LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[74] Perjalanan Baru dan Akhir Kisah


__ADS_3

"Kok anak lo ganteng, Dir? Gila ini Nina punya anak dari siapa? Bukan lo kali mah."


Setelah waktu yang lumayan panjang dalam proses Nina melahirkan, akhirnya kebahagiaan mereka telah ditambah oleh kehadiran buah hati diantara mereka. Sambil meneliti putranya dari balik kaca ruangan khusus bayi, Dirga dan Rehan justru saling melempar ejekan. Entah mengapa ejekan Rehan, semuanya masuk telinga Dirga seakan-akan itu adalah pujian, "Makasih Han, gimanapun, lo sudah ngakuin kalo gue ganteng. Semoga lo nyusul yak." Dirga menepuk bahu Rehan yang berdiri tepat disampingnya. Laki-laki yang memiliki tinggi badan hampir ama dengan Dirga, menyahut dengan decakan, "Gue Ma amin ajalah. Namanya umur siapa yang tahu kan."


"Kok lo jawabnya nggak jelas?"


Rehan tertawa, "Come on Kak Dirga. Maksud gue, namanya umur siapa yang tahu akan berakhir kapan. Sama kayak jodoh, siapa yang tahu akan berlabuh kapan dan kepada siapa. Jadi gue jalanin saja hidup sambil terus berusaha mencari tulang rusuk gue yang hilang dari lahir."Ujar Rehan, memutar kepalanya kembali memfokuskan pandangannya kearah bayi-bayi didalam ruangan.


Dirga berdecak, "Terserah lo lah. Eh tapi bener sih, gue sendiri nggak pernah kepikiran buat nikah cepet. Tapi Allah malah jawab sebaliknya. Dan yah akhirnya gue di usia dua puluh enem menjelang dua puluh tujuh, sudah jadi Abah-Abah."


"Abah muda maksudnya itu Kak Dirga."


Seseorang menyela perkataan Dirga sehingga keduanya- Dirga dan Rehan- memutar tubuhnya kearah laki-laki yang baru-baru ini di pahami siapa dirinya oleh Rehan.


"Bang." Dirga mendekati Muhadi- Muhadi menambah nama Fahri di akta kelahirannya menjadi Fahri Rifai Muhadi- memeluk Muhadi sekilas, lalu diikuti Rehan yang melakukan hal sama, "Congrats Kak Dirga. Nggak nyangka Nina hamil juga." Ujar Muhadi yang tiba-tiba mengundang tawa dari Rehan.


"Pfftt.."


Dirga yang mendengarnya hanya tersenyum malu karena tersipu, "Masuk bang keruangan. Nina lagi sama Mama."


Muhadi menggeleng, "Sudah kok tadi sama Novia. Dia malah masih didalem. Gimana kabar kamu? Sehat?"


Dirga mengangguk, "Alhamdulillah. Novia sudah isi bang?"


"Ah nanyanya Kak Dirga, bikin orang iri saja. Tapi Alhamdulillah sudah. Abang ngiri kamu sudah punya anak duluan. Nanti anakku lebih muda dari anakmu. Haha..." Ujar Muhadi yang membuat ketiganya tertawa bahagia disana.


"Yah nggak apa-apa lah bang, asal sehat saja."


"Bener-bener. Oh iyah, ini Rehan kan? Wah, sendirian saja Mas."


Rehan yang sedari tadi diam, menyahut sapaan Muhadi, "Iya Bang. Lupa ya? Kan saya yang bawain barang Bang Muhadi pas pindahan."


Muhadi tertawa, "Nggak mungkin lupa lah. Kamu kan kuli ekstra, Han," Muhadi dan Dirga tertawa, "Nggak-nggak, bercanda. Makasih loh sudah bantu saya waktu itu."


"Nggak masalah bang. Asal satu saja itu kali pramugarinya bisa dipinjem buat makan malam." Rehan tiba-tiba menunjuk salah satu perempuanyang berjalan mendekati mereka ditemani Novia disana, "Oh, haha, mereka itu rekan saya yang nggak tahu malah minta ikut pas tahu Nina lahiran karena saya izin off satu hari buat flight. Mereka kebetulan selesai tugas hari ini." Muhadi melambaikan tangan kearah mereka.

__ADS_1


"Kak Dirga, selamat yah, ah iri sama Nina sama Kamu. Anaknya ganteng." Ujar Novia setelah dirinya dan beberapa teman Muhadi mendekat, "Makasih Nov. Semoga cepet nyusul yak. Sudah berapa bulan?"


"Alhamdulillah jalan tiga. Doain saja sehat."


Semua orang menyerukan amin bersamaan, "Oh yah, kenalin, ini adik aku, Kalula."


"Kalula gue sudah kenal keles. Pernah ketemu juga waktu dirumah sama bang Muh. Ya nggak bang?"


Muhadi mengangguk, "Iya Nov."


Novia menggeleng, "Loh, orang bukan untuk kamu kok, aku mau ngelain Kalula ke temen kamu."


Rehan yang masih berdiri terdiam di samping Dirga, terlihat tersenyum malu, "Jan begitu lah, Mbak."


"Eh Mas Rehan dikenalin sama cewek malah nggak mau. Kalula juga mau kok kenalan sama Mas Rehan."


Kalula yang berdiri diantara beberapa perempuan lain yang terihat tertawa, memilih bungkam sambil menyenggol bahu Novia, "Kakak ih."


Dan yang terjadi berikutnya adalah, semua orang meninggalkan Kalula da Rehan berdua.


...-


...


"Kenapa? Nggak ah."


Dirga berbaring bersama Nina diatas ranjang perempuanitu. Sejak semua orang sudah kembali kerumah termasuk Mama yang ditemani Wahda dan Bu Erte, Nina dan Dirga malah asyik menikmati kemesraan mereka. Nina yang sedari tadi hanya berbaring sementara Dirga yang boak balik masuk dan keluar kamar, malah jadi kelihatan manja. Padaha harusnya yang dikatakan manja yah Nina.


Oh iya nggak lupa sih, Dirga kan kekanakan- terkadang.


"Yah, nggak kenapa Nin? Biar nanti kalo Eki sudah gede, langsung punya temen."


Nina menggeleng menoak permintaan Dirga, "Gila kamu yah, sakitnya saja belum selesai ini sudah minta nambah. Kamu pikir ngelahirin itu kayak makan spaget- hmmppp-" kata-kata Nina terpaksa berhenti karena Dirga membekap bibir Nina, "Ssstt... kamu nggak ikhlas apa yah ngelahirin Reiki? Dia ini doa Mama, doa aku, doa kamu, tapi sakitnya nggak usah di ungkit-ungkit juga kali. Emang aku nggak capek apa cari duit? Dasar." Ujar Dirga sambil mencubit hidung Nina.


"Lah? Kamu saja berhitungan banget jadi orang. Sudah ih sana, sempit tahu nih ranjang."

__ADS_1


"Kami nih, kayak nggak tahu hatiku juga sempit gara-gara kamu." Ujar Dirga yang membuat Nina mendelik sebal, "Ya sudah kalau aku ganggu kamu. Aku pergi saja."


Nina hendak memposisikan dirinya duduk, tapi Dirga keburu menahan tubuhnya agar kembali berbaring, "Ih marah deh, ngambekkan banget sih? Bisa nggak, kamu nggak usah alay. Iya-iya aku minta maaf."


"Nggak aku maafin."


Dirga tertawa, "Ah takut nggak dimaafin," Dirga meleDekNina sambil menjulurkan lidahnya, "Tapi betewe Nin, bener aku sih jujur soal hatiku yang jadi sempit karena kamu."


"Lah aku emang ngapain hati kamu? Apa aku isi angina sampe jadi penuh?"


Dirga menggeleng, "Nggak juga sih, ah kamu sekarang nih kayaknya yang nggak peka. Nih yah aku kasih tahu, satu ditambah satu jadi berapa?"


Nina berlagak berpikir, "Dua, trus?"


"Nah, kan satu di tambah satu jadi dua, aku di tambah kamu jadi Eki, nah dua di tambah satu jadi?"


"Tiga lah," Dirga menggeleng, "Trus?"


"Dua di tambah satu itu jadi aku kamu Eki, trus cinta. Nah itu jawabannya."


Nina tertawa, "Ah kamu nggak jelas. Malam-malam sih ngegembel."


"Tapi beneran Nin, " Dirga bangkit dari ranjang, memposisikan tubuhnya berdiri tegap, "Cuma kamu yang bisa buat hatiku sempit sampai saat ini. Sampai Eki hadir, hatiku jadi makin sempit. Semuanya karena cinta kamu untukku, cinta Eki untukku dan cinta kita yang sudah kita rajut sampai sedemikian rupa. Kamu ingat sesuatu yang pernah aku katakana saat kamu sakit sesaat setelah melahirkan Eki, semalem?"


Nina tampak berpikir. Tiba-tiba dadanya terasa panas dan seperti ada kupu-kupu yang memburu didalam dirinya seperti akan keluar bebas mengekspresikan apa yang dia rasa, "Pertemuan awal kita sesingkat membalikkan telapak tangan. Tapi meniti keseharian kita, seperti berenang mengarungi samudra yang luas. Dan kenapa kita bisa sampai pada saat ini? Itu karena kita kuat, kita yakin dan kita percaya. Allah di sisi kita, kamu di sisi aku dan Eki, dan Mama memeluk kita untuk sebuah kehangatan. Kamu bilang begitu Kak Dirga."


Dirga mengusap sedikit aliran air yang turun dari matanya, "Nah, kamu ingat kata-kata aku kan. Jadi gimana? Apa kamu sudah peka? Apa arti sempit didalam hatiku itu benar-benar nyata?"


Nina mengangguk lalu memposisikan dirinya untuk duduk dengan kedua tangan yang meraih tubuh Dirga agar dekat dengan tubuhnya lantas memeluk laki-laki itu dengan tangis haru yang pecah diantara keduanya.


"Aku mencintai kamu karena Allah, Kak Dirga."


"Aku lebih-lebih mencintai kamu karena Allah, Nin."


Dan setelah semua yang Nina dan Dirga lalui sampai mereka menemukan kebahagiaan tersendiri, sampai sini pula Nina mengakhiri kisahnya yang indah. Kebahagiaan Nina bersama Dirga dan tambahan satu anggota baru, Rieki Arsalan Ganina, membuat semuanya berpadu lebih indah.

__ADS_1


Biar Nina dan Dirga yang akan mengisi kisah mereka selanjutnya dalam balutan kasih sayang dan kepercayaan.


__ADS_2