![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Dirga buru-buru keluar kamar meninggalkan Nina yang tergeletak diatas ranjang tanpa bergerak.
Apa yang sudah Nina lakukan? Pikir Dirga beteriak ricuh.
Di dalam kamar Nina merenungi kejadian barusan seraya menatap langit-langit. Dirinya tidak memiliki maksud apapun atau justru berniat menggoda sang suami dalam keadaan seperti itu.
Untuk apa menggoda? Ia tahu Dirga sedang dalam mode menghindar darinya-atas alasan yang juga tak ia pahami-Perempuan itu hanya ingin mengambil bulu Ucup yang menempel diatas kepala suaminya agar tidak terhirup atau bahkan menempel di seprai. Awalnya Nina tak sadar, tapi ketika tak sengaja melirik ia menemukan bulu itu disana.
Bulu petaka itu!
Dia tak tahu harus memasang wajah seperti apa di depan Dirga setelah kejadian tak diinginkan itu!
Sementara Dirga yang keluar kamar, berjalan cepat sambil mengatur nafasnya. Sial, apa yang terjadi tadi hampir membuatnya gila! Nina bukan seperti perwujudan dalam mimpinya. Justru seperti sebuah tawaran menggoda dari perempuan yang seharusnya ia bisa miliki seutuhnya-walau mau, tapi Dirga tak yakin kapan waktu yang tepat untuk itu.
Ah, benar-benar. Seketika kepalanya pusing.
Dirinya butuh sesuatu yang dingin!
“Kamu ngapain?”
Entah mengapa suara Mama selalu ada dimanapun dirinya tengah dalam keadaan tak baik. Menengok sebentar, perempuan baya itu berjalan mendekat kearahnya.
“Kayaknya Mama tadi dengar sedikit ribut-ribut diatas. Kalian ngapain? Oh? Atau Mama nggak perlu tanya itu ya? Nina sudah kuat memangnya?” Tanya Mama beruntun.
Dirga mengernyit bingung.
Apa maksud Mama, sih?
Ah ... itu?
Tuh, kan! Mama ikut salah paham juga!
“Mama ... Nggak ada apa-apa! Siapa yang buat keributan? Kayaknya suara televisi di kamar terlalu kencang.” Kilah Dirga seraya menghempas napasnya berat.
“Oh ... Mama kira. Tapi kalau memang betul, nggak apa-apa sih, A’ wajar saja masih pengantin baru. Apa mau Mama buat kamar kamu kedap suara, ya? Nanti Mama cari orang yang bisa renov kamar-”
Dirga menutup matanya. Tak mengerti dengan pemahaman Mama yang sepihak seperti ini.
“Nggak, Ma. Nggak perlu. Kita nggak melakukan apapun, kok. Betul hanya suara televisi tadi, nonton film ada ribut-ributnya, makasih Ma.” Terangnya sekali lagi.
Dirga menerima segelas air yang Mama sodorkan kedepannya. Dengan cepat meneguknya hingga tandas. Anehnya, mengapa ia kabur dari perempuan itu hanya karena kesalahpahaman? Toh sebelum ini dia yang memulai ‘langkah’ lebih dulu, ketimbang Nina. Walau akhirnya harus mengerti kondisi kesiapan istrinya malam itu.
Sudah berapa hari sejak hari itu? Empat hari? Lima hari?
Mereka berbagi ranjang dan tak ada yang terjadi selama ini. Jiwa pria dewasanya memang meronta, pun ditambah mimpi konyol itu yang pada akhirnya menghilangkan minatnya untuk melakukan hal lanjut bersama Nina.
Ah ... Dirga merasa tidak karuan.
Perasaannya aneh ...
“Libur kamu berapa hari lagi?” Tanya Mama.
“Senin sudah mulai siap-siap lah, Ma. Selasa atau rabu berangkat.”
Mama lalu memposisikan tangannya di dagu.
“Kalau begitu, liburan kamu masih ada dua hari kurang sama besok lah, ya ... Kita pergi saja, bagaimana? Ajak orang rumah. Kita liburan terakhir sebelum kembali pada kesibukan seperti biasa.” Cetus Mama melontarkan ide tiba-tiba akibat liburan tak berarti alih-alih honeymoon yang nyatanya tak terjadi.
“Ya sudah nanti Aa' cari tempat yang enak dan Granny-able ya, Ma.” Ujarnya asal. Sedikit tercetus ide untuk meledek Mama yang tampak serius di depannya.
__ADS_1
“Kamu bilang Mama sudah nenek-nenek? Oke, boleh! Asal ingat, berikan Mama cucu segera, A’!” Perintahnya seolah tak bisa untuk ditolak. Mama mengangkat bantal sofa di depannya.
“Eh ... nggak deh, bercanda Ma! Ya kalau itu sih nanti, tunggu saja waktunya. Aa’ perlu lebih banyak waktu sama Nina.” Terangnya seraya berdiri dari posisi.
Mama menatapnya bertanya.
“Mau kemana?”
“Mau mengabulkan permintaan Mama, lah. Makasih minumnya, Ma. Aa’ kedalam dulu.” Ujarnya kemudian beranjak dari sana.
Tiba-tiba berujar seperti itu pada Mama bukan tanpa alasan, tapi Dirga mulai memikirkan untuk selesai dengan masalah parno dan mimpi sialan yang mengganggu waktu tenangnya sejak kemarin.
Apa mimpi itu adalah pertanda bahwa ia sebetulnya butuh Nina untuk lebih dekat dengannya?
Tak bisa munafik, itu keinginan semua orang yang telah menjadi suami. Kecuali jika itu hanya menikah kontrak. Sedangkan mereka, pernikahan ini bukan main-main, dan Dirga tak ingin ada pengecualian pada tanggung jawab memberikan nafkah.
Ya ... Mungkin ia harus hapus memori mimpi malam itu, beralih pada bahasan tertunda soal kebersamaan intim dengan istrinya.
...-
...
Nina mengemas pakaian yang baru ia angkat dari drying rack untuk dirinya masukkan kedalam lemari sebelum di setrika.
Setelah kejadian salah paham tadi Nina tak tahu harus melakukan apa, atau bahkan berkata apa pada suaminya nanti. Melihat seluruh cucian disana, mendadak ia mendesah lelah.
“Dilipat saja dulu, baru nanti di setrika deh.” Monolognya.
Sebetuknya banyak yang membuat Nina bingung seharian ini-bahkan sejak kemarin.
Mulai sikap Dirga yang seolah menghindarinya, ia yang tiba-tiba terkesan awkward dengan skinship mereka yang tak sengaja tadi-padahal sebelum ini suaminya lah yang membuat langkah lebih dulu untuk lebih serius, tentunya dengan keintiman. Nina tak yakin akan apa yang kini ia rasakan, tapi rasanya tak nyaman sebab seolah diacuhkan, walau Dirga selalu ada dalam radarnya. Kejadian tadi membuatnya tak ingin munafik dengan menolak, sebaliknya, ia merasa sedikit kecewa dengan reaksi Dirga-bukan seperti sebelum-sebelumnya. Mereka memang tak merencanakan adegan Dirga’s on top tadi, tapi Nina tak menyangka jika laki-laki yang mendorongnya menjauh itu, benar-benar melakukannya. Ini memang bukan soal cinta, walau jika boleh mengaku, Nina sudah menyukai Dirga kok.
Well ... ini memang salahnya dengan menolak suaminya malam itu. Nina hanya ingin Dirga mengerti bahwa ia belum siap, namun anehnya perih itu terasa ketika ia pikir kejadian selanjutnya dari adegan tadi adalah seperti apa yang mendadak ia pikirkan.
Ah ... katakan otak Nina sudah kotor! Persetan, Dirga suaminya, dan malam itu Nina hanya belum siap.
Walau ... walau sekarang dia juga belum yakin sih-tidak! Tapi dia mau meyakini ini!
Dia harus bereaksi apa ya jika nanti suaminya itu kembali ke kamar? Apa Nina harus meminta maaf atas kesalahan itu?
Atau justru menggodanya?
Sepertinya Dirga tampak panik tadi. Entah apa ada hubungannya dengan yang terjadi pada laki-laki itu ketika ia tiba-tiba saja berteriak ketika bangun tidur. Asumsi Nina mengatakan bahwa Dirga pasti mimpi buruk.
Tanpa diketuk, tahu-tahu langkah seseorang terdengar memasuki kamar yang tidak perlu di tebak lagi siapa manusia itu. Dirga duduk dengan tenang diatas ranjang sedang Nina masih sibuk dengan pakaian yang harus dilipat.
“Nin ...” Panggil laki-laki itu dari posisinya.
Nina ada dalam jarak kurang dari dua meter dari Dirga duduk. Well, karena telinganya baik-baik saja, maka ia dapat mencerna panggilan Dirga barusan.
“Kenapa, Kak?” Tegurnya.
“Aku ... aku minta maaf soal tadi. Aku tahu ini salah paham, seharusnya aku pun nggak mendorong kamu tadi. Aku kasar betul, ya? Maaf dan terima kasih karena sudah menghalau bulu Ucup dirambutku.” Katanya terdengar penyesalan walau tak menatap Nina langsung.
“Iya, nggak apa-apa, Kak. Maaf ya tadi mengagetkan karena Nina tiba-tiba menyentuh kepala Kak Dirga.” Balasnya.
“It’s okay. Oh ya, kamu sudah sehat?” Tanyanya lagi.
“Sudah kok, Kak. Nina sudah merasa benar-benar fit, nggak ada keluhan apapun lagi.” Responnya cepat.
__ADS_1
Seolah tak pernah ada hal yang disebut menghindari, atau acuh tak acuh diantara keduanya sejak pembicaraan mereka beberapa detik barusan.
Dirga tak bisa menutup kenyataan bahwa kali ini dia benar-benar mengubah sikapnya seratus delapan puluh derajat dan melupakan apa yang sudah terjadi bermenit-menit lalu. Perkara bulu Ucup dirambutnya, mimpi hari itu, bahkan sebersit keinginan untuk hal itu.
“Alhamdulillah kalau begitu. Tadi aku bicara sama Mama. Beliau mau aja kita jalan-jalan. Sudah bisa?”
Nina memutar tubuhnya menatap sang suami yang duduk diatar ranjang, menghadap laki-laki itu.
Dirga memasang ekspresinya seperti biasa seolah tak pernah terjadi apapun.
“Kemana?” Tanya Nina.
“Kamu kira-kira mau kemana?” Ujar Dirga lagi kembali mengeluarkan kata tanya.
Nina tertawa sejenak sambil kembali melipat cucian.
“Bertanya duluan tapi jawabnya dengan tanya juga. Nina terserah saja sih.”
“Mama yang ajak sebetulnya, tapi nggak begitu paham mau kemana, mangkanya aku tanya kamu. Nggak tahu pasti dimana tempat yang bagus dan granny-able.” Ujar Dirga terlihat tersenyum memandangi istrinya yang duduk dibawah.
Seperti ada rasa hangat yang sampai ke hati Nina melihat Dirga tersenyum kearahnya.
“Ya sudah dicari saja baiknya kemana, Kak. Nina nggak begitu paham soal jalan-jalan. Selain nggak tahu, Nina juga nggak suka jalan-jalan sebetulnya.” Jawab Nina dengan posisi yang masih sama memandangi Dirga dari bawah ranjang.
Laki-laki itu melipat kakinya diatas ranjang. Dduk dengan bersila.
“Nggak yakin, tapi biasanya aku pribadi pun kalau jalan ya ... hanya sebatas ke resto-resto sih. Makan sama anak-anak.”
“Ya ... trus, kamu mau ajak Mama makan saja, Kak?” Tanya Nina lagi.
“Nggak pasti. Ide dari Mama hanya soal menghabiskan sisa liburan kita, Nin.” Tambah Dirga
“Kita mau di dalam kota atau keluar kota?” Tanya Nina lagi.
“Luar kota kemana ya?” Tanya Dirga retorika. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Kak Dirga tuh! Aku juga nggak tahu loh, Kak mau kemana.” Nina terkekeh.
“Ah ... kesal aku! Nggak ada bayangan, Nin.” Balasnya ikut tertawa bersama sang istri. Dirga lalu turun dari ranjang, memposisikan tubuhnya tepat di depan Nina walau berjarak.
“Ya sudah nggak perlu dibayangkan dulu.”
“Tapi, Nin ...”
“Kenapa?” Tanya Nina lagi-lagi. Kini ia benar-benar tak menatap Dirga setelah sadar suaminya mengambil posisi berhadapan di depannya.
“Ada satu hal yang aku bayangkan sejak tadi. Kayaknya karena ini juga aku nggak bisa membayangkan untuk jalan-jalan kemana ...” Lirih Dirga mendadak.
Nina berhenti melipat pakaiannya setelah laki-laki itu meraih tangannya menjadi satu. Beralih memberikan sorot penuh arti.
“Aku membayangkan kamu, Nin. Bagaimana kalau malam ini ...”
"Ni-Nina nggak apa-apa, Kak. Silahkan ..."
Matanya perlahan menutup. Seluruh hal di depannya mendadak gelap. Gerakan cekatan itu senantiasa menutup kegiatannya melipat pakaian tanpa aba-aba.
Anggaplah Nina membayar penyesalannya yang tadi, pun bagi Dirga yang tak ingin lagi dihantui soal mimpi buruk sialannya hari itu.
Dia ingin melupakannya segera, menikmati kebersamaan dengan Nina seutuhnya.
__ADS_1
Menjadi satu seraya melupakan memori lalu.