![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Dirga memasuki kamar yang Mama pesan dengan malas. Nina yang menyusul dibelakang lants duduk di depan meja rias yang di atasnya tertata lilin-lilin aromatik.
“Sebetulnya bagus sih, hanya saja terlalu remang dan aromanya bercampur. Jadi kurang nyaman kalau nggak terbiasa.” Monolog Dirga seraya memutari seluruh ruangan.
“Iya ...” Respon Nina singkat. Perempuan itu kemudian beralih fokus pada serpihan kelopak bunga mawar yang membentang diseluruh ranjang.
“Kita rapihkan saja ya, kak? Supaya enak tidurnya.”
“Iya ... Kita rapihkan saja. Nggak enak tidur banyak bunga begini.”
Keduanya kemudian memulai kegiatan merapihkan beberapa hal yang sebetulnya telah di tata sedemikian rupa agar sesuai dengan namanya, kamar honeymoon. Dirga sebetulnya terkekeh dalam hati ketika mengingat staff tadi menyebut nama kamarnya.
Jadi ini vibes orang yang honeymoon? Mama bisa saja!
“Sebetulnya kalau disiapkan dalam keadaan kita memang menginginkan ini, pasti seru juga. Berhubung kita sama-sama lelah dan hal seperti ini kurang cocok dalam kondisi kita, yang ada jadi kerjaan kedua.” Keluh Dirga mengangkat ujung bedcover bersamaan dengan Nina untuk menurunkan kelopak yang tersisa.
“Kak Dirga suka?” Tanya Nina.
“Suka-suka saja kalau suasananya mendukung. Sekarang kan nggak begitu mendukung.”
“Iya, sih ...”
Keduanya kembali sunyi dalam beberapa saat. Nina yang memutari ruangan mencari sapu, akhirnya menemukan benda itu tergantung dekat gorden.
“Kayaknya begini saja cukup ya. Kalau lilin aromatic sih nggak masalah, menambah nyenyak tidur.” Ujar Dirga seraya mendudukan dirinya diatas ranjang, sementara Nina tengah melepas hijabnya selepas menyapu beberapa area dekat ranjang.
“Kamu mau mandi duluan atau aku?” Tany Dirga lagi.
Nina menunjuk dengan dagunya.
“Kak Dirga duluan nggak apa-apa.”
“Ya sudah, aku duluan, ya ...” Putusnya lantas bergerak kearah kamar mandi setelah meraih satu handuk yang terlipat rapi diatas meja rias.
Sepeninggal Dirga, Nina mencoba merebahkan kakinya yang sudah sangat ngilu sejak tadi. Seharian ini sudah melelahkan, ditambah harus merapihkan kamar ini demi tidur yang nyaman. Sesungguhnya ini hal baru juga untuknya. Menginap di kamar hotel yang notabennya merogoh kocek lumayan dalam, membuat dirinya bergidik ngeri. Dirga dan keluarganya memang benar-benar berlebihan dalam segi materi.
Terkadang ia merasa sangat jauh dengan Dirga dan Mama dalam segi nasib. Hidupnya yang sering kali kekurangan, mendadak berubah setelah menikahi suaminya itu. Kebaikan tak terkira dari Mama yang tahu-tahu menjadi ibu mertuanya membuatnya kerap kali memutar ulang memori pertemuan hingga pernikahan.
Bahkan kini hingga ia akhirnya merasa memiliki perasaan pada suaminya walau masih sepihak-tak tahu bagaimana dengan Dirga sendiri.
Tiba-tiba ia mengingat surat Abah hari itu. Dirga akan menggantikan Abah sebagai penanggungjawabnya. Ia tak ingin membebani siapapun, tapi ini sudah menjadi tugas seorang suami. Caranya membalas tentu dengan menjadi istri yang baik dan pengertian.
__ADS_1
Ia tak pernah membahas ini bersama Dirga sebelumnya. Memang, Nina merasa terlalu pasif, banyak tidak enakan, bahkan sering kali merasa malu dan takut merugikan tiap kali memikirkan ketidakpercayaan dirinya secara materi. Padahal jelas-jelas ia sudah menikahi laki-laki itu, seharusnya wajar jika komunikasi mereka bisa melebihi sekadar win-win solution setelah terlalu lama menjomblo, dan memperbaiki hidup bagi versi masing-masing.
Bagaimana perasaan Dirga ya? Nina ingin tahu perasaan suaminya setelah hampir satu minggu menikah, ditambah pesan Abah yang berarti cukup berat pastinya bagi sang suami.
Dirga tampak keluar dari kamar mandi dengan bathrobe yang tak diikat, celana pendek dan shirtless.
“Segar rasanya kalau sudah ketemu air. Oh ya, Nin, malam ini aku begini ya? Nggak apa-apa, kan? Bajuku hanya satu, kebetulan pakai celana pendek, yasudah begini saja.” Terang laki-laki itu mendekat kearahnya diatas ranjang.
Kenapa pertanyaan Dirga seolah retorika sih? Bukankah Nina juga pernah melihatnya seperti ini?
“Santai saja, Kak. Nina juga hanya bawa kaus tipis dan celana pendek-“ Perempuan itu menahan bibirnya.
Dia teringat pakaian yang ia gunakan saat ini. Nina tak membawa baju selain pakaian keluar dan rok span. Baju ternyamannya untuk tidur hanya pelapis baju luarnya saja.
“Kenapa? Nggak apa-apa. Senyamannya kamu saja.” Santai Dirga lantas menaiki sisi ranjang disampingnya.
Nina menggeleng pelan kemudian berlari kecil kearah kamar mandi.
Kenapa dia memberi tahu Dirga soal pakaiannya?
Apa yang akan suaminya pikirkan dalam situasi ini-no!
Siap-siap lah, Nin!
...
“... Baik-baik saja sih. Nggak masalah, Nin, jangan terlalu jadi pikiran.”
“Aku hanya khawatir Kak Dirga sebetulnya lelah karena lusa sudah masuk kerja.”
“Santai ...”
Keduanya telah selesai membersihkan diri. Waktu masih menunjukkan pukul sepuluh malam. Memang sudah cukup malam untuk tidur, namun rasa lelah mengalahkan mata yang seolah ingin tertutup, tapi tak mampu karena terlalu gelisah sebelum otot-otot lebih rileks.
Nina dan Dirga saling berbincang ringan setelah menyalakan televisi dan menerima room service beberapa menit lalu. Suaminya itu kelaparan, dia sama sekali tak mengantuk karena lapar itu mengalahkan segalanya.
“Oh ya, Kak, kemarin aku nggak sengaja ketemu surat dari Abah untuk Kak Dirga,” Nina menjeda.
“Sebetulnya Nina merasa nggak enak karena Abah mungkin terkesan memberatkan Kak Dirga dengan pesannya. Walau itu tanggung jawab seorang suami, tapi jangan terlalu jadi pikiran ya? Nina takut Kak Dirga jadi merasa berat nantinya. Santai saja, pelan-pelan kita coba saling mengerti masing-masing. Nina tetap bisa jaga diri dan menjaga marwah suami, kok. Jadi, jangan khawatir ya, Kak.” Ujarnya membuat Dirga melirik tiba-tiba.
Surat?
__ADS_1
Ah, surat Abah itu.
Kenapa mendadak muncul pembahasan ini?
“Memangnya kenapa kamu bisa menyimpulkan begini? Tanya Dirga.
“Nina bukannya apa, Kak. Sudah diterima dengan baik dan menerima semua kebahagiaan dunia yang sebelumnya sulit Nina dapat, rasanya lebih dari cukup saat ini. Jadi ... Nina agak sedikit takut jika ditambah dengan tanggung jawab sebagai pengganti Abah, walau kenyataannya begitu, namun nggak selalu sama secara harfiah, kan? Nina bisa menjaga diri sendiri kok.“ Ulang perempuan itu.
Dirga menarik napasnya dalam. Menghempas dengan pasrah.
“Begini, Nin, tanpa kamu jelaskan barusan pun aku tahu bahwa semua tanggung jawab Abah saat ini berpindah padaku. Walau kita nggak melalui pacaran, apalahi jatuh cinta teramat, tapi aku yang kini berstatus suami wajar untuk punya pemikiran bertanggung jawab kan? Toh ada atau nggaknya surat itu, nggak menggantikan alasan apapun untuk aku nggak bertanggung jawab sama kamu. So, relax dan nikmati saja kebersamaan ini. Aku juga pengin membangun keluarga yang bahagia. Aku pengin punya anak, pengin lihat rumah Mama ramai dengan anak-anak kita nanti.” Responnya benar-benar diluar dugaan Nina.
Perempuan itu hanya mengangguk. Kemudian mrnatal mata suaminya disamping dengan seksama.
“Kak ... terima kasih dengan jawaban kamu ini. Sesungguhnya Nina hanya takut dengan budi sebesar ini. Nina hanya takut nggak bisa membalasnya.”
Dirga menggeleng.
“Nggak semua hal perlu dibalas kok, Nin. Dengan adanya kamu disini, Mama bahagia, aku akhirnya menikah, semuanya sudah lebih dari cukup sebagai balasan yang baik, kok. Jangan terlalu overthinking, ya ...”
“Oke ... Nina akan pelan-pelan mengenyahkan pikiran ini. Tapi Kak ...”
“Ya?”
“Memang Kak Dirga pernah bilang bahwa menyukai Nina ... Kita bersatu tak seperti pasangan lain, jadi Nina sangsi jika nantinya kita nggak hanya cukup mengandalkan rasa suka. Lebih dari itu, apa kita bisa saling jatuh cinta?” Tanya Nina pelan, benar-benar menatap mata suaminya di depan.
Dirga yang juga menatapnya tak berkata. Perlahan laki-laki itu menunduk, mengalihkan pandangannya pada sang istri yang mengernyit bingung dengan sikapnya.
Jatuh cinta?
Dulu, cinta itu ada. Ketika Novia menjadi satu-satunya perempuan yang ia harapkan. Walau saat ini hanya Nina yang seharusnya menerima seluruh atensi dan hatinya, tapi ... kenapa Dirga takut soal jatuh cinta?
Dia menyukai istrinya, memang, namun masih mempertanyakan hatinya hingga kini.
Bagaimana jika Dirga tak bisa memberikan cinta untuk Nina?
“Um ... Nin, aku-aku keluar sebentar ya? Kamu sudah mengantuk belum?” Laki-laki itu berdiri.
Belum sempat Nina menjawab, Dirga sudah berjalan keluar dari kamar.
Apa yang sudah ia lakukan? Kenapa jadi begini?
__ADS_1
Kenapa Dirga jadi takut jatuh cinta lagi?