![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Tiga hari pasca pembicaraannya dengan Nina, pun Rehan ketika malam harinya ia memilih menghabiskan waktu disana, kini Dirga menepati janjinya pada Mama untuk rencana mengurus baju pernikahan mereka. Selama tiga hari itu Dirga terus memikirkan keputusan Mama untuk mengadakan acara pernikahannya pada pada tanggal dua puluh enam. Kurang dari dua puluh hari lagi, dan Dirga tak menyangka jika waktu bisa berjalan secepat ini.
Sekarang, rencananya setiap ada waktu libur, Mama memintanya untuk menggunakan saat-saat itu untuk mengurus pernikahan. Sebagian besar sudah diurus oleh Mama dan beberapa kenalan beliau. Sementara untuk yang satu ini, Mama memaksa agar Dirga ikut dan menemani Nina fitting baju bersama.
Dirga sebetulnya tak ingin ambil pusing. Bahkan konsep pernikahannya yang katanya modern semi traditional dengan baju adat diacara resepsi, bukan masalah baginya. Terpenting baginya hanya ketika akad, dan semuanya berjalan lancar.
“Kenapa Aa’ harus ikut sih, Ma? Biasanya pengantin laki-laki hanya pakai jas dan kemeja atau beskap. Kita nggak repot dengan kain dan payet loh, Ma!” Protes Dirga ketika Mama sibuk dengan teleponnya, menghubungi pihak butik yang akan mengurus baju pernikahannya.
Mama berbalik memandang Dirga dengan sengit.
“Kamu tahu A', pernikahan itu saat yang paling sakral. Terutama untuk beberapa perempuan, hari pernikahan itu saat ia menjadi ratu sehari. Bahkan berharap bisa mewujudkan dream wedding. Syukur-syukur Nina bukan orang seperti itu, dia nggak ambil pusing soal gaun. Tapi nih, kalau Mama yang pilih bajunya, nanti nggak akan seru. Biar Nina pilih, walau dia nggak permasalahkan soal preferensi model dan yang lainnya.” Terang Mama.
Dirga mengangguk pasrah pada akhirnya.
“Ya sudah kalau begitu. Mama sama Nina kesana saja, nanti Aa’ tinggal ikut apa yang Nina pilih saja.” Pasrah Dirga dengan satu alis naik turun menggoda sang Mama.
Bukannya tidak antusias, Dirga hanya malas untuk keluar rumah hari ini.
“Memang yang nikah Mama? Masa iya mempelai laki-lakinya nggak ada. Kamu jangan ngaco deh. Liburan ini seharusnya dipakai buat yang bermanfaat, jangan diam saja dikamar! Sana, kamu siap-siap! Kita pergi sekarang, barusan Mbak Ila chat katanya bisa hari ini.”
“Sekarang banget, Ma?”
“Iya lah! Nanti Nina menyusul kesini. Katanya masih mengurusi skripsinya dan harus izin Bu Lilis. Mama mau mandi dulu.”
Mama berlalu meninggalkan Dirga bersama ampas kopi yang terlihat menumpuk di gelas.
...-...
“Kamu coba telepon Nina lagi, seharusnya sih dia sudah jalan kesini. Kalau begitu kita jemput saja tadi, ya.”
“Nina kan sedang mengurus skripsinya dan harus izin ke Bu Lilis, Ma. Biarkan saja, nanti juga dia kesini. Mungkin masih ada yang harus diurus.”
Mama kekeuh untuk fitting baju hari ini walaupun Nina masih belum menunjukkan batang hidungnya.
Dirga kembali mencari nama Nina diaplikasi chattingnya. Mengetikkan pesan pun misscall, agar setidaknya jika tak bisa mengangkat panggilan, perempuan itu bisa segera membalas pesannya.
“Sudah belum, A’?”
“Masih nggak bisa Ma. Nggak diangkat.” Terangnya seraya menunjukkan ponselnya yang menampilkan ruang chat Nina.
“Nggak, nggak. Kamu telepon lagi dia, cepat!” Titah Mama tak mau peduli.
Dirga benar-benar menyerah. Menolak permintaan Mama sama saja ia menggelar genderang perang kepada sekutu. Mama benar-benar membuatnya hampir naik darah!
“Masih nggak bisa Ma! Mama coba telepon pakai nomor sendiri, deh.” Putus Dirga menyerah, menghela napasnya berkali-kali. Mama ini benar-benar.
“Ya sudah, kalau begitu kamu jemput dia saja di kostannya.”
Dirga mendelik menghadap Mama.
“Harus dijemput?” Protesnya.
“Nggak perlu pakai tanya kalaj jemput calon istri! Cepat, A’!” Dirga menghela napasnya berat.
__ADS_1
“Ya sudah.” Dirga bangkit hendak keluar rumah.
“Senyum dan lebih ramah. Akrab-kan diri kalian, dah, hati-hati.” Mama mengulurkan tangannya. Dirga mencium tangan Mama sebelum akhirnya keluar rumah.
...-...
Memutari satu daerah ternyata tak semudah kelihatannya. Dia belum terbiasa dengan wilayah ini. Seingatnya, ketika mengantar Nina waktu itu, ia tak meminta Dirga menurunkan di depan kostnya persis. Dirga hanya ingat jalan masuk, dan tidak tahu dimana tepatnya kost Nina berada. Entah apa Nina menyembunyikan sesuatu, tapi ketika malam itu ia mengantarnya pulang, Nina hanya ingin diturunkan ditengah jalan.
Nomor Nina pun masih tak bisa dihubungi, ia akhirnya menyerah dengan memberhentikan mobilnya di depan kedai es kelapa. Dahaganya mungkin bisa terobati setelah menikmati air kelapa sambil menunggu Nina menelponnya kembali.
Pesanan Dirga sampai. Dengan terburu laki-laki itu menyesap air kelapa untuk membasahi tenggorokannya.
Dahaganya benar-benar terobati sekarang.
Tapi pandangannya tiba-tiba terjatuh pada dua orang yang kini menjadi atensi Dirga.
Perempuan yang sedari tadi Dirga tunggu kehadirannya dan seorang laki-laki yang ia cukup kenal. Keduanya tengah berdiri berdampingan di sisi jalan dengan senyum yang sama-sama mengembang kala pembicaraan mereka sepertinya sangat seru.
Bukankah Nina bilang dia masih ada urusandengan skripsinya dan harus meminta izin pada Bu Lilis untuk pergi ke butik hari ini?
Dirga tak menyudahi penglihatannya, ketika melihat laki-laki itu tak sengaja menyentuh tangan Ninakarena hampir terpeleset genangan air di depan minimarket. Dirga sampai mengedip beberapa kali untuk benar-benar memastikan penglihatannya.
Mereka berdua menyebrangi jalan menuju kearah dimana Dirga menikmati air kelapanya.
Sebelum mereka tiba disana, Dirga dengan segera membayar pesanannya lantas kembali ke mobil.
Penglihatannya tak mungkin salah. Bagaimana bisa Nina pergi dengan laki-laki lain sementara calon suami dan calon mertuanya tengah menunggu kehadirannya untuk fitting baju pernikahan mereka?
Mungkinkah cerita Novia dan Dahlan benar? Bagaimana bisa laki-laki itu berpaling pada perempuan lain, setelah membuat kesalahan dengan bawahannya sendiri?
“Sialan Muhadi!”
Dirga segera mengarahkan kemudinya secepat mungkin menjauh dari sana.
Bagaimana bisa Nina mengenal dia?
...-...
“... maaf karena mendadak menghubungi Mbak Nina.”
“Panggil Nina saja. Mas Rifai ada apa menghubungi Nina?”
“Nina mau pergi?”
“Iya, Mas. Nina ada janji dengan seseorang. Ini saja Nina sudah izin cuti bekerja.”
“Nina kerja?”
“Iya, Mas. Sebagai babysitter.”
“Mas bisa minta waktu Nina? Sebentar saja, kita duduk di kedai es kelapa itu, ya? Bagaimana?”
“Hm ... Nina sebetulnya sudah ada janji-“
__ADS_1
“Sebentar saja, Nin.” Mohon laki-laki didepannya.
“Oke, ya sudah.”
Nina tersenyum seraya bertanya-tanya ketika ia tahu-tahu melihat Muhadi dipinggir jalan yang tak jauh dari kostnya. Hari ini Nina ada janji dengan Mama Elsa san calon suaminya Dirga, untuk fitting baju pernikahan. Sebetulnya Nina tak begitu ambil pusing perkara pakaian pernikahan. Asalkan sah, dan acara berjalan lancar. Belum lagi keluarganya tak ambil andil dalam segi pendanaan dalam hal acara, sebab itu pula Nina merasa malu jika terlalu banyak mau.
Hari ini ia mengambil izin cuti bekerja dari rumah Bu Lilis, berhubung ayah Naira juga pulang dan ingin mengajak putrinya keluar. Tapi tanpa disangka, ia bertemu Muhadi disini. Laki-laki itu bilang ia ingin membicarakan beberapa hal dan meminta saran Nina terkait masalah tentang pernikahannya yang perempuan itu sudah tahu sebagian kecil. Nina sebetulnya ingin menolak, karena ia tak bisa mengundur waktu lebih lama. Namun Muhadi berjanji jika ia tak akan lama mengambil waktu pergi Nina, dan mengajaknya untuk berbicara di kedai es kelapa sebrang jalan.
Nina khawatir jika ia terlambat karena ponselnya pun tidak bisa menyala setelah semalaman ia lupa jika kepala chargernya tidak masuk ke stop kontak, sehingga batere ponselnya tidak terisi.
“Nina mau es kelapa dengan sirup?” Tawar Rifai sopan.
“Nggak apa-apa, Mas. Nina baru sehabis minum, Mas Rifai saja.” Tolak Nina halus.
“Oh ... oke kalau begitu.”
Mereka membicarakan beberapa hal terkait masalah yang tengah Muhadi hadapi. Nina harap-harap cemas jika Mama kemungkinan besar sudah menunggu, sementara disisi lain, Muhadi bilang jika hari ini istrinya libur bekerja dan dia harus datang untuk menjelaskan semuanya. Nina memberi beberapa saran sekenanya, lalu izin pamit untuk memenuhi janjinya dengan Mama.
“... ya sudah kalau begitu. Terima kasih sarannya ya, Nin. Um ... mau saya antar ke tempat kamu pergi? Baru sehabis itu saya kerumah mertua untuk menemui istri.” Terang Rifai membuat Nina mau tak mau mengangguk.
Pilihan terbaik untuk berangkat lebih cepat menju rumah Mama Elsa.
Dia bimbang dengan tawaran Rifai, tapi kemudian menyetujuinya demi mengejar waktu.
Selama perjalanan Nina semakin merasa bimbang jika ia bisa saja menimbulkan kesalahpahaman. Tapi ... nggak apa-apa, lah! Demi mempersingkat waktu.
Nina kemudian turun di depan rumah Mama Elsa lantas pamit pada Muhadi yang sudah mengantarnya. Ketika hendak berjalan masuk, suara mobil dari belakang tubuhnya membuat Nina reflek menoleh. Dari sana keluar Dirga yang menatapnya dengan tanya. Wajahnya seolah menyiratkan suatau hal yang ingin ia utarakan segera padanya.
“Kamu kemana saja, Nin? Aku sama Mama sudah menunggu kamu. Ponsel kamu juga mati, kamu nggak balas chat aku atau Mama.” Ujar Dirga menyiratkan nada marah yang tertahan.
Nina sejenak menahan napasnya. Dirga menatap dengan serius seolah ingin Nina segera menjelaskan kemana rimbanya ia setelah menyetujui perjanjian pertemuan mereka untuk fitting baju hari ini.
“Maaf kak, Nina ada urusan sebentar tadi. Nggak sengaja bertemu teman, Nina mau nggak mau ngobrol dulu dengan dia.” Terang Nina jujur, walau ia menutupi siapa teman yang dimaksud.
“Bertemu teman? Kamu lupa janji hari ini? Ponsel kamu juga nggak aktif, Nin! Setidaknya kamu hubungi aku, atau Mama jika nggak bisa hadir.” Pinta Dirga sambil menahan amarah. Dia nggak mungkin memarahi Nina perkara sepele seperti ini.
Entah ... apa Nina berbohong dengan mengatakan bahwa Muhadi adalah temannya, atau itu hanya alibi agar Dirga tidak bertanya lebih lanjut. Tapi melihat Nina berdiri dan tersenyum bersama Muhadi tadi membuat Dirga kesal. Bisa-bisanya laki-laki itu mendekati perempuan yang akan menjadi istrinya, bahkan telah membuat perempuan yang ia sukai sejak lama tersakiti sebagai istri.
“Nina minta maaf, Kak. Tadi Nina pun sudah dalam perjalanan menuju kesini, tapi nggak sengaja bertemu dia jadi ... jadi Nina nggak bisa mengelak, Kak. Nina minta maaf ya.” Sesal Nina lagi.
“Lain kali tolong hubungi kami, Nin. Aku dan Mama benar-benar menunggu kehadiran kamu.” Putus Dirga pada akhirnya. Sebisa mungkin ia menurunkan intonasi bicaranya.
“Iya, Kak. Ponsel Nina habis baterai, belum sempat dicharge jadi Nina langsung jalan saja …”
“Nin? Sudah datang? Kenapa Nina nggak langsung disuruh masuk, A’?” Tiba-tiba Mama yang berada di dalam rumah, tahu-tahu keluar dan melihat keduanya tengah berbincang. Dirga langsung menatap Mama seraya mengangguk.
“Ini Nina—”
“Mama, Nina minta maaf karena telat. Tadi tiba-tiba ada teman Nina yang datang menemui, mau nggak mau Nina harus temui dia dulu. Ponsel Nina juga mati, jadi Nina nggak bisa hubungi Mama atau A’ Dirga karena langsung jalan dan takut nggak terburu.” Terang Nina seraya mendekati Mama sebelum laki-laki itu sempat menjelaskannya.
“Ya sudah kalau begitu, ayo kita jalan. Sudah ditunggu Mbak Ila.”
Nina mengangguk, melirik Dirga yang terdiam ditempatnya memandangi kedua perempuan yang kini sibuk berbincang masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
Ia tak mengerti bagaimana Nina bisa mengenal Muhadi. Entah apakah sebelum ini keduanya memiliki hubungan spesial, dan jika tebakannya benar, kemungkinan Muhadi memang senang mendekati perempuan yang lebih muda dan ia tengah mencari pelampiasan dari Novia. Tentu saja karena perempuan itu terus menolaknya dan tak terima dengan kenyataan bahwa ia berselingkuh. Walau Dirga juga tidak benar-benar mengetahu terkait kronologisnya.
Semoga Nina memang hanya mengenal Muhadi saja, walau Dirga sedikit kecewa akan hal itu.