![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Mama tengah tertawa disela-sela pembicaraannya dengan seorang tamu pagi ini. Rencananya tamu tersebut akan menginap dirumah untuk membantu Mama mengurus beberapa hal terkait pernikahan. Sudah sepuluh hari sejak keduanya melakukan fitting baju yang kedua hari itu. Nina dan Dirga kembali pada kesibukan mereka sehari-hari, hingga tersisa Mama yang nyatanya lebih sibuk dari siapapun dirumah ini. Tamu tersebut adalah salah satu sepupu jauh Mama yang tinggal Bandung, sebagai wedding organizer yang juga mengurus vendor seserahan hari itu.
“… Iya Ver, bagus sih itu. Tapi saya minta yang nggak berlebihan ya, natural saja. Permintaan mantennya seperti itu.”
“Oke Teh, nanti Vera bantu untuk permintaan makeup natural. Memang ya, zaman sekarang pengantin sudah nggak mau pangling betul seperti dulu. Asal terlihat beda saja sama sehari-hari.”
“Nah, betul. Apalagi ini calonnya Dirga masih muda. Takutnya jadi kelihatan lebih tua kalau yang medok-medok.” Terang Mama seraya terkekeh.
Berbagai persiapan pernikahan sudah semakin matang, Mama sudah mengurus semuanya dengan bantuan beberapa kerabat dan saudara. Sementara orang tua Nina menyerahkan sebagian besar hal kepada Mama sesuai permintaan beliau jika diperkenankan.
Awalnya Abah Nina sempat berkeinginan menjual sawah di kampung untuk membantu biaya pernikahan. Nina juga merasa sangsi jika keluarganya tidak membantu, tapi Mama tidak merasa keberatan, toh hanya Dirga putranya seorang, sehingga Mama mengaku sudah menyiapkan sedemikian dana dan meminta keluarga Nina agar tidak perlu terlalu memikirkan soal biaya. Nina awalnya masih merasa tak enak, tapi kemudian mau tak mau setuju dan memberikan wewenang pada Mama untuk mengurusnya. Karena itulah ia selalu merasa tak enak hati jika terlalu banyak mau, walau Mama tak mempermasalahkannya. Bahkan kerap memaksa Nina untuk memilih atau mengatakan tidak apa-apa jika ia tidak setuju. Sebetulnya sawah milik Abah pun hanya berbentuk lahan kosong saja, karena beliau keterbatasan modal untuk membesarkannya lagi, pun kebun stroberi yang sebetulnya hanya menjadi konsumsi pribadi.
Abah memang nggak cerita soal itu pada Mama, tapi Mama mengerti sendiri. Apalagi pernikahan ini kesannya tiba-tiba, dan Mama sangat paham soal itu shingga beliau tak ingin membebankan keluarga mempelai wanita.
Ketika Mama masih asyik membicarakan soal persiapan pernikahan, Dirga tampak turun dari kamarnya, hendak melewati Mama di depan.
“Mau kemana, A'?” Tanya Mama.
Dirga menatap Mama seraya menegur Bi Vera—sapaanya—dengan sopan.
“Mau kerumah Wahda, Ma. Dapat info kalau sudah mau melahirkan, padahal belum waktunya. Kayaknya masuk prematur sih. Gibrannya sedang nggak dirumah. Jadi Rehan sudah disana menemani.” Terangnya.
“YaAllah … Kok bisa? Kayaknya terjadi sesuatu mangkanya jadi begitu. Ya sudah, salam sama Wahda ya. Nanti Mama menyusul lihat kesana kalau urusan sudah selesai.”
“Oke Ma. Bi Vera, Dirga duluan ya.” Pamit Dirga sopan seraya berjalan keluar rumah.
“Hati-hati, Dir.” Balas Bi Vera.
Dirga mengangguk.
“Iya, Bi.” Jawab Dirga sambil tersenyum.
Lalu laki-laki itu menghilang dari radar kedua orang tua yang tengah asyik berbincang itu.
“Dirga makin ganteng ya, Teh. Nggak menyangka sudah mau menikah saja. Padahal kecilnya dulu saya tahu.” Bi Vera tertawa mengingat Dirga kecil.
“Namanya laki-laki, Ver. Makannya juga nggak kira-kira. Mangkanya cepat gede.” Kelakar Mama.
Bi Vera mengangguk, “Iya ya. Sudah mau menikah lagi, nggak kerasa.” Ujar Bi Vera membuat keduanya tertawa bersama.
Mama juga tidak menyangka. Bahkan orang lain sadar dengan perbedaan diri Dirga yang rasanya cepat sekali.
Bahkan sebentar lagi dia sudah mau jadi suami.
Ah … Mama jadi terharu.
__ADS_1
...-
...
Suasana rumah sakit memang tidak seperti tempat umum lainnya. Banyak hal yang terjadi ditempat seperti ini; baik itu kejadian menyenangkan maupun kejadian membahagiakan. Salah satu yang membuat Dirga terburu mendatangi tempat ini karena Wahda dilarikan kerumah sakit sebab mengeluh kontraksi, padahal kehamilannya belum memasuki waktu yang pas, walau sudah matang, namun kehamilannya masih dibawah sembilan bulan, atau kurang dari tiga puluh enam minggu.
“Eh, Han, lo sendiri? Bagaimana kabar Wahda?”
Dirga tiba dirumah sakit tak lama setelah Rehan mengabarinya. Rehan sudah berada disana sejak tadi—bahkan ia seolah menggantikan posisi Gibran yang ternyata meminta bantuannya untuk menemani Wahda pada kondisi ini.
“Masih belum ada kabar karena gue disuruh tunggu disini. Pihak rumah sakit maunya hanya keluarga yang bisa diberikan info. Bu RW dan Pak RW masih dalam perjalanan. Mereka sedang ada undangan pernikahan, tapi untung ada gue sama Saiful yang lagi main. Kalo nggak, habis deh yang cantik di geng kita.” Kelakar Rehan dalam situasi menegangkan seperti ini.
Dirga terkekeh nyeri mendengar candaan sahabat gilanya itu.
“Yang ada dipikiran lo hanya mati saja, Han. Orang gila dasar!” Ejek Dirga membuat Rehan mencebik.
Dirga tertawa tanpa dosa.
“Si bego, ketawa-tawa dirumah sakit. Diamuk suster baru tahu rasa, antum!” Ujar Rehan dengan pelan, menyadari apa yang Dirga lakukan.
“Siap salah …” Ujar Dirga menurunkan intonasi bicaranya.
“Oh iya, katanya lo sama si Ipul? Mana tuh orang?” Tanya Dirga lagi.
“Dia balik, ada jadawal flight. Istrinya juga minta diantar kerumah orang tuanya, biasa lah orang sibuk. Hanya gue yang nggak sedang dikejar apapun.” Ujar Rehan santai.
Tak berapa lama, riuh-riuh terdengar mendekat. Suara Pak RW dan Bu RW yang menyerukan nama mereka, membuat keduanya menoleh.
“Rehan?! Apa kata dokter, Nak? Maaf ya jadi merepotkan kamu.” Bu RW yang lebih dulu membuka suara langsung menyasar Rehan dengan pertanyaan. Pak RW yang menyusul dibelakangnya menegur Dirga seraya menengok dari luar untuk mencoba melihat putrinya, walau kaca tersebut hanya satu arah saja.
“Nggak tahu bagaimana, tadi kayaknya Wahda tiba-tiba sedang nonton film, ada adegan lucu, dia tertawa biasa saja sih, tapi mendadak mengeluh sakit perut sampai rasanya kontraksi. Kebetulan sedang main sama Saiful, saya langsung bawa Wahda kesini. Tadi juga sudah menghubungi Mas Gibran, tapi beliau masih belum mengangkat teleponnya, sepertinya harus silent karena sedang di tempat seminar.” Terang Rehan menjelaskan kronologi yang terjadi pada Wahda.
Bu RW tampak mengusap wajahnya.
“Ada-ada saja anak itu, aduh ...” Ujar Bu RW sambil berdecak kesal berkali-kali. Walau raut khawatir tak berubah dari wajahnya, tapi bibirnya senantiasa berkata kesal.
Dirga disampingnya mengelus bahu Bu RW lembut. Bu RW yang kerap mereka sapa ibu—sesuai panggilan Wahda—bicaranya sangat jawa sekali. Logatnya kental sehingga terdengar membingungkan, pun sesekali berkeluh kesah dengan bahasa jawa yang membuat Rehan dan Dirga hanya bisa diam sedikit bingung.
“Tapi Wahda bilang sih memang sejak malam sudah mulai terasa kontraksi satu, dua kali, walau nggak intens. Mungkin sudah waktunya juga, Bu.” Tambah Rehan lagi.
“Iya, Han. Terima kasih ya sudah mengantar, Dirga juga repot-repot kesini padahal sedang ada urusan juga.” Ujar Bu RW dengan senyum.
Dirga menggeleng sopan.
“Nggak apa-apa, Bu. Kebetulan bisa ikut hadir menemani. Kita doakan yang terbaik untuk Wahda.”
__ADS_1
“Amin …” Ujar seluruhnya mengucap bersamaan.
Tak berapa lama dokter keluar dari ruangan, Dirga dan Rehan hanya bisa menunggu Pak RW yang sedang berbincang dengan dokter didalam. Hingga beliau kembali kearah mereka, keputusannya adalah Wahda harus melahirkan hari ini juga karena ada beberapa masalah pada kandungannya dan dikhawatirkan dapat mempengaruhi janin.
“Gibran ada kabar, Han?” Tanya Pak RW setelah beberapa jam mereka menunggu disana.
Rehan mengangguk.
“Sudah nih, Pa. Rehan mengabari sejak Wahda masuk, kurang lebih sudah empat jam-an lah. Mas Gibran bilang sih dia mau ambil flight tercepat sekarang. Mungkin masih diperjalanan.”
“Bagus kalau begitu.”
Rehan mengangguk.
Seorang suster keluar dari ruangan dengan raut bahagia menyambut beberapa orang yang menunggu dengan cemas di luar.
“Selamat Pak, Bu, bayinya laki-laki. Sehat, hanya saja saat ini kondisi bayi lebih rentan karena kelahiran prematur. Untuk sementara belum bisa dijenguk, kita tunggu setelah observasi ya.” Semua orang disana berucap syukur, walau ada perasaan sedih dan kecewa karena tidak bisa langsung menemui si bayi.
“Kalau masuk untuk lihat kondisi ibunya, apa boleh?” Tanya Pak RW.
Suster itu mengangguk.
“Boleh, Pak. Tapi hanya satu orang saja, ya—oh apa salah satu Mas ini suaminya?” Tanya Suster itu memperhatikan Dirga dan Rehan.
“Bukan, Sus. Kami temannya.” Ujar Rehan sambil menggerakkan tangannya tanda menolak di depan dada. Dirga menunjuk Pak RW disamping Rehan. “Ya sudah Papa saja yang masuk—"
“Saya suaminya, Sus!”
Suara laki-laki mengalihkan atensi mereka setelah pembicaraan singkat soal siapa yang akan masuk melihat Wahda.
Gibran disana dengan raut bahagia sekaligus lelah.
“Dokter Gibran?” Tanya Suster tersebut terlihat bingung.
Gibran berdiri di depan suster itu.
“Jadi ini istri dokter Gibran? Wah … Selamat ya, Dok. Silahkan masuk.” Melirik keluarganya sebentar, Gibran lantas memasuki ruangan.
Rehan dan Dirga memandangi laki-laki tampan itu tanpa berkedip.
“Superhero banget si Gibran.” Bisik Rehan pada Dirga.
“Persis superman yang datang tiba-tiba disaat genting.” Kelakar Dirga membalas bisikan Rehan.
Diam-diam dia membayangkan kondisi ini jika itu dirinya yang berada dalam posisi Gibran.
__ADS_1
Apa Dirga akan sekeren Gibran ketika akan melihat istrinya setelah melahirkan anak mereka?
Aduh Dir, kejauhan berpikir, lo! Ujarnya dalam hati seraya menggeleng pelan.