LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[36] Melihat Papa dan Kedatangan Tiba-Tiba Novia?


__ADS_3

Entah bagaimana akhirnya permasalahan perempuan itu, Dirga hanya ingin tahu berhubung mereka berteman dan disamping segala hal yang waktu itu pernah Novia lontarkan, Dirga hanya mereka medeka masih berteman, pun cukup dekat, maka wajar jika ia sekadar ingin tahu.


“Novi nggak bisa datang, dia sedang kurang sehat. Ya … begitulah dia sekarang, Dir. Kalau nggak jadwal dinas, ya dia menghabiskan hari dirumahnya saja sendiri. Kadang sih gue kirimkan dia makanan, tapi … ya sudahlah, nggak perlu dipikirkan. Anyway, sekali lagi congrats untuk kalian ya. Gue sudah kelamaan nih.” Ujar Dahlan seraya menutup ucapan selamatnya kepada Nina juga.


Dirga sempat merasa iba mendengar penjelasan Dahlan barusan. Masalah Novia sangat berat, dia tak menyangka jika perempuan itu masih tak lebih baik.


“Kenapa, Kak? Ada yang dipikirkan?” Tanya Nina melirik Dirga yang terdiam sejenak selepas kepergian Dahlan.


Dirga menggeleng.


“Nggak … nggak apa-apa.” Ujarnya menyelipkan senyum disana.


Nina langsung mengalihkan pandangan, tak ingin jika senyum itu bisa membuatnya lemas …


Ah … Kak Dirga kalau sudah senyum kenapa manis banget, sih? Teriaknya dalam hati.


Nina tampak tersenyum sendiri. Membuat Dirga ingin tahu.


“Kenapa Nin senyum-senyum?” Tanya laki-laki itu.


Dirga meliriknya lagi, Nina tak menjawab. Dia hanya menggeleng kecil.


Duh … Pakai ketahuan segala! Serunya dalam hati.


Ketika Nina masih berusaha mengontrol perasaanya yang tiba-tiba seolah menggilai Dirga, beberapa sahabat laki-laki itu datang ketika antrian sudah kosong.


“Selamat menikah kawan! Tega kau Mas Dirga! Bisa-bisanya dirimu melangkahiku!” Ujar Rehan dengan heboh seraya memeluk Dirga erat. Saiful dibelakangnya menepuk bahu Rehan dengan keras.


Laki-laki itu mengeluh sakit, melepas pelukannya.


“Kasihan deh yang sisa jomblo sendiri!” Koor Saiful membuat Rehan yang selesai memeluk Dirga memberengut sedih.


Bergantian dengan Saiful yang memeluk Dirga singkat.


“Nggak usah cerewet. Betulkan dulu itu pintu kamar gue.” Seloroh Dirga membuat Rehan cemberut.


“Si setan ini yang suruh, sih!” Rehan membela dirinya menunjuk Saiful yang memasang wajah santai.


“Nggak, pokoknya salah kalian berdua. Gue tagih loh nanti.”


“Nin, ini suami kamu kenapa tega betul sama saya, ya? Jahanam kau Dirga.” Kelakar Rehan melirik Nina yang hanya bisa terkekeh melihat tingkahnya.


“Minggir-minggri, berisik ah pada drama. Congrats ya, Dir, Nina. Aku Wahda. Mungkin kamu belum pernah ketemu ya, maklum baru habis melahirkan.”

__ADS_1


Wahda muncul diantara Saiful dan Rehan yang tengah berseteru dengan Dirga soal pintu kamarnya yang rusak. Perempuan itu terlihat mengenakan set pakaian yang senada dengan teman-teman Dirga yang lain, aksen kebiruan.


“Terima kasih Kak Wahda, nggak apa-apa, kak. Kapan-kapan Nina main ya ketemu dedeknya?” Ujar Nina riang.


Wahda membalas dengan anggukan.


“Siap, nanti main sama Dirga ya kerumahku.”


“Nggak sama Mas Gibran, Da? Anak lo juga nggak diajak?” Tanya Dirga.


Wahda menggeleng. Lalu perempuan itu menunjuk dua manusia yang seolah terasingkan dari mereka.


“Ini orang dua mintanya gue datang sendiri. Tapi memang kebetulan Mas Gibran nggak bisa hadir, titip salam saja katanya. Anak gue ya gue titipkan ke Bu RW.”


“Ya nggak apa-apa lah, Da. Supaya gue nggak terlihat jomblo sendiri.”


“Sudah takdir dirimu, Han.” Timpal Saiful meledeknya.


“Anyway, Dir, kita doakan yang terbaik buat lo. No matter what happen, lo berdua harus berusaha langgeng. Whis you all the best, ya.” Saiful menepuk bahu Dirga.


“Thanks bro, memang lo doang yang paling waras.” Dirga lagi-lagi memeluk Saiful singkat seraya terkekeh, seolah meledek Rehan. Tak mau kalah, buru-buru Rehan menarik Dirga mendekat kearahnya.


Kali ini ada hal lain yang Rehan bicarakan. Nina tak tahu apa yang teman suaminya itu bicarakan, tahu-tahu Dirga mendelik kaget sebagai respon.


"Dicoba saja dulu, Dir.” Ujar Rehan pongah, bertingkah sangat mengganggu dimata Saiful.


Dengan cepat laki-laki itu menepuk kepala Rehan jahil.


“Dah-dah, gantian. Ngantri noh sudah panjang.” Rehan tertawa bodoh menanggapi Saiful.


“Ya sudah, nanti kita bicara lagi sambil main ya, Dir, Nina. Sekali lagi selamat untuk kalian.” Putus Wahda kemudian menarik kedua sahabatnya turun. Dirga memandangi ketiganya dengan tawa. Teman-teman Dirga ini memang ada-ada saja tingkahnya. Nina sampai terlihat bingung antara ingin tertawa atau meringis.


“Maaf ya, teman-temanku memang nggak jelas semua.” Ujar Dirga melirik Nina disampingnya.


Nina menggeleng.


“Nggak apa-apa, Kak. Teman-teman Kak Dirga lucu, bahkan Nina pikir nggak ada perempuan diantara kalian, tadinya Nina kira kalian bertiga saja. Ternyata ada Kak Wahda juga, ya? Lucu banget.” Respon Nina tertawa gemas.


Dirga ikut terkekeh.


“Ya … begitulah. Walau sudah sama-sama dewasa, respon satu sama lain masih saja kekanakan. Tolong dimaklumkan, ya.”


Nina mengangguk.

__ADS_1


Antrian benar-benar panjang setelah para sahabat Dirga selesai mengucap selamat. Satu persatu tamu yang maju kepelaminan akhirnya berkurang setelah dua jam berlalu pasca acara resepsi dimulai.


Tanpa terasa mereka telah tiba dipenghujung acara. Setelah serangkaian teknis acara mulai dari akad hingga bersalaman, MC memberi kata-kata penutup untuk acara pernikahan hari ini. Berhubung mereka tak menikah dengan menyewa ballroom lebih lama dari biasanya. Hanya dua jam resepsi ditambah satu jam akad nikah, total tiga jam saja untuk acara hari ini.


Nina tampak lelah, perempuan itu seolah gelisah ditempatnya seraya menyentuh kakinya berkali-kali. Selop dengan hak tiga centimeter jika dipakai dalam posisi yang sama lebih dari satu jam sungguh membuat Nina tak nyaman. Dia akhirnya menyerah dengan menduduki kursi pengantin tanpa mengatakan apapun pada Dirga yang akhirnya menyadari keadaannya.


“Lelah ya, Nin? Kaki kamu sakit?” Tanya Dirga.


“Nggak apa-apa, Kak.” Responnya singkat. Tak ingin jika Dirga terlalu mengkhawatirkannya.


“Sebentar aku ambilkan sandal hotel ya? Acara juga sudah ditutup. Sisa tamu-tamu terakhir saja, kayaknya hanya teman-teman Mama. Bagaimana?” Tawar Dirga perhatian


Nina tersenyum dalam hatinya. Dirga menunjukkan pesona lain dari caranya menawarkan Nina untuk mengganti alas kaki. Sikap gentlemannya ditunjukkan tanpa aba-aba.


Nina ragu untuk menyetujui tawaran Dirga, tapi dia tak mungkin menolak jika tak ingin digendong seseorang untuk berjalan ke ruangan ganti.


Pada akhirnya ia mengangguk, menyetujui tawaran Dirga.


“Boleh deh, Kak. Maaf ya merepotkan. Nina nggak terbiasa pakai sepatu hak begini.” Katanya tak enak hati.


Dirga hanya mengangguk seraya berjalan turun dari panggung. Ketika langkahnya masih tak jauh dari panggung pelaminan, perhatian Dirga jatuh pada seorang pria baya yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Pria itu memandang kearah pelaminan tanpa bergerak. Suasana ballroom masih cukup ramai, namun entah mengapa Dirga justru mengatensinya yang berdiri dekat pintu masuk tengah dalam balutan serba hitam tanpa bergerak. Dirga sempat mempertajam penglihatannya mencoba memastikan wajah orang itu.


Ketika orang itu tak sengaja melihat kearahnya, pandangan mereka bertemu.


Dirga sekali lagi memastikan jika penglihatannya tak salah. Merasa atensinya terbaca oleh Dirga disana, pria baya itu beranjak, mengabur diantara orang-orang yang berlalu lalang disekitar pintu masuk kanan.


Itu Papa.


Dirga sudah memastikan penglihatannya sebanyak dua kali. Ia yakin jika itu Papa. Melupakan tujuan utamanya, Dirga bergegas membelah beberapa orang tamu yang masih berkumpul dibeberapa tempat. Mengejar pria baya itu untuk memastikan bahwa dia memang tak salah lihat.


“Pa …” Lirih Dirga ketika tiba didepan pintu masuk utama ballroom, dia tak menemukan siapapun. Berinisiatif, dia mencoba menanyakan pada seorang tim pengamanan yang menunggu diluar. Mereka mengaku tak melihat ciri pria seperti yang Dirga sebutkan.


Menyerah, Dirga akhirnya tak meneruskan pengejarannya. Ia memilih kembali ke tujuannya seraya memastikan berkali-kali bahwa dia tak sedang berhalusinasi atau hanya membayangkan jika sosok itu adalah papa.


Dia yakin jika itu papa, karena pria itu seolah kabur setelah tak sengaja bersitatap dengannya.


Jika benar itu papa, ada kemungkinan bahwa beliau tahu soal pernikahan ini dan dia memutuskan untuk hadir. Entah informasi dari siapa, Dirga tak mau tahu.


Berarti papanya kemungkinan masih hidup.


“Dir? Kok disini?” Sebuah suara mengalihkan perhatian Dirga. Ketika ia hendak berbalik untuk kembali ketujuannya, tubuhnya terpaksa kembali berputar, menatap pada sosok yang menegurnya itu.


“Novia?” Panggil Dirga pelan.

__ADS_1


Bagaimana ceritanya perempuan itu akhirnya datang?


__ADS_2