![LAMARAN DADAKAN [EXTREME PROPOSE]](https://asset.asean.biz.id/lamaran-dadakan--extreme-propose-.webp)
Dokter telah kembali setelah memeriksa Nina barusan. Asam lambungnya naik, ditambah kelelahan yang mengindikasikan kemungkinan gejala typus. Kekhawatiran Mama perlahan mengendur setelah dokter mengatakan bahwa Nina hanya harus istirahat selama beberapa hari hingga obat yang diresepkan habis serta makan teratur.
Walau Mama merasa bersyukur karena Nina masih baik-baik saja, namun perempuan itu merasa tak enak dengan rencana yang sudah dilakukan Mama, bahkan Dirga sampai meng-cancel tiket pesawat mereka. Dia memang mengatakan malas untuk pergi, tapi Nina tetap merasa kasihan dengan suaminya yang hanya akan menghabiskan masa liburan di rumah saja.
Hal itu membuat Nina tidak enak hati. Apalagi intensitas libur milik Dirga tak bisa diprediksi, dan bahkan setahu Nina suaminya itu tak libur di hari raya sekalipun.
“Masih pusing dan mual, Nin?” Suara Mama terdengar masuk ketika Nina selesai dengan banyak pikiran bercabang dalam dirinya. Mama duduk disamping Nina dengan wajah khawatir.
“Masih sedikit Ma.”
“Lain kali kalau nggak enak badan, bilang sama Mama ya, Nin. Katanya Aa’ tahu kami nggak enak badan, tapi kenapa Nina nggak bilang juga sama Mama? Kata dokter tadi karena suhu juga. Kalau kamu nggak kuat dinginnya AC, bisa pake kipas di kamar Mama saja dulu. Maag kamu yang biasanya jarang kambuh, malah jadi kambuh juga. Tolong lebih perhatikan makannya ya, Neng? Jangan diam saja kalau sakit. Kamu yang tahu batas kekuatan diri kamu, bukan Mama, ya?” Ujar Mama lembut, membuat Nina mengangguk mendengar perkataannya.
“Iya, Ma. Kedepannya mungkin Nina akan membiasakan diri pakai AC, ya ... Makasih sudah mau ingatkan Nina, Ma.” Mama tersenyum.
“Iya sayang. Nggak perlu memaksakan untuk bisa pakai AC, Nin. Kalau memang nggak bisa, nanti Mama minta Aa’ mengalah sama kamu.”
Nina menggeleng cepat.
“Jangan, Ma. Nggak apa-apa, pelan-pelan nanti Nina pasti terbiasa.”
Mama mengangguk.
“Ya sudah, terserah kamu saja.”
Mama lalu izin keluar karena harus memasak untuk makan malam. Sepeninggal Mama, Nina tak menemukan dimana rimbanya sang suami. Entahlah kemana perginya laki-laki itu sekarang. Seingatnya Dirga mengantar dokter keluar, tapi kemudian tak kembali lagi.
Mungkin ia tengah menebus obat.
Sudah hampir jam satu siang, dan Nina belum sholat dzuhur. Dengan pelan perempuan itu memutar tubuhnya lantas menggerakkan tangannya kearah tembok untuk mengambil tayamum. Saat sakit atau keadaan yang tidak memungkinkan seseorang berwudhu dengan air, dia boleh berwudhu dengan debu atau pasir. Nina lalu meraih mukena yang selalu ia letakan di nakas dekatnya tidur sekarang. Mukenanya dan sarung beserta peci milik Dirga.
Melihatnya ia terkekeh pelan. Sangat menggelitik membayangkan bahwa mereka telah menjadi dua orang yang ditakdirkan hidup bersama sebagai pasangan. Walau tak tahu bagaimana akhirnya nanti, diam-diam Nina merasa senang.
...-
...
Dirga memesan segelas kopi dingin dan roti hangat rasa kopi ketika dia keluar mengantar dokter kembali ke tempat praktiknya. Teringat orang rumah, apalagi Mama yang sangat suka roti ini. Diumur Mama yang sudah kepala lima, beliau masih bisa mencicipi banyak makanan tanpa takut. Mama tidak punya penyakit berarti di dalam dirinya-dan Dirga selalu berharap agar Mama baik-baik saja dan panjang umur. Hanya beberapa penyakit karena faktor usia yang kadang tidak bisa direlakan saat Mama sudah kelelahan.
“... Mampir lagi, ya, kak.” Perempuan di depannya itu menyerahkan plastik berisi roti hangat. Dirga tersenyum lalu berjalan menuju parkiran sambil menyicip kopinya sejenak.
Membelah jalanan membuat dirinya berpikir ulang dengan banyak kejadian hari ini. Pertama, Nina sakit dan dia terpaksa meng-cancel semua jadwal pemberakatan sampai jadwal pulang. Kedua, dirinya bisa saja pergi kalau saja Dirga bukan orang yang tidak egois. Ketiga, Nina sakit bukan tanpa alasan. Nina kelelahan setelah beberapa hari ini kegiatannya banyak, plus istrinya itu punya penyakit maag akut. Walau mengalami kerugian karena tiket yang di cancel, Dirga tak begitu mempermasalahkan. Dia memang mulai berpikir positif jika tadinya jadi berpergian bersama Nina, dan akhirnya memang tak jadi, ia harus merasa baik-baik saja.
Dia bukan orang egois-dan tak akan lagi.
Mobil Dirga sampai dirumah. Keluar dari mobilnya yang tahu-tahu menguarkan aroma manis dari roti hangat ditangannya. Pun ketika memasuki rumah, aroma itu ikut bersatu dengan udara terbuka yang masuk darj jendela dan celah-celah yang ada.
“Sudah, A’? Resepnya sudah ditebus juga, kan?” Suara Mama menegurnya ketika ia mendekat, membuat Dirga mengangguk sambil meletakan roti yang ia bawa keatas meja makan tempat Mama duduk.
“Kamu beli roti kopi? Nina belum boleh makan yang pakai ragi, A’ buat kamu saja semua.” Respon Mama ketika melihatnya menyodorkan roti.
Dirga dibuat bingung dengan perkataan Mama. Kenapa jadi memikirkan Nina?
“Bukannya Mama juga suka? Ya sudah buat Mama saja, buat Lila juga kalo begitu. Aa’ memang nggak belikan untuk Nina karena tahu dia belum boleh makan ini dulu."
Mama menggeleng.
“Lila sedang pergi kerumah temannya. Mama nggak makan yang nggak bisa Nina makan, Mama juga nggak nafsu makan apa-apa, kasihan Nina tahu, A’! Tega banget Mama makan sendiri.” Pungkas Mama sambil mendorong rotinya mendekat kearah Dirga kembali.
“Mama kok begitu sih? Yang sakit ‘kan Nina bukan Mama. Nina mungkin sekarang sakit, tapi sekarang atau nanti, Mama nggak boleh sakit.” Terang Dirga dengan tegas.
Mama memandangi plastik berisi roti itu.
__ADS_1
“Ya sudah taruh saja, nanti Mama makan.”
“Betul, ya? Mama sudah makan siang belum?” Tanyanya lagi.
Mama menggeleng.
“Belum ... Nggak nafsu makan, A’ ini mama kepikiram Nina terus tahu nggak sih!” Sungut Mama seraya menatapnya kesal.
“Ih si Mama! Kalau Mama sakit bagaimana? Makan ya, Ma. Ingat, ada Nina dan Aa' yang masih membutuhkan Mama!” Tegasnya mengingatkan Mama.
Perempuan baya itu mendesah malas. Sulit berdebat dengan putranya jika sudah seperti ini kejadiannya.
Mama mengangguk.
“Ya sudah, nanti mama makan siang, makan roti dari kamu juga.” Putusnya malas.
“Nah, harus begitu Ma! Tenang saja, Aa’ akan jaga Nina dan memastikan putri Mama itu baik-baik saja.” Sindirnya seraya terkekeh.
Mama menatapnya sebal.
“Iri kamu ya karena mama khawatir sama Nina? Iya, sekarang anak mama itu Nina, bukan kamu! Kamu mah, A’ suaknya buat mama kesal. Tahu, nggak?” Sungut Mama lagi yang dibalas kekehan Dirga.
Ia tahu Mama hanya bercanda.
“Betul loh, A’ mama nggak bercanda.”
Dirga mengangguk masih dengan tawa.
“Ya ... ya, terserah Mama saja deh. Kalau begitu Aa’ keatas dulu, ya. Mau kasih obatnya untuk Nina. Jangan lupa makan ya, Ma.” Katanya mengakhiri percakapan dengan sang Mama lantas berlalu menuju lantai dua.
Sepeninggal Dirga, sejenak Mama memandangi plastik berisi roti hangat di meja. Kenapa hal yang Mama suka harus ada di depan nya pada kondisi seperti ini sih? Mama merutuki Dirga yang tidak bisa mengerti rasa egois Mama pada roti kopi yang hangat ini. Mama sangat menyukainya, tapi merasa tak tega jika mengingat Nina tak bisa ikur menikmatinya bersama.
“Dasar Dirga!” Desis Mama lalu meraih plastik roti itu pergi menjauh dari sana.
...-
...
Selesai dengan peluh menumpuknya, ia keluar dari kamar mandi setelah tiga puluh menit kemudian. Biar laki-laki, waktu mandinya termasuk lama. Laki-laki itu kemudian duduk di sofa kamarnya setelah kembali dari walk in closet untuk berpakaian. Kini hanya ada dirinya dan sang istri yang terlelap lemah di ranjang.
Dirga sempat terpikir untuk membangunkan perempuan itu guna menanyakan keadaannya, tapi setelah berpikir ulang, sepertinya tidak penting juga hal itu untuk sekarang. Nina hanya butuh istirahat, bukan pertanyaan basa-basi yang biasa dilontarkan seseorang pada orang yang sedang sakit.
Dirga meraih ponselnya. Ada tanda peringatan merah yang mengindikasikan bahwa baterenya hampir habis. Didekatinya meja kerja di sisi ujung kamar sambil mencari charge ponselnya disana. Ia tak menemukan benda berwarna putih itu disana, lanjut mencarinya hingga ia mengingat bahwa semalam benda itu ada distop kontak dekat dapur dimana ia men-chargenya semalam. Dengan langkah gontai, Dirga mau tak mau turun dari kamarnya menuju dapur.
Sesampainya disana, ada Lila yang tengah mengemasi beberapa makanan kedalam tempat. Tampaknya Mama sudah selesai memasak.
“Kak, mau charge hape, ya? Tadi Lila lihat chargeran di stop kontak samping lemari pendingin.” Sapa Lila ketika kakinya menjajaki dapur. Dirga meraih chargenya lalu meletakan ponselnya diatas meja setelah memasang adapternya.
“Iya, Lil.” Jawabnya singkat lalu beralih menuju rak bahan makanan yang tergantung diatas tempat cuci piring.
“Cari apa, Kak?” Tanya Lila melihat gerak-gerik Dirga.
“Nggak, ini saya cari kopi. Siapa yang pindah kopi saya, ya?” Lila lalu melepas piring yang sedang ia cuci. Mengeringkan tangannya dengan serbet sebentar, mendekat kearah sebuah tempat.
“Oh itu, maaf Kak. Kemarin Lila pindah karena mau taruh kue-kue dari tetangga. Sebentar, Lila ambilkan dulu ya. Lila simpan dibawah sini.” Katanya menunjuk laci bawah dari kitchem counter.
Lila mengangkat kepalanya setelah stoples kopi ia temukan. Diletakkannya kopi itu diatas surface counter di depan Dirga.
“Thanks, ya.” Tersenyum, Dirga lalu meraih stoples berisi kopi itu mendekat ke arah coffee machinennya.
Selagi menyeduh kopi, Dirga kembali berpikir.
__ADS_1
Banyak masalah yang belum terpecahkan beberapa hari ini. Bahkan Dirga belum tahu apakah Papa sudah tiada atau masih di sini, masih menjalani kehidupan sepertinya.
Mungkin Dirga perlu ambil hikmah dari batalnya jalan-jalan ini karena dia bisa punya waktu untuk mencari Papanya. Suatu ingatan tiba-tiba muncul. Beberapa tahun lalu ketika Papa sedang proses bercerai dengan Mama, ia ingat jika salah seorang kerabat Papa, Om Anan-sepupu dari ibunya Papa, atau mendiang neneknya-tak sengaja menulis nomor telepon rumahnya ketika kala itu beliau mampir kerumahnya, mendengar berita bahwa Mama dan Papa akan bercerai, karena beliau teman masa kecil Papa juga. Sebelum ada ponsel genggam, Mama punya telepon rumah yang disana juga diletakkan buku telepon, dan kala itu Om Anan yang menunggu Papa pulang, mengobrol dengannya lalu menuliskan nomor telepon itu disana seraya mengingatkan Dirga jika ingin menghubunginya untuk menemui Papa-mengingat ia tahu bahwa keluarga Dirga sudah tak lagi harmonis dan Om Anan merasa khawatir dengannya sebagai satu-satunya anak dirumah ini.
Menyesal, sejenak itu yang Dirga pikirkan. Kenapa ia tak mengingat ini lebih awal? Padahal jika dirinya ingat, Dirga bisa mengundang keluarga Papa untuk hadir.
Jika memang sudah tak lagi berlaku, setidaknya ia sudah berusaha, kan?
Selesai dengan kopinya, laki-laki itu kembali ke kamar hendak meminjam ponsel Nina untuk menelpon keluarga Papa. Waktu kerja Dirga benar-benar padat jika sudah masuk nanti, dia khawatir tak akan ada banyak waktu untuk mencari Papa nantinya. Mungkin saja dia bisa bertemu Papa dan tahu keadaan laki-laki itu yang sebenarnya.
Dirga sampai di kamar, dilihatnya istrinya itu baru membuka mata. Perempuan itu menggeliat diatas ranjang dengan selimut yang masih setia memeluk tubuhnya.
“Sudah bangun?” Tanya Dirga sambil duduk di sofa seraya menyeruput kopinya.
“Sudah nggak ngantuk, Kak. Pusingnya juga sudah hilang. Masa tidur terus?” Ujar Nina dengan kekehan.
Dirga balas terkekeh.
“Ya nggak, biasanya kalo minum obat kan tidurnya agak lama.”
Nina menggeleng.
“Biasanya, tapi aku nggak terlalu begitu sih, Kak.”
“Oh ... Ku kira.”
Nina lalu duduk di kepala ranjang, menghadap Dirga yang duduk di sofa mengarah padanya. Nina di depannya tampak hendak bangkit turun dari ranjang.
“Mau kemana?” Tanyanya.
Perempuan itu mengikat rambutnya.
“Mau ke kamar mandi, sudah enakan kok, Kak.”
Reflek, buru-buru Dirga menahan langkah istrinya. Meletakan kopi mengebulnya dinakas, lalu meraih tangan perempuan itu.
“Mau ngapain?” Nina bertanya dengan bingung memperhatikan gerak Dirga memegang bahunya.
“Mau bantu kamu. Kata dokter nggak boleh terllay lelah, istirahat saja dulu supaya nggak benar-benar gejala tipus.” Katanya terdengar khawatir.
Perempuan itu lalu menggeleng.
“Nggak apa-apa kali, Kak? Ke kamar mandi doang sih nggak capek.” Elaknya pelan.
Dirga menggeleng.
“Kali ini saja, aku mau memastikan. Aku bantu jalan ke kamar mandi, ya.” Pinta Dirga lagi dengan wajah memohon.
Nina lalu mendesah pasrah.
Oke, dia menyerah dengan keinginan suaminya.
Laki-laki itu lalu mengantar sampai di depan kamar mandi hanya bahkan hanya berjarak sekitar empat sampai lima langkah.
Dekatnya bukan main, tapi kekhawatirannya tampak tak main-main.
“Mau ditunggu?” Tanya Dirga lagi. Nina tersenyum sekilas lalu menggeleng.
“Nggak usah. Aku bisa kok.” Dirga lalu mengangguk seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal selepas Nina masuk kamar mandi.
Ada apa ini? Kenapa dirinya mendadak jadi khawatiran begini?
__ADS_1
Diam-diam Nina pun merasa aneh dengan tingkah suaminya. Betapa lucunya wajah panik Dirga ketika tahu dirinya turun dari ranjang untuk masuk ke kamar mandi?
Akh!