![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Selesai menemui para teman sang suami dan belanja beberapa keperluan mereka dalam waktu singkat, Nina dan Dirga langsung kembali kerumah tanpa mampir. Sepanjang jalan Dirga hanya terdiam, tak banyak berujar pada Nina seperti biasanya. Perempuan itu meratapi kebodohannya mengatakan bahwa Dirga hanya seorang teman, alih-alih suami.
Dirga menarik kunci mobilnya setelah selesai memarkirkan, kemudian melirik Nina sebentar yang masih tampak terdiam di posisinya.
“Nggak mau turun?” tanya Dirga pelan. Nada bicaranya tak sengahat ketika mereka akan pergi tadi.
Seolah tersadar dari lamunan, Nina berjengit kecil lantas mengangguk cepat.
“Ini mau turun kok.”
“Belanjaannya biar aku yang bawa. Kamu ke atas saja duluan.” Ujarnya memberi perintah pada Nina untuk mendahului.
“Kak Dirga marah, kan? Nina minta maaf Kak, nggak ada maksud apapun bicara begitu ke Edara. Dia juga bukan siapa-siapa Nina. Kami hanya teman satu dosen bimbingan.” Ujar Nina memberanikan diri untuk membuka suara.
Dirga diam, berlagak sibuk dengan beberapa barang dikursi tengah ketika Nina mendekatinya dipinggir pintu.
“Kak Dirga ... nggak enak loh di diamkan seperti ini, Kak. Nina tahu Nina keliru.” Katanya lagi.
Dirga mendesah pelan. Mengubah pandangnya kearah sang istri.
“Oke, fine, aku nggak marah. Tapi soal teman, aku agak kecewa Nin. Well, kenyataan kamu nggak mau pernikahan ini diketahui semua orang, aku paham, karena kamu masih kuliah, nggak mau repot jadi pertanyaan. Tapi Edara itu laki-laki, jika kita nggak tegas sama lawan jenis, bagaimana kalau dia menaruh perasaan? Aku ada disana, loh! Kalau aku nggak disana, misalkan dia macam-macam, bagaimana?” Terang Dirga mengakhiri katanya dengan tanya.
Membuat Nina mengangguk kecil.
Ia sadari bahwa dirinya sendiri beberapa waktu ini banyak mendiamkan Dirga karena kecewa sebab laki-laki itu seolah tak ingin membalas perasaannya. Namun kini Nina menyesali hal lain, nyatanya dia sendiri yang belum benar-benar mengungkap perasaan bahkan pada orang lain. Bagaimana Dirga ingin yakin jika dia mencintainya, padahal masih malu mengakui hal ini pada orang lain?
“Iya kak, Nina minta maaf ya. Edara ... kami memang baru kenal, sejauh ini dia nggak ada masalah, tapi mengingat kata-kata Kak Dirga tadi, mungkin Ninanya yang terlalu naif. Seharusnya Nina sadar kemungkinan itu. Nina minta maaf ya, kak?” Ujarnya tak enak hati..
Dirga menutup mata sejenak, kemudian mengangguk seraya menarik tangan istrinya mendekat.
“Ya sudah, semoga dengan Edara yang tahu kenyataan kamu sudah menikah, nggak akan timbul masalah ya. Maaf karena marah sama kamu.” Katanya seraya memeluk sang istri.
Nina balas memeluk. Ia juga menggumamkan kata maaf karena beberapa hari ini banyak bersikap cuek pada sang suami, walau tak benar memaparkan kenyataan sebenarnya.
Keduanya kemudian bergandengan masuk kedalam rumah. Keadaan begitu tenang saat dilihat dari terasnya saja, tapi saat Dirga dan Nina tiba di dalam rumah, suasana sedikit tegang. Seseorang lain tengah dalam sedikit debat bersama Mama.
“ ... Biarpun saya sekarang miskin, saya masih bisa datang ke pernikahan putera saya dengan pakaian layak. Kenyataan bahwa hari itu Dirga menikah, saya melihatnya, hanya saja bukan sebagai tamu. Sehingga saya malu menunjukkan diri di depannya yang pada akhirnya menyadari keberadaan saya.” Ujarnya, seorang laki-laki bayar berusia enam puluh tahunan.
Nada bicara laki-laki itu sedikit tinggi. Tapi tidak bertindak jahat, atau menunjuk Mama dan bersikap tidak sopan. Dia hanya duduk dengan rapi sambil berujar sedikit keras. Dirga melirik keduanya bergantian.
Mama terlihat diam, buru-buru Nina mendekat, menyentuh bahu Mama lantas mengelusnya pelan.
“Mama nggak apa-apa? Kenapa diam saja, Ma?” Mama menggeleng sambil menyentuh tangan Nina di bahunya.
“Mama nggak apa-apa sayang.”
“Pa?” Dirga bergerak mendekati laki-laki baya yang kini memandanginya dengan tenang, lantas memeluknya cepat.
“Dirgantara ...” Lirih laki-laki paruh baya itu sambil mengelus punggung Dirga dengan pelan.
__ADS_1
Air mata Mama turun perlahan dari sana. Nina melirik Mama dan Dirga bergantian. Situasi yang Nina tidak mengerti.
Nina terus mengelus punggung Mama sampai akhirnya Mama berujar lagi seperti mengerti kebingungan apa yang terjadi dengan Nina.
“Itu Papa nya Dirga, Nin.” Ujar Mama tanpa melirik Nina.
Ah, jadi ini Papa nya, Dirga?
Nina tersenyum sekilas ketika laki-laki paruh baya itu meliriknya sambil melepas pelukan pada Dirga.
“Papa kemana saja selama ini?” Dirga mengitruksikan Papa untuk kembali duduk.
“Papa nggak kemana-kemana.”
Syahid memandangi wajah putranya dengan penuh haru. Melirik Mama sekilas lalu bergantian ke arah Nina. Senyum Papa terkembang dengan sempurna melihat seluruh orang disana.
...-
...
Mama menjelaskan alasan mengapa dirinya tidak mengundang Papa di hari pernikahannya. Dirga juga mengaku jika ia sudah mencari Papa dan mereka benar-benar tak lagi memiliki kontak Papa. Saudara terdekat pun tak berada di daerah yang dekat, sehingga mereka tak mengundang siapapun. Sementara Mama, beliau seolah tak bisa merelakan perasaan di masa lalu akibat terlalu menyakitkan.
“Saya pribadi mohon maaf nggak mengundang A’ Syahid. Dirga juga sudah mencari, tapi nggak menemukan Aa.” Mama meminta maaf pada Papa sampai akhirnya laki-laki paruh baya itu mnganggukan kepalanya.
“Saya juga mohon maaf karena pergi meninggalkan kalian. Sejak awal saya sadari ini memang kesalahan pribadi. Hilang dari radar semua orang, terutama ketika perusahaan saya bangkrut.”
Pembicaraan terus berlanjut cukup lama, hingga Papa lalu izin undur diri karena masih ada urusan yang perlu di selesaikan.
Papa mengaku menyesal telah bersikap tidak dewasa saat itu. Begitu pula dengan Mama, beliau begitu menyesali sikapnya yang tidak bisa memendam dendam untuk kebaikan bersama, hingga egois yang pada akhirnya kehilangan semua kontak dan tak bisa mengundangnya di hari pernikahan sang putra, walau sebetulnya Papa ada disana sebagai salah satu petugas kebersihan yang tak sengaja bersitatap dengan Dirga hari itu. Semoga muanya berjalan lebih baik sekarang, sejak bertemunya Dirga dengan Papa.
“Ya sudah, Mama masuk kamar lagi ya. Kalian istirahat deh. Sedang panas begini pasti capek.” Dirga mengangguk disamping Nina.
Sepeninggal Mama, Dirga dan Nina tampak diam sebentar. Lalu suaminya itu lebih dulu meninggalkan tempatnya berdiri, di susul Nina dibelakangnya.
Walau Dirga tidak menemukan Papa dengan usahanya, tapi yang maha kuasa mendatangkan Pala dengan sendiringa hari ini.
Salah satu tujuan hidupnya telah selesai.
...-
...
Dirga menikmati segelas teh rosella milik Nina dengan setoples nastar stroberi. Entah apa yang di pikirkan Nina malam ini hingga gerakan maju mundurnya merapihkan pakaian untuk Dirga, terlihat memusingkan. Padahal sambil menikmati camilan, laki-laki yang duduk di lantai itu ikut membantunya.
“Kamu nggak capek monda-mandir begitu? Kubilang juga tadi aku saja yang ambil-ambil bajunya, Nin. Duduk sini deh, istirahat dulu.”
Sebenarnya ini bukan urusan kerumitan akan bawaan yang harus Nina siapkan untuk suaminya, tapi Nina sedikit merasa bersalah akan kejadian hari ini walau semuanya telah clear. Dia malu bersikap seperti itu di depan Dirga, padahal semua hal yang telah ia pendam selama beberapa waktu ini membuat Dirga juga bingung menghadapinya yang terlihat bad mood dan marah.
Mengingat suaminya akan pergi meninggalkannya lagi untuk bekerja, rasanya Nina tak rela. Bagaimana kalau ada banyak kejadian tidak diinginkan lagi, sedang dirinya hanya dapat menahan semuanya sendiri? Walau laki-laki itu tak tahu isi hatinya, Dirga tetap bisa menjadi pelindungnya ketika rapuh dengan segala perlakuan romantis dan kata-kata manisnya.
__ADS_1
Sekarang Nina justru khawatir Dirga akan pergi lagi, bukan hanya perkara Edara.
“Nggak kak, Nina baik-baik saja.”
“Tapi kamu nggak efisien ambil bajunya. Habis kaos, lanjut ambil kemeja, lalu dalaman. Kenapa nggak di tumpuk dulu, baru bawa kesini? Dah, lepas semua Nin. Duduk sini sama aku.”
“Nina ...” Panggil Dirga karena istrinya tak mau menurut.
Padahal bukannya bersikap seperti repot, Nina hanya sedang mengulur waktu, membiarkan matanya terus memandang sosok itu sebelum dia kembali pergi bekerja.
Dasar cinta, gara-garanya, Nina jadi menggila!
Nina diam ketika Dirga memanggilnya dari tempatnya duduk.
“Kamu kenapa sih? Aneh betul ...” Dirga yang kemudian duduk di sisi ranjang, memperhatikan Nina dengan intens tanpa memanggilnya lagi. Menurut Dirga, Nina itu sangat cantik kalau dilihat dari dekat seperti ini-ah ... Dirga juga jadi membayangkan kebersamaan mereka-Apalagi rambutnya yang hitam legam di bawah bahu terlihat sangat terawat. Nina memang bukan tipe yang suka berias diri, tapi dia orang yang menjaga kerapihan dan Dirga menyukai itu.
Tapi satu yang selalu membuat Dirga tidak bisa mengendalikan perasaan di hatinya, wangi shampoo Nina ketika hanya berdua dengannya, selalu terasa berbeda belakangan. Rasanya pula, Nina seperti begitu menarik hatinya setiap hitungan hari. Bahkan Dirga beberapa kali sulit berpikir jernih ketika bekerja karena sibuk memikirkan Nina dirumah.
Sebelumnya ia memang merasa takut soal jatuh cinta, apalahi ketika Nina sudah mengakuinya duluan. Efek trauma tertolak dari Novia kala itu berujung panjang. Walau sekarang, seiring berjalannya waktu Dirga sedang mencoba untuk memantapkan hatinya kembali, membuka diri untuk memasukkan nama Nina kesana.
Dirga kembali turun dari ranjang, duduk disamping Nina yang bersila dibawah karena perempuan itu masih diam.
“Kamu kenapa sih, Nin? Jangan begitu, ah ... Aku sudah nggak marah, kok.” Katanya seraya menyerah.
Hendak keluar kamar membiarkan Nina sendiri dengan pikirannya kemudian niat hati akan kembali dengan segelas teh rosella untuk istrinya. Namun nahas, ketika lipatan terakhir selesai dan Nina bangkit mendekati ranjang, Dirga tiba-tiba terpeleset kaos yang ia tergeletak disana. Dirga terjatuh diatas ranjang dengan tangan yang tanpa sadar menarik apapun yang secara reflek bia menahan dirinya. Bukan sesuatu yang dapat menahan tubuhnya, Dirga yang saat ini memejam karena tidak ingin meratapi kejadian menyebalkan akibat terpeleset, justru di hadapkan pada sesuatu yang cukup berat menimpa dirinya.
“Kak Dirga! Kamu gimana sih?” Dirga tiba-tiba membuka matanya ketika suara Nina seperti tak ada jarak dengannya. Dirga membuka matanya melihat Nina diatas tubuhnya dengan kedaan tengah misuh-misuh sambil memukul dadanya sebal.
“Aw, aw, aw, jangan pukul-pukul dong Nin.” Dirga melihat Nina diatasnya masih misuh-misuh menyayangkan kejadian Dirga terpeleset. Keadaan menjadi mengerikan secara tiba-tiba karena Nina merasa ia mendasak gugup. Masih tidak ada yang bergerak. Perempuan itu hendak bangkit, tapi tidak bisa karena mau tidak mau dia akan menekan tubuh Dirga dan itu pasti nyeri rasanya.
Tapi satu kemungkinan lain yang hanya bisa Dirga lakukan.
“Ah!” Teriak Nina reflek karena Dirga memutar tubuhnya dengan cepat di ranjang lalu dengan tiba-tiba Nina juga terjatuh tepat di sampingnya dengan kepalanya yang terpaut diatas lengan sang suami. Posisi Nina seperti sedang memeluk Dirga dari samping secara reflek.
Dirga lalu menghempas napasnya berat setelah apa yang ia lakukan. Memutar tubuhnya menghadap Nina. Hal yang sama dilakukan Nina dengan membuka matanya melihat Dirga disampingnya. Netra mereka bertemu. Entah dari mana datangnya, Dirga dengan cepat menarik Nina yang sudah sangat pas dengan posisi layaknya memeluk sepihak.
Tubuh mereka berdekatan bahkan menempel. Dirga dapat merasakan sesuatu dari Nina yang rasanya sangat aneh saat belakangan ini mereka selalu berdua.
Padahal mereka tak lagi dua orang yang ‘sama seperti sebelumnya’ melainkan telah melakukan apa yang seharusnya.
Tapi mengapa rasanya tetap berbeda jika kondisi begini?
“Hm ... Aroma tubuh kamu selalu unik, Nin. Terakhir kali aku ingat aroma stroberi, sekarang kenapa seperti lemon, ya? Kamu ganti sabun?”
“Sabun? Nggak, kok!”
“Kenapa sekarang bau lemon? Aneh, kan?”
Nina menggeleng dalam posisinya. Ia tak mengerti kemana arah pembicaraan Dirga, tapi kemudian laki-laki itu justri mengakhirinya dengan hal yang Nina sendiri sudah paham bagaimana kelanjutannya.
__ADS_1
Well, jika Dirga yang marah, Nina merasa sangat takut, berbeda ketika dia yang marah. Suaminya itu akan selalu terlihat manis dan dengan mudah memaafkannya.
Nina kesal dengan dirinya!