LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[56] Isi Hati Nina


__ADS_3

Malam menjelang ketika Dirga kembali lagi ke kamar selepas menikmati segelas jahe hangat di lounge hotel. Dirga sadar bahwa ia tak bisa mengontrol perasaan takut yang tiba-tiba muncul, padahal dia seharusnya lebih takut jika melihat kenyataan bahwa Nina dan seluruh hal terkait pernikahan mereka memiliki tanggung jawab besar, terutama padanya sebagai suami.


Dirga mengetuk pintu, tapi kemudian melirik jam tangannya sebentar. Setengah sepuluh malam dan Nina pasti sudah tertidur.


Tidak mengetuk lagi, Dirga memilih langsung memasuki kamar dengan access card yang ia bawa.


Pandangannya jatuh keatas ranjang. Kepala perempuan itu ada diranjang sedang tubuhnya masih dengan posisi duduk dilantai.


Wajahnya merah ketika Dirga mendekatinya.


Dirga menyentuh kepalanya.


Ah ... hangat.


Diliriknya AC di dekat jendela yang menyala dengan suhu kamar seperti di kutub. Dirga baru sadar kalau ruangan ini begitu dingin.


Kenapa Nina menyalakan AC-nya jika tahu ia tak kuat?


Dirga menyentuh bahu Nina. Bergersk pelan menyuruh istrinya itu naik ke ranjang.


“Nin, pindah ke ranjang, ya ... Di bawah dingin.” Dirga menyentuh bahu Nina sekali lagi. Menggerakkan tubuh perempuan itu dengan pelan.


“Nin,” Nina bergeming di kedua kalinya Dirga menggerakan bahu permpuan itu. Seki lagi ia melakukannya, namun bukannta terbangun, Nina justru terdorong kesamping seolah tak memiliki kesadaran.


“Nina ... kamu kenapa?” Panggilnya pelan tanpa reaksi apapun dari perempuan di depannya. Dengan segala macam pikiran berkelana di kepalanya, Dirga akhirnya berinisiatif mengangkat dan menidurkan Nina di ranjang. Wajah perempuan itu tampak pucat tidak seperti beberapa jam yang lalu. Dia tak punya minyak angin atau apapun yang berbau menyengat hingga akhirnya hanya bisa menunggu seraya mengusap pelan kepala istrinya. Suhu tubuhnya normal, Nina tak demam, pun dia terlihat hanya tertidur. Sudah beberapa menit juga Dirga mematikan AC di ruangan.


Diliriknya Nina sekali lagi. Sebelumnya Nina baik-baik saja, dia juga tak menunjukkan indikasi sakit. Apakah Nina hanya tertidur?


Tidur jenis apa yang justru lebih tampak seperti pingsan?


Dirga hendak mengambil air di set minum yang tersedia diatas nakas, ketika suara lenguhan pelan membuatnya menatap sang istri.


Nina membuka matanya pelan. Perempuan itu segera duduk menyandar pada kepala ranjang.


“Nin? Ada yang sakit? Kamu barusan pingsan, kan?” tanya Dirga khawatir.


Nina menatap Dirga dengan bingung.


“Ah? Nggak, Kak ... Nina baik-baik saja. Tapi kayaknya tadi Nina nggak sengaja tetidur dibawah ranjang, ya? Maaf mengkhawatirkan Kak Dirga.”


“Hah? Tidur?”


“Iya ... Nina tadi tertidur. Tidur Nina seperti orang mati, ya? Maaf karena mungkin Nina terlalu lelah. Sudah selesai cari anginnya, kak?” Tanya istrinya seraya melepas ikatan rambutnya.


Dirga tak ingat jika kepergiannya tadi karena cari angin, alih-alih menghindari istrinya dan obrolan ringan mereka yang berakhir pada sebuah ketakutan tak beralasan dari Dirga soal cinta.


Ah ... benar. Dia ingat bahwa tadi Nina telah mengaku jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Entah apakah Nina hanya sekadar menyindirnya dengan perkataan itu, tapi Dirga memahami bahwa ada yang tidak beres dengan istrinya setelah menatap mata kecilnya yang tampak ... sembab?


“Kamu habis menangis, ya Nin?” Tanyanya tiba-tiba.


Dirga tak mengerti kenapa tahu-tahu ia menanyakan hal itu. Kenapa Nina harus menangis memangnya?


Bodoh, kenapa lo tanya begitu, Dir? Pikirnya menyesal.


Nina tampak kaget. Perempuan itu sejenak terdiam.


“Nin, kamu-“


“Ki-kita tidur yuk, Kak. Supaya besok segar dan Kak Dirga nyaman bawa mobilnya.” Ajak perempuan itu kembali merebahkan tubuhnya diranjang. Memutar posisi membelakangi Dirga yang mulai ikut bergabung disana.


Dirga tak berujar apapun lagi. Dia tahu jika Nina kemungkinan menangis sejak kepergiannya keluar tadi.


Dirinya melakukan kesalahan, kan?


Nina menangis karenanya ...


...-


...


Setelah lusa lalu menghabiskan waktu libur bersama Mama dengan berjalan-jalan, kini keduanya kembali pada kesibukan masing-masing. Dirga tengah bersiap untuk kembali pada pekerjaannya, sementara Nina juga sudah rapi dengan setelan rapihnya untuk ke kampus.


Nina di sampingnya ikut mengemasi keperluan Dirga setelah selesak berdandan. Perempuan itu tak banyak bicara sedari tadi. Menurut Dirga ada yang tak beres dengan sikap Nina sejak kemarin, setelah mereka kembali ke rumah. Nina tampak lebih cuek dari biasanya. Dirga berpindah ke Nina yang duduk dilantai tengah memasukkan pouch berisi alat mandi.


“Nin ...” Panggil Dirga pelan.


Nina hanya menyahut dengan deheman. Dirga tahu bahwa istrinya hendak ke kampus hari ini. Mungkin banyak hal yang muncul dalam benaknya. Terkait bimbingan, penulisan skripsinya yang mandek, Dirga tak tahu.


Nina hanya tak banyak bicara dan terkesan mendiamkannya.


Atau hanya perasaannya saja?


“Aku baru pulang kayaknya besok lusa. Di laci meja rias sudah aku letakkan kartu atm beserta buku tabungan dan passwordnya. Kamu bisa pakai itu untuk sehari-hari, ongkos, jajan, pakai saja semau kamu. Mau jalan-jalan sama teman pun nggak apa-apa. Transfer untuk Abah dan Emak juga ya, aku titip sekalian disana.” Terang Dirga berusaha membangun kesan baik bagi istrinya.


Nina mengangguk singkat. Setelah selesai dengan detail barang yang akan Dirga bawa, perempuan itu menutup ranselnya. Dirga mengangkat ransel besar itu naik ke punggungnya.


“Nggak apa-apa, Kak, Nina masih punya dana untuk ongkos dan keperluan lain, kok. Abah sama Emak pun nggak masalah jika nggak dikirimkan uang ...” Ujarnya.


Dirga menggeleng cepat.


“Ingat, aku sudah bicarakan ini sama kamu di hotel waktu itu? Setelah melewati masa liburan cuti menikah, sekarang adalah hari pertama kita menjalani kehidupan baru sebagai suami istri. Sudah tugas aku menafkahi kamu. Lagipula transferan untuk Emak dan Abah itu hadiah dari aku, kok. Jangan merasa terbebani ya. Mulai sekarang kita akan saling berbagi berbagai hal bersama, menyayangi keluarga kamu juga seperti keluargaku sendiri. Tolong diambil ya? Simpan di kamu. InsyaAllah nggak ada masalah untuk aku pribadi. Itu hak kamu sebagai istriku.”


Hak kamu sebagai istriku.

__ADS_1


Nina terkekeh dalam hatinya. Kekehan getir yang membuat hatinya seolah meledek kata yang barusan terlontar dari Dirga. Jika benar keuangan dan nafkah suami dalam segi materi adalah hak istri, apa perasaan cinta juga memiliki porsi yang sama?


Benar pikirnya. Dirga tak merasa dibebani soal tanggung jawab material, atau tanggung jawab standar seorang kepala keluarga, tapi mengapa ia menghindar ketika bahasan soal cinta itu hadir?


Apa Nina salah dengan mengusahakan rasa cinta terbangun diantara mereka?


Menarik dua sisi dari seragam bagian bahu suaminya untuk dirapihkan, perempuan itu mensejajarkan jarak mereka saling hadap.


“Terima kasih untuk tanggung jawab Kak Dirga sebagai suami. Nina akan coba menjalani tanggung jawab yang sama sesuai porsinya sebagai istri ...”-walau tanpa cinta dari suaminya.


Nina mengakhiri katanya tak sesuai apa yang ia pikirkan. Bukannya terlalu berharap, namun Nina juga menginginkan cinta dalam hidupnya. Ia tahu bahwa mereka dijodohkan, tapi pernikahan ini sungguhan. Nina tak ingin nantinya mereka hanya berakhir sebagai dua orang yang sadar akan peran masing-masing, tapi melupakan esensi kasih sayang pun perasaan terikat secara emosional. Bukan hanya soal kewajiban dalam ranah privasi, tapi juga perasaan terbangun antar pasangan lewat cinta.


Apa Dirga tak bisa memberikan itu?


“Sama-sama, Nin. Ini akan jadi awal untuk kita menjalani hari sebagai suami istri. Jangan sungkan untuk cerita sama aku.” Ujar Dirga senantiasa terdiam, membiarkan istrinya memasangkan dasi sambil merapihkan pakaiannya.


“Oke, sudah siap semua. Nina juga pamit ke kampus ya, Kak?”


“Iya, hati-hati dijalan. Jangan kangen aku loh, Nin. Dua hari nggak pulang, takutnya kamu kangen.” Kekeh Dirga berusaha membangun candaan dipagi hari yang baginya meningkatkan mood.


Anehnya Nina tak menganggap itu sebagai candaan.


Dia terlanjur terpaku dengan kata jangan, seolah-olah sama seperti apa yang ia pikirkan.


Jangan cintai aku?


Apa mungkin Dirga masih memiliki seseorang dihatinya?


“Yuk kebawah ... kita sarapan, nanti aku antar ke kampus.”


Nina menggeleng.


“Nggak apa-apa, Kak. Nina naik kendaraan umum saja.”


“Aku antar saja, Nin. Supaya tahu juga kamu digedung mana, walau aku tahu lokasi kampusnya.”


Nina hanya mengangguk singkat sebagai respon.


Ia tak tahu akan membiarkan perasaan ini hingga kapan. Menginginkan cinta dari laki-laki yang sejak awal tak pernah terencana dalam hidupnya, membuat Nina meringis kecil.


Betul, mana bisa Dirga yang notabennya dari kalangan berkecukupan, tiba-tiba dinikahkan dengannya yang hanya orang sederhana dari kampung, lalu seketika merubah perasaan iba menjadi suka.


Mungkin Dirga hanya iba padanya.


Ya, kan?


Setidaknya ia tak menyakiti Nina. Biarlah perasaan ini berjalan sendiri.

__ADS_1


Entah bagaimana akhirnya nanti.


__ADS_2