![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Jam menunjukkan pukul empat sore ketika Dirga sedang bingung memikirkan ajakan para rekannya beberapa waktu lalu. Sebetulnya selepas Galih dan Firdaus pergi tadi, dia menyampaikan ajakan itu kepada beliau. Namun reaksi Mama benar-benar membuatnya bingung. Perempuan kesayangannya itu marah, menganggap Dirga adalah orang yang tak memiliki empati-karena memilih menghabiskan waktunya sendiri, sementara dirinya libur karena cuti menikah, dan dia harus meliputi Nina pada setiap kegiatan, walau memberi keringanan jika Nina pada akhirnya setuju.
Akhirnya ia bingung. Ingin coba mendiskusikannya dengan Nina, tapi Mama ada benarnya. Ia terkesan egois dengan keinginan itu.
Apalagi Nina baru sembuh dari sakitnya.
Namun ia masih merasa dilema. Sepertinya tak masalah jika mencoba untuk menanyakannya dulu dengan Nina.
Dirga yang telah tiba dilantai atas, tidak langsung masuk, memilih mengetuk daun pintu dengan pelan. Mama memang marah-marah mendengar pernyataannya barusan, tapi akhirnya beliau luluh juga asalkan Nina mengizinkan.
“Masuk saja, nggak di kunci, Kak.” Suara Nina yang menjawab. Dengan pelan Dirga membuka pintu hingga tampak Nina dengan rambut tergerai indah dan baju tidur yang menurut Dirga tidak biasa.
Seperti apa ya? Bathrobe bahan saten?
Piyama? Sepertinya itu ...
“Maaf, aku habis mandi.” Ujar perempuan itu alih-alih menggunakan namanya sendiri menyebut dirinya, kini Nina menggunakan kata ganti aku.
Dirga melirik istrinya sebentar, kemudian acuh, memilih duduk di ranjang membelakangi posisi Nina di dekat meja kerjanya.
“Kamu sudah mandi? Memangnya badan sudah enak?” Tanya Dirga santai.
“Nggak kok sudah baikkan. Kenapa, kak?” Dirga menggeleng pelan. Dia hanya ingin bertanya, karena yang ia tahu Nina memang baru saja lebih baik setelah sakit.
Matanya tanpa sadar terus melirik kearah dimana perempuan itu masih mengenakkan piyamanya. Belum malam, tapi Nina sudah mengenakan piyama saja?
Lihat, sangat membentuk tubuh sekali.
Biasanya Nina sudah berpakaian ketika keluar kamar mandi, dan dia akan terlihat sedikit panik jika Dirga masuk setelah ia selesai bebersih disana.
Anehnya kali ini perempuan itu terlihat santai.
“Kamu pakai baju itu ...” Ujar Dirga tak jadi menyelesaikan katanya.
Duh ... kenapa ia menanyakan soal baju? Padahal niatnya masuk untuk menanyakan kesanggupan Nina jika ia pergi mendaki dengan para teman-temannya.
Tiba-tiba ia merasa gugup.
“Apa?” Tanya Nina kini duduk di meja rias, menatap Dirga yang bergerak naik keatas ranjang.
Laki-laki itu memposisikan tubuhnya menghadap istrinya seraya bersandar di ranjang, tak ingin membelakangi istrinya sambil bersila.
Ia pikir Nina akan segera ke walk in closet untuk berganti pakaian. Nyatanya perempuan itu hanya berjalan kearah meja rias, lalu duduk untuk menggunakan skincarenya.
“Nggak ... Um ... ini, tadi sebetulnya aku sudah bicarakan dengan Mama. Tapi Mama mau aku minta izin juga sama kamu. Aku mau pergi dua hari lah, untuk hiking. Nggak dipaksakan sampai atas gunung sih kalau waktunya nggak cukup, sebisanya saja. Soalnya mengikuti cuti yang hanya sisa empat hari lagi, bagaimana?” Tanya Dirga.
Nina terlihat berpikir sambil mengusap rambutnya yang masih sedikit basah.
“Mama tadi bagaimana?”
__ADS_1
Dirga menaikan bahunya.
“Kalau kamu bolehkan, Mama juga begitu.”
Nina berdiri dari tempatnya. Berjalan perlahan menaiki ranjang yang disana Dirga juga menempati.
“Kamu mau aku bilang apa?” Tanya perempuan itu terdengar tak biasa dari nada bicaranya.
Entah mengapa Nina yang biasanya agak menjaga jarak dengannya, justru melontarkan kata-kata seolah ia ingin menggoda suaminya.
Sedikit aneh, seperti bukan Nina. Pikirnya aneh.
Mata perempuan itu menatap suaminya di depan, dalam posisi duduk di tengah ranjang, sangat dekat dengan Dirga tak biasanya.
“Ya ... terserah saja sih. Kalau kamu izinkan, aku pergi. Kalau nggak ya nggak jadi saja. Daripada ada apa-apa.” Pasrah Dirga tak ingin membuat Nina bingung.
Perempuan itu menggeleng.
“Nggak kok, aku memperbolehkan pergi ... tapi dengan satu syarat-
“-hah?” Dirga menatap perempuan di depannya nanar. Tahu-tahu Nina sudah sangat dekat dengannya. Jarak yang kurang dari satu meter diantara mereka, diikuti ranjang yang beriak seiring pergerakan pelan Nina mendekatinya.
Bukannya merasa senang dengan apa yang Nina lakukan, Dirga justru mendadak panik. Dengan cepat perempuan itu memegang bahu sang suami saat ia benar-benar sudah sampai di depannya dengan jarak yang sangat dekat. Dirga merasa lemas dengan pandangan tajam milik Nina yang beradu dengan manik coklatnya.
Laki-laki itu tertegun saat Nina mendorongnya ke dinding di kepala ranjang. Tangan Dirga berbunyi decit saat bertabrakan dengan kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati.
Dirga menahan napasnya.
“Ni-nin, Ka-kamu ke-kenapa?” Tanya Dirga putus-putus.
Dirga bukannya ketakutan, dia mengkhawatirkan apa yang akan dilakukan Nina sedang posisi ini sangat tidak baik. Nina dengan posisi kaki di tekuk, berdiri rendah. Entah mengapa tiba-tiba wajah Nina jadi tak enak dilihat.
“Kamu takut?” Tanya Nina dengan suara parau yang mengerikan.
Dirga meneguk salivanya dengan sulit.
“Nin! Kamu kenapa?” Tanya Dirga lagi dengan nada bicara tinggi.
Ini seperti bukan Nina.
Nina masih diam dengan seringai mengerikan di depan Dirga.
“Nin-“
“-Aku izinkan kamu asal kamu mau menuruti aku.”
Dirga meneguk salivanya sekali lagi.
“Hah? A-aku nggak masalah kok kalau kamu nggak memperbolehkan ...” Dirga mencoba melepas cengrakam Nina di bahunya. Kuku perempuan itu terpotong rapi sehingga Dirga tidak merasakan sakit di bahunya. Namun tetap saja, yang namanya ditekan rasanya tetap tak nyaman.
__ADS_1
“Nggak bisa begitu. Kamu sudah terlanjur bicara sama aku. Kamu mau aku setuju kan?” Ujarnya seolah menantang Dirga. Nina meniup poni yang menutupi dahi suaminya. Entah sejak kapan laki-laki itu punya poni mirip artis korea.
Dirga merasakan napas mint Nina yang sama dengan miliknya.
Nina pasti pakai pasta gigi Dirga.
“Kamu janga-“
“... Ya kalau nggak diizinkan ju-juga nggak apa-apa, kok.” Katanya lagi-lagi terbata.
Ia berusaha menghempas tangan Nina agar turun dari bahunya. Tiba-tiba rambut hitam Nina berubah kemerahan dan wajah Nina berubah pucat dengan taring yang muncul saat perempuan itu tersenyum.
“Oke kalau kamu mau batal, tapi apapun itu, kamu harus jadi santapanku dulu malam ini!“
“Aaa!”
...-
...
Semua orang yang tengah menyaksikan televisi di ruang keluarga mendadak terkejut dengan teriakan Dirga yang menggelegar dari kamar. Entah apa yang laki-laki itu mimpikan sehingga Mama, Lila dan Nina berlarian memasuki kamar untuk melihat Dirga yang seingat Nina sedang terlelap.
Mama masuk lebih dulu disusul Lila. Dirga duduk dengan tangan dikepala yang terlihat frustasi setelah bangun tidur.
“Kenapa, A'?” Tanya Mama khawatir sambil mendekat.
“Ma?” Panggil Dirga pelan. Laki-laki itu menyisir satu persatu orang diruangan.
Ada Lila, Mama dan ... bagaimana Nina disana?
Mencubit pipinya sekilas, ah ... sepertinya ia baru saja bermimpi.
Dirga tak tahu kenapa dia bisa mimpi begitu. Seingatnya ia hanya membicarakan ini dengan Mama, lalu merasa kantuknya datang akhirnya ia mencoba merebahkan tubuh diranjang.
Tapi mengapa Nina yang menjadi iblis di dalam mimpinya?
“Nggak, nggak apa-apa. A-Aa’ ke kamar mandi dulu.”
“Sudah asharan?”
Dirga menggeleng. Ah ... iya, dia tidur sejak siang sepertinya.
“Belum, Ma.”
“Nah, mangkanya jangan tidur sore-sore. Kamu tidur siangnya terlalu sore, A’.”
“Iya, Ma. Ya sudah Aa’ ke kamar mandi dulu ya.” Putusnya seraya melirik Nina yang hanya diam dibelakang Lila.
Apa ini artinya ia tak harus pergi?
__ADS_1
Tapi ini hanya bunga tidur, sih.
Ah ... kenapa ia harus mimpi seperti itu sih?