![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Hari pernikahan.
Sudah pukul delapan pagi ketika Nina telah selesai di rias dan mengenakan baju akad berwarna putih dengan design kebaya sukapura yang senada dengan beskap Dirga. Seharusnya keluarga Dirga sudah sampai disana, tapi menurut Solehah yang sedari tadi bolak-balik ballroom dan kamarnya, Dirga dan keluarga belum juga datang. Sisa setengah jam lagi sebeljm acara akad dimulai.
“Betul-betul belum datang, Dek?” Tanya Nina ketika Solehah memasuki kamarnya untuk minum.
“Iya, Teh. Mereka belum datang. Kalau Sol nggak salah dengar, Kak Dirga bahkan belum keluar kamar sedari tadi.” Terang Solehah.
Nina menggeleng tak mengerti mengapa Dirga bisa belum keluar kamar, padahal ini hari pernikahan mereka.
Apa Dirga berusaha membatalkan pernikahan ini dengan alasan yang tidak Nina tahu?
Tapi ... apa itu mungkin? Mama pasti akan mengamuk jika sampai hal itu terjadi. Mereka tak ada masalah apapun, dan sejauh yang Nina tahu pun Dirga menerima semua rencana pernikahan yang telah berjalan.
Nina tak ingin ini terjadi.
*
Satu hari sebelum pernikahan.
Dirga mengemudikan mobilnya dengan kemarahan yang naik hingga ke ubun-ubun. Kata-kata perempuan tadi itu terus terngiang dalam pikirannya.
“... yang saya yakini, dia mungkin sudah jadi gelandangan sekarang.”
Dirga menggebrak kemudinya dengan kesal. Sialan, dia tak mendapat apapun dari perempuan itu.
Kemana dia harus mencari Papa? Haruskah ia mencarinya diseluruh jalan?
Lampu merah menyala dengan terang memberhentikan siapapun yang hendak melewatinya. Mau tak mau Dirga pun berhenti disana. Tangannya diangkat untuk melihat jam yang tertera diarlojinya. Sudah lewat jam sebelas siang.
Perlahan Dirga mencoba menetralkan emosinya. Tak baik mengemudi dengan emosi yang menggebu.
Seorang anak berusia sepuluh tahunan yang Dirga biasa lihat sebagai pengemis dijalanan, menepuk kaca mobilnya. Merasa tak tega, Dirga menurunkan kaca mobilnya.
“Kak ... sedikit kak. Buat makan siang kak.” Ujar anak itu meminta pada Dirga.
Dirga memperhatikannya sejenak. Lalu ide gila yang sebenarnya sempat ia tampik, muncul dipikirannya.
Nggak ada salahnya mencoba walau gue sangsi jika itu yang terjadi pada papa. Pikirnya.
“Nama kamu siapa?” Tanya Dirga pada anak itu.
__ADS_1
Anak itu memandanginya aneh.
“Kok kakak tanya nama saya? Kakak mau kasih saya uang kan?” Tanyanya kembali.
Dirga memandangi raut polos anak itu. Tak ada yang mereka cari selain uang untuk sesuap nasi. Mereka bekerja bukan tanpa keinginan. Memenuhi kebutuhan keluarga dan dirinya sendiri.
Dirga sangat tahu itu.
Dirga pada akhirnya mengangguk.
“Iya Dek, nanti kakak kasih uang, ya. Nama kamu siapa?” Tanya Dirga lagi sambil mengeluarkan dompetnya.
“Nama saya Tara, Kak. Dirgantara.” Ujarnya tenang.
Dirga mengangkat kepalanya, mengarahkan selembar uang berwarna biru ditangannya.
“Wah, nama kita sama.” Dirga memandanginya dengan senyum.
Hitungan di lampu merah menunjukkan angka tujuh puluh, dia harus bersiap untuk jalan.
“Nih buat kamu. Dipakai sebaiknya ya.” Anak itu mengangguk. Mengucap terima kasih, lalu hendak berlalu sebelum Dirga menahannya.
“Sebentar dekDek, kenal orang ini nggak?” Dirga menunjukkan sebuah foto yang tersimpan di dashboard mobilnya.
“Kakak kenal dia?”
Dirga mengangguk.
“Dia Papa kakak. Kamu kenal, nggak? Kakak dapat info dia kemungkinan mengemis atau jadi gelandangan. Tepatnya dimana kakak nggak tahu, tapi siapa tahu kamu pernah lihat misalkan ada pengemis baru?” Tanya Dirga.
Anak itu tampak berpikir.
“Tara pernah lihat kayaknya kak. Kalau nggak salah sih ikut mengemis juga sama dengan kita. Tapi kayaknya dia ini yang waktu itu meninggal saat tidur, waktu ibu Tara sedang menyapu disekitar trotoar tempat dia tidur? Dia bukan ya? Kayaknya sih iya. Karena pengemis disini rata-rata sudah saling kenal, dan orang yang mirip difoto ini pernah Iya-iya kayaknya begitu. Kalau nggak salah sekitar semingguan yang lalu.”
“Kalau pengemis baru sih ada Kak. Kayaknya mirip orang yang di foto itu sih, Tara lupa juga.” Jawabnya polos.
Dirga memasang wajah serius.
“Serius ada pengemis baru? Menurut kamu mirip difoto ini?” Tanya Dirga.
Anak itu tampak mengangguk.
__ADS_1
“Pengemis disini rata-rata sudah saling kenal, dan waktu itu ada pengemis baru yang minta ikut mengemis bersama, ya sudah lama juga sih, ikutnya juga cuma sekali. Tapi kemarin kata ibu, pengemis baru itu meninggal seminggu lalu ditrotoar waktu ada razia satpol. Katanya sih sakit. Kayaknya dia, kak.”
Setelah mendengar kata terakhir bocah di depannya, Dirga semakin kaget dan penasaran.
“Kamu yakin?”
“Ka-kayaknya, kak. Soalnya Ibu bilang pengemis baru, hanya dia pengemis baru disekitar sini.”
“Kamu tahu dimana biasanya mereka dimakamkan sama satpol?”
Anak itu terlihat berpikir.
“Tara nggak yakin juga sih. Cuma biasanya kalau ada yang meninggal, tapi nggak ada identitasnya, mereka dimakamkan di pemakaman umum khusus tanpa identitas. Biasanya pengemis yang nggak punya keluarga dimakamkan disana. Nggak jauh dari sini kok, Kak. Tara nggak tahu nama jalannya, maaf ya kak …”
Lampu merah sudah berubah hijau. Mobil dibelakang Dirga sudah mulai menekan klakson dengan tak sabaran. Buru-buru Dirga mengucap terima kasih, lantas pergi ketempat yang diceritakan anak itu.
Dirga melewati beberapa pemakaman disekitar, mencari informasi dengan bertanya pada beberapa orang soal pemakaman tanla identitas.
Beberapa jam mencari, Dirga menemukan tempat yang diinformasikan orang-orang. Dengan terburu ia memasuki kantor informasi.
“Selamat siang Mas. Ada yang bisa dibantu?” Sapa seorang perempuan yang berdiri dibalik meja infromasi.
“Saya mau tanya daftar orang yang di makamkan di pemakaman khusus ini.” Terangnya.
Perempuan itu mengangguk.
“Iya, bisa. Mas cari siapa ya? Soalnya rata-rata orang-orang yang dimakamkam disini, nggak punya data nama atau keluarga. Atau kalau pun ada biasanya hanya nama sapaan, dan ciri-ciri terakhir sebelum meninggal.”
Dirga mengangguk.
“Um ... saya kurang tahu ciri-ciri terakhirnya. Tapi yang saya cari, dia laki-laki, usianya sekitar lima puluhan, dan meninggal sekitar seminggu lalu ditrotoar. Katanya sih pengemis …” Ujarnya, menjelaskan cerita Tara tadi.
“Baik, Mas. Memang betul, seminggu lalu ada yang dimakamkan tanpa data diri, dan informasinya sih pengemis. Meninggalnya kemungkinan sakit, lalu dibawa polisi kerumah sakit, baru kesini. Usianya kurang lebih segitu. Untuk jelas posisi makam, saya cek data sebentar ya, Mas. Mohon ditunggu.” Ujar perempuan di depannya.
Lima menit menunggu, tak berapa lama perempuan itu kembali.
“Baik Mas, untuk posisi makam dua blok dari sini. Mari, saya antarkan.
Perempuan itu kemudian mengantarnya menemui makam yang dimaksud. Dirga mengucap terima kasih setelah tiba disana.
Lututnya jatuh tak berdaya ketika sebuah gundukan tanah menjadi pemandangan paling menyakitkan dimatanya. Jika ini memang papa, Dirga tak tahu harus berkata apalagi. Ia bahkan tak sempat mengucap maaf saat terakhir kali mereka bertengkar, bahkan masih membencinya hingga kini.
__ADS_1
Siapapun orang yang dimakamkan ini, bahkan jika itu papa, semoga surga adalah tempat terakhirnya.
“Pa, kalau memang ini Papa, Dirga minta maaf karena terlambat menemui Papa saat kondisi Papa mungkin sulit.” Lirih Dirga memegangi nisan tanpa nama di depan nya.