LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[38] Malam Pertama Sebagai Suami dan Istri


__ADS_3

Dirga mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Semua ini karena masalah Icha yang ingin menikah muda, namun papa melarangnya. Papa sendiri ingin Icha kuliah dulu dan menempuh pendidikan tinggi agar bisa membantu mengurus perusahaan. Saat itu usia Dirga tiga belas tahun, dia terpaut usia enam tahun dari almarhumah kakaknya.


Papa punya harapan besar pada Icha yang menginginkan dia bisa membantu papa dan menjadi pemegang saham perusahaan. Namun Icha enggan, karena dia tak suka dengan urusan jabatan dan hal lainnya. Rencananya dia akan menikah muda, namun tetap melanjutkan kuliah. Pada akhirnya pernikahannya tetap gagal dan ia juga meninggal dunia karena kecelakaan. Karena terus bertikai, dan pisah ranjang sejak kematian Icha, setahun kemudian Mama dan Papah bercerai. Hingga saat itu, hampir belasan tahun, tak ada kontak dengan keluarga papa lagi. Dirga dan Mama pada akhirnya hanya hidup berdua.


“Iya … Mama tahu kita nggak mengundang keluarga besar papa, karena mama pun nggak tahu dimana dia sekarang!” Terang Mama.


Dirga mengangguk. Dia paham bahwa Mama memang tak ingin ada hal yang berkaitan lagi dengan keluarga besar papa. Sebagai anak, dia tetal menginginkan kehadiran Papa pada hari spesialnya.


“Iya, Aa’ paham. Maaf karena sudah berbicara tinggi sama Mama ya. Aa’ juga anak Papa, wajar rasanya jika Aa’ berharap beliau bisa hadir di acara besar seperti ini. Ya … walau akhirnya tetap nggak bisa, karena Aa’ nggak berhasil mencari Papa,” Ujar Dirga seraya menatap Mama dengan senyum kecil.


Kenyataan lain yang ia tutupi, kemungkinan jika yang ia lihat tadi memang benar papa, atau hanya halusinasinya karena beliau memang sudah meninggal.


“Maafkan Mama ya, A’. Ini keegoisan kami sebagai orang tua sehingga kamu jadi merasa nggak utuh seperti sekarang.” Mama tampak merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi. Walau semua itu berlaku dimasa lalu, tapi Dirga sedikit menyesali satu hal. Dia tak pernah merasa memaafkan Papa sebelum ini.


Ya … Dia sangat membenci laki-laki itu.


“Iya, Ma … Aa’ juga minta maaf ya sudah bicara kasar dan tinggi sama Mama. Semoga lain kali hal seperti ini nggak kejadian lagi, ya.”


“Iya, A’. Mama minta maaf juga ya …”


Dirga mengangguk. Lalu mendekat kearah Mama, memeluknya dengan erat.


“Aa’ juga minta maaf karena nggak bisa menemui keluarga Nina sebelum pulang tadi. Lain waktu Aa’ akan coba hubungi Abah, atau sekalian mengajak Nina pulang kampung ya, Ma. Aa’ juga belum baca surat yang waktu itu beliau berikan sih.” Ujar Dirga melepas pelukannya pada Mama.


“Nanti coba telepon Abahnya Nina ya. Wajar untuk orang tua, terutama seorang ayah, ingin yang terbaik untuk anaknya. Abahnya Nina pasti ingin mengucap satu, dua pesan untuk kamu sebagai orang yang kini menjaga putrinya.” Terang Mama.


“Iya, Ma. Aa’ paham. Ya sudah, Aa’ masuk kamar dulu ya, Ma. Mama juga masuk kamar, istirahat …” Putus Dirga tersenyum sebelum akhirnya beranjak menuju kamarnya. Melangkah meninggalkan Mama yang juga bergerak menuju kamar beliau yang berada di lantai satu, sementara Dirga di lantai dua.


Untuk sementara ia tak akan cerita pada Mama soal yang terjadi sebenarnya hari ini. Dirga ingin memastikan jika papa memang bemsr masih hidup, ia harus menemuinya langsung. Namun sebaliknya, jika ia benar-benar sudah meninggal, Dirga harus belajar untuk mengikhlaskan.


...-


...


Dirga membanting dirinya di ranjang setelah tiba dikamarnya. Ruangan ini terlihat sedikit berantakan karena ada beberapa kado berserakan dilantai. Kado memang tak banyak, tapi amplop menggunung di ujung sofa dekat jendela mengatakan bahwa tamu yang datang memang banyak.


Dirga sejenak masa bodo dengan semua itu. Sekarang ia hanya ingin istirahat karena seharian ini benar-benar menguras perasaanya.


Saat sedang merebah, suara gemercik air yang terdengar samar dari kamar mandinya membuat pikiran Dirga sedikit tenang. Ia suka debur ombak atau hantaman air terjun pada batu, rasanya menenangkan.


Seseorang tengah mengisi kamar mandinya.


Tak bukan dan tak lain, pasti Nina.


Dirga memilih berbaring miring ke kanan menutup wajahnya dengan bantal. Kakinya yang masih berbalut kaos kaki dan tubuhnya yang belum terbasuh sejak acara pagi tadi tak membuatnya khawatir. Ia bisa mandi esok hari-atau sehabis Nina nanti-tak janji jika sudah terlanjur tertidur.


Dirga hanya malas melepas semuanya.

__ADS_1


“Sudah pulang?” Dirga menangkap suara lembut yang sampai di telinganya ketika hendak memejam. Dia memutar tubuhnya sejenak, menangkap suara itu berikut sosoknya.


Nina berdiri di depan kamar mandi dengan piyama nyaman yang dan wajah segar.


Dirga memandang perempuan itu sekilas lalu kembali sibuk pada guling dipelukannya. Alih-alih menjawab, Dirga memilih memejamkan mata. Enggan memulai percakapan dengannya sebab ia terlalu lelah.


Nina tak mengerti kenapa Dirga mengabaikannya, tapi dia maklum. Mungkin Dirga lelah.


Mengalihkan pikiran, perempuan itu memunguti barang-barangnya yang berserakan dibawah koper. Dia belum sempat menata barang-barangnya karena sejak kepulangan tadi, jangankan berberes, mandi pun Nina sampai tak sempat. Karena terlanjur gerah dan merasa tak nyaman dengan kegiatan seharian ini, Nina mau tak mau tetap mandi dipukul sembilan malam.


Selama beberapa menit Nina hanya sibuk dengan barang-barangnya, hingga Dirga yang pada akhirnya tampak bergerak gelisah, kemudian memposisikan dirinya duduk doatas ranjang. Memperhatikan Nina yang duduk dilantai seraya merapikan kembali pakaian dan beberapa perlengkapan serta berkas-berkas kuliahnya.


“Malam-malam baru mandi, Nin?” Tanya Dirga dengan suara serak.


Laki-laki ini benar-benar dalam kondisi lelah, tebak Nina.


“Iya, Kak. Sejak tadi nggak ada waktu untuk berberes dan mandi. Tamu masih banyak yang datang kerumah juga, jadi baru selesai bangetnya ya sekarang.” Terangnya tenang.


Nina tak memandang Dirga ketika berbicara. Mendadak ia merasa gugup dengan kondisi ini. Ini malam pertana mereka berada dalam kamar yang sama dalam status yang lebih intim, suami dan istri.


Dirga kembali diam selama beberapa waktu. Nina berdiri dari posisinya, memasukkan baju kedalam lemari baru di depan nya.


“Lima ratus tamu saja lelahnya seperti ini.” Gumam laki-laki itu. Tak menunjuk Nina dalam katanya.


Nina tak merespon, masih asyik dengan kegiatannya.


“Lelah sih, Kak. Tapi nggak apa-apa, kalau tunggu besok takutnya nggak sempat. Jadi berantakan, deh.” Jelasnya.


Dirga mengangguk.


“Soal tadi aku pergi, apa banyak yang menanyakan? Mama agak marah karena aku tahu-tahu menghilang. Maaf karena nggak sempat pamit dengan Abah juga, ada hal yang harus aku urus tadi.” Terangnya.


Nina mengangguk, kemudian memutar tubuhnya menatap Dirga.


“Nggak apa-apa, Kak. Soal Abah gampang kok, kita bisa telepon atau ketemu saja nanti. Nggak jauh juga ...”


“Ya sudah. Kamu sudah makan malam?” Tanya Dirga seraya mendesah pelan.


Nina mengangguk.


“Sudah, Kak. Kak Dirga sudah makan?”


Dirga mengangguk.


“Sudah ...”


Beberapa detik tak ada perkataan apapun yang Dirga lontarkan padanya, Nina memilih kembali pada kegiatannya memasukkan baju kedalam lemari.

__ADS_1


“Ah iya ... Ini malam pertama ya, Nin?” Kata Dirga terkekeh, terdengar seperti pernyataan pada diri sendiri.


Nina menelan salivanya mendadak. Kegugupannya makin meningkat setelah perkataan itu terlontar. Berdua dikamar seperti ini saja dia sudah merasa gugup, ditambah perkataan yang seolah menjurus pada arti lain. Nina tak bodoh, siapa di dunia ini yang tak paham soal definis malam pertama bagi para pengantin? Tentunya hal yang mengarah kesana. Walau begitu, Nina sebetulnya berharap untuk tidak terjadi apapun malam ini.


Jujur, dia belum siap ...


Tapi ... ini juga kewajibannya, hak mereka bersama, hak suaminya juga jika ia meminta.


Nina pasrah ...


“Kita harus ngapain ya, malam ini Nin?” Tanya Dirga lagi-lagi terkekeh. Belum cukup kegugupannya, Nina juga merasa sedikit tremor karena tahu-tahu ia membayangkan sesuatu yang-ah! Ia bahkan merasa sulit untuk menyebutnya.


Dia tak menjawab. Ragu jika akhirnya pertanyaan itu berakhir retorika karena Dirga mungkin lebih tahu apa yang membuatnya bertanya seperti itu.


Nina terus bergerak menyibukkan diri dengan seluruh barangnya. Ketika baru saja berdiri sehabis mengangkat botol parfumenya, suara decit ranjang terdengar ketika Dirga turun dari sana. Laki-laki itu mendekat kearahnya, memberi jarak memang, walau tetap, rasanya mendebarkan untuk Nina!


“Barang kamu masih banyak, Nin?”


“Hah? Oh? Nggak ... sisa beberapa lagi, sih.” Katanya berusaha mengontrol debar jantung yang keterlaluan ini.


“Aku bantu deh. Kayaknya harus dirilekskan dulu. Sakit kepala at the same time, mumet, campur aduk pokoknya.” Ujar Dirga seolah menjelaskan pada Nina kondisinya.


Entah apa ini yang disebut curhat, tapi hal tak biasa ini dilakukan Dirga untuk yang pertama kalinya ketika ia berada dekat dengan Nina. Ya ... Dirga seolah membangun suasana akrab.


Nina melirik laki-laki yang kini mengangkat map berisi berkas kuliahnya.


“Ini mau taruh dimana?” Tanya Dirga.


Nina sejenak terdiam, tapi kemudian ia hanya menunjuk laci meja rias tanpa bersuara.


“Kalau ini?” Tanya Dirga lagi mengangkat binder besar dari lantai.


“Di meja rias saja sementara ini, Kak.” Jawab Nina tanpa menatap Dirga disampingnya.


“Benar, aku juga dulu seperti ini ketika tugas akhir menyambut. Karena aku program diploma, jadi menyebutnya tugas akhir, walau sama saja sebetulnya. Skripsi kamu sudah tambah bab dari yang terakhir kali aku tanya, Nin?” Dirga kembali melirik istrinya disamping. Diam-diam Dirga terbawa suasana dengan aroma tubuh Nina yang sangat wangi. Sabun apa yang se-wangi ini?


“Masih stuck di bab dua, kak. Nina masih belum dapat bahan yang banyak untuk teorinya, dosen pembimbing masuh meminta lebih banyak bahasan.” Responnya.


Dirga tampak mengangguk. Tapi kemudian laki-laki itu berhenti dari gerakannya mengngkat barang-barang Nina, menatap perempuan disampingnya yang kini telah berstatus istri.


Ah ... istri. Mulai sekarang Dirga harus ingat bahwa statusnya bukan lagi lajang.


“Nin ...” Panggilnya.


Nina berhenti dari gerakannya setelah meletakkan satu binder besar lagi keatas meja rias.


Tak berani menatap Dirga, perempuan itu tetap dalam posisinya.

__ADS_1


__ADS_2