LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[59] Mengurus Lila dan Mama Serta Kenyataan Sebenarnya


__ADS_3

Dokter tiba setelah hampir setengah jam menunggu dengan harap cemas. Nina tak bisa memungkiri bahwa dirinya benar-benar khawatir sekaligus panik. Mama sedang beristirahat, kini hanya tinggal dirinya disana mengatensi dokter yang tengah memeriksa Lila. Dokter tersebut masih muda dan berpakaian sangat santai.


“Maaf bu, sepertinya Mbak Lila baru kali ini meminum alkohol. Lambungnya sedikit bermasalah karena jumlah yang dikonsumsi lebih banyak dari standar. Sementara akan saya resepkan beberapa obat, lalu kita lihat perkembangannya besok ya.” Terang dokter tersebut.


“Baik, dok. Terima kasih dokter. Saya nggak ada siapa-siapa untuk membantu dalam kondisi ini. Maaf jadi merepotkan.”


“Sudah tugas saya, Bu. Oh ya, saya Razky. Sebelumnya dokter Riza yang biasa menangani keluarga Bu Elsa, terutama Bu Elsa sendiri.”


“Oh iya dokter Razky," Nina tersenyum sambil menjabat tangan Dokter Razky.


"Terima kasih sudah repot-repot datang kesini. Maaf saya nggak bisa antar pulang.”


Razky tersenyum.


“Nggak apa-apa Bu.”


Nina mengantar dokter Razky sampai kedepan mobilnya.


“Kalau begitu saya permisi ya, Bu. Jika ada keluhan, bisa hubungi saya atau segera bawa ke rumah sakit terdekat. Klinik kami berjarak kurang lebih tujuh kilometer dari sini, nanti saya bantu share lokasi lewat admin ya. Baik, saya permisi, Assalamualaikum.”


Mobil dokter Razky berpacu meninggalkan tempat Nina berdiri. Sepeninggal dokter rasanya Nina baru bisa menarik napasnya. Setidaknya Lila bisa diberi pertolongan pertama untuk sekarang. Nina mengangkat ponselnya dari saku, mencari ponselnya lalu jari-jarinya dengan lihai bergerak disana.


Tangan kirinya mengeluarkan kertas berisi resep obat dari dokter Razky lalu mulai membacanya satu persatu.


“Iya, betul. Kompleknya nggak jauh dari apoteknya sih. Iya, iya, saya tunggu ya, terima kasih.”


Barusan ia tak tahu harus pergi keluar dengan apa, hanya ada mobil dirumah dan Nina tak bisa mengemudikannya. Dengan ide yang terbesit, perempuan itu pada akhirnya memesan obat melalui jasa layanan online. Sekarang Nina tinggal masuk kembali kerumah lalu memeriksa Mama sebentar.


Masih tidak memungkiri bahwa beberapa hal memunculkan ketakutannya saat ini. Nina sendiri, dan dia benar-benar butuh Dirga.


-


Semalam obat yang ia pesan melalui jasa online tidak tiba tepat waktu. Katanya agak susah mencari beberapa obat karena keterbatasan apotek yang masih buka. Dengan inisiatif si driver, dia pun mencari ketempat lain untuk menemukan obat tersebut. Nina bersyukur masih ada orang baik yang mau membantunya seperti ini.


Pagi ini Nina sibuk sendirian di dapur seraya bolak-balik ke kamar Mam, kadang ke kamar Lila. Kedua orang tengah terbaring di ranjang masing-masing itu masih belum bangun.


Setelah menerima obatnya, Nina baru tidur pukul dua belas, maka rasanya kantuk itu masih hadir. Selesai menyiapkan makanan sederhananya, Nina bergegas menata makanan diatas meja makan. Memisahkan beberapa mangkok di atas nampan untuk dibawa ke kamar. Mama dan Lila sebagai pendahulu sebelum minum obat.


“Fyuh ... selesai.” Nina puas melihat hasil kerjanya selama satu jam ini.


Sekarang pukul tujuh pagi, dan Nina harus segera ke kamar Mama sebelum akhirnya ia sarapan nanti. Nina memasuki kamar Mama yang berdekatan dengan backyard. Ada pintu langsung dari kamar Mama yang bahkan bisa dipakai untuk ke backyard.


Nina memasuki kamar Mama tanpa mengetuk. Melihat Mama masih tergeletak lemah diranjang dengan tubuh yang miring, membuat Nina tidak ingin mengganggu beliau tiba-tiba.


Didudukkan tubuhnya di pinggir ranjang sambil menepuk bahu Mama pelan.


Mama sebenarnya belum sembuh total dari penyakitnya. Maka seharusnya hal seperti semalam harus sangat dihindari, atau beliau akan drop. Tapi mau bagaimana, insiden ini tidak ada yang merencanakan.


“Ma, yuk bangun dulu, minum obat.” Nina menepuk punggung Mama dengan pelan.


Detik berikutnya suara lenguhan muncul di pendengarannya. Mama berbalik melihat Nina disampingnya.


“Nin,” Nina tersenyum.

__ADS_1


“Ayo Ma, Nina bantu duduk. Makan bubur dulu ya.”


Mama mengangkat badannya memposisikan dirinya tegak menyandar pada kepala ranjang.


“Jam berapa, Nin?”


“Jam tujuh pagi, Ma.”


Mama melirik wajah Nina yang menunduk sambil mengaduk bubur Mama.


“Kamu sudah selesai masak jam segini?”


Nina tertawa kecil.


“Iya, Ma. Tadi Nina bangun lebih lagi sedikit supaya bisa membuat bubur untuk Mama dan Lila.”


Mama seolah mengingat sesuatu.


“Oh ya, Lila. Lila bagaimana, Nin?”


“Lila sudah Nina kasih obat semalam. Mabuknya sudah hilang, tapi masih tidur Ma. Nina belum ke kamarnya, habis ini deh.” Jawabnya.


Mama menyentuh tangan Nina sambil tersenyum.


“Ya sudah kamu ke kamar Lila saja, sana. Mama sudah baik kan kok. Mama mau bangun juga. Tadi untungnya nggak terlewat subuh, walau di ranjang.


Nina menahan Mama.


“Mama istirahat saja dulu ya, jangan capek-capek dulu.”


“Ya sudah, Ma. Kalo masih nggak enak nanti bilang ya, Nina buatkan makanan lagi.”


Mama mengangguk.


“Iya sayang. Makasih ya.”


Nina lalu pamit keluar menuju kamar Lila.


Setibanya disana, ternyata Lila sudah duduk di sisi ranjang dan melihat Nina yang datang bersama nampan berisi bubur.


“Kamu sudah bangun? Makan dulu ya.” Nina tersenyum lalu meletakan nampan bubur di nakas sebelah ranjang.


“Kak,” Lila berhenti mengancingi kemejanya. Dia baru berganti pakaian setelah semalam meminum obat.


Tapi ternyata Lila belum memasangnya dengan benar.


“Kenapa, Lil?”


Lila memunggungi Nina yang duduk di sisi ranjang sambil mengaduk bubur.


“Aku minta maaf ya, kak. Semalam itu aku benar-benar nggak sadar. Bahkan sekarang aku nggak terlalu ingat banyak.”


Nina berbalik mendekati Lila ke sisi ranjang yang perempuan itu duduki.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, Lil. Cuma kakak bingung saja. Kamu kenapa bisa mabuk? Apa semalam kamu minum-minum?”


Lila menunduk menghalau tangis yang segera turun dari matanya.


“Semalam aku dikerjain kak.” Suara lirih mulai terdengar dari Lila.


Nina bungkam, memilih menyentuh bahu Lila sambil membawa kepala perempuan yang sudah dianggap seperti adiknya itu dalam pelukan.


“Ini salah aku karena sudah berbohong, Kak. Aku berbohong sama semua orang rumah. Aku berbohong padahal sebenarnya selama ini aku kerja, bukannya kuliah. Aku bahkan sudah mengajukan cuti semester lalu.” Tangis Lila semakin tersedu.


Membuat Nina nyeri mendengarnya.


“Dan semalam, aku hampir diperkosa kak kalo saja nggak ada Abah-Abah itu. Entah bagaimana, dia membawaku pulang dan dia seperti tahu alamat rumah ini. Aku pergi kerumah teman untuk meminjam uang karena Bunda telepon Ari sakit dan gajiku belum turun. Aku bingung mau ngomong apa. Ibu sudah baik sekali sama aku walaupun aku ini cuma saudara jauh. Ibu juga sudah mau menampung aku disini. Jadi aku sama sekali nggak bisa ngomong ke Ibu. Apalagi ke kak Nina.” Pelukan Nina makin erat ditubuh Lila.


Perempuan ini menampung hal yang berat sendirian.


“Temanku itu sedang pesta-pesta saat aku datang ke rumahnya. Aku sudah menolak minuman apapun darinya karna aku tahu sudah ada aura nggak enak di rumahnya. Tapi dia maksa kalau aku nggak mau, dia nggak akan kasih uangnya. Mau bagaimana, aku butuh uang itu, kak. Begituah akhirnya. Aku nggak terlalu ingat banyak. Cuma saat Abah-Abah itu tiba-tiba menonjok orang yang mau perkosa aku lalu aku nggak sadar. Masih ingat sih, tapi nggak banyak. Kalo berusaha ingat, kepalaku malah jadi pusing kak.”


Nina masih memilih bungkam mencerna segala perkataan Lila. Entah bagaimana cerita Lila bisa sangat sama dengan ceritanya dulu.


“Ya sudah Lil. Kakak mengerti kamu. Lain kali tolong bisa lebih memilih orang untuk tempat meminta bantuan. Nggak dapat uangnya, yang ada kamu malah mau dicelakai. Lain kali kamu nggak usah ragu untuk minta bantuan. Masih ada aku kalau kamu malu minta tolong sama Mama. Jangan ragu minta bantuan sama aku, ya.”


Lila mengangkat kepalanya, menatap Nina di depan nya dengan sendu.


“Kak Nina, aku minta maaf dan terima kasih banget sama keluarga ini. Bukannya membantu, aku malah merepotkan disini. Aku minta maaf banget ya, kak. Aku sudah mengecewakan keluarga ini.”


“Ya sudah nggak apa-apa. Jangan dipikirkan. Jadikan ini pelajaran ya. Sekarang yang penting kamu sehat dulu ya. Aku sudah janji sama dokter, nanti siang aku antar kamu cek lebih lanjut ke rumah sakit karena takutnya ada masalah di lambung kamu. Kamu paham kan yang aku bilang semalam?”


Lila mengangguk.


“Iya kak. Aku mengerti. Sekali lagi terima kasih ya, kak.”


“Iya. Nah, sekarang makan dulu ya buburnya. Aku di bawah kalau kamu butuh sesuatu. Kamu jangan banyak aktifitas dulu. Istirahat saja, oke?”


Lila mengangguk.


“Iya kak.”


Ya sudah aku keluar dulu.”


Nina meninggalkan Lila di kamar.


Langkah Nina pelan menuju meja makan dengan berbagai macam perasaan campur aduk dihatinya.


Nina begitu sedih melihat kenyataan ini.


Kenyataan kalau dirinya ternyata tidak lebih lemah dari selembar kapas.


Nina lemah.


Nina akui dirinya saat ini benar-benar lemah dan Nina tidak bisa menampik apakah ia mampu berjalan sendiri untuk sementara sampai waktunya. Sampai waktu dimana Nina bisa sedikit tenang membagi keluh kesahnya.


Nina bukannya manja, dia hanya merasa sedikit lemah dengan mengiyakan hakikat seorang wanita yang terkadang butuh sandaran untuk di dengarkan. Terlepas bagaimana dan hal apa yang telah terjadi antaranya dan Dirga, ia tetap berharap laki-laki itu ada disini. Mendengarkannya berkeluh kesah.

__ADS_1


Jika hanya soal tanggung jawab moral, seharusnya Dirga bisa, kan?


__ADS_2