![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Dua hari sebelum pernikahan.
Pengajian malam ini berjalan lancar, seluruh tamu yang hadir sebagian besar didominasi oleh tetangga sekitar komplek dan beberapa kerabat yang baru tiba. Begitu pun dengan nasib Galih yang pada akhirnya ikut menghadiri pengajian setelah tak bisa pulang karena tak enak hati. Dirga juga tak bisa mengantarnya balik selepas acara, lantaran Mama melarangnya keluar karena dipingit—sungguh! Dirinya sangat tak suka hal ini, walau sebetulnya tak wajib untuk mempelai pria, karena ini hanya kebijakan Mama saja. Menurut Mama, dirinya sudah melanggar perjanjian dengan telanjur pulang lambat sehingga, hal itu membuat Mama tak ingin ia menghilang lagi.
Satu persatu tamu dari para tetangga komplek sudah mulai meninggalkan tempat pengajian selepas mengucap selamat pada Mama, pun pada Dirga. Tersisa beberapa keluarga Mama yang akan menginap dan kerabat lain yang ikut andil dalam mengurus acara.
Dirga mengusap peluh yang tiba-tiba turun dari dahinya setelah berterima kasih pada beberapa orang yang ia kenal, maupun yang baru ia temui. Mengingat bahwa lusa nanti statusnya sudah berubah, membuat Dirga meringis geli. Ia dibesarkan dalam keluarga yang tak seimbang—peran ayah hanya berlaku sejak ia lahir hingga usia tiga belas tahun. Seterusnya hanya ada Mama dan mendiang kakak perempuannya yang pada akhirnya tak bersama mereka lagi. Dirga tahu betul peran seorang laki-laki—dalam hal ini suami atau kepala keluarga—di dalam rumah, yaitu, menjaga, menafkahi dan melindungi. Tiga hal tersebut merupakan teori yang ia pelajari secara harfiah, sisanya Dirga kerap kali hanya mengandalka naluri. Pun bukan seseorang yang sibuk dengan urusan cinta sana-sini, sehingga ketika ada satu hal yang membuatnya terpaksa bermain perasaan, Dirga sulit untuk melepaskan. Novia mungkin satu-satunya contoh bahwa perasaannya yang bermain dalam, sempat mengambil peran, walau tak berlangsung lama karena terlanjur terluka sebab tak terbalas. Memang bukan masalah besar untuk bersikap sebatas bare minimum, tapi Dirga tetap akan mempelajari lebih lagi mengenai aspek-aspek yang hingga saat ini belum benar-benar ia selami. Terkait perempuan dan perasaan—tentunya nanti adalah Nina dalam posisi istri—contohnya ketika ia menyukai Novia dimasa lalu.
Semenjak penolakan dan kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan selesai, Dirga perlahan menghapus ingatan dan Novia dalam hatinya. Mungkin waktu pertemuan yang singkat sempat menjadi masalah dalam menumbuhkan perasaan awal, tentang adanya kehadiran Nina nanti yang akan menempati posisi istri dalam status perkawinannya. Ya ... setidaknya untuk permulaan, ia telah menyukai Nina secara visual, sisanya akan diurus nanti.
Toh semuanya akan ter-restart secara otomatis.
Karena tak mungkin, jika sebenarnya pernikahan yang disaksikan banyak orang ini hanya sebuah penyatuan dua manusia tak saling kenal yang tiba-tiba saja merubah status mereka—tanpa usaha menumbuhkan perasaan terikat secara emosional.
Dirga tak mengharapkan pernikahan main-main, yang dilandasi janji serius pada yang maha kuasa.
Walau sebelum ini Dirga sempat merasa iba dan seolah ingin mengembalikan kasih sayangnya pada Novia ketika melihat masalah yang terjadi pada perempuan itu—apalagi ketika perkataan Novia hari itu yang membuatnya terpaksa pergi menghindar. Pun ia masih berstatus istri orang dan tak mungkin bagi Dirga melangkahi Muhadi hanya karena perasaan iba dan ingatan masa lalu yang sebetulnya hampir lebur.
Sehingga keputusannya mengiyakan Mama untuk dijodohkan hari itu, menjadi titik awal dimana ia mulai mengikis nama Novia dari sana.
“A'? Sudah makan malam?” Tanya Mama mendekatinya di sofa sambil duduk disana setelah membereskan beberapa piring yang sebelumnya berisi kue untuk para tamu.
“Belum, Ma. Nggak apa-apa, nanti saja. Belum enak makan.”
Mama mengangguk.
Tangannya bergerak mengelus bahu Dirga lembut.
“Jangan terlalu banyak pikiran A’, rileks saja,” Ujar Mama.
“Iya, Ma. Santai saja, biasa lah kalau mau ada sesuatu agak kepikiran sedikit.”
Mama mengangguk.
“Iya … nggak apa-apa. Kamu sudah hafal nama Nina dan ijabnya?” Tanya Mama.
“Sudah sih kalau nama Nina, ya … mungkin nanti latihan lagi, Aa’ baru mau tulis sih. Kenapa memangnya, Ma?”
__ADS_1
“Nggak, ini ada yang sudah ditulis Abah-nya Nina. Katanya ada surat juga didalam. Beliau minta Mama kasih ke kamu.”
Dirga menerima amplop itu dengan tangan kanannya.
“Kamu kepikiran hari-h ya, A’?” Tanya Mama lagi.
Dirga memandangi Mama sejenak. Lalu mengusap wajahnya.
“Sindrom pre-wedding Ma. Biasa lah, agak terbawa sedikit.”
Mama mengerti kondisi putranya saat ini. Beliau hanya tak ingin Dirga jadi terlalu terpikirkan hingga menyerang kesehatannya.
“Mama mengerti. Anak mama sudah besar sekarang, sudah mau punya keluarga sendiri. Sebetulnya walau mama yang merencanakan ini semua, rasanya tetap nggak menyangka saja. Apalagi setelah perceraian dengan papa kamu dan kepergian teh Ica, mama semakin takut untuk ditinggal. Walau mama sadar, kamu punya kehidupan sendiri yang masih panjang. Asal Aa’ bahagia, mama juga bahagia ya, A’.” Lirih Mama.
Dirga memandangi wajah Mamanya yang tetap cantik walau telah bertambah usia. Ketika mama mulai tersedu, Dirga merasa tak tega melihatnya. Walau tangisan tersebut adalah bukti beliau bahagia.
Mendengar Mama mengutip soal Papa, tiba-tiba Dirga jadi teringat laki-laki baya itu. Dia belum menberikan kabar apapun pada papanya mengenai kabar pernikahan ini.
Tapi dimana dia bisa menemukan Papanya?
Besok lah dipikirkan. Pikirannya berujar.
“Mama nggak perlu memikirkan apapun lagi. Aa' selalu disini sama Mama, kok. Pernikahan ini juga selain ibadah Aa’ sebagai manusia, salah satunya juga untuk membahagiakan Mama. Dah ya, jangan menangis? Hilang deh Mama yang galak kalau begini.” Kelakar Dirga membuat Mama terkekeh.
Mama ikut tertawa mengusap air mata yang turun. Memeluk Dirga seraya menghantarkan rasa hangat dan getaran sedih yang juga laki-laki itu rasakan.
Kegiatan mereka teralihkan setelah ART baru yang mama pekerjakan beberapa bulan lalu memangil.
“Bu, dipanggil sama Bi Ina.” Ujar Lila seraya melirik Dirga sopan.
“Iya Lil. Nanti saya kesana.” Jawab Mama.
“Mama kebelakang dulu ya. Jangan lupa makan. Nggak nanti, tapi sekarang.”
Dirga mengangguk.
“Siap bu Haji.”
__ADS_1
Dirga memandangi punggung Mama yang pergi menjauh. Ia menyayangi mama sebesar apapun, namun hatinya tahu-tahu menyayangkan absennya sang papa dalam hidupnya.
*
Hari Pernikahan.
Jam menunjukkan pukul setengah lima pagi. Disana Nina tengah duduk selepas mandi karena sebentar lagi akan datang MUA yang membantu merias wajahnya.
Acara pernikahan akan diadakan disebuah ballroom hotel yang tak jauh dari tempat tinggal Mama. Semalam, semua kerabat, saudara dan keluarga Nina telah menempati masing-masing suit yang disewakan. Di dalam ruangan suit ini terdapat kamar sendiri untuk Nina, sehingga ia bisa mendapat privacy berhubung sedang dipingit juga. Ruangan ini sebetulnya ramai oleh keluarga terdekat orang tuanya, namun Nina tetap tak bisa merasa tenang menghadapi hari ini. Bahkan tangannya tak berhenti berkeringat sejak tadi. Dia benar-benar tegang menghadapi acara besarnya, walau di dalam hatinya ia terus merapalkan doa.
Tangannya merogoh handbag yang ia bawa, mencari ponsel yang tersimpan disana. Dilihatnya banyak chat grup yang masuk. Mereka semua tak tahu Nina akan menikah hari ini. Hanya beberapa orang dikelasnya saja yang tahu, sekaligus Nina undang. Ketukan pintu membuyarkan fokus Nina pada ponselnya.
Itu MUA yang akan meriasnya.
“Sudah selesai mandinya, Mbak? Boleh langsung kita rias, ya?” Ujar salah seorang dari tim MUA itu ketika memasuki kamarnya.
“Iya mbak sudah. Silahkan masuk.”
Nina kemudian duduk didepan meja rias yang tersedia disana. Dengan sopan salah seorang perias itu memastikan sekali lagi pada Nina, soal permintaan riasan yang sebelumnya telah dibicarakan.
Natural ala korea.
Nina bukannya pencinta drama korea atau hal yang berhubungan dengan negara ginseng tersebut. Namun, beberapa kali ketika mencari referensi makeup, ia tertarik dengan tipe riasan ala korea yang ringan dan natural. Istilahnya makeup no makeup.
Beberapa menit berlalu, Nina masih dalam proses dirias. Hampir lebih dari satu jam kemudian akhirnya ia selesai dengan penampilan barunya hari ini.
Kaca besar di depan wajahnya menampilkan pantulan seseorang yang berbeda dari biasanya. Tampilannya berubah total, walau sebetulnya tampak seperti tidak banyak pernak-pernik makeup yang menempel disana karena permintaan tipe riasan yang natural.
“Cantik banget mbaknya.” Puji si perias melihat Nina yang terdiam tak menyangka dengan penampilannya saat ini.
“Dah, sudah siap jadi ratu sehari, nih.” Goda si perias tersebut.
Nina tersenyum malu.
“Makasih ya mbak.” Ujar Nina.
“Sama-sama, Mbak. Saya ucapkan selamat untuk pernikahan Mbak Nina dan Mas Dirga, ya. Semoga langgeng dan bahagia terus ya ...”
__ADS_1
Ya ... semoga ia bisa langgeng dan bahagia terus bersama Dirga nantinya.