LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]

LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]
[41] Keinginan yang Terhalang Trauma Masa Lalu


__ADS_3

“Perginya besok, Kak?”


“Iya besok. Kamu langsung berkemas saja ya, ternyata undangan makan malamnya lusa, dan Mama baru bilang itu tadi. Aku juga agak kaget sih, bisa-bisanya Mama kalau sudah mengambil keputusan itu maunya buru-buru saja. Persis ketika dia minta kamu menikah sama aku, Nin. Mama … Mama … Sulitnya kalau sudah keluar titah orang tua.”


Nina tak mengerti dengan perkataan Dirga barusan. Apa katanya? Nina disuruh berkemas sekarang? Bahkan pakaiannya baru selesai dipindahkan ke lemari pagi tadi?


Ah … Lelah!


“Berapa banyak baju ya, Kak kira-kira? Berapa hari kita disana?”


“Empat atau lima hari? Mungkin menghabiskan liburku saja, sih, tapi kalau kamu keberatan, kita bisa pulang lebih awal asalkan nggak pulang kerumah. Atau kalau Mama tahu, bisa gawat.” Terang Dirga seraya duduk dipinggir ranjang.


Nina mendesah pelan. Dia tak ingin terlihat mengeluh didepan Dirga, tapi nyatanya dia juga merasa lelah. Dirga tak tampak lelah, atau hanya dia mencoba menutupinya?


Entahlah …


“Oke, nanti Nina kemas untuk segitu.” Putusnya pasrah.


Dirga mengangguk.


“Iya dikemas sebutuhnya saja. Kalau kurang, nanti kita bisa beli disana. Oh ya, nanti aku kemas baju sendiri, Nin. Kita ambil flight siang ya, barusan aku pesan untuk dua orang.” Ujarnya lagi seraya bersandar dikepala ranjang. Memposisikan dirinya merebah.


“Oh ya, nanti aku taruh baju di koper kamu juga ya, Nin? Aku nggak bawa banyak-banyak baju, jadi nggak repot.”


Dirga kembali berujar tanpa menatap istrinya.


Apa Dirga punya keahlian menatap Nina dari dinding tanpa perlu melihat orangnya langsung?


“Ya sudah.” Jawab Nina.


“Oh ya …”


“Sambil kita rencanakan untuk perjalanan besok, ada yang ingin aku bicarakan, Nin …” Ujar Dirga seraya menatap istrinya dari belakang. Tak lagi memilih dinding untuk dilihat, dia benar-benar memandangi Nina sekarang.


“Ada apa, Kak?” Tanya Nina memutar tubuhnya melihat Dirga membawa pakainnya turun.


“Sebetulnya banyak sih yang mau aku bicarakan. Terkait kita, terkait pernikahan ini, peran masing-masing yang pastinya kamu juga sudah paham,” Lanjutnya memulai.


“Kita insyaAllah akan tinggal dirumah ini⸻sepertinya pun sementara Nin. Karena aku ada rencana untuk tinggal dirumah sendiri, terlepas disini pun Mama sendiri. Aku merasa kita butuh waktu hanya berdua, aku merasa Mama agak sedikit banyak mengintervensi kita. Bukannya aku nggak suka, sekarang semua hal ini sudah menjadi keputusan kita berdua kan, terkait hal apapun. Walau aku suka jika Mama berbuat seperti ini karena ingin membantu kita, tapi ada baiknya kita mulai untuk punya keputusan sendiri. Menurut kamu bagaimana?” Tanya Dirga.


Nina yang masih sibuk dengan pakaian ditangannya, mengangguk sekilas.

__ADS_1


“Nina juga sempat berpikir seperti itu sih, Kak. Tapi memang agak sulit untuk nggak menuruti apa saja saran yang Mama berikan. Nina masih merasa ada ganjal karena jika bukan karena Mama, semua hal ini nggak mungkin terjadi. Walau memang, ini sudah menjadi hak kita, dan hak Kak Dirga untuk bisa memimpin keluarga kita sendiri. Aku sih setuju saja, Kak. Aku ikut kemanapun Kak Dirga pergi.” Jujurnya.


Dirga memilih mendudukkan dirinya didepan Nina yang mulai menurunkan beberapa pakaiannya. Ikut memilah pakaian apa saja yang ingin ia gunakan nanti.


Padahal Dirga berkata jika ia akan mengemasnya sendiri nanti, tapi Nina bersikeras untuk bantu mengemaskan.


“Ya sudah kalau kamu juga setuju. Oh ya Nin, terkait kita …” Dirga kembali membuka suara setelah beberapa menit perkataannya sempat terjeda ketika mereka berdiskusi soal pakaian.


“Kamu mungkin belum tahu banyak tentang aku, ya … wajar, kita nggak melalui pacaran, apalagi pedekate. Sedikit banyak aku hanya menilai kamu dari fisik dan beberapa aspek umum lainnya. Aku tahu, perasaan suka mungkin belum muncul⸻walau sebetulnya aku sudah merasa menyukai kamu, namun cinta itu nggak bisa semudah mata memandang sosok di depanya saja. Kalau kamu lupa, nyatanya kita harus saling mencintai untuk menjaga hubungan ini, Nin … Aku nggak tahu bagaimana perasaan kamu sekarang, maaf kalau aku egois karena nggak pernah bertanya, tapi … apa kamu bisa pelan-pelan membuka hati untuk kehadiranku?” Tanya Dirga hati-hati.


Laki-laki didepannya membuat Nina mati kutu. Dirga mulai membahas soal mereka.


Dirinya dan Dirga memang tak pernah berdiskusi soal keduanya sejauh ini. Bahkan sejak lamaran, hingga akhirnya mereka menikah, segala rangkaian yang berlangsung seolah hanya milik Mama sebagai orang yang memang merencanakan ini. Padahal ada dua hati, dua makhluk dan dua sudut pandang dari mereka sebagai orang yang menjalani praktik baru dalam kehidupan, yaitu pernikahan ini


Perubahan status, perubahan posisi dalam kehidupan, peran masing-masing, menjadi hal yang sempat mereka kesampingkan diluar kenyataan bahwa mereka menikah, mereka akan menjadi dua orang baru yang sesegera mungkin harus ada untuk masing-masing. Bukan hanya membuat status dan stuktur koloni baru dalam pernikahan, tapi mereka akan menjadi awal dimana kehidupan lainnya akan hadir nantinya.


Perkataan Dirga ada benarnya karena Nina pun sampai lupa bahwa mereka menikah, bukan hanya untuk menjalaninya seperti biasa setelah sebuah status baru hadir, tapi juga untuk mempertahankan keutuhannya lewat hal yang disebut perasaan, bahkan cinta.


Ah … Nina tak terpikir soal itu sebelum ini. Dia hanya merasa jika ada click, atau sekadar kecocokan, mereka mungkin bisa berbaur dengan baik. Nyatanya memang perasaan dan timbulnya hal yang disebut cinta itu akan memberikan efek lain. Setidaknya ada usaha untuk mengharmoniskan, yang merupakan bagian dari rencana pernikahan dalam label ibadah. Bukan hanya sekadar kiasan, tapi juga pembuktian.


“Nina akan coba, Kak. Kita memang harus mengusahakannya kan? Sudah menjadi seperti ini, kita nggak bisa berkelit lagi. Selanjutnya memang kita harus membangun perasaan kok, Kak. Nina menyetujui rencana ini dengan sadar, maka selanjutnya kita hanya bisa mempertahankannya,” Nina tahu-tahu terkekeh.


Dirga diam-diam juga tersenyum. Hatinya terasa menghangat mendengar bagaimana Nina mengutarakan perasaannya dan harapannya pada hubungan mereka. Dia menyukai bagaimana perempuan itu berujar dengan jujur dan tulus. Dari berbagai macam orang yang Dirga temui, terutama wanita, hanya Nina yang bisa menjelaskan rasa menerima sesederhana ini.


Dia masih tergolong muda, tapi pemikiran dewasanya seolah membuat Dirga terketuk hatinya untuk bisa lebih wise dalam bersikap. Salah satu yang Dirga rasa menjadi point penting dalam kehidupan Nina sebelum ini tentunya karena walaupun Nina bukan orang yang datang dari keluarga berkecukupan, tapi kasih sayang dan kelengkapan orang tua dalam hidupnya menyempurnakan pribadinya. Sesuai apa yang seharusnya terbentuk dari seorang anak yang tumbuh dari dua orang asing yang saling mengasihi, lalu berharap ia hadir di dunia ini.


Memang bukannya tak ada hal itu dalam versi hidupnya, namun kondisi setelah kelahirannya tak semulus Nina. Maka karena itu Dirga tak terlihat setenang Nina.


“Semoga kita memang benar-benar berjodoh ya, Nin … Bantu aku untuk bisa menghidupkan warna dalam kehidupan kita nantinya.” Pinta Dirga terdengar tulus.


Tangannya tak lagi bergerak untuk menyelesaikan acara melipat pakaian yang akan mereka bawa esok, kini laki-laki itu beralih menyentuh tangan istrinya yang duduk tepat di depannya. Menarik Nina yang refleks mengangkat kepala seraya bergerak mendekat kearahnya. Perempuan itu kaget⸻omong-omong Dirga suka dengan ekspresi kaget Nina seperti semalam⸻tapi kemudian Nina mencoba menetralkan perasaan dalam dirinya. Bergerak mengikuti naluri Dirga dengan apapun keinginan yang pria itu pikirkan dalam kepalanya.


Suaminya itu mendekap dirinya pelan. Menelusupkan kepalanya diantara ceruk lehernya, mencari-cari kehangatan sekaligus memberi efek geli padanya. Selama beberapa detik Dirga tak berujar apapun, hanya desah napas lelah yang dapat Nina dengar seolah mengatakan jika suaminya itu telah menyimpan hal ini begitu lama.


“Kamu wangi banget, Nin … Aku nggak tahu jika harum kamu bisa se-memabukkan ini, bahkan setelah aku merasakannya semalam,” Ujarnya seraya mengeratkan pelukan. Kini tangannya pun bergerak mengusap punggung istrinya yang terasa kurus.


Ia tiba-tiba saja mengangkat Nina untuk duduk dipangkuannya, melepas pelukan seraya menatap mata itu lekat.


Muncul perasaan tak biasa yang memaksanya untuk segera menuntaskan apapun yang kini tahu-tahu ia pikirkan.


Wajah mereka sangat dekat. Nina bahkan tak bisa berbohong jika panas nafas Dirga sangat terasa diwajahnya. Membuatnya seketika itu juga melemah, tak kuasa menahan kegugupan yang terasa semakin menjadi. Dirga tampak tersenyum kecil, hingga akhirnya laki-laki itu merapatkan jarak diantara mereka.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya Nina merasakan hal yang disebut sebagai kedekatan antar pasangan. Ia tak banyak bergerak, hanya mengikuti kemana Dirga membawanya. Tiba-tiba sebersit ketakutan muncul dalam dirinya ditengah keadaan dimana Dirga seolah memujanya dengan memberikan pengalaman baru itu.


Nina refleks mendorong Dirga dengan napas tersengal. Dia tidak bisa, bukan tidak mau, Nina hanya tidak bisa.


Dia …. Dia takut.


“Nin …” Panggil Dirga parau. Hawa panas dan keinginan untuk menuntaskan apapun yang ada dipikirannya membuat Dirga kaget dengan sikap Nina.


Dia benar-benar terbawa suasana.


“Ma—maaf, Kak … Nina … Nina nggak bisa.” Perempuan itu menunduk didepan wajahnya. Masih dalam posisi yang sama.


Dirga hanya menelan salivanya pelan. Entah apa yang membuat Nina membuat dirinya berhenti, tapi kemudian dia yang menunduk malu, menyentuh kedua tangan Dirga yang berada diatas pahanya.


“Nina boleh minta waktu lagi?” Tanyanya pelan, nada bicaranya benar-benar khawatir.


Dirga yang menatapnya sejenak terdiam. Tak ada kata-kata yang dirinya rasa bisa ia keluarkan ketika Nina menolaknya. Dia mengerti, Nina pasti takut, walau sebetulnya Dirga hendak meyakinkannya, tapi Nina tetap tak terlihat yakin.


Dirga menutup matanya sejenak.


Ia mengerti maksud istrinya barusan. Dirga memang harus belajar lebih banyak mengerti mulai sekarang.


Well …hanya untuk saat ini, karena Dirga tak yakin jika ia bisa bersama dilain waktu.


“Nggak apa-apa,” Jawabnya dengan serak.


“Aku mau kita melakukannya ketika sama-sama nyaman, dan kalau sekarang kamu nggak merasa seperti itu, kita bisa menundanya lagi kok—tapi jangan lama-lama ya, Nin? Kamu pasti kasihan kan kalau aku harus mandi air dingin terus?” Tambahnya menyelipkan kelakar disana.


Nina mengangguk pelan. Perempuan itu masih dalam posisinya, langsung memeluk Dirga kembali.


Nina takut, walau ia ingin semua ini berjalan seperti bagaimana seharusnya, tapi … Ah! Nina nggak bisa mengendalikan semua ini!


“Nina minta maaf Kak, Nina pasti berdosa karena hal ini.” Katanya merasa bingung dengan kondisinya kini.


“It’s okay, untuk saat ini nggak apa-apa. Lain kali aku nggak janji, ya … Ya, kecuali kamu bisa nggak cantik seperti dua hari ini, hm … nanti aku pikirkan.” Kelakar Dirga lagi seraya mengeratkan pelukan mereka.


Nina merasa bersalah, tapi dia tak bisa menampik ketakutan ini.


Ternyata trauma masa kecilnya tak benar-benar hilang. Nina takut menerima kenyataan bahwa Dirga memang pantas mendapatkannya, karena laki-laki itu ingin mengusahakan tumbuhnya perasaan terikat diantara mereka.


Walau respon tubuhnya tak seperti apa yang ia mau.

__ADS_1


__ADS_2