LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[26] Berkah Orang Yang Ingin Menikah


__ADS_3

“Ibu, Papa, kita permisi ya … InsyaAllah nanti balik lagi kesini bertiga.” Pamit Dirga seraya mencium punggung tangan Bu RW dan Pak RW, disusul Rehan di belakangnya. Laki-laki  itu mengangkat bungkusan berisi buah yang entah mengapa justru diberikan padanya, padahal itu hadiah dari rumah sakit. Alasannya konyol, karena menurut Bu RW dan Pak RW  Wahda tak begitu suka buah, dan mereka masih agak repot sehingga Rehan menerimanya dengan senang hati.


Walau Rehan bilang Wahda itu susah buang air besar, tapi perkataannya seolah di abaikan begitu saja oleh Wahda sendiri.


“Hati-hati ya, Nak. Terima kasih sudah mau mengantar Wahda tadi. Ibu bersyukur sekali, untung ada kalian.”


Dirga tersenyum.


“Sama-sama, Bu, Pa. Wahda kan sudah seperti saudara kita sendiri.  Kalau gitu kami permisi …” Putus Rehan seraya  bersalaman sebentar dengan Gibran sebelum akhirnya keluar ruangan.


Keduanya berjalan beriringan keluar rumah sakit.


“Lo naik apa, Han?” Tanya Dirga ketika mereka hendak memasuki area parkir.


“Gue naik mobil si Wahda tadi. Tapi kan kuncinya gue kasih Gibran. Jadi, motor gue masih di rumahnya. Antarkan kesana, ya Dir?”


Dirga mengangguk.


“Ya sudah, gue bawa mobil.”


Keduanya kemudian masuk kedalam mobil, melirik jam sebentar, masih ada waktu sekitar setengah jam sebelum masuk waktu ashar.


“Kalau sudah adzan, asharan dulu lah sekalian. Nanti berhenti di masjid pinggir jalan.” Ujar Dirga yang dibalas anggukan Rehan.


Lalu laki-laki itu memutar radio.


Keduanya hanyut pada suara pengisi radio wanita yang terdengar over bahagia.


Si Rehan sih ketawa-ketawa saja.


“Senang ya Dir lihat Gibran sudah gendong anak. Bahagia banget kayaknya.” Ujar Rehan membuka suara dengan wajah berbinar. Rehan ini orangnya memang mudah terbawa suasana. Baperannya sebelas dua belas lah sama Dirga.


Dirga tertawa.

__ADS_1


“Lo mau punya anak juga? Sana bikin.” Sindir Dirga menunjuk Rehan.


Rehan berdecak.


“Buset, kayak kucing saja. Rusuk gue saja belum ketemu Dir. Bagaimana mau lanjut ke proses anak?” Kelakar Rehan membuat Dirga kembali tertawa.


“Ya di carilah. Jangan ditunggu saja.”


Rehan memandangi Dirga dengan sengit.


“Lo meledek gue karena sudah mau sampai tahap sana kan? Iya deh,  iya, yang sudah di depan mata sih beda. Lo sendiri, mau punya anak sama si Ning—siapa lo cerita kemarin namanya? Nining? Nisa? Siapa Dir?”


“Nina, ingatan lo buruk banget, Han.”


“Iya, Nina. Mau nggak lo punya anak sama dia walaupun sampai sekarang belum menemukan perasaan apapun?”


Anak, ya? Siapa yang nggak mau. Pasti sebagian besar laki-laki yang menikah, nantinya menginginkan seorang anak, walau Dirga belum bisa memastikan. Dia juga harus menanyakan itu pada Nina.


Rehan tersenyum, matanya fokus memandangi jalan.


“Gue doakan yang terbaik buat kalian. Nggak perlu dipikirkan masalah anak. Rejeki dari-Nya nanti datang sendiri. Sekarang sih dijalani saja, sambil menumbuhkan perasaan diantara kalian—oh atau jangan-jangan diam-diam lo sudah ada perasaan sama Nina itu, ya?” Selidik Rehan menatapnya tiba-tiba.


Dirga melirik Rehan sesekali.


“Hah? Nggak lah, belum ada.”


“Yakin antum? Soalnya-maaf-maaf nih, kita kalau laki-laki ‘bisa’ tanpa perasaan, kalau perempuan cenderung peka. Mereka butuh perasaan untuk menanamkan rasa percaya pada pasangannya.” Ujar Rehan santai.


“Betul sih, gue nggak bisa memastikan hal itu. Kita lihat nanti saja, Han. Gap antara dia sama gue agak kerasa sebetulnya, ya ... walau kita sudah sama-sama dewasa. Untuk saat ini gue let it flow saja.”


Dirga kembali menginjak gas. Melirik Rehan disampingnya.


“Tapi nih ya, tumben loh lo waras begini, Mas?” Tanya Dirga mengejeknya dengan panggilan ‘Mas’ seperti nama tengahnya, Rehan Kemas Indra.

__ADS_1


Rehan berdecak.


“Lo pikir selama ini gue gila? Jangan ngaco antum!” Gertak Rehan kesal.


Tak  langsung menjawab, laki-laki dibalik kemudi itu kembali tertawa semakin senang.


Sudah berapa banyak Dirga tertawa sedari tadi?


“Et ... iya Bang, ampun.” Kelakar Dirga berlagak takut menatap Rehan disampingnya. Walau begitu, diam-diam ia mendoakan yang terbaik untuk Rehan seperti apa yang sudah laki-laki itu lakukan padanha. Satu kekuatan lain Dirga dapat dari orang terdekatnya. Dari orang yang Dirga sudah anggap lebih dari sekadar sahabat. Rehan adalah saudara tak sedarah yang benar-benar mengerti dirinya.


...-...


Nina tengah duduk sambil tertawa kecil melihat chat dari beberapa teman-teman kampusnya. Mereka membicarakan soal banyak hal sebagai mahasiswa semester akhir yang bagi Nina sendiri agak menyedihkan sekaligus menyenangkan karena bayangan akan segera menyelesaikan pendidikan sudah di depan mata. Beberapa dari mereka ada yang sudah menyelesaikan lebih dari bab dua, ada pula yang akan segera sidang skripsi, bahkan ada yang baru akan sidang seminar proposal. Nina bersyukur, walaupun dia masih pada bab dua menuju bab tiga, alur pergerakannya lancar. Sebelum ini dia memang tak pernah menambah mata kuliah apapun diluar paket yang sudah ditentukan setiap semesternya, berhubung Nina mendapat beasiswa dan dia tak ingin terburu juga, atau jika hal itu ia lakukan, bisa-bisa indeks prestasinya turun. Nina sebetulnya tak banyak memiliki teman dekat dikampus, rata-rata ia hanya beteman secara umum, sehingga ia hanya menjadi sider saja di grup, dan muncul sesekali kalau butuh.


Seharian ini pun ia tengah menghabiskan waktu mengumpulkan beberapa materi, jurnal dan sumber-sumber skripsinya dari berbagai tempat. Baik buku, maupun research secara online.  Kegiatan yang sebetulnya hanya dilakukan di depan laptop ini bukan semata-mata tak menimbulkan efek pada tubuhnya, tapi sedari tadi Nina merasa begitu pegal pada bagian-bain tubuhnya, dan benar-benar seperti remuk redam. Maka barusan ia akhirnya memutuskan untuk mandi air hangat sebagai cara merilekskan semua sendi-sendinya yang kaku.


Sambil bermain dengan ponselnya, Nina teringat sepuluh hari lalu, sekembalinya mereka dari butik hari itu. Ia dan Dirga menulis list orang-orang yang akan diundang ke pernikahan mereka. Tak banyak yang Nina tulis, karena ia sudah sempat mencatat beberapa nama dikala senggang. Tapi dia ingat belum menelpon Emak di kampung.


Nina belum tahu siapa saja kerabat dikampung yang akan diundang. Rencananya acara pernikahan akan diadakan di Jakarta, dan Mama menjamin biaya akomodasi serta penginapan bagi keluarga Nina dan kerabatnya yang ingin datang menghadiri pernikahan.


Tanpa pikir panjang, Nina beralih ke icon kontak untuk segera mencari nomor Emak, lantas menghubungi beliau.


Keluarga Nina memang sederhana, tapi Abah punya satu sawah dibelakang rumah yang merupakan warisan dan ternyata sudah beliau jual. Beberapa hari selepas  lamaran, Abah dan Emak memang menelpon Mama untuk menanyakan masalah biaya pernikahan. Mama tak ingin mereka repot soal uang acara pernikahan karena beliau meyanggupi untuk mengurus semuanya, bahkan keluarga Nina tak diizinkan Mama untuk mengeluarkan uang karena beliau bersungguh-sungguh untuk meng-cover semua biaya. Berulang kali Mama berkata bahwa beliau sudah menyiapkan semua dana pernikahan, bahkan jauh sebelum Dirga akan menikah.


Tapi tanpa memberitahu Nina, ternyata Abah tetap menjual petak sawahnya dan mendapat uang yang lumayan.


Abah bilang semua urusan biaya sudah selesai diurus oleh Mama dan Dirga, sehingga tanah sawah yang beliau jual kembali dibelikan sepetak tanah lain. Walau ukurannya lebih kecil, setidaknya beliau punya modal untuk membeli kebutuhan bercocok tanam. Beliau meminta Nina untuk tetap tenang dan fokus pada persiapan pernikahannya karena keluarganya tak ada masalah apapun dikampung.


Abah pada akhirnya memilih keluar dari pekerjaannya dan kembali mengurus sawah yang dibeli dari uang penjualan sawah lama. Walau ukurannya lebih kecil, setidaknya lebih baik daripada hanya kosong karena tak ada modal seperti sebelumnya.


Nina berucap syukur sebanyak mungkin. Momen bahagia satu persatu menghinggapi dirinya dan keluarganya.


Mungkin ini salah satu berkah orang yang ingin menyegerakan kebaikan, salah satunya pernikahan seperti yang Nina lakukan.

__ADS_1


__ADS_2