LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[42] Sedikit Late Night Talk Akibat Insomnia


__ADS_3

Sudah jam dua pagi tapi Nina masih belum bisa tidur. Beberapa menit yang lalu ia baru saja keluar dari kamar mandi, mengikuti panggilan alam. Ia pikir akan segera kembali tidur setelah itu, tapi matanya masih enggan terpejam.


Mata Nina teralih pada suaminya yang kini masih setia terlelap diranjang tanpa tahu apa yang ia rasakan. Laki-laki itu terlihat nyaman sedang Nina tengah tersiksa dengan rasa kantuk yang mendera tapi mata yang enggan terpejam. Memikirkan semua hal yang terjadi beberapa jam lalu membuat dirinya sulit menenangkan diri. Entah apa yang telah ia lakukan, bersikap seperti itu memang hanya akan memperlambat tumbuhnya perasaan diantara mereka. Tapi Nina tak bisa, ia tak bisa memaksakan trauma itu kembali ketika terlalu dekat dengan laki-laki.


Peristiwa dua belas tahun silam membuatnya benar-benar takut. Beruntung ada beberapa warga yang sedang berpatroli disekitar kampung ketika kejadian itu menimpanya.


Menjadi korban tindak kekerasan asusila membuat Nina trauma selama beberapa waktu. Walau akhirnya ia pulih, nyatanya ingatan itu masih tak hilang. Memang akhirnya tak terjadi apa-apa, namun dia tak bisa seketika lupa dengan segala kejadian yang ada. Hingga memutuskan untuk menikah, Nina seolah lupa bahwa tak hanya soal komitmen dan perasaan, ada ikatan batin juga yang perlu mereka berdua bagi dalam pernikahan ini.


Dirga tidak berisik sama sekali sejak Nina tahu laki-laki itu sudah benar-benar terlelap, dan sudah malam kedua sejak mereka menjadi suami istri dan membagi ranjang yang sama. Tidurnya nyenyak dan tenang seperti baru saja kembali pada kenyamanan yang sempat hilang.


Dalam sudut pandangnya, Dirga cukup nyaman dengan pekerjaannya, terlihat bagaimana dedikasi suaminya itu untuk menamatkan pendidikan dari cerita Mama. Nina paham, sesuka apapun seseorang pada pekerjaan yang mereka geluti, tak menutup kemungkinan pasti ada rasa lelah teramat di dalamnya. Seperti apa yang mungkin terjadi pada Dirga.


Dingin AC yang menguar diruangan, menembus tubuhnya. Nina sebetulnya tidak terlalu biasa tidur dengan AC. Di kost-annya dulu, dia hanya menggunakan kipas gantung yang menempel di dinding, walau sekarang ia harus terbiasa dengan air conditioner yang suaminya nyalakan pada suhu dua puluh enam derajat.


Nina menyentuh pipinya tiba-tiba. Telapak tangannya merasakan hawa panas yang tahu-tahu muncul dari sana, seolah bersatu dengan hawa dingin dari AC. Entah mengapa setelah seharian ini berkegiatan, walau sebetulnya pun tak berat, ia merasa badannya tiba-tiba tak enak.


Ah ... seperti gejala demam. Memang, Nina merasa lelah pasca dua hari lalu acara pernikahannya berjalan begitu panjang walau hanya satu hari. Ia sebetulnya orang yang terbiasa dengan kegiatan banyak, tapi sepertinya kali ini Nina tiba pada masa ia terpaksa tumbang.


Hidungnya pun mendadak tersumbat.


Nina bergerak gelisah disisi suaminya, sebisa mungkin ia mencoba tak membangunkan Dirga dari tidurnya, walau rasanya tak nyaman.


“Nin ... nggak tidur?”


Dirga tahu-tahu membuka mata dengan suara yang serak, menegurnya dari posisi disamping dengan memiringkan tubuh kearah istrinya yang memandang langit kamar.


“Kebangun atau bagaimana?” Tanya Dirga lagi. Nina menegakkan tubuhnya ke kepala ranjang.


“Nggak tahu, sudah coba merebah dan pejamkan mata, tapi masih nggak bisa dibawa tidur juga.” Jawabnya pasrah.


“Kepikiran besok?” Tanya Dirga lagi dengan pelan seraya mengikutinya bersandar di kepala ranjang.


“Nggak sih, Kak. Nggak tahu saja, malam ini sulit tidur.”


“Bukan karena nggak nyaman aku tidur memeluk kamu, kan?” Tanya Dirga lagi seraya terkekeh.


“Soalnya semalam kamu nggak begini, justru kelihatan nyaman.” Sanggahnya.


Nina menggeleng cepat. Dia tak mau Dirga merasa bersalah.


“Nggak kok, Kak. Bukan karena apapun, memang nggak bisa tidur saja.”


“Jadi maunya bagaimana?”


Nina menimbang sejenak.


“Aku kayaknya rebahan di sofa saja deh, Kak. Kak Dirga tidur saja, takutnya kalau aku begini terus malah menganggu.” Katanya tersenyum kecil. Menampakkan wajah baik-baik saja di depan suaminya. Dirga terkekeh sambil memalingkan wajah.

__ADS_1


Kenapa kamu manis banget, Nin?! Teriak Dirga dalam hatinya.


“Kenapa harus ke sofa? Aku nggak terganggu kok-eh! Kok badan kamu hangat, Nin?!”


Dirga yang hendak menyentuh tangannya berniat memberi ketenangan, kaget ketika tahu jika suhu tubuh Nina agak tinggi.


Perempuan itu reflek menggeleng. Salah satu alasan ia sulit tidur pun karena ini, badannya merasa buruk, walau ia sangsi memberitahunya pada Dirga.


“Nggak kak, aku baik-baik saja.” Elaknya.


Dirga menggeleng.


“Nggak, nggak, kamu sakit ini, Nin. Aku ambilkan obat, ya?” Tawar Dirga khawatir.


Perempuan itu kembali menggeleng.


“I’m okay, Kak Dirga. Kayaknya hanya kelelahan, ditambah sekarang tidurnya pakai AC, suhu tubuh aku jadi menyesuaikan mungkin.” Ujarnya berusaha tak membuat Dirga lebih khawatir.


“Ah iya, maaf aku lupa tanya kamu. Sebelum ini kamu nggak pakai AC kan di kost? Ya sudah, aku matikan AC-nya, ya?”


“Eh ... nggak apa-apa, kak. Bukan karena AC juga sih, memang sedang kurang enak badan saja-tapi aku baik-baik saja kok! Serius deh!” Jawabnya menggeleng cepat, berusaha lebih meyakinkan sang suami. Dirga mengernyit bingung.


Nina ini ada-ada saja.


“Yang benar yang mana ini? Nggak masalah kalau soal AC, suhunya bisa aku naikkan lagi, jadi nggak terlalu dingin. Kalau sakit, aku nggak bisa buat apa-apa selain mengobatinya, Nin. Minum obat, ya?” Tawarnya sekali lagi. Kali ini terdengar seperti paksaan.


Sepertinya hanya lebih sedikit dari normal, walau tetap harus diantisipasi jika takut-takut justru menjadi lebih parah.


“Hangat saja sih, tapi mengantisipasi parah, minum obat saja supaya bisa tidur juga.”


“Nanti deh, Kak. Nina nggak biasa langsung minum obat kalau hangat-hangat sedikit.”


“Ya sudah, terserah kamu.”


Dia menunduk, tak ingin menatap wajah suaminya yang pada akhirnya pasrah dengan keputusan kukuhnya. Tak ada suara dari keduanya selama beberapa detik. Dirga sibuk bersandar dikepala ranjang sambil sesekali menguap seraya mengelus-elus perutnya-kebiasaan laki-laki kebanyakan-hingga menit kemudian laki-laki itu seperti teringat sesuatu.


“Nin ...” Panggilnya.


Nina yang juga bersandar disebelahnya tanpa pergerakan, melirik Dirga tanpa suara.


“Besok kita berangkat, harus istirahat yang banyak, berhubung kamu nggak bisa tidur juga, kita cerita saja sampai mengantuk? Bagaimana? Dulu aku seperti itu semasa di asmara. Bicara ngalor-ngidul bareng Firdaus sampai akhirnya jadi mengantuk. Mungkin kita bisa coba begitu juga.”


Dirga menawarkan waktu. Diam saja sedang kenyataannya mereka bisa berbincang, membuat ia kurang nyaman. Toh ide ini pun ia pilih agar Nina bisa terlelap seperti pengalamannya bersama Firdaus.


Nina memandang Dirga, memberikan respon bertanya lewat tatapannya.


“Apa saja, itu sekadar saran kalau mau dicoba. Karena aku beberapa kali mencoba cara itu.”

__ADS_1


“Maaf ya, Kak ... jadi mengganggu waktu Kak Dirga istirahat. Nina hanya merasa masih agak asing sebetulnya disini. Ditambah juga besok kita mau pergi dan naik pesawat, berhubung Nina belum pernah jadi agak khawatir kalau ingat cerita-cerita yang ada. Selebihnya, Nina hanya merasa kurang enak badan, walau masih oke sih.” Katanya berusaha membangun percakapan atas ide Dirga.


“Wajar Nin, kita dua orang yang hampir totally stranger, tahu-tahu mengganti status bersama trus tinggal bareng, merebah diranjang yang sama pula,” Dirga terkekeh, “Kalau soal besok, nggak perlu terlalu jadi beban. Semuanya dari Mama, kita turuti saja apa mau beliau. Naik pesawat itu soal takdir, kalau takdirnya jatuh, mau mengantisipasi kayak apapun nggak ada jaminan kita baik-baik saja. Tapi kalau kamu yakin, kalau berusaha berani, sebetulnya seru loh. Apalagi pengalaman pertama seperti kamu begini.” Ujarnya.


Nina tersenyum melihat Dirga.


“Omong-omong, sudah berganti hari loh, Nin.”


Nina mengangguk.


“Iya sudah ganti hari. Ya ... seperti wajar jika Nina nggak bisa tidur karena banyak hal baru yang hadir, seperti itu juga soal naik pesawat kan. Tapi terima kasih pengertian Kak Dirga. Nina paham kok.”


“Good, jadi nggak perlu terlalu overthinking lah, Nin.”


“Oh ya ...”


“Kenapa, Kak?”


“Soal tadi ... Maaf kalau aku terkesan memaksa ya, Nin. Aku kayaknya terbawa suasana sih. Jadi seperti itu akhirnya.” Terang Dirga mengingatkannya pada kejadian beberapa jam lalu.


Nina menelan salivanya berat. Dia juga sedikit terpikirkan terkait hal ini. Namun melihat Dirga memutuskan untuk memberinya waktu, Nina jadi merasa lebih tenang. Walau ia sangsi jika Dirga juga memahami bahwa dia terkesan tak ingin, bukan hanya karena alasan belum siap. Pasti ada yang lain.


“Nggak apa-apa, Nina yang minta maaf.”


Dirga mengangguk.


“Kamu nggak nyaman juga salah satunya karena itu ya?” Telisik Dirga.


Nina menggeleng cepat. Walau memang begitu kejadiannya, Nina tak merasa takut pada Dirga. Dia hanya butuh waktu saja.


“Biasa saja, Kak.”


“Oke kalau begitu. Mulai saat ini kita harus banyak cerita, harus banyak membagi perasaan. Aku bukan cenayang yang bisa tahu apa yang ada dipikiran kamu. Pokoknya lebih santai saja kedepannya sama aku, oke?” Pinta Dirga tulus.


Nina mengangguk. Hatinya menghangat, walau tubuhnya pun masih begitu.


Dia hanya tak bisa menampik jika khawatir, walau Dirga telah menghapus kekhawatirannya lewat perhatian yang ia berikan. Lewat caranya menyampaikan rasa nyaman dan aman dengan berpartisipasi untuk tidak-kembali-tidur bersama istrinya yang masih terjaga.


Dirga orang yang pengertian.


Bahkan setelah Nina terpaksa menolak semua hal kebersamaan yang wajar bagi pasangan menikah.


Dia merasa bersalah.


"Tapi Nin ... Kamu kelihatan seperti tadi, bukan karena ada trauma, kan? Semoga aku salah, sih."


Bagaimana Dirga bisa mengira seperti itu?

__ADS_1


__ADS_2