LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[32] Mencari Keberadaan Papa (1)


__ADS_3

Satu hari sebelum pernikahan.


Berbekal alasan-alasan yang ia buat, Mama mau tak mau memperbolehkannya keluar juga sejak pagi hari sebelum acara pernikahannya besok. Dirga menancap gas-nya setelah memasang ingatan dari Mama yang mewantinya untuk tidak pulang lewat sore hari-menurutnya masalah waktu bisa dipikirkan nanti, terpenting ia sudah mengantongi izin keluar. Dirga memang tak begitu memedulikan kemana perginya laki-laki berlabel ‘ayah’ itu sebelum ini, tapi hatinya tiba-tiba saja bergejolak dan menginginkan ia hadir walau bagaimanapun keadaannya. Berbekal informasi singkat dari salah seorang paman pihak papanya yang ia kenal, dirinya mencoba mencari laki-laki itu.


Mobil Dirga memasuki wilayah tol. Jalanan benar-benar ramai pada hari kamis ini. Masih masuk jam sibuk pukul delapan pagi, sehingga Dirga harus bersabar.


Semalam Rehan dan Saiful datang kerumahnya setelah acara pengajian. Dua laki-laki menyebalkan berstatus sahabatnya itu beralasan jika mereka sibuk, dan meminta maaf karena terlambat hadir. Alasan klasik para jomblo pekerja keras, walau Dirga memaklumi saja.


Berbincang hingga pagi, mereka bertiga baru tertidur ketika pukul dua pagi. Banyak yang Dirga diskusikan mengenai pernikahan. Sampai satu hal yang benar-benar Dirga lupakan, tapi tiba-tiba menjadi pikirannya hingga saat ini.


Mencari Papa.


Lebih dari lima tahun sejak terakhir kali Dirga berdebat dengan papanya karena beliau hendak memindahkan makam ke kompleks pemakaman keluarga  besarnya. Dirga menolak keinginan papanya memindahkan makam sang kakak karena sudah menjadi keputusan sejak awal bahwa almarhumah Farisa harus dimakamkan di pemakaman umum sebagai toleransi untuk ziarah bagi mereka-agar tak harus saling bertemu atas alasan trauma dan perasaan sakit dari Mama.


Sejak permintaan itu akhirnya ditolak melalui mediasi kekeluargaan, Dirga dan Mama tak pernah bertemu papa lagi. Kabar terakhir yang ia tahu,  beliau kembali ke kampung halamannya, tapi setelah menghubungi salah seorang kerabat papa, yang juga masih terhitung paman, katanya dua tahun lalu beliau diketahui tinggal disebuah perumahan yang masih ada di wilayah jabodetabek. Dulunya Papa seorang businessman yang sukses pada bidang perkebunan dan sawit, namun Dirga tak tahu apa pekerjaannya kini setelah perkebunan itu dijadikan sebagai harta gono-gini bagi Mama.


Dirga memasuki sebuah perumahan di wilayah jabodetabek. Mencari alamat berdasarkan keterangan pamannya, ia kemudian berhenti di depan sebuah rumah besar yang sebetulnya identik dengan papa dan pekerjaannya sebagai pembisnis. Tak aneh jika beliau tinggal disini.


Ditekannya bel dari luar pagar. Berharap papanya lah yang membuka pagar tersebut agar dirinya tak perlu lebih lama lagi mencari beliau-walau kemungkinannya kecil.


Tak berapa lama, seseorang membuka pagar.


“Cari siapa, Mas?” Tanya perempuan ber-jas hitam di depannya.


Dia tak berpenampilan seperti asisten rumah tangga, justru lebih terlihat seperti seorang sekretaris pribadi.


“Apa benar ini rumah Syahid Radjasa?” Dirga bertanya pada perempuanyang membuka pagar. Perempuan berpakaian rapih dengan setelan jas itu meneliti Dirga dari atas sampai bawah.


“Mas siapa ya?” Tanya perempuan itu menelisik. Jika memang ini rumah papa dan perempuan ini karyawannya, dia pasti mengenal Dirga.


“Saya Dirgantara Radjasa. Anak kedua Syahid Radjasa. Papa ada? ” Tanya Dirga lagi.


Perempuanitu menggeleng.


“Maaf. Tapi nggak ada yang namanya Syahid Radjasa disini. Mas mungkin salah tempat.”


“Saya dapat alamat ini dari kerabat beliau, Irvin Esa.” Terang Dirga lagi.


Perempuanitu mengangkat dagunya seolah bersikap angkuh.


“Mas ada perlu apa datang kesini? Kalau nggak ada yang penting, silahkan kembali.”


Dirga menggeleng.


“Nggak. Saya butuh bertemu dengan Syahid Radjasa. Ini rumahnya, kan? Tolong bantu saya bertemu Pak Syahid, saya putranya.”

__ADS_1


Perempuanitu menghempas napasnya kasar.


“Saya tegaskan sekali lagi, nggak ada yang namanya Syahid Radjasa disini. Ini rumah nyonya Sofia Sultan. Mas mungkin benar-benar salah tempat. Kalau begitu saya permisi.” Perempuanitu hendak kembali kedalam.


Tapi tangan Dirga menahannya.


“Sebentar.” Perempuanitu melirik Dirga.


“Kalau begitu saya mau bertemu nyonya Anda.”


“Mas sudah buat janji?”


Dirga menggeleng.


“Belum. Tapi biarkan saya bertemu nyonya Anda.”


Dirga tak langsung mendapat jawaban. Perempuan di depannya terlihat beralih sebentar seraya berbicara dengan seseorang melalui earphone khusus ditelinga kirinya.


“... namanya Dirgantara Radjasa. Dia mencari Syahid Radjasa. Iya, iya, baik.”


Perempuanitu menatap Dirga lagi.


“Silahkan masuk, Mas.”


“Terima kasih.”


Langkahnya hendak kembali menuju mobilnya yang terparkir diluar pagar.


“Maaf, parkir disini saja. Silahkan masuk, nyonya menunggu di dalam.”


Dirga mengangguk bingung.


“Oh ... oke.”


Dirinya kemudian mengekor perempuan itu dari belakang. Semoga ada informasi tentang papa hari ini.


*


“ ... Anda putra Syahid Radjasa?” Tanya seorang perempuan kisaran usia tiga puluhan di depannya ketika Dirga dipersilahkan untuk duduk.


“Saya kenal Syahid. Dia dulu rekan bisnis kedua orang tua saya. Benar ini rumahnya, namun itu dulu. Syahid sudah menghancurkan perusahaan keluarga saya dengan tangan liciknya. Hingga akhirnya saya berhasil merebut kembali apa yang seharusnya milik mendiang kedua orang tua saya, dan semua milik Syahid sekarang.”


Dirga berdiri dengan kaget mendengar penjelasan perempuan di depannya.


Lima tahun berlalu sejak ia bertemu papa untuk pertama dan terakhir setelah beliau bercerai dengan mamanya semasa ia kecil. Kala itu yang Dirga lihat, papanya masih menjadi orang yang terpandang, dan semuanya seketika berubah dalam masa itu?

__ADS_1


“Jika Anda memang berkata jujur, terlepas semua kesalahannya, Anda membuat papa saya benar-benar bangkrut dan kehilangan semua asetnya?!” Ujar Dirga berusaha menetralkan emosinya.


Dia tak boleh bersikap kasar di depan orang-orang yang ia tak kenal ini.


“Anda dan Syahid sama saja. Sama-sama pintar, namun naif. Laki-laki tua itu membuat bisnis orang tua saya hampir jatuh, jadk wajar jika dia tak mampu lagi menanggung masalahnya sendiri dan akhirnya menerima kerugian lalu bangkrut.” Terang perempuan berpakaian dengan potongam rendah tersebut.


Dirga menarik napasnya panjang.


“Anda sudah dengar penjelasan saya kan? Sekarang tolong duduk kembali dan bersikaplah sopan.” Ujar perempuanitu melipat kakinya di kursi kebesaran yang ia duduki.


“Baik, saya nggak butuh cerita Anda lagi. Saya hanya ingin tahu dimana Syahid Radjasa sekarang?” tanya Dirga berusaha tenang.


Perempuanitu tertawa meremehkan.


“Saya nggak tahu dia di mana. Lagipula saya nggak mau tahu. Satu yang saya yakini, dia pastinya sudah jadi gelandangan sekarang. Hidup luntang-lantung karena jatuh dari kekuasaannya.” Ujarnya pongah.


Dirga tak habis pikir. Bagaimana bisa seseorang berpengalaman dalam bidang bisnis, seketika jatuh dari kekuasaannya ditangan perempuanyang usianya mungkin tak lebih jauh dari dirinya?


“Terima kasih atas penjelasan Anda. Saya permisi.”


Dirga berjalan pelan hendak meninggalkan ruangan, tapi panggilan perempuanitu membuat dirinya berhenti bergerak dengan posisi membelakanginya.


“Anda anak yang berani. Jarang loh laki-laki  yang tahan masuk ke ruangan ini sampai lebih dari lima menit. Anda saya beri applause.” Perempuanitu  bertepuk tangan.


Dirga mengepalkan tangannya dibalik saku celana. Menahan amarah.


Langkah perempuanitu terdengar mendekat. Tiba-tiba jari-jari penuh kutek itu menyentuh leher bersihnya. Menghantarkan getaran aneh yang dibuat seolah merangsang.


Dirga merinding di tempatnya.


“Anda nggak mau coba lebih lama disini, Dirgantara Radjasa?” Tawar perempuan itu dengan suara yang dibuat sensual. Dirga menahan perasaan aneh di dalam dirinya, hingga peluh turun membasahi wajah.


Dengan cepat Dirga menahan tangannya yang mulai bergerak turun hendak menjelajahi kerahnya.


“Saya bukan laki-laki seperri itu. Papa saya mungkin bisa di kalahkan, tapi nggak untuk saya.”


Dirga menghempas tangan perempuanitu seraya berjalan keluar ruangan tanpa pikir panjang.


“Sialan tuh ******.” Dirga mengumpat sepanjang perjalanan.


Rencananya mencari papa hari ini gagal.


Namun, jika apa yang dikatakan perempuan tadi benar, kemungkinan ia akan lebih susah lagi mencari papa.


Kemana perginya laki-laki baya itu?

__ADS_1


__ADS_2