LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[27] Jangan Menjadi Seperti Papa


__ADS_3

Suara sambungan telepon masuk akhirnya terdengar. Nina menarik napas sejenak setelah sebuah ucapan salam menghampiri pendengarannya.


“Asaalamualaikum, Teh?” Itu suara Solehah yang mengangkat telepon.


“Waalaikumsalam. Sol, kamu sehat? Ada Emak sama Abah, nggak?”


*“*Alhamdulillah Teh, aku sehat. Ada, sebentar Sol kasih hapenya dulu, ya.” Ujar gadis kecil itu. Hening selama beberapa detik hingga akhirnya suara Emak muncul dipendengarannya.


“Asaalamualaikum*\, Teh?”*


“Waalaikumsalam. Mak, apa kabar?” Tanya Nina sumringah,


“Alhamdulillah baik. Teteh sehat? Ada apa, Teh?”


“Enggak Mak. Ini, Teteh dikasih amanah sama Mama Elsa untuk me-list tamu yang akan datang nanti. Sebetulnya sudah terlewat lama, hampir sepuluh hari lalu Mama Elsa minta nama-nama dari Teteh, tapi karena untuk orang dikampung harus pakai undangan cetak, Mama minta infonya segera. Teteh sudah tulis semua teman Teteh, nanti dikiriminya undangan online. Sementara nggak semua saudara kita paham undangan online, atau takut kurang sopan, jadi Teteh belum list semua dan mau minta tolong Emak bantu list kan, ya?” Pinta Nina.


“Oh begitu … Ya sudah, nanti Emak catat siapa saja, trus Emak kirim lewat Ipul ya fotonya. Kamu gimana disana, Teh? Sehat?”


Nina tersenyum setelah pertanyaan itu membuatnya menghangat.


“Alhamdulillah sehat Mak, sekarang sudah selesai urusan fitting baju dan beberapa hal lain yang semuanya diurus Mama Elsa. Untuk keluarga baju-bajunya juga sudah disiapkan. Nanti baju keluarga kita dikasih sekitar dua hari sebelum acara ya, saat Emak dan adik-adik datang ke Jakarta.”


“Alhamdulillah kalau begitu. Emak sebetulnya nggak enak, Teh, sama Bu Elsa. Merepotkan beliau semua.”


“Iya, Teteh juga sebenarnya nggak enak, tapi Alhamdulillah kok Mak, sudah selesai semua karena pakai wedding organizer juga, nggak terlalu repot. Kalau justru Emak bantu urus, takutnya lebih repot karena jauh disana. Kita kan pernikahannya diadakan di Jakarta, berhubung masing-masing dari kita banyak teman disini, dan kerabat dari kampung juga sudah ada beberapa orang di Jakarta kan, Mak …”


“Iya ya … Ya sudah, kamu sehat-sehat ya disana sampai acara nanti. Emak tutup dulu ya, Teh … Tadi sedang ada urusan sebentar sama Bi Ela. Ya, Teh … Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Nina menatap ponselnya sejenak. Sudah hampir satu bulan belakangan kerabat-kerabat kerap menanyakan soal pernikahannya, bagaimana persiapan yang sudah dilakukan, hingga Mama Elsa yang mengurus segala keperluan pernikhannya.


Dia tak menyangka telah membuat semua orang repot mengurusinya. Ini memang pengalaman pertama, dan ternyata seperti ini rasanya mengurusi pernikahan ditengah berbagai macam hal masih melingkupi hari-harinya. Entan itu skripsinya, kedatangan Muhadi sebagai teman stockholme sindromnya atau Dirga yang menunjukkan beberapa reaksi selama pertemuan mereka belakangan.


Nina merasa bersyukur walau ia masih sedikit menyimpan rasa takut tentang bagaimana dirinya setelah menikah nanti.

__ADS_1


*


Kurang dari satu minggu lagi pernikahannya akan dilaksanakan, tapi Dirga tak bisa mengambil cuti lebih dulu karena pekerjaannya sudah memiliki jadwal yang tidak bisa dirubah sesukanya. Walau jadwal masuk kerja enam-satu—enam hari kerja, satu hari libur—masih berlaku, tapi Dirga sudah mengambil itu beberapa hari lalu sehingga kini ia harus tetap dengan tugasnya sebagai pekerja layanan transportasi masyarakat.


Dirga sudah siap dengan seragamnya dan senyuman terbaiknya di depan cermin kamar, begitupun wajahnya yang bersih dengan lekukan tegas, pun rambutnya yang terpangkas rapi.


Suara ketukan pintu dan Mama yang terdengar dari luar mengalihkan kegiatannya memuja diri sendiri.


Ada-ada saja memang dirinya ini.


"A'? Sudah siap?" Tanya Mama dari luar. Sekali lagi melirik pakaiannya, Dirga membuka pintu kamar.


"Sudah Ma. Yuk, kebawah." Ajaknya memegang bahu sang Mama dengan tas ransel di bahunya.


Sesampainya dibawah, Dirga langsung menduduki kursi meja makan yang diatasnya sudah tersaji hidangan untuk sarapan.


"Kamu kapan balik lagi?" Tanya Mama ketika beliau mendudukan diri didepannya.


"Mungkin dua hari sebelum pernikahan, Ma."


Mama mengangguk.


Dirga diam-diam terkekeh gemas melihat Mama yang semakin sibuk saja mengurusi soal pernikahannya.


"Kemungkinan sekitar tiga sampai lima hari, paling banyak satu minggu lah." Terang Dirga.


“Bagus deh, Mama nggak mau dengar ya saat pernikahan nanti tiba-tiba kamu disuruh berganti shift kayak waktu itu. Ingat, A’, sekarang ini pernikahan loh! Hari penting kamu yang nggak bisa terulang nantinya. Tolong perhatikan itu.” Tegas Mama sambil menuangkan nasi keatas piringnya.


“Mama nih buat Aa’ jadi merasa nggak bisa menerima kenyataan yang ada. Bisa nggak ya Aa’ hidup sama orang lain selain Mama, sementara sehari-hari kita menghabiskan waktu hanya berdua saja?” Ujarnya tiba-tiba.


Mama tampak mengangguk yakin.


“Tentu saja, A’. Pasti kamu bisa. Nina juga perempuan, kami sama, hanya saja status dan kedudukannya dirumah kalian nantinya berbeda dengan Mama. Walau begitu, kamu harus ingat, satu kesamaan kami berdua. Sama-sama perlu dihargai dan disayangi. Karena Nina pun harus merelakkan semua yang ia lalui bersama keluarganya, dengan memilih menemani kamu baik dalam suka, maupun nantinya jika ada duka. Tolong jaga dia dengan baik, ya … Mama tahu kamu anak baik dan bertanggung jawab.” Pungkas Mama dengan tatapan mengarah padanya.


Dirga tahu jika nantinya ia akan menjalani kehidupan yang berbeda dari sebelumnya, walau Mama akan selalu ada di dekatnya, semua tetap akan berbeda dari apa yang Dirga lalui selama ini. Dia tak ingin menangis, walau rasanya pelupuk mata itu sudah penuh dengan bulir yang siap membanjiri pipinya, tapi jika bersama Mama, Dirga tak pernah bisa menutupi semuanya.

__ADS_1


Pada akhirnya dia tetap manusia, tak ada pembeda apakah dia laki-laki atau perempuan, karena keduanya memiliki perasaan. Pun Dirga yang tahu-tahu sudah menunduk seraya mengusap ujung matanya dengan si telunjuk.


“Eh … kok anak Mama menangis? Aduh … Aa’ mah, kenapa menangis sih? Mama jadi mau menangis juga, nih!” Mama mendekat kearahnya, memberikan pelukan yang tak ada gantinya bagi Dirga. Menghantarkan hangat kasih sayang yang kokoh walau tak ada sentuhan ayah dalam berjalannya kehidupan dewasa seorang Dirgantara.


Ah iya …Papa.


Sejenak Dirga melupakan laki-laki yang membuat Mama tak ingin membuka pintu kamar setelah mengetahui kenyataan yang ada pada laki-laki baya itu—Dirga tak tahu dimana rimbanya Papa.


Dirga bukannya tak pernah merasa merindukan Papa, namun bahasan soal laki-laki yang identik dengan kepala keluarga, seperti apa yang akan menjadi identitasnya nanti, seolah lenyap setelah semua keseharian dan kehidupannya tak lagi diisi olehnya. Dirga jujur bahwa dirinya memang membenci Papa, walau dirinya tak bisa menampik bahwa kehadiran laki-laki itu sering kali ia inginkan, tapi hal itu hanya membuatnya semakin sakit dan rindu. Karena pada akhirnya ia tak pernah muncul lagi dalam kehidupannya setelah perceraian Mama belasan tahun lalu.


Mama melepas pelukannya seraya mengusap pipinya. Dirga tak lagi menangis, dia berusaha menjadi lebih kuat setelah meluapkan perasaan yang selama ini telah melingkupi dirinya.


“Semoga Aa’ bisa bertanggung jawab dan jadi kepala keluarga yang bisa mengayomi seluruh anggota keluarganya. Sehat-sehat terus ya, A’.” Ujar Mama sambil tersenyum.


“Amin, semoga Aa’ bisa melakukan itu ya, Ma. Oh ya, Aa’ jadi ingat satu hal lain, Ma.” Jeda Dirga.


Menunggu reaksi Mama.


“Apa, A’?”


“Aa’ tahu kalau dalam pernikahan seorang laki-laki nggak membutuhkan wali nikah, yang adalah ayahnya atau pamannya. Tapi Papa … dia nggak pernah ada dalam hidup Aa’ selama beranjak dewasa. Aa’ tahu Mama menyimpan marah sama Papa, tapi … karena ini hari spesial Aa’, Aa’ ingin mengundang Papa, Ma. Nggak apa-apa, kan? Ya … Aa’ tahu kalau Papa meninggalkan banyak bekas menyakitkan untuk Mama, Aa’ juga nggak suka kelakuannya yang satu itu, tapi kenyataan bahwa Papa masih hidup … Aa’ rasa dia tetap harus menghadiri pernikahan anaknya.” Terang Dirga menatap Mama.


Mama mengangguk. Beliau tak menampik bahwa kehadiran Dirga di dunia ini tentunya bukan semata-mata dia ada tanpa siapapun, ada peran Ayah yang membuatya hadir didunia ini. Walau laki-laki itu sudah menyakitinya, dia tetaplah orang tua laki-laki dari putranya. Mama bimbang, khawatir jika nantinya perasaan bahagia itu akan sejenak hilang karena melihat kehadirannya yang menimbulkan trauma.


“Mama tahu, Papa kamu masih ada. Ya … Mama nggak masalah jika kamu mau mengundang dia. Bagaimana pun dia juga orang tua kamu. Silahkan undang dia, A’.”


Dirga balas mengangguk.


“Iya, Ma. Nanti Aa’ akan hubungi beberapa keluarga Papa untuk cari tahu dimana Papa sekarang. Mama nggak marah, kan?” Tanyanya.


Mama menggeleng. Walau berat karena harus melihatnya lagi, tapi Mama harus mengikhlaskan semuanya dan memendam sejenak perasaan marah itu dalam hatinya.


“Nggak apa-apa, Mama nggak marah, asalkan Aa’ harus selalu ingat ya, pelajaran dari kehidupan Aa’ sendiri, jangan jadi seperti laki-laki itu. Dia tega meninggalkan kita dan menghancurkan janjinya sendiri pada pernikahan kita, bahkan membuat putra-putrinya kehilangan sosok ayah. Mama nggak mau hal itu terjadi ke kamu, ya? Kamu Dirgantara Mulia Radjasa, bukan Syahid Radjasa yang nggak bertanggung jawab itu. Dirga akan mempertanggung jawabkan janjinya hingga kapanpun. Toh jika nantinya kalian nggak bisa selamanya bersama seperti Mama dan Papa kamu, jangan sampai membuat anak-anak membenci kalian. Karena korban perpisahan itu tak ada yang lain selain anak kalian sendiri. Usahakan untuk tidak melakukan hal keji seperti itu ya, A’? Mama percaya Aa’.”


Seperti Papa dan apa yang ia lihat pada kehidupannya sendiri, pun kehidupan Novia yang berada diambang kehancuran, Dirga belajar untuk bisa memegang kata-katanya.

__ADS_1


Walau ia tak tahu bagaimana nanti, setidaknya Dirga ingin berusaha untuk melakukan yang terbaik saat ini.


__ADS_2