![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Nina keluar kamar setelah melakukan ritual mandi pagi sehabis menyirami tanaman. Mama nggak tampak di sekitaran rumah. Mungkin lagi kerumah tetangga.
Langkah Nina panjang-panjang sehingga perempuan itu pun sampai di halaman belakang rumah. Duduk dengan tenang, Nina mulai memikirkan banyak hal bahagia yang terjadi selama hidupnya belakangan.
Seperti kejadian tak terduga dimana Nina tiba-tiba dilamar sama Mama padahal rencana awal dia bekerja di rumah bu Lilis untuk membantu biaya kuliahnya. Bertemu Dirga dan banyak teka-teki yang laki-laki itu simpan. Menjajaki kehidupan baru dengan status baru yang sejak awal sebenarnya sangat menganggu buat Nina.
Tapi mengulang ingatan pada hal-hal yang kurang menyenangkan sebenarnya adalah pengalaman berarti yang terkadang tidak semua orang bisa menyimpulkan begitu. Tapi ini Nina, perempuan desa yang sudah membuktikan kalau dirinya bisa eksis dengan macam-macam hal ekstrim yang acap kali dia terima entah untuk hal ringan atau masa depannya.
Memikirkan banyak hal terkadang membuat Nina harus bisa berbesar hati karena semuanya memang kerap diluar keinginan. Bahkan Nina tidak berpikir menikah semuda ini. Dia juga nggak terpikir untuk menikah sama Dirga apalagi punya mertua kayak Mama.
Hah, semuanya itu cerita hidup Nina yang mungkin kalo dituang dalam sebuah cerita, nggak akan nada akhirnya juga.
Nina masih setia duduk di halaman belakang ketika terdengar suara salam dari luar rumah. Bergegas Nina berjalan menuju luar rumah sambil menerka siapa kah yang mungkin datang kerumah hari ini.
"Waalaikumsa- Kak Dirga?"
Wajah laki-laki di depan nya kelihatan sumringah hingga Nina tidak bisa menutupi rasa di hatinya setelah hampir dua bulan Dirga nggak pulang. "Hai Nin." Ujar Dirga sambil mendekati Nina. Tubuh proposionalnya bergerak dengan manja sambil memeluk Nina dengan erat. Kepalanya ia jatuhkan diantara lekuk leher Nina. Menghirup aroma feromon khas Nina yang selalu membuatnya merindukan Nina dimanapun ia berada.
Nina cukup kaget menerima pergerakan Dirga. Namun perempuan itu akhirnya sadar, lantas balas memeluk Dirga dengan erat. "Kangen kamu deh." Ujar Dirga dengan manja. Tangan mungil Nina bergerak mengelus punggung kokoh Dirga yang berbalut jaket hitam kesayangannya.
Nggak ada yang sangka Dirga pulang hari ini. Bahkan semalam Dirga kelihatan sibuk sampai-sampai chat Nina nggak dibaca. "Kayaknya semalem kamu sibuk?" Tanya Nina masih tidak mengubah posisi mereka. Dirga kemudian mengangkat kepalanya sambil tetap memegang tangan Nina, "Nggak usah bilang-bilang lah, nanti kamu malah jadi ribet mau nyiapin ini, mau nyiapin itu. Aku nggak butuh semuanya, Cuma butuh kamu saja kok." Ujar Dirga yang diakhiri senyum.
Nina menggeleng pelan, "Ah kamu sih sukanya bikin orang-"
"Assalamualaikum." Nina belum selesai mengucapkan katanya ketika sebuah salam mengintrupsi. Pandangan perempuan itu jatuh pada seorang laki-laki yang mengucap salam dengan langkah yang semakin mendekati mereka. "Waalaikumsalam. Mas Dahlan?" Tanya Nina dengan kaget melihat Dahlan ada di depan mereka.
"Iya Nin, aku yang bawa Dahlan kesini. Cuma aku duluan karena aku naik motor kan Dahlan bawa mobil."
Nina menatap Dirga, "Kalian janjian mau pergi atau gimana? Sama-sama baru pulang kok sudah mau pergi la-"
"Nggak, nggak, ini semua karena aku yang bawa mereka berdua." Pandangan Nina kini kembali beralih pada seorang laki-laki lain yang turun dari mobil yang Dahlan naiki.
__ADS_1
"Mas Muhadi?" Kekagetan Nina tidak habis saat dirinya melihat Muhadi tepat di depan nya. Untuk apa laki-laki itu kesini.
"Jadi Nin, sebenarnya berbarengan aku dan Dahlan pulang kemarin, Bang Muh minta Dahlan dan aku untuk jemput Bang Muh dirumah Dahlan. Katanya Bang Muh mau menjawab semua pertanyaan kamu." Ujar Dirga dengan pelan sambil menatap Nina dengan senyuman.
Tiba-tiba Kristal bening luruh dari kedua mata bulat milik Nina. Tanpa kata, Nina langsung memeluk Dirga.
Ya Allah, doa Nina tadi pagi akhirnya bisa kejawab.
Rumah tiba-tiba jadi ramai saat Mama sudah kembali dan bahkan ada Novia yang datang bersamaan dengan Mama. Benar-benar seperti sedang memebicarakan hal besar. Memang begitu yang sebenanrya akan terjadi sekarang.
Nina sudah menyiapkan minum dan beberapa makanan ringan disajikan diatas meja. Sedari tadi setelah Muhadi mengatakan alasan kehadirannya, Nina selalu memegang dadanya mengontrol degup jantungnya yang memburu karena khawatir. Khawatir akan apakah Muhadi itu benar kakaknya atau malah Muhadi itu bukan kakaknya. Tapi mendengar dan melihat gelagat Muhadi saat Nina mengatakan nama Fahri di depan dirinya, seakan mengatakan hampir dua puluh persen kemungkinan kalo Muhadi adalah benar A’ Fahri.
"Baik, jadi karena semuanya sudah ada disini, aku persilahkan kepada Bang Muh untuk menyampaikan keinginannya." Ujar Dahlan membuka pembicaraan diantara semua orang disana. Keadaan tiba-tiba menjadi tegang setelah Dahlan membukanya.
Muhadi terlihat berdeham sejenak, "Baik, sebelumnya aku ucapkan terima kasih kepada Dirga yang sudah memberikan tempat dan waktunya untuk aku bisa menyampaikan hal yang selama ini sebetulnya menjadi sesuatu yang sangat mengganggu buat aku pribadi," Muhadi melirik Novia disamping Mama, "Sebelumnya juga, aku minta maaf karena membuat Nina dan Dirga menunggu. Tapi benar, apa yang aku rasakan saat mendengar nama itu disebut, tidak bisa dijabarkan secara kata. Intinya saat itu benar-benar saat paling sakit untukku. Aku merasakan sakit sejak puluhan tahun lalu sebab saat itu aku masih terlalu kecil untuk bisa mengerti. Benar, aku ini Fahri Firmansyah," Muhadi memberi jeda dari kata-katanya setelah Nina terlihat agak syok sambil memeluk Dirga. Tapi perempuan itu masih diam karena dia menghargai kata-kata Muhadi yang belum selesai.
"Kenyataan sebenarnya kalau aku diculik, itu nggak benar. Sebelumnya Dahlan sudah menceritakan bagaimana dan kenapa Nina dan keluarga mencari Fahri. Aku sebenarnya nggak diculik. Justru aku yang melarikan diri dari Emak saat setelah aku khatam Iqro. Nggak ada anak kecil usia lima tahun saat dikampung yang sudah lulus iqro. Hanya aku yang lulus sehingga saat itu Emak memberikan aku hadiah dengan bentuk jajan. Yah, aku diperbolehkan jajan apapun di pedagang yang kebetulan menjajakan jualannya di depan TPA. Saat itu aku sedang menunggu jajananku, tapi karena ada hal lain yang menarik perhatianku, akupun pergi dari tempatku menunggu. Ternyata saat itu ada pawai ramai-ramai karena ada anak KKN yang kebetulan melakukan kegiatan di kampung. Aku mengikuti sorak soray pawai hingga aku dinaikkan keatas mobil pick up yang mengangkut sound system.
Aku menggeleng sambil terus menangis karena ketakutan. Akhirnya mereka membawaku menaiki mobil mereka dan aku baru sadar kalau mereka mengira aku ini anak yatim piatu yang hanya ikut bersenang-senang dalam pawai hingga menangis karena tidak bisa pulang. Mungkin itu juga inisiatif mereka untuk membawaku ikut mereka. Aku pun sampai di kota hingga akhirnya aku menanyakan tempat itu. Mereka bilang aku akan menjadi anak mereka dan aku pula akan dibawa mereka pergi jauh dengan yang namanya pesawat. Ternyata aku dibawa keluar negeri untuk sementara menetap karena suaminya harus melanjutkan kuliah S3 disana. Aku tidak mengerti. Yang kupahami hanya mereka adalah orang baik dan aku diberikan apa yang disukai anak kecil.
Mereka memberiku mainan lalu mengajakku berfoto sebagai kenangan masa kecil. Setelahnya aku sudah tidak ingat lagi karena Mama hanya menceritakan itu dan sedikit ingatanku tentang masa kecilku yang masih ada sampai sekarang. Semenjak kecelakaan itu, aku jadi amnesia dan sebetulnya belum benar-benar pulih hingga kini. Dan satu lagi, mengapa aku begitu membenci nama itu hingga sekarang sampai mengapa aku tidak berniat mencari orang tua kandungku, itu semua karena pikiran anak-anakku selalu meyakini kalau Emak tidak menyayangiku lagi karena tidak mencariku. Dan dua suami istri itu adalah Mama dan Papa" Ujar Muhadi mengakhiri ceritanya.
"Nggak, itu nggak bener Kang. Emak sudah cari A’ Fahri bertahun-tahun sampai akhirnya Abah sendiri yang meminta polisi menutup kasusnya." Ujar Nina membenarkan pernyataan Muhadi.
"Baik, kalau memang begitu, berarti anggapanku baru-baru ini adalah benar."
Nina terlihat menangis dengan sesenggukan, "Alhamdulillah kalau A’ Fahri akhirnya sudah mau mengakui ini. Nina sangat berterima kasih dan benar-benar mengucap syukur sebanyak mungkin kepada Allah," Semua orang disana terlihat sama satu dengan yang lain. Air mata ikut luruh dari mata masing-masing. "Jadi Nin, untuk merayakan kembalinya Akang, boleh A’ Fahri meluk Nina?" Ujar Muhadi tiba-tiba yang membuat semua orang disana makin tak kuasa menahan tangis. Dengan gerakan cepat, Nina langsung berdiri kemudian memeluk Muhadi dengan erat.
Tangisnya tak kuasa dibendung untuk tidak keluar dengan histeris. Nina pun menangis dengan histeris dipelukan Muhadi. Dirga yang melihat itu, tak kalah sedihnya. Mama malah memeluknya ketika perempuanparuh baya itu sudah tak sanggup lagi menyaksikan hal ini.
"Assalamualaikum." Keadaan sedih dan haru yang tengah menyelimuti, tiba-tiba terintrupsi oleh sebuah salam. Novia yang kebetulan berdiri dengan arah yang lebih dekat menjangkau pintu masuk, buru-buru berdiri menyambut perempuanparuh baya dan pria paruh baya serta perempuan muda yang terlihat kebingungan.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, masuk bu." Novia membantu keluarga itu untuk masuk.
Nina dan semua orang yang berdiri disana terlihat kaget dengan apa yang mereka lihat, "Emak? Abah?" Ujar Nina dengan suara khas orang sehabis menangis. Lalu Novia dan Dahlan bangkit berdiri memberikan tempa untuk tamu Mama- yang adalah orang tua Nina, untuk duduk.
Mama langsung memeluk Emak dengan erat, "Ya Allah bu, mau datang kok nggak bilang-bilang?"
Emak terlihat tersenyum menanggapi kata-kata Mama, "Alhamdulillah ada waktu ada rejeki juga buat kejakarta, sekalian nganterin Saiful balik ke asrama. Maaf Bu Elsa, sebenarnya sudah lama mau niat kesini. Tapi akhirnya baru kesampean sekarang."
Nina memperhatikan Emak dengan bingung. Tangannya masih ada dalam genggaman Muhadi. "Maaf kalau ini kedatangan kita malah buat ganggu." Ujar Abah sambil memperhatikan wajah orang-orang disana yang terlihat bingung.
Semua orang kembali duduk sementara Mama izin kedapur untuk menyiapkan minum.
"Ini teman-temannya Nak Dirga kah? Maaf yah Abah jadi ganggu."
"Nggak Mak, Bah malah Dirga seneng-"
"-Bah, Mak, ini A’ Fahri." Belum sempat Abah menyelesaikan katanya, Nina sudah memotong perkataan Abah. Dengan wajah bingung, Abah merespon kata-kata Nina. "Fahri?" Tanya Abah dengan bingung. Begitupun dengan Emak dan Solehah disana.
Dirga memberi kode pada Nina untuk tidak melakukan hal yang sama saat di kafe dengan bersikap terburu-buru. Dirga pun mengambil alih perkataan Nina. "Alhamdulillah Allah benar-benar memberikan saat yang tepat untuk Abah, Emak, Sholehah juga Nina bisa menjemput kebahagiaan yang sempat hilang," Dirga tersenyum sambil memandang keluarga Nina.
"Ada apa ini, Nak Dirga?" Tanya Abah dengan kebingungan.
Dirga tersenyum, "Iya Bah, biar Dirga jelaskan. Mak, Bah, Dek, ini Bang Muh alias A’ Fahri. Anak Emak sama Abah yang sempat hilang puluhan tahun lalu. Allah masih memberikan rejeki untuk bisa mempertemukan kembali kita semua." Ujar Dirga menunjuk Muhadi sambil mencoba menjelaskan dengan pelan kepada Emak dan Abah.
Emak dan Abah juga Sholehah, saling pandang. Tiba-tiba air mata terlihat luruh dari mata Emak, "Fahri," Lirih Emak sambil mendekati laki-laki disamping Nina. Tanpa disuruh, Muhadi langsung memeluk Emak dengan erat. Kini giliran tangis Emak dan Muhadi alias Fahri yang sudah bertahun-tahun hilang dari keluarga mereka.
Pelukan Emak tampak erat sambil beberapa kali meraung didalam pelukan-kita sebut Muhadi adalah Fahri sekarang-.
Fahri tak kalah sedihnya. Bahkan Novia tampak tak kuasa menahan kesedihan sehingga perempuan itu kembali meluruhkan kristal bening dari matanya.
Suasana Rumah menjadi sangat haru karena tangisan Emak yang begitu kuat.
__ADS_1
Kerinduan seorang ibu akan anak yang dikandungnya, memang tidak pernah bisa diukur dengan apapun.