LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[44] Tersipu Malu Karena Suamiku


__ADS_3

“ … Lah? Mau ngapain lo kemari?”


“Biasalah cari cita rasa rumah. Buruan Dir, gue sudah lapar ini.”


“Warteg juga cita rasa rumah kali, dasar orang aneh! Bilang saja butuh yang gratisan!”


“Nah … itu dirimu tahu.”


Dirga kembali kerumah sekitar pukul enam pagi, tahu-tahu dikagetkan kehadiran Rehan yang saat itu dilihatnya tengah bersiap di luar pagar setelah memarkirkan motornya. Si jomblo bohongan itu selalu saja datang disaat-saat yang tak pernah Dirga duga. Laki-laki itu menggeleng sebal lalu melanjutkan jalannya memasukin rumah sementara sahabatnya itu mengekor dibelakang.


Setibanya mereka di dalam rumah, Dirga langsung bergerak menuju meja makan.


Rehan dibelakangnya menyapa Mama sopan seraya mencium punggung tangan perempuan yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu. Mama dengan segera mengajaknya sekalian untuk ikut sarapan. Bukan tanpa tujuan, salah satu kehadirannya dirumah ini selain untuk menemui sahabatnya dan berkunjung setelah mendengar jika Dirga akan pergi ke luar kota untuk bulan madu—dan membicarakan beberapa hal bersama Mama terkait perkebunan beliau yang kebetulan berhubungan dengan bidang pekerjaannya—ia juga ingin ikut sarapan.


Rehan memang seperti itu orangnya.


Sekali mendayung, satu dua pulau terlampaui.


“Sehat, Ma?” Sapa Rehan sopan seraya mengambil duduk tepat disampung Dirga sebelum akhirnya laki-laki itu mengusirnya menjauh karena itu tempat Nina menurut Dirga.


Tak menghiraukan sikap Dirga yang sebal dengan kedatangannya, Rehan hanya memasang wajah tak peduli seraysa sibuk dengan Mama di depannya.


“Alhamdulillah, Han … Kamu sehat? Maaf ya kalau kemarin Mama ganggu meeting kamu, soalnya Mama agak bingung terkait masalah yang semalam Mama kasih tahu ke kamu itu. Nanti kita bicara, ya …” Ujar Mama seraya menginstruksikan Lila untuk menyiapkan piring lebih bagi Rehan.


Dirga memandangi kedua orang di depannya, Mama dan Rehan. Jadi mereka sudah ada janji sendiri?


“Mama yang menghubungi Rehan?” Tanya Dirga.


Mama mengangguk.


“Iya, habisnya kamu kan nggak mau Mama minta bantu urus perkebunan. Kamu punya jalan sendiri, kan? Ya … Mama jadi minta Rehan, deh …”


“Lagipula ya, Dir … Mama lo kan Mama gue juga. Ya ‘kan, Ma?” Canda  Rehan menunjuk Mama.


Perempuan itu mengangguk cepat.


“Sejak kapan Mama adopsi dia, sih? Aku nggak pernah tahu.” Tanya Dirga lebih seperti ejekan.


“Sejak lo jarang dirumah, paham?!” Ujar Rehan menyebalkan.


Dirga berdecak. Bisa-bisanya Rehan mendadak jadi anak Mama?


Well, dia tahu ini bercanda, tapi Dirga jadi baper.


Rehan dengan senang menatap Mama yang meletakan semangkuk besar sop ayam di depan  mereka.


“Iya A’! Karena kamu jarang dirumah,” Kelakar Mama membuat semua orang disana tertawa.


“Dah, dah, jangan bertengkar. Kayak anak kecil saja.”


“Nanti kita bicara sebemtar ya, Han.”


“Boleh Ma.”


Sarapan pagi hari itu berlangsung hangat dengan beberapa perbincangan yang dilakukan Mama dan Rehan, begitupun Dirga yang agaknya mulai berdamai dengan kenyataan bahwa sindiran halus Mama barusan, soal keengganannya membantu bisnis Mama di perkebunan sawit, membuatnya tak ambil pusing. Toh ada Rehan juga yang mau membantu Mama.


Sementara Nina sendiri yang sedari tadi membantu Mama menyiapkan sarapan, pun tak terlihat banyak bicara. Kepalanya bergerak kekanan dan kiri, mengusap tengkuknya yang terasa pegal sekaligus hangat. Walau ia tak mau membuat semua orang disana khawatir, tapi rasa tak enak badan ini kembali muncul sehingga ia tak bisa tenang. Mama masih terlohat asyik bercengkrama dengan Rehan dan yang lain, Dirga pun masih sibuk bicara soal banyak hal. Maka Nina merasa tak nyaman untuk menginterupsi.


Kepalanya terasa semakin pening, sepertinya tidur lebih baik.


Belum selesai sarapan, Nina hendak pamit menuju ke belakang dengan alasan menyelesaikan sisa cuci piring, sekaligus merehatkan tubuh sejenak disana karena ia tak ingin mengganggu pembicaraan semua orang.


Nina yang kemudian berdiri, mengundang perhatian Dirga yang duduk disampingnya. Laki-laki itu memandanginya seraya bertanya.

__ADS_1


“Kenapa, Nin? Belum dihabiskan sarapannya?” Tegur suaminya itu.


Nina menggeleng sejenak, dia tak ingin Dirga juga mengkhawatirkannya.


“Nggak Kak, Nina sudah kenyang. Ini mau kebelakang sekalian cuci piring, ya ...”


“Nanti saja? Habiskan saja dulu makannya, nanti bisa dibantu Lila untuk cuci piring.” Ujar Dirga lebih seperti berbisik, menyentuh lengannya lembut. Mama, Rehan juga Lila tak begitu memperhatikan mereka karena masih asyik dengan pembicaraan.


“Nggak apa-apa, Kak.”


“Tangan kamu hangat, Nin? Pusing lagi?” Tanya Dirga, kali ini benar-benar berbisik. Mama melirik putranya yang bangkit berdiri, mengundang tanya.


“Kenapa, A’, Nin?” Tanya Mama.


Nina menggeleng.


“Nggak apa-apa, Ma. Nina mau izin kebelakang sebentar, sudah selesai sarapannya.”


“Belum dihabiskan, Nin makannya?” Terang Mama. Beberapa mata disana memandangi mereka.


“Nggak apa, Ma. Nanti Nina lanjutkan, kebelakang dulu ya, Ma.”


“Ya sudah.” Ujar Mama.


Dirga yang masih berdiri disampingnya kembali berbisik.


“Aku temani, ya?” Tawarnya.


Nina menggeleng.


“Nggak apa, Kak. Baik-baik saja.”


Lalu Lila tampak berdiri dari posisinya, hendak menemani Nina ke dapur.


“Kamu habiskan sarapannya saja dulu, Lil. Aku sendiri saja.”


“Oh iya, Nin.”


Sepeninggal Nina, Dirga merasa ada yang tak beres dengan kondisi fisik istrinya itu. Sepertinya Nina masih merasakan sakit yang kemarin.


...-...


“Minum dulu ya, teh hangatnya, Nin.”


Nina mengangguk lemah ketika duduk di salah satu kedai nasi yang tak jauh dari tempat mereka sebelumnya. Dirga bilang penerbangan mereka mundur ke sore hari, sehingga ketika selesai sarapan tadi Mama mengajak Nina keluar sebentar untuk membeli beberapa keperluan rumah, sekaligus untuk dirinya pergi nanti. Setelah sarapan Nina memang merasa badannya kembali tak enak, tapi ketika sudah beristirahat di dapur, ia merasa lebih baik. Namun ketika tadi Mama mengajaknya pergi, tahu-tahu ia merasakan sakit itu lagi. Kali ini lebih parah karena kepalanya benar-benar terasa berat dan ia mual sekaligus demam.


Mama yang melihatnya hampir pingsan disana, mengajak dirinya beserta Lila untuk melipir sejenak kesebuah kedai nasi.


Kepalanya semakin pening saja.


“Pusing banget, kak?” Tanya Lila sambil memijit bahunya.


“Pusing banget, nggak Lil, agak mutar saja ini kalau buka mata.” Jawabnya lemas.


Lila mengangguk mengerti. “Ya sudah, kita tunggu Mama telepon Kak Dirga dulu ya.” Lila lalu menepuk-nepuk bahunya mengintruksi Nina untuk merebahkan kepalanya disana.


Nina merebah di bahu Lila. Dilihatnya Mama berdiri di depan kedai dengan telepon di telinganya.


“ … Iya A', nggak jauh dari pasar. Iya …”


Mama terlihat menutup teleponnya lalu kembali kedalam kedai nasi.


“Apa lagi yang dirasa Nin? Sakit perut? Mual? Atau bagaimana?” Tanya Mama dengan khawatir. Nina mengangkat kepalanya dari bahu Lila.

__ADS_1


“Agak mual, Ma. Perut juga rada sakit.”


“Ya sudah, langsung istirahat saja dirumah, nanti langsung rebah.”


“Perginya bagaimana Ma?” Tanya Nina mengingat bahwa sore nanti ia dan Dirga harus berangkat ke lombok. Mama menggeleng mendengar perkataan Nina.


“Sudah, jalan-jalan nggak perlu dipikirkan, yang penting kamu sehat saja dulu.”


“Kak Dirga bagaimana, Ma?”


“Nggak perlu pikirkan Aa’. Jalan-jalan juga bisa di daerah sini saja. Nanti biar makan malam sama relasi, Mama re-schedule atau minta digantikan. Kamu tenang saja, Nin … fokus untuk kesehatan kamu dulu, nanti Mama panggil dokter kerumah saja, deh.” Nina mengangguk lemah disamping Lila.


Dirga tiba kurang lebih dua puluh menit setelah setelah Mama menelpon.


Setibanya laki-laki itu disana, dia tampak benar-benar khawatir ketika melihat Nina bersandar lemah disamping Lila. Emosinya agak naik ketika berbicara dengan Mama yang terlalu memaksakan untuk pergi mengajak Nina, padahal sore nanti mereka akan keluar kota. Hingga Mama akhirnya meminta maaf, dan tibalah mereka semua dirumah setelah perjalanan dua puluh menit dari tempat sebelumnya.


Nina turun dari mobil dengan di bantu Lila.


Dirga membuka pintu rumah, lalu buru-buru mendekati Nina lagi.


“Sudah Lil, kamu bantu Mama bawa belanjaan saja, Nina saya yang pegang.” Ujarnya sigap langsung mengambil alih Nina dari Lila.


“Kuat jalan nggak?” Tanya Dirga menatap Nina yang menunduk. Hijabnya sudah terlilit kebelakang.


“Kuat sih, tapi mata agak sulit dibuka.” Ujar Nina dengan lemah seraya meringis karena perutnya pun terasa perih.


“Ya sudah, aku bantu jalan, ya.” Ujar Dirga seraya membopong tubuh istrinya berjalan memasuki rumah. Sesampainya di pintu masuk, Nina hampir saja terjatuh karena kakinya perlahan lemas seperti jeli. Beruntung Dirga langsung menahan tubuh perempuan itu.


“Tuh, kamu nggak kuat jalan.”


“Kaki ku mendadak kayak jeli, Kak. Maaf ya …” Lirihnya melirik Dirga disamping.


Tanpa pikir panjang, laki-laki berstatus suaminya itu lalu mengangkat tubuhnya cepat kedalam gendongan. Nina sedikit kaget setelah dirinya ada di gendongan Dirga dalam posisi bridal.


Nina masih pusing dan lemas, namun mendadak ia juga terpana ketika menatap garis wajah Dirga dari jarak yang sedekat ini. Tangannya dikalungkan di leher laki-laki itu, sedang Dirga sendiri dengan peluh yang mulai mengaliri wajahnya, serius menatap jalan di depan  mereka.


Dirga kalau dilihat sedekat ini sangat tampan sekali. Garis wajahnya kokoh dengan kulit sawo matang yang sangat khas orang indonesia. Matanya kecoklatan dengan bulu mata sedikit lentik. Jangan lupakan satu hal, hidungnya sangat bangir dan terlihat sempurna walau Nina pernah bersentuhan dengan hidung ini, tapi ketika itu dia terlalu kaget sampai tak mampu mengagumi bahwa wajah suaminya ini benar-benar berproporsi sempurna.


Mimpi apa Nina dapat suami kayak Dirga? Sejenis dengan model-model kebanyakan!


“Kalau sudah puas, dipejam saja matanya Nin, bawa tidur. Naik tangga begini kerasa juga beratnya.” Dirga berkata tapi tidak menatap Nina. Dengan cepat perempuan itu mengalihkan pandangannya dari wajah sang suami yang tahu-tahu terkekeh pelan ketika memergokinya mengaggumi pahatan indah yang maha kuasa itu.


Ah, Nina jadi malu kalau begini.


Mereka tiba dikamar dengan Dirga yang meletakan Nina diatas ranjang. Posisi mereka sangat dekat sehingga Nina dapat merasakan napas Dirga.


Ah … Rasanya de javu ketika hari itu mereka benar-benar sedekat kali ini.


Nina lalu memandang Dirga yang tersenyum di depan nya.


“Nggak perlu memikirkan jalan-jalan. Aku sudah batalkan Nin, sebenarnya memang malas sih. Enak juga dirumah, kebetulan kamu sakit, artinya kita perlu banyak istirahat.” Ujarnya seraya menempatkan tubuh disisi ranjang.


Nina mengangguk melihat gerakan Dirga menyelimuti dirinya.


“Istirahat ya, Nin … Aku keluar dulu.”


Setelah selesai, Dirga lalu keluar dari kamar lepas mengatakan kalau ia akan menjemput dokter.


Nina menyentuh kepalanya.


Sudah hangat sekarang.


Padahal tadi sangat panas.

__ADS_1


Ah, apa wajah Dirga membuat dirinya sembuh?


Nina jadi bergelung malu dibalik selimut memikirkan itu.


__ADS_2