menuruti ajakannya.
Nina berbalik menghadap Dirga dari posisinya.
“Kak Dirga yakin nggak lelah? Baru hari ini menikmati waktu istirahat, ketemu ranjang yang nyaman. Besok sudah siap-siap pulang lagi, kan? Kita bisa quality time dirumah saja, kok.”
“Nggak Nin, beda. Kalau kamu merasa lelah atau nggak nyaman karena takut aku ajak ke hotel seperti kadang-kadang itu, kali ini nggak kok. Aku mau ada waktu sama kamu. Kamu lihat tadi, kan? Mama itu ada saja komentarnya kalau sudah berkaitan kita berdua. Kalau di rumah nggak ada kegiatan apapun, Nin. Kalau di luar kan bisa makan, ngedate gitu.”
“Ya tapi kan ...”
“Tapi apa lagi, Nina Fakhira? Kita ke mall saja deh, nggak ke mana-mana yang terlalu jauh kalau kamu malas lelah di jalan. Kamu nggak bakal pingsan kalau cuma jalan ke mall saja, kan? Please, kita pake waktu dua hari aku, ya? Kamu masih marah, Nin? Jujur, aku nggak tahu salahku dimana sampai kamu marah?” Tanya Dirga kembali mengungkit soal dirinya yang merasa badmood dan sedikit kecewa setelah menerima kenyataan seperti ditolak oleh suaminya sendiri. Suaminya itu menatapnya penuh harap.
“Ya sudah ...” Nina menyerah. Memberikan ruang untuk permintaan Dirga.
“Hanya ke mall, ya kak? Mall mana?”
Dirga mengangguk cepat. Tiba-tiba tersenyum sumringah.
“Semanggi, ya. Nanti sekalian aku juga mau meet up sama beberapa teman disana. Kamu ikut saja, Nin ...” Ujar Dirga
“Iya, Nina ikut saja.”
“Tapi Nin ... kamu sebenarnya marah sama aku kenapa, sih? Kasih tahu dong! Sejak bersangkat kerja kemarin lusa, kamu nggak mau bicara soal itu. Kalau kamu nggak marah, mana mungkin cuek begini? Tell me ya, please ... aku akan coba perbaiki jika ada masalah dari diriku.” Pinta suaminya memelmbut.
Nina mendesah pelan. Perkara hatinya ini sangat sulit, bukan hanya sulit untuk diselesaikan, tapi juga sulit untuk diutarakan.
Nina tak tahu apa Dirga tak akan menganggap ini lelucon, atau malah kembali mengulang reaksinya seperti hari itu.
“Nggak ada apa-apa, Kak. Kayaknya mood karena bulanan jadi begini.”
Dirga mengangguk.
“Ya sudah, aku minta maaf ya kalau ada salah. Lain kali bicara saja. Aku nggak masalah ...” Balasnya terdengar nada tak enak.
“Iya kak nggak apa-apa. Nina memang suka begitu kadang-kadang kalau sudah dekat bulanan.”
“Oh gitu ... Jadi kamu belum pernah telat ya, Nin? Maksudku, mungkin kamu merasakan ciri-ciri hamil? Siapa tahu ...”
Hamil?
Mengapa tiba-tiba Dirga terpikir soal dirinya hamil?
Ah ... setelah tak ada jawaban soal cinta, mengala sekarang laki-laki itu menginginkan anak darinya?
__ADS_1
...-
...
Nina dan Dirga tiba diparkiran sebuah mall daerah semanggi, sekitar pukul setengah sebelas siang. Sedari tadi laki-laki itu tampak ceria selama mengemudi. Nina sesekali melirik suaminya aneh.
Suasana hati Dirga sedang baik sepertinya.
“Yap ... sudah sampai! Sebentar, aku buka pintu kamu.”
Nina melirik Dirga sebentar, sebelum suaminya keluar dari posisinya menuju sisi Nina untuk membukakan pintu.
“Bahagia banget ...” gumam Nina berdecak, setelah Dirga membuka pintu disana.
“Silahkan istriku. Hati-hati melangkahnya.” Kelakar Dirga.
Nina yang sedari tadi terdiam, mau tak mau tersenyum kecil akan perlakuan suaminya.
“Sumringah banget, Kak? Senyum terus.” Komentar Nina singkat. Melihat tingkah suaminya, mau tak mau dia merespon juga.
Dirga tampak berbeda.
“Nggak ada yang larang ini. Selama masih bisa bahagia.” Ujarnya. Dirga lalu tertawa sambil berjalan mendahului Nina yang memperhatikannya dari belakang.
Aneh rasanya karena ia bisa begitu mencintai laki-laki yang terlihat kekanakan, namun dewasa dalam satu waktu.
Tiba-tiba Dirga yang berjalan di depan nya berhenti mendadak, sehingga Nina yang berada dibelakang menabrak tubuh laki-laki itu. Dirga memutar tubuhnya, menatap Nina.
“Hei? Kenapa jalan di belakang sih, Nin? Sini lah disampingku.” Katanya seraya menarik tangan Nina. Menggandeng tangan kecil itu dalam genggamannya.
Sambil menggandeng tangan Nina, Dirga mengarahkan langkahnya kesebuah restoran di dalam mall. Laki-laki itu mengajaknya mendekati sekumpulan laki-laki dan perempuan yang sedang berkumpul.
Dirga bersalaman dengan senang kepada beberapa orang disana, tak lupa memperkenalkannya pada mereka. Nina hanya memperhatikan kelimanya yang sibuk melepas rindu. Beberapa menit kemudian Nina meminta izin untuk ke toilet.
Dirga bilang pertemuan ini tak akan memakan waktu lama, tapi kenyataannya sudah lebih dari tiga puluh menit ia dan suaminya itu berkumpul disana. Biar lah, Nina tak bisa memaksakan suaminya karena sepertinya hal ini telah lama ia tunggu.
Saat selesai dari toilet, seseorang tiba-tiba menyapanya.
“Nina? Nina, ‘kan ya?”
Nina menolehkan kepalanya kesamping. Dirga sudah jauh darinya, Nina hendak memanggil Dirga tapi panggilan laki-laki yang kini berdiri di sampingnya tidak bisa Nina abaikan. Dengan cepat Nina mengangguk menyapa balik laki-laki tersebut.
Itu Edara, salah seorang yang juga menjadi mahasiswa bimbingan Bu Wuri. Kebetulan ia sempat menemui laki-laki itu beberapa hari lalu untuk membahas skripsinya yang memiliki jenis serupa dengan milik penelitian Nina.
“Hai Ed ... Disini?” Sapa Nina.
“Iya, aku kerja disini, Nin. Kamu sedang jalan-jalan, kah? Sama siapa?” Tanya Edara sopan.
Nina mengangguk.
__ADS_1
“Iya, sama teman.” Jawabnya singkat. Nina tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada Edara.
“Ah gitu ... By the way, thanks ya karena sudah mau bantu aku tempo hari. Kayaknya lain waktu akan minta dibantu lagi deh? Nggak apa-apa, ya?” Kekeh Edara.
Nina mengangguk seraya tersenyum.
“Nggak apa-apa Ed. Kalau aku bisa bantu dan bisa jadi sharing buat skripsi kita malah bagus. Jadi bisa cepat selesai deh ...” Jawabnya tersenyum lagi.
“Aku sudah lihat kamu dari masuk tadi, loh. Sama teman cowok, kan?” Ujar Edara tersenyum.
Ah ... Dia melihat Dirga juga ternyata.
“I-iya, teman ...”
“Nin? Kupikir kamu kemana? Lama betul ke toiletnya. Teman-temanku suda pada mau pamit.” Tiba-tiba Dirga muncul entah darimana, menegurnya yang tengah berdiri tak jauh dari toilet.
Edara yang masih berdiri disana, memandang kedua orang di depannya dengan tanya.
“Ini teman kamu tadi kan, Nin? Apa kabar, Mas? Saya Edara, teman kuliah Nina.” Ujarnya memperkenalkan diri ke depan Dirga.
Laki-laki itu mengernyit bingung, tapi tetap menerima uluran tangan Edara.
“Saya Dirga, suaminya Nina, bukan teman ... ya, teman hidup sih iya. Salam kenal Mas Edara.” Terang Dirga berujar dengan sedikit tegas, seolah menahan kekesalan.
Nina hanya bisa terdiam memperhatikan kedua laki-laki di depannya.
Duh! Dia sudah melakukan kesalahan.
“Suami? Oh ... saya pikir teman atau pacar. Jadi Nina sudah menikah ya? Selamat untuk pernikahannya, Nin. Kalau begitu saya permisi dulu, ya.” Putus Edara seraya pergi dari hadapan mereka.
Nina masih terdiam, sementara Dirga kini telah menatapnya bertannya.
“Dia teman kuliah kamu, Nin? Kenapa dia bilang aku teman kamu?” Tanya Dirga terdengar tak suka.
Nina tak menjawab. Dia masih terdiam, bingung memilih kata apa yang seharusnya ia lontarkan pada suaminya, sementara ia pun tak bisa jujur dengan Edara tentang pertanyaan ‘siapa si cowok itu.”
“Well ... mungkin kamu belum siap untuk kenyataan ini. Khawatir teman mu yang lain tahu, atau memang ada sesuatu antara kamu dan dia tadi? Edara? Namanya bagus. Belum tentu orangnya.” Ujar Dirga menyindir.
Nina menelan salivanya. Hendak berujar, walau Dirga sudah terburu memotong.
“Nggak apa-apa kalah itu yang kamu mau. Aku nggak akan marah selama kamu baik-baik saja, Nin. Maaf ya kalau aku belum bisa jadi suami yang baik? Segera kedepan ya, aku tunggu disana.”
Nina lagi-lagi bungkam. Ia merutuki kesalahpahaman yang telah terjadi ini.
Ah ... kenapa Dirga bisa berpikir jika ia menyukai Edara?
Padahal ia menyukai laki-laki itu!
Bahkan mencintainya!
__ADS_1