![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
“ … iya Bu. Nina minta maaf dan terima kasih sekali sama Bu Lilis karena sudah memperbolehkan Nina bekerja disini.”
Nina menahan air mata yang hendak jatuh ketika beberapa jam ini dia mengerjakan beberapa hal bersama beliau. Bu Lilis mengerti tentang niatannya untuk berhenti bekerja, bahkan Bu Lilis sudah meminta Nina untuk tidak perlu lagi bekerja kerumahnya mengingat perempuan itu mulai repot dengan urusan pernikahannya. Bukannya Bu Lilis marah, justru beliau sangat sedih karena Nina akan berhenti, yang artinya dia akan kembali berdua dengan Naira dirumah.
Bu Lilis mengangguk, tak ingin menangisi niatan Nina ini di depannya.
“Nggak apa-apa, Nin. Semoga kamu bahagia dengan kehidupan baru kamu nantinya, ya. Ibu doakan juga semoga skripsi kamu cepat selesai. Jangan terlalu banyak pikiran, nanti sakit. Dah … nggak perlu menangis ya, Nin. Kalau kamu mau main kesini, pintu ibu terbuka lebar untuk Nina.”
Nina yang pada akhirnya tak bisa membendung tangis, menumpahkan semua perasaan tak enaknya pada Bu Lilis. Berkat beliau Nina bisa membayar lebih untuk kostnya saat ini, dan berkat beliau juga Nina akhirnya menemukan jalan hidup selanjutnya dengan status pernikahan.
Nina kemudian pamit dari rumah Bu Lilis karena ia harus berangkat untuk bimbingan offline dikampusnya. Selama perjalanan Nina terus memikirkan tentang hari-harinya selama bekerja dirumah Bu Lilis.
Semoga ada orang lain yang menggantikannya untuk menjaga Naira lebih baik lagi.
-
Untuk yang kedua kalinya Nina dan Mama, serta Dirga, menghabiskan waktu untuk mengunjungi tempat fitting baju. Jujur, Nina merasa lelah dengan semua pernak-pernik ini. Ditambah segala hal terkait skripsinya yang ternyata makin menyusahkan saja.
Ini memang sudah keputusannya untuk mengambil pilihan menikah sebagai jalan hidup yang berikutnya. Walau begitu, Nina bersyukur karena ia mulai bisa merasakan bonding yang makin intens dengan Dirga. Sesekali membicarakan hal tentang ‘mereka berdua’, ketika bahasan soal baju pernikahan menjadi atensi semua orang.
Saat ini ia tengah berada di dalam bilik ganti bersama seseorang dari pihak butik yang membantunya. Dari luar, ia dengar Mama dan Dirga berdebat soal pakaian yang akan Dirga gunakan. Wajar jika laki-laki merasa tidak ambil pusing dengan bagaimana nantinya bentuk pakaian yang ia gunakan. Asal sopan dan senada, agaknya sudah cukup. Namun itu tak berlaku jika Dirga mendebatnya bersama Mama. Jika itu Nina, mungkin ia bisa menyerah dengan kemauan calon suaminya itu, namun lain dengan Mama, bisa-bisa terjadi perang dunia ketiga jika Dirga sampai memaksakan kehendaknya sendiri.
“Jangan, jangan … Aa' nggak mau pakai itu Ma.” Tolak Dirga. Telunjuknya mengarah pada salah satu manekin yang memajang pakaian khas sunda untuk pengantin laki-laki. Tak perlu membaca pikiran Mama, Dirga sudah tahu jika orang tua perempuannya itu menginginkan ia mencoba setelan tersebut.
“Kamu nggak mau pakai ini saat resepsi ‘kan? Ya sudah ketika akad saja.” Putus Mama santai.
Dirga mendesah berat. Dia masih menolak dengan paksa.
“Mama tahu nggak, itu pakai kain begitu, bagaimana mau jalan? Repot banget, loh!” Protes Dirga sekali lagi. Dia sudah menggeleng mati-matian untuk meminta Mama agar tidak memaksanya mengenakan setelan khas sunda yang sebetulnya tampak cocok ditubuh proporsionalnya.
Mama menatapnya nanar.
Dirga melirik sekitar dimana beberapa pegawai memperhatikan perdebatannya dengan sang Mama. Diantaranya tampak tengah menahan tawa ketika melihat tingkahnya yang seolah kekanakan.
“Ya trus? Memangnya kamu mau pakai baju bola supaya bisa lari sekalian? Jangan ngaco kamu, A’” Pungkas Mama seraya memaksa putranya untuk mencoba pakaian dimanekin tersebut.
__ADS_1
Dirga melipat tangannya di dada. Kenapa juga Mama harus menyuruhnya memakai baju adat dengan kain seperti itu? Mengganggu pergerakan saja!
“Oke, fine! Aa’ coba!” Pasrah Dirga pada akhirnya. Ia menyerah. Mau sampai kapan mendebat Mama, rasanya tak akan bisa selesai hingga negara api menyerang.
Setelah memilih menuruti Mama, akhirnya salah seorang pegawai pria disana membantunya mengganti pakaian. Dirga mulai menggunakan beskap, berlanjut pada kain jarik yang dililitkan mulai dari pinggang, hingga sepanjang kakinya.
Tak lama berselang, Nina keluar dari ruang ganti dengan baju kebaya khas sunda bermodel sukapura. Tubuhnya tak begitu kecil, cukup berbentuk dengan lekukan yang tampak pas.
Begitupun Dirga, laki-laki itu selesai dengan permasalahan kain yang dililit dipinggangnya. Benar, ia merasa agak sulit bergerak karena kain tersebut.
Keduanya berdiri sejajar setelah salah seorang pegawai hendak mengabadikan mereka.
“MasyaAllah … cantik banget calon menantu Mama! Mbak, minta tolong difoto dari berbagai sisi ya. Untuk koleksi pribadi.” Minta Mama pada salah seorang pegawai yang sudah siap mengabadikan mereka lewat kamera.
Reflek, Dirga menarik Nina dalam dekapannya untuk mendekat. Perempuan itu sedikit kaget dengan gerakan laki-laki disampingnya, tapi kemudian mencoba merilekskan tubuh ketika seruan hitung mulai diutarakan pegawai yang siap memfoto mereka.
“Siap, satu, dua, tiga … senyum Mas dan Mbaknya, ya!”
Mereka tersenyum tipis seraya menampakkan keserasian. Dirga tak banyak bertingkah karena ia sudah lelah meladeni kemarahan Mama. Inisiatifnya ternyata menimbulkan efek sesak mendadak dari Nina. Perempuan itu terlihat menahan napasnya sejenak setelah dekapan tiba-tiba membuat mereka semakin dekat.
“Kak … maaf, tangannya boleh diangkat?” Bisik Nina mencoba menyadarkan Dirga dari apa yang telah ia lakukan.
Mencerna bisikan Nina, laki-laki itu segera melepas ikatanya dipinggang Nina. Dirga berdeham sejenak, mencoba menetralkan perasaan gugup dan tidak enaknya setelah apa yang ia lakukan barusan.
“Dah dulu A’. Lanjut lagi nanti dipelaminan, ya.” Canda Mama seraya menyuruh seluruh pegawai disana untuk tak lagi memperhatikan putranya yang malu.
Dirga lagi-lagi berdeham, membuat Nina terkekeh pelan.
“Nggak ada yang lucu loh, Nin!” Protes Dirga ketika Nina menatapnya dengan senyum kecil.
Perempuan itu masih terkekeh pelan, menatap Dirga seraya berujar.
“Cocok kok, Kak. Jadi makin keren kelihatannya.” Ujarnya terkekeh pelan lantas kabur dari sana.
Dirga memandangi Nina yang pergi kearah Mama setelah menertawakannya.
__ADS_1
Dasar anak itu!
“… baik ibu, pelunasannya setelah jadi dan siap digunakan pengantin. Terima kasih sudah mempercayakan kepada kami.”
Setelah selesai dengan pembayaran, ketiganya keluar dari butik dengan senyum Mama yang sangat sumringah.
“Baju sudah, sekarang kita pulang saja langsung A'. Kalian belum me-list siapa saja yang akan diundang, kan?” Ujar Mama melirik Dirga yang hendak masuk kearah kemudi.
“Nanti Nina beri catatannya ya, Ma. Kebetulan sudah mencatat dan jumlahnya nggak banyak.”
“Ya sudah nggak apa-apa, nanti Mama minta catatannya ya Nin.”
“Baik, Ma.”
“Oh ya A’, berhubung waktunya kurang dari dua puluh hari lagi, Mama ada rencana untuk planning honeymoon. Bagaimana? Nina mau kemana kira-kira, Nin?” Tanya Mama seraya menatap Nina yang duduk disampingnya.
Nina sedikit tersentak ketika Mama menyebut kata ‘honeymoon’ dengan santai. Matanya bergerak-gerak tak nyaman.
Satu yang Nina lakukan.
Ia hanya menggeleng.
“Loh? Memangnya Nina nggak mau jalan-jalan berdua sama Aa’? Supaya lebih intim—”
“Mama! Nanti saja lah dibahasnya. Menikahnya saja belum, sudah bahas kesana-sana. Ini kita jadi jalan atau nggak?” Sela Dirga sebelum Mama berujar lebih mengerikan lagi.
Dirga bahkan tidak terbayang soal honeymoon ketika Mama mengatakan bahwa hari pernikahan mereka kurang dari dua puluh hari lagi.
“Marah terus kamu mah, A’! Ya sudah jalan, nanti Mama yang cari tempat honeymoon yang cocok untuk kalian. Kalau ke puncak bagaimana? Dingin-dingin, kalau berdua pasti hangat—”
“Mama!” Seru Nina dan Dirga bersamaan. Keduanya saling lirik, seolah memberikan protes yang sama.
Mama hanya terkekeh seraya memasang wajah pongah.
Dirga tak tahu lagi bagaimana mengurus Mamanya yang benar-benar ajaib ini!
__ADS_1