LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[60] Kepulangan Dirga


__ADS_3

Nina berdiri di balkon kamar sembari menyicip teh rosella yang baru ia beli selepas mengantar Lila kerumah sakit tadi pagi. Ada perasaan lega di hatinya mendengar perkataan dokter kalau Lila baik-baik saja, walau harus banyak beristirahat untuk beberapa hari kedepan dengan tidak berpergian atau mengerjakan pekerjaan berat. Mama juga sudah lebih baik sekarang.


Dua pusat pikiran Nina telah berkhir.


Satu lagi yang masih belum berakhir, Nina begitu merindukan Dirga diam-diam. Wajar jika ia merasa terluka atas apa yang Dirga lakukan, bersikap seolah tak bisa menerima dirinya sama sekali. Nina sudah terlanjur mencintainya, tak apa jika hanya melihay kehadirannya saja. Walau dirinya yakin, Dirga pasti setidaknya mau mendengarkan ceritanya soal semua yang terjadi selama ia pergi.


Nina sudah jujur sekarang kalau dia berhasil menyukai Dirga dalam waktu singkat. Biar laki-laki itu tidak mengatakan hal yang sama kepadanya, selama ia ada di dekatnya, rasanya lebih baik.


Teh rosellanya sudah tandas, bergegas Nina turun ke bawah untuk meletakan gelasnya di tempat cuci piring. Pandangannya jatuh pada tubuh tinggi yang membungkuk di depan meja. Tidak bisa dipastikan siapa, karena Nina masih berada diatas tangga dan suasana rumah sedikit remang-remang karena ia mengganti mode kecerahan ruang tamu dan sekitar ruang pribadi keluarga.


Hampir tiga hari Dirga keluar rumah untuk kembali bekerja. Seharusnya besok ia baru tiba.


Apa benar itu Dirga?


Tiba-tiba kakinya lemas. Nina memikirkan kemungkinan lain dari siapa laki-laki yang bisa saja masuk kerumah ini di jam sebelas siang


Tubuh laki-laki itu menegak seiring gerakan tangannya diatas meja. Nina mulai was-was dengan apa yang akan terjadi. Kalau memang dirinya harus survive bersama seorang maling, Nina rela melakukan apapun demi keselamatan orang rumah.


Nina mendekat dengan sangat pelan sampai-sampai decit sandalnya tidak terdengar. Satu langkah dia akan sampai di dekat laki-laki itu, tangan Nina terangkat keatas hendak memukul laki-laki di depan nya dengan gelas beling yang ia genggam. Namun terlambat, sesuatu yang terang itu mengarah padanya. Nina terperanjat ketika laki-laki di depan nya mengarahkan flashlight ke arahnya. Nina menutup matanya sambil mengerjap berkali-kali.


Laki-laki itu mulai bersuara.


“Mati lampu ya? Gelap betul, Nin.” Nina mengangkat kepalanya setelah menemukan laki-laki yang menyorot dirinya dengan flashlight ponsel adalah orang yang kini menjadi pusat ingatannya.


Dirga.


Laki-laki itu pulang dengan pakaian santai.


“Kak Dirga?” Nina berekspresi kaget. Dirga mengarahkan flashlightnya ke langit-langit ruangan hingga akhirnya keadaan sedikit terang. Laki-laki itu tersenyum.


“Maaf nggak mengabarkan dulu. Paket dataku habis, tadi juga diantar Galih sampai depan komplek, sementara motor ku tinggal di stasiun.” Nina tidak berlari memeluk Dirga atau malah memberondong laki-laki itu dengan pertanyaan, yang dia lakukan hanya terdiam membisu memperhatikan wajah suaminya dalam diam.


“Anyway, hai! Nggak ada sambutan welcome home ya, Nin? Atau kamu masih marah, ya?” Tanya Dirga sambil mengurungkan rencanany membentang tangan hendak memberi ruang untuk Nina memeluk dirinya.


Itu hanya bayangan Dirga saja.


“Kenapa jadi termenung, Nin? Hello?” Tangan Dirga bergerak di depan wajah Nina.


Jujur, Nina sebenarnya bukan termenung, apalagi muka syok mirip di acara drama, dia hanya terdiam memandangi wajah Dirga karena sedikit kaget.


“Ini kamu, Kak?” Tanya Nina mengulang. Dirga lalu tertawa.


“Bukan, Ini spiderman. Kenapa kaget begitu sih? Memang sudah jadwalnya aku pulang, kok.” Ujar Dirga menyelipkan candaan.


“Ya aku lah, Dirga. Memang siapa lagi, sih?”

__ADS_1


Nina menghembus napasnya lega. Mengucap syukur dalam hati.


“Nggak mati lampu. Cuma diatur saja penerangannya.” Nina bergerak meninggalkan tempat Dirga. Laki-laki itu mengekor dibelakangnya.


"Memang biasanya pulang malam, Kak?” Tanya Nina sambil bergerak ke depan saklar. Dirga yang mengekornya dibelakang tak memberi jarak sehingga mereka bertubrukan tanpa sengaja. Hampir saja oleng, untung Nina bisa menahan tubuhnya.


“Jangan berhenti mendadak atuh, Nin.” Tegur Dirga sambil misuh-misuh mengelus dadanya.


“Loh? Kak Dirga yang mengekor nggak kasih jarak.” Ujar Nina tak terima dengan perkataan suaminya.


Dirga terkekeh.


“Kan gelap, Nin. Ya aku ikut kamu saja.” Katanya memberi alasan pada sang istri yang kini berdecak sebal setelah memutar tubuhnya kearah Dirga.


“Apa kabar?” Tanya Dirga ketika lampu sudah menyala terang. Kedua orang itu berjalan berdampingan menuju dapur.


“Nina baik, tapi Mama sedang kurang sehat. Jangan diganggu dulu, Kak. Lila juga sedang sakit, jadi hanya aku yang sehat di rumah ini.” Jawabnya.


“Kak Dirga sudah makan malam?” Tanya Nina. Perempuan itu membuka lemari pendingin, mencari beberapa lauk yang sudah ia masak dan disimpan disana untuk dihangatkan besok.


Mengapa Dirga mengikutinya alih-alih ke kamar?


“Kak Dirga mau mandi dulu atau makan dulu? Biar Nina hangatkan.”


“Aku sebetulnya sudah makan malam, tapi melihat kamu mengeluarkan lauk, kayaknya nggak masalah kalau makan lagi. Boleh, aku makan dulu ya.” Ujarnya mengambil posisi di meja makan.


Antara bahagia, dan sedih.


Nina bahagia karena Dirga kembali pulang, namun merasa sedih karena ia tak bisa meluapkan perasaannya begitu saja pada sang suami walaupun dia ingin. Terlalu banyak hal yang terjadi selama tiga hari ini. Bahkan mengurus skripsinya pun terasa sulit.


“Kalau boleh jujur, aku kangen loh sama kamu. Nggak tahu kenapa, selain Mama, kamu belakangan ini begitu mengisi ingatanku, Nin. Kamu nggak kangen sama aku ya?” Tanya Dirga sekali lagi.


Pertanyaan sama yang beberapa menit lalu laki-laki itu lontarkan. Nina tidak menjawab, berusaha sibuk dengan kegiatannya memindahkan lauk keatas piring. Tangannya bergerak menyentuh dadanya, rasanya sangat berdebar!


Tapi Nina tak ingin Dirga melihatnya.


“Nasinya Nina langsung taruh di piring ya, Kak. Lauknya ambil saja di meja kalah kurang. Nina ke atas dulu.” Putusnya tak ingin berlama-lama berada di sekitar suaminya, atau hal itu akan lebih mengganggu perasaannya yang menggebu.


Sebelum bergerak pergi, Dirga langsung menahan tangannya. Menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Menghantarkan hangat tubuh masing-masing.


“Terima kasih sudah hadir di hidupku, Nin. Aku tahu kamu marah, walau nggak tahu alasannya, tapi setelah melihat kamu hari ini, rasanya bahagia. Tiga hari bekerja memang nggak terasa lama, tapi mendadak jauh dari kamu rasanya lama banget.”


Nina tak bisa bergerak. Perempuan itu mematung di tempatnya tanpa tahu harus bertindak seperti apa setelah ini.


Nina yakin bukan hanya karena rindu, Dirga pasti menginginkan sesuatu yang lain, kan?

__ADS_1


...-


...


“Kamu sudah pulang, A? Sejak kapan?”


“Semalam, Ma. Tapi kata Nina Mama sakit, jadi Aa’ urung menyapa. Pagi ini pun sudah ketemu, kan. Mama sudah enak?”


“Alhamdulillah. Tumben langsung pulang, A’? Nggak mampir sana-sini dulu? Biasanya juga malas pulang sebelum menikah. Kangen Mama atau yang lain?” Goda Mama.


Dirga tertawa, memilih tak menjawab, lalu mencomot perkedel dengan garpu. Diliriknya Nina yang duduk disampingnya dengan tangan sibuk merapihkan letak makanan.


Harum shamponya setelah keramas menyucuk cuping hidungnya.


“Ya Mama, lah. Memang siapa lagi? Ada ya, yang harus dirindukan selain Mama?” Ujar Dirga melirik Nina yang tak bereaksi. Niatnya sih bercanda, tapi sepertinya Nina tak baik-baik saja setelah semua yang terjadi semalam.


Mama membalasnya dengan decakan.


“Pantas kangennya cuma sama Mama. Kalau sama Nina sudah dibayar kontan ya, pagi-pagi kompakan sudah keramas.” Sindir Mama membuat Nina menelan salivanya berat.


Dirga tak menjawab lagi. Laki-laki itu memilih fokus dengan sarapan pertamanya setelah berlibur untuk dua hari ke depan.


Hari ini Mama terlihat segar dan sudah mulai tersenyum. Sebelum-sebelumnya, Mama tampak seperti banyak pikiran dan benar-benar pucat. Apalagi jika mengingat kejadian Lila yang mabuk hingga membuat beliau sangat khawatir. Perasaan Nina sebetulnya sedikit lega hari ini, karena Dirga pulang dan Mama sudah sehat. Walau Lila masih harus istirahat di kamar untuk memulihkan lambungnya.


Berbicara soal semalam, setelah acara makan yang tertunda dengan adegan pelukan itu, Nina tak bisa menolak apapun yang Dirga inginkan. Mereka menghabiskan malam sebagai dua orang yang saling merindu. Walau di dalam hati Nina merasa miris karena ia memendam semua perasaan ini sendiri. Dirga memang tidak tahu, tapi Nina takut untuk memberitahukannya.


Dia bukannya tak menginginkan Dirga, tapi menyaksikan kenyataan bahwa mereka bekerja sebatas tanggung jawab dan nafkah saja, benar-benar getir di rasa.


Nina ingin Dirga tahu, tapi ... Apa kali ini Dirga sudah merasakan perasaan yang sama? Apa hanya Nina saja yang masih merasakan jatuh cinta sepihak?


Oh hati! Kenapa rasanya murahan sekali sih? Di beri kebaikan sedikit saja sudah jatuh cinta!


“Cuti dua hari seperti biasa ya, A’?” Tanya Mama lagi.


“Iya, seperti biasa,” Dirga menjeda.


“Oh ya, Ma, boleh Aa’ pinjam Nina? Rencananya mau ajak Nina jalan. Ya ... kalau Nina bisa sih.” Ujar Dirga menatap Mama dan Nina bergantian.


Mengapa harus izin kepada Mama? Memangnya ia milik Mama?


Kenapa rasanya kesal?


“Kenapa jadi izin ke Mama, A’? Ya tanya Nina-nya atuh. Bilang itu sama istri kamu di samping. Sudah sama-sama keramas pagi-pagi, tapi mau mengajak jalan saja izinnya sama Mama. Kamu nggak lagi izin study tour, salah tujuan kalau izinnya ke Mama. Ya, Nin?” Tegur Mama membuat Nina yang sedari tadi terdiam, akhirnya mengangguk.


“Bagaimana, Nin?”

__ADS_1


“Nina ikut saja ...” Katanya singkat.


Perempuan itu merasa sedih. Dirga tak harus menceritakan semua hal pada Mama untuk kemaunnya sendiri. Kenapa ia tak bilang sejak malam? Kenapa Nina baru diberitahu sekarang padahal mereka yang akan pergi berdua?


__ADS_2