LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[37] Segala Hal Campur Aduk Hari Ini


__ADS_3

"Lo ngapain disini?” Tanya Novia terihat santai menatapnya. Bak aliran air, semuanya terlihat pias dan baik-baik saja.


“Kata Dahlan lo nggak bisa hadir? Lo sudah sehat?” Dirga balik bertanya cukup khawatir, mengingat Dahlan bilang Novia tak sehat.


“Begitulah … Kayaknya gue telat, ya? Kelihatannya sudah dirapihkan semuanya.” Ujar Novia seraya melirik sekitar.


Dirga tak meresponnya. Laki-laki itu tampak bingung setelah melihat Novia, dan papa yang pada akhirnya tak ia temukan.


“Lo cari apa, sih?” Tanya perempuan itu aneh melihatnya.


Dirga beralih ke Novia lagi.


“Oh? Nggak. Masuk dulu, Nov.” Ajak Dirga kemudian melupakan sejenak soal papa yang menghilang.


“Ayo, kenalkan gue dengan istri lo.” Ujar Novia pelan.


Dirga mengangguk, tak berpikir apa-apa lagi, dia kemudian berjalan di depan Novia, meninggalkan sebersit perasaan aneh dan mengganjal dihati perempuan itu.


Nggak menyangka lo justru menikah sekarang, Dir. Padahal gue sudah coba sesuatu yang paling nggak masuk akal untuk menyudahi penyesalan gue sama lo.


Monolog Novia dalam hatinya.


...-


...


“Selamat ya, aku Novia teman kerja Dirga.”


Nina membalas salam Novia dengan sopan. Perempuan itu tersenyum di depan Novia.


“Terima kasih sudah hadir, Mbak.” Waktu dua jam hanya tinggal dua puluh menit lagi. Nina melirik Dirga disampingnya yang tampak terdiam tak bersemangat. Novia berlih pada Dirga sebentar, lalu turun dari pelaminan setelah memberikan ucapan selamat.


Nina bingung melihat Dirga yang tiba-tiba lebih banyak diam setelah membawa teman kantornya yang mengaku terlambat untuk berkenalan dengan dirinya.


“Kenapa, Kak?” Nina mencoba bertanya. Dirga terlihat tak baik-baik saja dimata Nina.


“Hah? Ah … nggak apa-apa.” Dalihnya.


“Nina pikir Kak Dirga habis ada sesuatu tadi. Kalau ada masalah mulai sekarang Kak Dirga bisa bicara dengan Nina, ya?” Saran perempuan itu seraya mengalihkan pandangan dari Dirga ketika Mama yang datang dari bawah mengajaknya beranjak untuk segera berganti pakaian.


Nina tak tahu apa yang terjadi pada suaminya, Dirga tak menjawab perkataannya barusan. Laki-laki itu terlihat sibuk dengan ponselnya setelah membantu Nina turun dari panggung. Berjalan melewati dirinya dan Mama dibelakang.


Apa ini ada hubungannya dengan perempuan yang katanya rekan kerjanya barusan?


...-


...


“... Ibu, Bapak, maaf ya merepotkan datang jauh-jauh dari Bandung malah nggak disambut baik.”


Mama memeluk Emak yang terlihat lebih bersinar dimata Nina hari ini. Dua perempuan paruh baya itu saling berpelukan selama beberapa menit.


“Nggak apa-apa, Bu. Saya titip Nina ya, Bu. Sok dimarahkeun kalau Nina-nya nakal disini. Saya tahu kemarin-kemarin kan ibu yang repot mengurus semuanya.” Ujar Emak seraya menyindir Nina yang berdiri disamping Mama.

__ADS_1


Nina hanya terkekeh mendengar perkataan Emak.


“Nggak-nggak, nggak sama sekali. Nina nggak pernah merepotkan saya, Bu.” Kilah Mama yang dibalas tawa Emak.


“Kalo masalah Nina sudah pasti, Bu. Dirga juga kan ada. Justru Nina yang jaga saya sebetulnya.” Tambah Mama.


“Jangan salah Bu, Nina ini di rumah teh orangnya suka ngambek. Jadi hati-hati saja Bu.” Kelakar Emak.


Semua orang yang berdiri di depan pintu masuk untuk mengantar keluarga Nina, tertawa dengan candaan tersebut.


Lalu Mama mengantar Emak dan Abah serta adik-adiknya memasuki mobil. Tangisan kecil keluar tiba-tiba dari Solehah ketika memeluk Nina. Adik kecilnya itu sudah dewasa dan akan menggantikan tugas Nina dirumah. Nina jadi tak menyangka waktu berjalan secepat ini.


“Kamu jaga Emak sama Abah ya, Pul.” Nina bergantian memeluk Saiful yang berdiri dibelakangnya. Laki-laki itu hampir menangis, tapi buru-buru iya menahannya sebeluk Nina menyadari hal itu.


Nina tertawa dalam hati. Dia tahu jika adik laki-lakinya itu menangis.


“Ibu, semuanya, kami jalan ya, Assalamualaikum.” Emak melambai dari balik kaca ketika mobil mulai berjalan meninggalkan rumah.


Sepeninggal keluarga Nina, menyusul satu persatu keluarga mama yang pamit pulang. Sebagian keluarga sebenarnya sudah kembali pulang setelah acara digedung selesai, jadi hanya sisa beberapa orang saja dirumah ini. Termasuk Bi Ina dan Dela yang juga bersiap untuk pulang.


"Teh, Ina pulang dulu ya. Titip salam sama Dirga." Ujar Bi Ina dan Dela keluar dari rumah membawa beberapa tas. Mobil Bi Ina sudah terparkir rapi di halaman.


"Oh, iya Na. Hati-hati ya. Salam sama Kang Irhan."


Bi Ina mengangguk.


"Iya ... Teteh juga ya, sehat-sehat disini." Ujar Bi Ina seraya berjalan menuju mobilnya.


“Yuk, Teh, Nina, Assalamualaikum!"


“Waalaikumsalam.”


Nina dan Mama melambai sambil menjawab salam. Keduanya kembali masuk ke dalam rumah.


Dirga tak tampak sejak mereka semua pulang kerumah dari acara pernikahan hari ini. Laki-laki itu seolah menghilang dan tak ada yang tahu kenana rimbanya.


“Kamu betul nggak tahu Aa’ kemana, Nin?” Tanya Mama lagi ketika mereka duduk di sofa. Nina menggeleng sambil merapihkan beberapa hantaran yang masih berserakan di lantai ruang tamu.


“Nggak Ma. Kak Dirga nggak bilang kemana.”


“Dasar itu anak. Kemana lagi dia? Bikin kesal saja.” Keluh Mama seraya membantu Nina merapihkan beberapa seserahan.


Nina tertawa kecil memandangi Mama.


Walau tak menutup kenyataan kalau dirinya sedikit galau dengan keberadaan Dirga yang tidak tahu dimana, tapi Nina berdoa agar laki-laki itu senantiasa baik-baik saja.


Karena sekarang Dirga bukan lagi orang lain dalam hidupnya, dia suaminya.


Orang yang telah mengambil tanggung jawab Nina, dari Abah padanya.


...-


...

__ADS_1


Dirga berkeliling di sekitar jalan yang kemarin lusa ia sambangi. Mencari seorang anak yang menceritakan hal tentang keberadaam papanya.


Seorang anak bernama Tara yang tempo hari menceritakan hal mengenai papanya. Dia memberhentikan motornya di salah satu taman yang dipenuhi anak-anak yang kurang lebih seusia dengan Tara. Laki-laki itu meneliti satu per satu anak-anak yang berada disana. Mungkin salah satu dari mereka ada yang mengenal Tara, karena sedari tadi dia belum menemukan anak itu.


Dirga berkeliling dengan jalan kaki, cukup jauh dari posisi motornya diparkir.


“Kak, sedikit kak.” Seorang anak perempuan yang kira-kira susia Tara, menghampiri dirinya dengan wajah sedih.


“Eh ... iya, Dek.” Dirga tersenyum kecil mengeluarkan selembar uang dari sakunya.


“Ini, dipakai sebaiknya ya.” Anak itu melihat nominal uang yang diberikan Dirga.


“Wah, makasih ya kak!”


“Sama-sama. Oh ya, Dek, kamu kenal nggak anak laki-laki, ya ... seusia kamu, lah. Namanya Tara? Dua hari lalu kakak bertemu dia, sekarang kakak sedang mencari dia lagi. Kamu tahu dimana rumah Tara mungkin?” Tanya Dirga.


Mungkin dia tahu. Pikirnya.


“Tara ya, kak? Aku tahu sih dia, tapi sudah beberapa hari ini kayaknya dia nggak ngamen sama kita. Ibu sama bapaknya pun biasanya ikut memulung bersama kita, tapi nggak ada juga. Kenapa memangnya kak?” Tanya anak itu memandangi Dirga dengan lugu.


“Nggak, Dek. Nggak apa-apa. Kalau begitu terima kasih, ya.” Anak itu mengangguk lalu pergi bergabung dengan temannya yang lain.


Dirga tahu bahwa kali ini dia terlalu impulsif mengambil keputusan untuk kembali mencari papa sedang dia pun sebetulnya lelah dengan semua rangkaian acara yang telah berlangsung sejak lagi. Tapi keyakinannya seolah kuat, tak tahu apakah ia akan menemukan Papa ... Atau priba baya tadi hanya halusinasinya?


Halusinasi memang tak dapat diprediksi, mungkin saja karena Dirga lelah dengan kegiatan seharian ini. Tapi dia merasa yakin, keyakinan yang hadir entah darimana membuat Dirga terus menampik jika papa sudah tak ada.


...-


...


Sampai dirumah pukul tujuh malam ia langsung merebahkan tubuh diatas sofa seraya mendesah berat. Hari ini benar-benar melelahkan sekaligus menambah pikirannya. Entahlah apa yang selanjutnya harus Dirga lakukan. Dia hanya berdoa untuk segala hal baik dimanapun papa berada.


“Darimana saja, A’?” Dirga tersentak ketika suara Mama menggema di telinganya. Diangkat kepalanya melihat wajah sang Mama. Perempuan paruh baya itu melipat tangannya di dada dengan wajah sangar seperti biasa.


“Kamu nggak mau jawab Mama?” Dirga memilih melewati Mama. Meneruskan perdebatan ini hanya akan membuatnya makin lelah.


Gue sedang lelah, jadi ada baiknya tinggalkan saja, Pikir Dirga terus berjalan menuju kamarnya di lantai dua.


“Mama tanya sekali lagi! Kamu kemana? Jawab Mama, A'!” Paksa Mama.


Masih diam. Dirga berusaha mengatur emosinya agar tidak meluap lagi. Lelah berkeliling mencari keberadaan Papa yang tidak jelas, membuat dirinya mudah meledak kapan saja. Dia tak ingin meluapkan rasa lelahnya dengan amarah pada Mama.


“Aku keluar Ma.” Dirga menyerah dengan diamnya. Mama tak akan habis bicara jika Dirga belum menjawab.


“Iya, mama tahu kamu keluar, tapi nggak begini, A’. Kamu bahkan nggak pamit sama keluarganya Nina. Bahkan tadi Abah-nya Nina benar-benar menunggu kamu.” Terang Mama.


Lagi-lagi perkara status barunya. Ya … dia tak menampik bahwa status baru ini disetujuinya dengan sadar pagi tadi. Dia tak ingin menyalahkan siapapun dalam hal ini, tapi kepergiannya bukan tanpa alasan.


“Kamu nggak mau jawab?” Tegas Mama lagi, membuatnya menyerah. Dirga tak ingin berdebat malam ini, tapi Mama yang memaksa membuat emosinya mulai berpusat.


“Mama mau tahu kenapa Aa' keluar? Aa' cari Papa Ma! Papa nggak melihat Aa' menikah padahal ini hari bahagia untuk semua keluarga kan? Kita bahkan nggak mengundang keluarga Papa, loh!” Jelas Dirga menyerah. Nada bicaranya sedikit tinggi tapi tetap tenang.


Dirga dan Mama benar-benar lost kontak dengan keluarga Papa. Mama yang penyabar dan terkenal baik hati memang banyak menyimpan rasa sakit dimasa lalu. Salah satu penyebab perceraian mereka juga karena keluarga Papa yang menjadi salah satu akar masalah. Dirga sebetulnya belum paham apa yang terjadi saat itu, tapi seiring berjalannya waktu, akalnya turut mendukung ingatan yang ada.

__ADS_1


__ADS_2