LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[53] Jalan-Jalan Pertama


__ADS_3

“Ke kebun raya bogor, Bu?!” Lila berteriak girang setelah Mama memberitahukan perempuan muda itu bahwa mereka sekeluarga akan bersantai dan piknik di kebun raya bogor. Daerah penelitian yang di kelilingi banyak pepohonan tua itu, sempat menjadi tempat yang ingin Lila kunjungi. Walau tak jadi karena dirinya tidak mengerti jalan.


“Iya Lil.” Mama tertawa melihat tingkah lucu Lila yang mirip anak-anak. Ditengah perbincangan kedua orang itu, Nina keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Blus berwarna biru dan rok katun berwarna krem.


Hijab yang senada membalut kepalanya, menampilkan sisi feminim yang manis dengan pulasan makeup tipis dan lipcream di bibir.


“Ma, Lil ...” Panggil Nina kepada Mama pun Lila yang sedang sibuk memasukkan makanan ke tempat makan.


Lila melirik Nina yang jalan mendekati mereka.


“Wow, kakak cantik banget.”


Nina tersenyum malu ketika Lila memujinya.


“Paling bisa kamu, Lil ...” Elaknya seraya terkekeh.


“Nggak lah, kamu juga cantik kok. Cocok betul pakai dress itu.”


“Kenapa nggak ada yang mau untuk jadi paling cantik, sih? Kalau begitu Mama saja deh.” Mama yang mendekat kearah Lila, menepuk bahu perempuan itu.


“Iya, ibu paling cantik, Bu.” Ujar Lila seraya terkekeh.


Mereka bertiga tertawa.


“Mama sudah siap?” Tanya Nina meneliti setelan yang Mama gunakan.


“Sudah dong.”


“Ya sudah Ma, Nina kedepan dulu ya bawa makanannya. Kak Dirga sudah menunggu di depan.”


Nina bergerak menuju kearah garasi dimana Dirga tengah menyiapkan beberapa keperluan outdoor yang ini Mama bawa. Sejak semalam ternyata Mama sudah repot dengan persiapan yang beliau lakukan sendiri, sementara ketiga orang lainnya dirumah ini tak mengetahui kemana sebetulnya mereka akan pergi.


Baru pagi tadi Mama memberitahukannya.


Dirga langsung setuju karena tak begitu jauh, pun Nina yang merasa senang dan excited untuk jalan-jalan pertamanya bersama keluarga Dirga.


“... Ya sudah disitu saja. Jangan terlalu kedalam supaya ambilnya mudah,” Nina menata makanan bersama Dirga yang juga sibuk merapihan tempat duduk serta beberapa perlengkapan outdoor seperti; kursi lipat, tikar plastik dan perlengkapan-perlengkapan lainnya. Hari ini mereka pergi dengan mobil Mama yang jarang sekali dipakai berhubung jenisnya SUV yang cocok untuk keluarga.


“Tolong bilang Mama ya, aku minta pewangi.” Nina mengangkat kepalanya melihat wajah Dirga disampingnya.


“Pewangi mobil?”


“Iya.” Jawab Dirga. Setelah meminta tolong Nina, laki-laki itu kembali ke depan kemudi mengecek keadaan. Diam-diam Nina merasakan rangkaian puzzle milik Dirga yang mulai terangkai dengan rapih di salah satu ruang hatinya, walau berjalan sangat pelan. Perempuan itu tak tahu mengapa secepat ini ia bisa memiliki perasaan suka dan merasa terikat pada suaminya.

__ADS_1


Mungkin akibat kebersamaan pertama mereka itu.


Jika diingat, Nina memang merasa malu. Walau begitu, dia merasakan maanfaat bagi kedekatan mereka. Dirga yang perlahan menjadi tenang dan rileks, pun memberi efek pada sikapnya yang melembut dan lebih banyak senyum.


Nina terkekeh dalam hatinya.


Ia berharap, jalan-jalan keluarga ini bisa memberikan bonding yang baik bagi keduanya.


Memang, hanya bisa berharap, semoga Dirga juga merasakan apa yang ia rasakan.


...-


...


Mobil melesat cepat membelah jalan raya Bogor menjelang siang ini. Jalanan tidak macet sehingga rasanya sangat nyaman dan tenang. Mama sibuk mengoceh tentang kamar hotel yang mendadak akan mereka tempati. Awalnya mereka tidak punya niat untuk menginap. Tapi ketika mobil sudah melaju meninggalkan rumah tadi, Mama tahu-tahu memaksa untuk menginap karena ingin menikmati suasana di Bogor pada pagi hari dan meminta Dirga mengantar mereka ke salah satu hotel yang sudah beliau pesan.


Dirga terpaksa menuruti, walau sebenarnya ia malas menghabiskan sisa liburnya dengan menginap ditempat lain sementara lusa pun ia sudah masuk kerja. Setelah beberapa jam, perjalanan yang panjang ini pun akhirnya selesai saat mobil memasuki area kebun raya Bogor. Sebutan kerennya sih Bogor Botanical Garden.


Area luas ini menampung banyak pepohonan langka yang sudah hidup ratusan tahun.


Mama menatap takjub dengan apa yang beliau lihat. Pohon-pohon yang lebat dengan beberapa daerah rindang sehingga tidak menutupi akses matahari kedalamnya. Harum pepohonan menjadi yang utama sehingga tetap segar walau sudah siang hari.


Mereka semua turun dari mobil lalu menggelar tikar ketika dekat dengan daerah jembatan merah yang memiliki mitos tersendiri. Katanya, jika dua orang yang saling menyayangi dan mencintai melewati atau mengabadikan momen kasih sayang disana, kisah kasih mereka akan kandas.


Mama tak begitu peduli dengan mitos yang ada, namun yang beliau tangkap mengenai jembatan itu, adalah pondasinya yang terlihat kuat dan model jembatan yang terkesan klasik.


“Ma, makan dulu.” Panggil Dirga sambil menggelar tikar. Mama masih sibuk berkeliling sekitar mereka mengeksplor pepohonan dengan berbagai macam detil yang tertulis di papan nama pohon-pohon tersebut.


“Iya, gampang.” Jawab Mama.


“Kakak nggak makan?” Tanya Lila menatap Nina.


“Iya ini mau makan kok, aku tunggu Mama dulu.” Ujar Nina lalu mengangkat kepalanya dengan sibuk merapihkan perkakas makan.


Mama kembali ke mereka lalu duduk di sisi kanan Dirga. Laki-laki itu masih fokus dengan ponselnya.


“Mama mau Nina ambilkan apa?” Tanya Nina menatap wajah Mama yang terlihat sumringah.


“Mama terserah kamu saja.” Mama membersihkan tangannya dengan hand sanitizer.


“Ya sudah, Nina ambilkan semuanya, ya.”


Suasana piknik itu benar-benar berlangsung seperti piknik pada umumnya. Walau Dirga tampak tak begitu antusias seperti yang lain. Selesai makan siang, Mama dan Lila tampak sibuk mengambil gambar kesana kemari.

__ADS_1


Sedangkan kedua newlyweds itu hanya duduk di tikar dalam keheningan.


“Kak Dirga lusa sudah masuk kerja, ya?” Tanya Nina pelan. Melirik suaminya disisi kiri.


“Iya, lusa sudah masuk. Kamu bagaimana perjalanan skripsinya? Sudah lanjut?” Tanya Dirga balik.


“Belum ... Nina masih cari bahan. Sudah konsul sih dua hari lalu, tapi belum begitu yakin sama hasilnya karena dosen minta bahan teori lebih banyak.”


“Begitulah mahasiswa. Sekali mahasiswanya rajin, kadang dosennya kurang mengerti. Kalau dosennya yang rajin, mahasiswanya nggak ada usaha. Asalkan tetap dalam usaha menyelesaikan, aku yakin segera beres kok, Nin.” Ujar Dirga menatap istrinya dengan senyum.


“Nggak menyangka kalau sekarang aku sudah menikah. Masa muda dan jomblo memang indah, tapi mau sampai kapan hanya mementingkan pencapaian materi jika bisa dilakukan sejalan juga dengan ibadah. Menikah kan ibadah, walau memang kesulitannya beragam, tapi menurutku tetap pantas dilakukan. Karena jika berdua saja sulit, apalagi sendiri, kan?” Lanjut Dirga seolah menerawang pada beberapa memori tentang hidupnya belakangan.


Nina mengangguk singkat. Betul yang dikatakan Dirga. Dirinya bahkan sudah lupa semua perjalanan awal hingga berstatus istri seperti sekarang.


Nina hanya tak menyangka jika ia menikah diusia dua puluh satu tahun. Bukan usia yang muda, tapi juga tidak terlalu tua. Logikanya sudah bisa bekerja dengan baik, walau tetap harus lebih mengeyampingkan ego ketimbang tanggung jawab.


Ia sama tidak menyangkanya dengan Dirga. Memang tak perlu diutarakan, tapi punya kesan yang sama.


Awalnya dia memang nekat, tapi tak seburuk yang ia kira-pun untuk urusan kedekatan seperti kemarin-Nina tak berpikir jika itu pada akhirnya menjadi buruk. Justru ia merasa bersyukur bisa berada di dalam keluarga yang mau menyayanginya apa adanya, dan suami yang bertanggung jawab baik dalam segi lahir dan batin.


Sejauh ini ia belum banyak membicarakan bersama Dirga soal keuangan, visi-misi pernikahan yang akan mereka lakukan, maupun lainnya. Berhubung masih tinggal bersama Mama, banyak hal yang akhirnya dilakukan bersama-sama.


Nina memang pernah menginginkan untuk bisa tinggal sendiri dirumah pribadi bersama keluarga kecilnya, tapi untuk versi Dirga ia tak bisa melakukan itu. Ada Mama yang masih membutuhkan Dirga, walau mungkin sebetulnya Mama tak masalah jika mereka tinggal terpisah.


“Nin, aku belum bahas apapun soal kita. Soal keuangan, uang saku kamu, uang kebutuhan rumah tangga, karena kebanyakan Mama yang sudah menyiapkan. Walau begitu, aku sebetulnya sangat mampu untuk kebutuhan kita. Jadi, nanti aku akan siapkan uang saku untuk kamu ya. Katanya kamu kuliah dengan beasiswa? Jadi mungkin uang saku dan transport akan aku bantu tambahkan ya. Nggak perlu minta Abah lagi, pakai dana dari aku. Kirim rekening kamu ke aku, ya ...” terang Dirga kembali menatap istrinya yang memilih menatap jalan di depan mereka.


“Gampang Kak. Nina nggak terlalu banyak keluar rumah kok. Kalau sedang bimbingan saja biasanya. Sisanya Nina mungkin akan lebih banyak menghabiskan waktu sama Mama.”


Dirga mengangguk.


“Oke, nggak masalah. Lakukan yang kamu suka saja. Oh ya, sejujurnya aku sudah beli rumah nggak jauh dari komplek kita sekarang. Mama belum tahu, tapi aku mau kamu tahu duluan. Soal pindah, kita pikirkan nanti deh. Tapi kamu lihat dulu, ya?” Tawar Dirga menatapnya.


Nina balas menatap suaminya.


“Kak Dirga sudah beli rumah? Boleh, nanti Nina ikut lihat ya ...”


“Kalau bisa sekalian kamu yang isi perabotannya, ya. Soal Mama biar nanti aku yang bicarakan sama beliau. Walau Mama sendirian saat ini, tapi kita kan juga sudah punya keluarga sendiri. Ada baiknya kita mandiri dengan rumah sendiri, kan?” Terang Dirga.


Betul, Nina juga sempat berpikir begitu. Bahkan barusan dia memikirkannya walau selintas.


Dari jarak seratus meter, terlihat Mama dan Lila mendekat. Kedua orang itu mengajak Dirga dan Nina untuk berfoto.


“Ayo kalian! Jangan bersantai saja. Jembatannya kokoh, Mama sama Lila sudah berapa kali foto, nih? Bagus view nya, walau ada mitos tapi Mama nggak peduli.” Ajak Mama ketika tiba di depan keduanya.

__ADS_1


Refleks Dirga menggenggam tangan Nina ketika bersiap untuk bangun. Merasakan hal itu, Nina yang semula berjengit kaget, mulai mengatur perasaannya untuk lebih santai.


Mulai sekarang ia akan melepaskan semua perasaan. Memberikan akses Dirga untuk bisa memberikan rasa yang sama padanya soal suka, dan cinta.


__ADS_2