![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
“ ... oh iya, Bah, Iya. Nggak kok Bah, insyaAllah nggak ngerepotin. Iya, Waalaikumsalam.”
Nina hanya memperhatikan Dirga yang menelpon Abah dengan tenang dan terlihat akrab dari posisinya duduk di lantai.
Tangan Nina terus bergerak merapihkan pakaian yang tergeletak dengan rapih di lantai. Memilah beberapa untuk dimasukkan ke koper. Pekerjaan ini belum juga selesai karena beberapa hal bersama keluarga besar Mama nyatanya masih harus Nina lakukan. Ia memang tak bisa menghindari pertanyaan apapun, tapi cerita Kak Layla tadi membuatnya sedikit memikirkan.
Memiliki anak, bersama Dirga.
Proses itu telah mereka lalui, walau Nina yang sebetulnya masih mengusahakan untuk ‘tidak’ hamil selama masih mengerjakan skripsi, tak menjadi masalah untuk Dirga selama mereka bisa saling membagi perasaan emotional lewat perlakukan fisik.
“Salam dari Abah kamu, Nin ...” Ujar Dirga dengan tenang sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi.
Nina menyahut sangat pelan.
“Waalaikumsalam.” Jawabnya sambil menunduk dengan suara lirih.
Beberapa menit hingga akhirnya laki-laki itu keluar dari sana.
“Nin ...” Panggilnya.
Nina melirik dengan tatapan bertanya. Dirga kemudisn duduk diatas ranjang, mengarahkan pandangan pada snag istri.
“Abah lembut ya, bicaranya. Aku ingat waktu pertama kali kita ketemu, aku langsung merasa cocok sama Abah. Aku pikir, restu orang tua penting disyukuri, disamping siapa perempuan yang kita pilih.” Terang Dirga menerawang. Mengingat beberapa peristiwa dalam ingatannya.
“Alhamdulillah kalau Kak Dirga senang dengan Abah. Beliau memang lembut, tutur katanya juga sopan. Abah walau orang kampung, memang sebelumnya dididik di pondok. Sehingga terbiasa disiplin.”
“Bagus berarti. Aku juga lihat semua itu ada di kamu, Nin sebagai anak. Abah berhasil mendidik anak yang baik dan sopan. Kamu banyak kemiripan sama Abah aku rasa, bahkan wajah pun kamu mirip ke Abah, kan?” kekeh Dirga seraya merebahkan tubuhnya di ranjang.
Nina selesai dengan pakaian yang di lipat, perempuan itu kemudian bergabung duduk di pinggir ranjang.
“Banyak yang bilang aku anak Abah, sih.” Kekehnya.
“Memang anak Abah, mirip betul soalnya,”
“Oh ya, aku ingat mau kasih kamu sesuatu. Harusnya sejak kemarin aku kasih kamu, tapi karena pulang malam, dan seharian ini keluarga ramai datang, aku jadi lupa. Sebentar aku ambil dulu.”
Dirga kemudian pergi kearah lemari bajunya. Mengambil sebuah kotak yang di bungkus plastik wrap berukuran cukup besar, lantas mengarahkannya pada Nina.
“Untuk kamu, semoga bermanfaat ya.”
“Ini apa, Kak?” tanya Nina melirik Dirga disampingnya.
“Buka saja, nggak surprise dong kalo aku kasih tahu.”
Nina dengan penasaran membuka kotak itu. Matanya tampak tak percaya menatap benda persegi panjang itu di depannya.
“Laptop? Kak Dirga belikan aku laptop?” Katanya kaget.
“Aku tahu laptop kamu rusak. Baterainya bocor, kan? Saat mati lampu kamu nggak bisa skripsian, laptopnya harus di cas terus, belum waktu itu aku nggak sengaja lihat kamu marah-marah karena dia ngecrash dan mati tiba-tiba trus belum sempat save tulisan kamu. Itu hilang, kan?” Ujar Dirga dengan senyuman.
Nina tanpa sadar mengeluarkan bulir dari matanya.
“Makasih ya, Kak ...” Gerakan cepat, Nina memeluk Dirga di depan nya.
Nina bersyukur karena Dirga membelikannya suatu hal yang sangat ia butuhkan. Nina tak pernah mengeluh, benda itu memang sudah urgent, tapi ia tak menyangka jika suaminya se-peka ini?
__ADS_1
“Oh ya, Nin ...”
“Ya?”
“Pekan ini aku ambil cuti. Rencananya mau pergi ke rumah orang tua kamu, mangkanya kemarin ambil dinas agak lama karena mau ambil cuti. Bagaimana? Ya ... aku tahu kamu sibuk skripsi, tapi karena sudah ada laptop baru jadi nggak harus selalu di charge, kan? Kamu bisa mengerjakan dimanapun.” Jelas Dirga.
Nina mengaangguk.
“Iya, nggak apa-apa, Kak. Sebetulnya Nina agak pusing skripsian, rindu Emak dan Abah juga, tapi bingung cari waktunya. Kalau kebetulan Kak Dirga mau, Nina ikut saja.” Balas perempuan itu riang.
“Oke, kita ke rumah orang tua kamu, ya ...”
...-
...
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam ...”
"Nina? Ya ampun, Neng. Kok datang nggak bilang-bilang?”
Nina dan Dirga tiba di Bandung sekitar pukul tujuh malam. Mereka berangkat sore, sehingga tiba agak malam, pun karena sempat berhenti untuk membawa beberapa buah tangan.
"Assalamualaikum, Bah, sehat?" Dirga mencium punggung tangan Abah dengan lembut. Saling menghantarkan kehangatan antara dua tangan yang bekerja keras mencapai kebahagiaan dengan pola yang berbeda itu.
"Waalaikumsalam. Abah sehat, gimana di jakarta? Semua sehat kan?
Dirga mengangguk dengan senyum.
"Alhamdulillah Bah, semuanya sehat."
"Kamu sehat kan, Neng? Ya?"
"Iya Mak, Nina sehat."
Abah menepuk bahu Dirga.
"Ayo masuk, sudah malam."
...-
...
"Kamar kamu rapih walau sudah lama nggak di tempati."
“Iya Kak, soalnya Sholehah yang pakai sekarang. Sudah pasti rapi sih, Kak."
Dirga tiba-tiba berbalik memandang Nina yang membelakanginya.
"Loh? Kita pakai kamarnya Sholehah? Nanti dia kemana? Dia nggak mungkin bareng kita kan?" tanya Dirga kaget.
Nina tertawa menanggapi tingkah lucu Dirga.
"Ya nggak mungkin lah, Kak. Kamu mau Sholehah disini? Mana mungkin."
__ADS_1
Dirga tertawa kecil.
“Nggak juga sih. Ya, aku kaget saja kasihan nanti adik kamu dimana.”
"Sholehah sebetulnya punya kamar sendiri kok, Ka, tapi memang dia suka tidur disini, bahkan lebih sering disini semenjak aku merantau karena katanya dia suka rindu aku.” Keke Nina.
Ketika mereka tengah mempersiapkan ranjang untuk beristirahat, suara ketuka pintu disusul suara Sholehah dari luar membuat mereka berhenti dari kegiatan.
“Teh, A’, Emak sama Abah sudah siapkan minum sama makanan di depan, keluar dulu ya kalau sempat.”
"Oh iya, nanti kita keluar Dek.” Ujar Nina kemudian Sholehah kembali pergi.
“Aku mau ganti baju sebentar, Kak. Kalau Kak Dirga duluan bagaimana?” Tanyanya.
"Ya sudah Nin, aku keluar duluan.”
Dirga kemudian pergi mendahului Nina ke ruang tamu. Di dalam kamar, sambil berganti pakaian, Nina sejenak terbayang tentang keluarganya dan Dirga. Ah ... laki-laki itu mengerti bagaimana caranya bersikap pada orang tua. Mulai tadi sore ketika mereka berhenti sejenak di sebuah tempat perbelanjaan untuk membelikan beberapa barang bagi keluarganya sebagai buah tangan. Semuanya bukan ide Nina, tapi inisiatif suaminya yang ia akui sangat keren. Tak cukup dengan membelikannya laptop, tapi Dirga juga memberikan hal lainnya untuk keluarganya juga.
Semoga suaminya selalu dilimpahkan rejeki yang banyak.
Beberapa menit kemudian Nina akhirnya bergabung dengan keluarganya. Mereka makan malam di ruang tamu, sebab tak pernah ada meja makan di rumah ini. Ini kebiasaan yang memang sudah menjadi keseharian dsri keluarganya. Makan bersama, walah lesehan di lantai beralaskan karpet.
"... Alhamdulillah akhirnya keluarga kita bisa kumpul dengan lengkap disini." Ujar Abah sambil mengakhiri sesi makan keluarga.
Tampak sekali cercah bahagia dari wajah masing-masing oranng disana. Bersyukur juga karena Saiful bisa bergabung, sebelum sebentar lagi ia akan kembali ke asrama kampusnya.
“Alhamdulillah ya, Bah ...” Tambah Emak merasa bersyukur.
"Andai A’ Fahri ada disini ya, Mak. Kita makin lengkap." Spontan saja Sholehah mengungkit soal Fahri, putra pertama keluarga ini yang hilang puluhan tahun lalu dan hingga kini tak diketahui bagaimana kabarnya.
Emak menimpali.
“Dimanapun Fahri, kita doakan saja dia." Semua keluarga dengan serentak mengucap amin menanggapi perkataan Emak. Dirga yang duduk di samping Nina tampak kebingungan dan berulang kali melirik Nina bertanya-tanya.
"Kenapa?" Nina berkata dengan pelan sambil melirik Dirga sekilas.
"Siapa?"
Nina memandang kedepan sebentar lantas melirik Dirga kembali.
"Nanti kuceritakan."
Lalu intrupsi Abah menjadi penutup dari acara makan malam ini.
"Kita serahkan semuanya sama yang maha kuasa. Sekarang ada A’ Dirga juga yang sudah menjadi bagian keluarga ini, jadi harus semakin bersyukur karena masih dipertemukan, berkumpul disini. Nggak ada yang tahu umur, jadi, pesan Abah untuk semuanya, jangan sia-siakan waktu. Habiskan waktu kalian untuk hal yang baik-baik dan bermanfaat." Ujar Abah.
Bukannya Nina tidak bisa membaca situasi, tapi hal ini hampir kerap terjadi setiap tahunnya. Reflek orang-orang rumah kerap membahas soal Fahri yang pergi tanpa tahu dimana keberadaannya.
Nina merasakan hal yang sama, hingga adakalanya Nina ingin menangis sekeras mungkin atau mungkin berlari mengejar sejauh apapun Fahri hingga ia bisa membawa laki-laki itu pulang kembali dan membuat senyum Emak serta Abah kembali.
"Ya sudah, habis ini boleh kalau mau ngobrol-ngobrol dulu atau langsung istirahat. Abah duluan ke kamar."
Entah mengapa ia merasa ada yang berbeda dari Abah, walau sebelumnya beliau riang, namun setelah bahasan soal Fahri muncul, orang tuanya itu tampak berbeda.
Wajar saja, Nina juga merasakan hal yang sama walau belum pernah bertemu dengannya secara langsung.
__ADS_1
Kondisi mereka sekarang seolah pergi satu, datang satu.
Kepergian Fahri, dan kedatangan Dirga.