LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[40] Honeymoon Ke Lombok?


__ADS_3

“Bu, Kak Dirga kayaknya tadi sudah pulang ya?” Lila tiba-tiba menyahut setelah kembali dari teras depan untuk membuang sampah.


Melihat sandal jepit Dirga tergeletak disana, membuatnya mencoba memastikan apakah laki-laki  itu sudah pulang.


“Masa? Kok Mama nggak tahu ya? Coba Nin kamu tanya, Aa’ sudah makan siang atau belum. Kesorean banget sih kalau untuk makan siang, mungkin sekalian saja kita makan malam kali, ya.” Nina yang duduk disamping Mama mengangguk ketika perempuan paruh baya itu hendak bangkit menuju ruang makan.


Nina berjalan ke kamar. Sesampainya di kamar, perempuan itu hendak mengetuk pintu, tapi tak jadi karena sesuatu mengganggu pikirannya.


Ah ... dia teringat semalam. Padahal Nina memang tidak pernah berkata apapun soal ‘kesiapannya’ yang pada akhirnya diartikan Dirga sebagai ‘menunda’. Bukannya dia menyesali apa yang akhirnya terjadi semalam, dia hanya merasa jika Dirga memang menginginkan itu dari kata-katanya yang tersirat. Walau pagi harinya mereka baik-baik saja dengan bersama-sama merapihkan beberapa hal dikamar, baik itu menata pakaian Nina atau bahkan mengurusi amplop dan segala kado yang diberikan para tamu.


Ah masa bodo! Nanti saja lah dipikirkan lagi.


“Kak Dirga ... Sudah makan siang?” Tanya Nina menyembulkan kepalanya dari pintu kamar. Dirga menoleh ketika dirinya tengah sibuk dimeja kecil berisi komputer dan beberapa barangnya. Dilihatnya kepala  Nina menyembul dari luar.


“Eh ... Aku kira sudah pada makan.” Nina menggeleng menatap Dirga.


“Sudah kalau makan siang, tapi Mama khawatir Kak Dirga belum makan siang. Kak Dirga sudah makan siang?” tanya Nina lagi. Kali ini perempuan itu bergerak masuk kedalam kamar, mendekati Dirga di posisinya.


Laki-laki itu mengangguk.


“Sudah, tadi aku dari rumah Saiful jadi makan siang disana.”


Nina hanya mengangguk. Perempuan itu bingung harus berkata apalagi. Dirga tampak santai, tapi dirinya seolah kebingungan sendiri menghadapi situasi ini.


“Ada yang mau dibicarakan Nin? Kelihatan bingung begitu.” Tanya Dirga.


Nina menggeleng, tapi kemudian dia kembali bangkit seraya menginstruksikan Dirga untuk turun ke bawah. Bergerak kembali keluar kamar, ia lihat sang suami bergeming saja. Dirga hanya mengangguk sekilas kemudian tak lagi menghiraukan dirinya. Nina pada akhirnya keluar, tak lagi membahas hal apapun.


Hari sudah akan berganti saja, Nina sebetulnya sangsi jika malam ini Dirga kemungkinan akan memintanya. Walau Nina memang masih belum siap, tapi dia tak bisa menundanya juga. Sudah cukup alasan semalam, malam ini sepertinya ia tak bisa menggunakan alasan lalu itu lagi.


Pikirannya berkecamuk, atau hanya dirinya yang terlalu berlebihan memikirkan ini?


Ah … persetan!


“Nin … Aa’ mana?” Tanya Mama ketika dirinya turun dari lantai dua.


“Sebentar lagi turun, Ma.” Nina muncul langsung membantu Lila menyiapkan makan malam.


“Nin, nanti kamu bantu sendok untuk Aa’ rawon sama sate telur puyuh ini, ya. Dia suka banget.” Pinta Mama menunjuk sate telur puyuh di depan beliau.


“Oh, iya Ma.”


Nina tak tahu apa yang Dirga suka sebelum ini, mengingat tak banyak waktu untuk mereka habiskan berdua saja sebelum pernikahan. Ah … ternyata Nina juga lupa bahwa hal sepele seperti ini tak pernah ia persiapkan sebelumnya.


Tak lama kemudian Dirga akhirnya muncul dihadapan mereka. Satu-satunya laki-laki dirumah ini tiba didepan meja makan seraya melirik istrinya yang berdiri dengan jarak dari posisinya.


Dirga bukannya tak mengindahkan ajakan Nina sejak tadi, tapi sekarang misinya mencari papa masih berlangsung sehingga setelah mendapat nomor telepon seseorang yang menurut Saiful dapat membantu mencari jejak papa, Dirga tampak sibuk.

__ADS_1


Walau dia tak begitu memaksakan, tapi dia tetap ingin bertemu papa jika kondisinya beliau sudah tidak seperti dulu lagi. Dia memang membenci papa, tapi rasanya sudah tak ada artinya jika ia terus mempermasalahkan itu.


Dia hanya ingin bertemu papa dan setidaknya bisa memberikan beliau bantuan jika papa ternyata tak pernah muncul dihadapannya karena takut jika dirinya marah⸻seperti ketika meninggalkan ia dan Mamanya tiga belas tahun lalu.


“Duduk, A’ …” Ajak Mama seraya mendudukan tempat disamping Dirga.


Dirga menempati tempat duduk biasanya ketika ia makan dirumah. Memang terasa tak biasa karena saat ini ia tak lagi makan hanya berdua berasama Mama saja. Ada Nina sebagai anggota baru rumah ini yang kedepannya akan terus bersama-sama ketika waktu makan tiba.


“Nin, nggak duduk?” Dirga bertanya menghadap istrinya yang hanya meliriknya diposisi. Nina tengah bersiap dengan beberapa makanan untuk dituangkan keatas piring Dirga.


Ketika tangannya Nina terulur untuk mengambil nasi, dengan segera Dirga menahannya. Memberikan Nina akses untuk diam karena Dirga tak ingin perempuan itu yang mengambilkannya. Nina sudah menyiapkan semua makanan ini. Ia tak harus menyiapkannya juga untuk Dirga.


Sudah seperti raja saja rasanya. Alasan lain karena Dirga tak terlalu terbiasa jika harus diambilkan orang lain.


“Duduk saja, Nin … aku bisa ambil sendiri.” Dirga memandangi Nina.


“Nggak apa-apa, kak. Ini Nina ambilkan, ya …”


Dirga menggeleng. Reflek ia memposisikan tubuhnya menjadi berdiri, mengambil sendok nasi untuk dituangkan kedalam piringnya sendiri.


“Aku ambil sendiri saja. Sekalian aku ambilkan untuk kamu.” Ujar Dirga seraya mengambil alih hal yang ingin Nina lakukan.


Melihat itu Mama tampak hanya tersenyum. Beliau tak ingin menginterupsi dua insan yang kini tengah sibuk dengan satu sama lain. Memberikan perhatian yang bisa mereka berikan pada masing-masing. Sementara Lila yang juga berada disana tak bisa berkomentar sebab kejadian seperti ini langka menurutnya. Biasanya para laki-laki ingin selalu dilayani, namun berbeda dengan Dirga.


“Eh⸻nggak apa-apa, kak …” Ujar Nina cepat.


“Segini cukup?” Tanya Dirga. Nina yang duduk dalam kondisi bimbang itu mengangguk ragu.


“Mama nggak makan?”


“Mama senang lihat interaksi kalian.” Respon Mama tiba-tiba. Perempuan kesayangan Dirga itu terkekeh kecil.


“Ya sudah, kita makan sekarang.”


Makan malam dimulai. Tak ada sahutan dari masing-masing orang disana. Keempatnya hanya sibuk dengan makanan mereka masing-masing sebelum akhirnya Mama yang kembali membuka suara.


“Rencana honeymoon kalian sudah diputuskan? Mama ingat mau bahas ini lagi. Kira-kira kemana ya, A’?” Dirga mengangkat kepalanya ketika pertanyaan Mama ditujukan padanya.


“Belum tahu, Ma. Nggak sempat terpikirkan lagi." Balas Dirga singkat.


“Ke eropa, mau?” Tanya Mama santai.


Lila melirik perempuan yang masih berstatus kerabat jauhnya itu dengan kaget. Bisa-bisanya Mama membahas soal liburan ke eropa se-santai liburan ke Bandung? Lila tak habis pikir sama sekali.


Dia orang baru dirumah ini. Jika itu Nina, dia sudah paham bagaimana kondisi sebenarnya keluarga ini, tapi Lila sebagai orang baru yang hanya tahu bahwa pihak ibunya memiliki kerabat jauh di Jakarta yaitu Mama, tak pernah menyangka jika beliau memang se-berada ini. Memang sudah sekitar dua minggu ini perempuan itu hadir untuk membantu Mama. Umurnya sembilan belas tahun dan baru masuk kuliah tahun ini. Mama memang menginginkan orang yang bisa membantu dirumah, selain untuk menemaninya juga⸻karena ia tak mungkin membebankan semua hal pada Nina, yang notabennya istri dari putranya. Maka Mama mengajak Lila untuk tinggal disini.


Walau untuk hari sabtu dan minggu Lila izin pergi kuliah.

__ADS_1


“Eropa? Mama berlebihan banget. Nggak perlu jauh-jauh, Ma. Aa’ kan nggak libur lama juga. Jadinya nanti belum juga jalan-jalan, sudah panik pengin buru-buru pulang.” Sela Dirga tampak tidak setuju dengan idenya.


“Ya sudah, yang dekat saja …” Kata Mama seraya berpikir.


Dirga meneguk airnya.


“Kemana? Raja ampat? Jangan yang sama jauhnya loh, Ma.” Dirga menatap mamanya serius.


Mama menggeleng meraih tisu di depan nya.


“Nggak perlu raja ampat juga. Mainstream sih sebenarnya kalo tempat-tempat yang dekat, A', tapi masih lebih baik daripada dirumah, kan? Kalian pasti nggak mau terganggu kalau sedang asik⸻”


Belum sempat menyelesaikan katanya, Nina yang sedari tadi hanya diam tahu-tahu tersedak makanannya. Seluruh mata memandanginya kaget, buru-buru Dirga menyodorkan air kedepan istrinya.


“Eh … minum-minum, Nin.” Kaget Mama seraya menyuruh Dirga untuk memberikan air pada istrinya disamping.


“Pelan-pelan, Nin …” Tegurnya lembut. Tangan laki-laki itu bergerak mengusap punggung istrinya pelan. Perempuan disampingnya itu masih terdiam.


Nina bukannya diam, sehingga tak menyimak. Jika diteliti, sebetulnya Nina lah orang paling menyimak sejak tadi. Dia tak tahu harus merespon seperti apa seluruh perkataan yang keluar dari Mama. Dia hanya tak menyangka jika Mama bisa berpikir kearah sana⸻padahal tak pernah ada yang terjadi sejak mereka dinyatakan sah kemarin. Ini hanya spekulasi wajar, karena kebanyakan orang akan berpikir soal keintiman dan privasi ketika menyangkut pengantin baru⸻yang tentunya berlaku juga padanya dan Dirga.


“Mama … duh, kayaknya nggak perlu dipikirkan lah. Soal honeymoon itu perkara gampang. Kalau kita takut keganggu, seharusnya ke hotel dua malam untuk staycation pun cukup.” Putus Dirga seolah mengerti kondisi istrinya yang kaget dengan perkataan Mama. Belum habis perkara menikah, sekarang muncul kembali perkara honeymoon part dua yang sebelumnya pernah Mama bahas waktu dimobil hari itu.


Dirga kembali serius menatap Mama di depannya setelah Nina mengaku sudah baik-baik saja. Perempuan itu mengaku tersedak karena tak sengaja menelan bunga lawang, padahal sebetulnya karena pembahasan Mama yang membuatnya mengingat soal itu lagi!


Mama masih sibuk dengan idenya, perempuan baya itu meneruskan katanya seraya bertanya pada Nina.


“Nggak … Ini hal penting lain setelah menikah, loh! Jangan sampai kamu menyesal nggak pernah pergi honeymoon. Staycation itu untuk sampingan saja, kalau sekarang baiknya kalian menikmati waktu benar-benar berdua agar lebih bagus. Kalau kamu bagaimana, Nin? Kira-kira pergi kemana ya, yang nggak terlalu jauh?” Tanya Mama menjurus pada istrinya. Kini giliran Nina yang ditunjuk atas pertanyaan Mama. Perempuan itu mengangkat kepalanya.


“Nina nggak tahu Ma. Kalau hanya liburan, biasanya kebanyakan orang ke puncak atau ke Bandung.” Katanya berusaha santai.


“Ah … Kalau nggak Bandung, Bogor. Sudah pasaran banget loh, Nin. Sudah mirip ngajak anak-anak SD studi tour. Agak jauh sedikit, tapi nggak jauh banget⸻oh iya! Kamu ingat kan A’, tahun lalu Mama sehabis bantu rekan bisnis Mama yang di Lombok dengan investasi di Villanya? Bagaimana kalau kalian kesana saja? Mama juga ingat kalau ada undangan relasi untuk makan malam. Tadinya Mama baru mau bahas ini sama kamu, tapi kayaknya kalian saja yang menggantikan Mama. Jadinya simpel, nggak begitu jauh, irit waktu juga.” Saran Mama, membuat putranya melirik sang istri sekilas.


Dirga ragu jika Nina bisa menyetujui hal ini, tapi daripada Mama terlalu banyak membahas soal honeymoon dan honeymoon⸻yang sudah membuatnya malas, Dirga akhirnya menyetujuinya sepihak.


Mengusap bibirnya dengan tisu, Dirga mengangguk.


“Ya sudah, boleh.”


Sementara Nina hanya diam saja di tempatnya.


Pilihan itu mungkin yang terbaik daripada terus mendengar Mama yang menginginkannya segera menghabiskan waktu berdua dengan Nina, alih-alih hanya liburan dirumah.


Mama tampak semringah, perempuan baya itu lebih dulu menyelesaikan makan, dilanjut Lila, lalu berlalu menuju tempat cuci piring.


Kedua kalinya Dirga melihat senyum berarti Mama yang tak pernah ia bayangkan akan berlangsung berkali-kali sejak dirinya resmi menikah.


Ini yang ia inginkan, tapi ternyata semua permintaan Mama belum berakhir.

__ADS_1


Dirga mendesah lelah ditempatnya, Nina tampak melirik sekilas, kemudian berdiri segera untuk membantu Mama membersihkan piring bersama Lila.


Entah apa yang Dirga pikirkan, Nina hanya ingin pergi dari hadapannya dan tak ingin membayangkan apapun yang akan terjadi malam ini⸻atau jika tak terjadi apa-apa!


__ADS_2