![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
“…Nina Fakhira binti Ahmad Bahri dengan mas kawin tersebut tunai.”
“Sah …”
Layar LED didepannya menampilkan kondisi ruangan ballroom yang ramai akan tamu. Sementara Dirga serta abahnya sebagai pusat acara akad. Nina diruangan lain mengucap syukur setelah kata sah terdengar dari pengeras suara. Suasanya hatinya tak bisa terbaca saat ini. Rasanya campur aduk sekaligus haru, karena statusnya telah berubah menjadi seorang istri setelah janji itu diucapkan.
Nina dengan wajah sedikit pucat dan Solehah yang terus mengucap kata semangat untuk kakaknya ditemani Dela, membuat Nina sedikit memiliki tenaga untuk bisa menetralkan perasaan gugup sekaligus takut. Ini sebuah pengalaman hidup yang tak pernah Nina sangka akan sedalam ini.
Tenang, semuanya lancar, kamu sudah jadi istri, Nin. Ujar pikirannya mengambil alih keraguan Nina.
“Teteh! Selamat! Sudah sah, Teh.” Solehah berseru heboh di ruangan, menyerukan kebahagiaan yang meliputi semua orang di luar sana.
Disampingnya, Dela, tak kalah hebohnya dari Solehah. Setelah mendengar apa yang dikatakan MC, kedua perempuan remaja itu langsung izin undur diri memberikan akses lebih untuk Dirga menemui Nina.
“Kak, kita keluar duluan ya. Sebentar lagi A’ Dirga masuk.” Itu Dela yang meminta izin undur diri. Nina mengangguk mengucap terima kasih dengan senyum kecil. Dela keluar ruangan dengan Solehah yang mengekor dibelakang.
Tersisalah Nina sendirian di ruangan.
Dengan gemetar, dirinya melirik telapak tangannya yang basah. Tak berapa lama suara ketukan pintu membuat Nina mengalihkan pandangannya pada pintu di depan nya. Seketika Nina bingung apa reaksi yang seharusnya ia munculkan. Itu sudah pasti Dirga.
“Assalamualaikum.” Dirga memberi salam disusul kernyitan pintu dan riuh beberapa orang yang tampaknya mengantar kedatangan laki-laki itu ke kamarnya.
Nina menyerah dengan ketegangannya. Bagaimana pun ini hal yang harus ia hadapi. Dirga muncul dari balik pintu dengan pandangan kikuk. Nina yang duduk disofa tak jauh dari pintu masuk agaknya tak berani menoleh duluan. Dia terlalu malu dan … akh! Campur aduk!
“Nina …” Suara Dirga menyebut namanya ketika mata mereka bersitatap untuk pertama kalinya setelah merubah status. Nina seolah tak menyadari bahwa Dirga tak datang sendiri, ada beberapa kameramen yang akan mengabadikan momen pertemuan pertama mereka, beserta keluarga dan tim WO yang menemani kedatangannya. Laki-laki itu mengulurkan tangannya, memberikan akses untuk Nina menyambar punggung tangannya yang kini berstatus suami itu. Dikecupnya punggung tangan kekar Dirga, memberikan tanda hormat pertama sebagai seorang istri.
Dirga selanjutnya menyentuh kepala Nina yang terbalut hijab rapi seraya membacakan doa yang sedikit-sedikit telah ia pelajari selama mempersiapkan pernikahan.
Dirga selesai dengan doanya, lalu dengan tenang memperhatikan Nina mengangkat kepalanya. Mereka berdua sempat berpandangan sebentar sebelum akhirnya kembali menunduk gugup.
“Sebentar ya Mas Dirga, Mbak Nina, kami ambil foto dulu.” Pinta salah seorang kameramen seraya mengarahkan posisi berdiri mereka.
Setelah selesai, mereka berdua keluar dengan tangan Nina mengapit pada Dirga. Suara kembali MC menggema, menyerukan kedatangan mereka yang telah ditunggu banyak pasang mata hadirin. Keduanya duduk di kursi akad, lantas menyelesaikan semua berkas yang perlu diselesaikan.
Setelahnya berlangsung proses pasang cincin.
Nina terlihat cantik dengan hijab yang dibuat sedemikian rupa agar cocok dengan pakaian adat sunda yang ia gunakan. Satu hari sebelum pernikahan, niatnya yang telah lama terucap akhirnya ingin segera ia realisasikan. Keinginan untuk bisa berhijab secara konsisten telah lama ada, namun Nina masih ragu untuk meyakinkan dirinya. Kini, setelah berbincang bersama Emak, dia memutuskan untuk mengenakan kain penutup kepala itu. Hal itu pula yang membuat semua orang kaget dengan perubahannya. Nina memang belum mendeklarasikan dirinya dengan mengenakan hijab, namun hari ini dia memutuskan akan mengenakan hijab dan belajar untuk bisa konsisten pada penggunaannya. Prosesi berlanjut dengan sungkem pada orang tua dan keluarga yang dituakan.
Mama menangis dipelukan Dirga dengan tersedu. Tak ada yang lebih diinginkan orang tua selain melihat kebahagiaan dan keberhasilan anaknya.
__ADS_1
Begitu pun Nina ketika dirinya berpelukan dengan kedua orang tuanya. Emak tak kuasa menahan tangis, begitupun Abah. Melepas putri pertama mereka untuk hidup dan tinggal dengan orang lain bukan suatu hal yang mudah. Walau Nina terbiasa hidup mandiri sejak berkuliah, tapi bayangan dapat lebih banyak tinggal bersama kedua orang tuanya selalu ada, berbeda dengan kondisinya setelah menikah. Nina pasti akan ikut kemanapun suaminya pergi.
Selesai dengan proses tersebut, keluarga besar dipersilahkan menikmati hidangan. Mereka memang menikah dengan pakaian adat sunda, tapi Dirga menolak dengan tegas untuk praktik adat lainnya. Bukannya tak suka, hanya saja dirinya merasa tidak sanggup kalau harus menyelesaikan semuanya. Mama menuruti permintaan Dirga kali ini.
Lagipula waktu resepsi tak panjang.
“Kamu sudah sarapan, Nin?” Tanya Mama ketika duduk disamping Nina.
Seluruh keluarga besar serta keluarga inti menikmati sarapan dan kudapan dimasing-masing tempat yang sudah disediakan. Duduk dikursi dengan meja melingkar pada pojok VIP.
“Sudah, Ma, tadi bareng sama Dela dan Solehah.” Nina tersenyum.
“Makan saja lagi nggak apa-apa, kok. Apa Nina takut kebayanya jadi sempit?” Kelakar Mama yang dibalas tawa rendah Nina.
“Nggak lah Ma, memang sudah kenyang.”
“Ya sudah kalau begitu. Aa’ juga mana lagi? Tadi katanya ke toilet sebentar. Sudah menghilang saja itu anak.”
Nina melirik Mama disampingnya. Sementara kedua orang tuanya masih asyik bercengrkrama dengan beberapa kerabat dimeja sebelah.
Dia tak berpikir kemana perginya Dirga selain memang ke toilet. Nina tak mau terlalu khawatir berlebihan.
Selesai dengan makan-makan bersama, MC yang sudah siap didepan panggung menginformasikan bahwa kedua mempelai akan berganti pakaian, dilanjut resepsi dan bersalaman dengan para kerabat.
“Mbak Nina, ini Mas Dirga-nya kemana, ya? Dua puluh menit lagi kita sudah mau naik ke panggung.”
Salah seorang tim WO menanyakan keberadaan Dirga kepadanya. Nina tak tahu kemana rimbanya sang suami. Memang aneh jika Dirga hanya ke toilet, dan memakan waktu selama ini.
“Tadi sih ke toilet, Mbak. Kayaknya sebentar lagi—”
“Maaf, saya telat. Tadi ketemu sebentar dengan teman di depan.”
Dirga tahu-tahu muncul dihadapan Nina dengan peci yang sudah terlepas serta beskap yang agak berantakan. Nafasnya agak memburu, sepertinya dia memang terburu datang kesini.
“Oh nggak apa-apa, Mas. Kalau begitu, segera berganti pakaian untuk resepsi ya.”
Dirga melirik Nina yang duduk diatas kursi di depan cermin. Perempuan itu tengah ditouch up untuk makeupnya.
Selepas berganti pakaian, keduanya kembali berjalan beriringan menuju panggung resepsi. Suara MC kembali terdengar ketika iring-iringan pengantin dan keluarga memasuki area ballroom dengan nyanyian jazz dari salah satu penyanyi yang disewakan hari ini.
__ADS_1
Satu persatu tamu dari keluarga dan kerabat yang datang memberi selamat pada keduanya, lalu berlanjut dengan foto.
Tak hanya keluarga dan kerabat dekat, para kolega Mama yang sebenarnya tidak Dirga atau Nina kenal sudah mulai datang dan memberi selamat. Beberapa rombongan yang disebutkan MC juga turut menjadi perhatian Nina dan Dirga.
Apalagi ketika rombongan teman kerja Dirga muncul di depan mereka.
“Mas Dirga! Ih … Nggak pernah ada info mau merit, loh? Ndak tahunya merit juga. Selamat, ya …” salah satu staff dikantornya tampak heboh memberi selamat.
Itu Bu Gheisa.
Dirga terkekeh seraya membalas ucapan tersebut.
“Supaya surprise, Bu. Terima kasih sudah datang … Repot-repot bumil yang satu ini.” Ujar Dirga sopan, seraya bersalaman juga dengan suami perempuan berbadan dua tersebut.
“Selamat ya Mas.” Ujar suami Bu Geisha.
Antrian berlanjut dengan beberapa teman kerjanya yang lain.
“Yah … lo sudah merit, sisa gue yang jomblo dong, Dir? Doakan menyusul, ya …” Itu Firdaus yang datang dengan wajah dibuat sedih. Dirga maupun Nina terkekeh melihat tingkahnya.
“Santai, Us. Nanti datang sendiri itu tulang rusuk yang hilang.” Respon Dirga meledk Firdaus.
Galih dibelakangnya menimpali.
“Betul tuh, Us. Nggak perlu khawatir, siapa tahu disini ketemu jodoh.”
“Nah!” Koor Dirga menyetujui perkataan Galih.
Firdaus hanya tertawa tanpa berkomentar lagi. Keduanya memberi salam kemudian berlanjut pada tamu undangan yang lain.
Dahlan muncul diantara para tamu diluar rombongan rekan kantornya.
“Dir! Wah sorry bro, gue telat tadi jadi nggak bareng rombongan. Congrats ya, akhirnya sudah halal dan nggak sendiri lagi. Doakan gue menyusul ya, semoga sama yang sekarang langgeng.” Ujar Dahlan seraya memberi selamat.
“Amin … semoga bisa disegerakan ya, Mas.” Kini Nina yang merespon.
Dahlan mengangguk mengaminkan.
“Novia kemana, Lan? Nggak ikut?” Tanya Dirga teralihkan dengan absennya kehadiran Novia.
__ADS_1
Bukannya apa, Dirga hanya merasa jika Novia temannya dan aneh karena Dahlan datang sendiri. Biasanya perempuan itu akan sering menempel dengan Dahlan dibandingkan suaminya yang sibuk ketika mereka biasa menghadiri acara-acara undangan dari para rekan kerja, seperti yang Dirga tahu sebelum-sebelumnya.
Ya, Dirga sempat terpikir Novia tadi.